FIONITA

FIONITA
Bab 8 Keputusan Nita


__ADS_3

Sepulang dari kafe, Nita pulang kerumahnya dengan perasaan sedih. Dia berusaha menutupi kesedihannya denga menunjukkan wajah cerianya. Sesampainya didepan pintu ia menghela napas sambil memasang wajah cerianya.


"Assalamualaikum." Teriak Nita


" Kok nggak ada yang jawab sih, orang orang dirumah ini kemana sih? pintunya juga terkunci. Apa gue teriak lagi yahhh" batin Nita


Walaupun Nita dan keluarganya merupakan keluarga kaya raya, ia tidak memiliki pembantu karena mamanya tidak suka kalau ada orang lain dirumahnya, dan Ariska berpikir, ia masih bisa mengurus semuanya.


"Assalamualaikum Ma, kak Anna, pada dimana sih? mama, mama, mama!" teriak Nita


"Aduh kalau gini, gue nggak bisa masuk kerumah, coba gue telpon aja deh, siapa tau Mama lagi tidur."


tutt


tutt


tutt


"Kok nggak diangkat sih." Nita dengan muka keselnya


Nita berjalan mondar mandir sambil berpikir, untuk masuk kedalam rumahnya.


"Ahhha, biasanya kan Mama menyimpan kunci rumah di bawah pot bunga itu." Nita seakan memiliki secercah harapan untuk masuk kerumahnya.


Setelah mendapatkan kunci rumahnya, Nita bergegas masuk dan mencari mamanya.


"Mama, Mama, Mama, kok nggak ada yaa, apa mama pergi arisan? tapi mama selama sakit nggak pernah lagi gabung dengan teman arisannya?" Nita sambil berpikir


Nita terus mencari mamanya ke semua sudut ruangan, tapi tidak menemukannya. Akhirnya dia berpikir untuk menelponnya lagi.


tutt


tutt


tutt


"Halo Ma, mama lagi dimana?" Akhirnya Nita lega karena Mamanya bisa dihubungi.


"Assalamualaikum Nit, Mama lagi nemenin kakak kamu memeriksa kandungannya". Jawab Ariska

__ADS_1


"Ohh gitu yah Ma. Kok nggak bilang sih, Nita tuhh dari tadi cari Mama, sampai di kolong meja pun aku cari Mama. Lagian yahh ma dari tadi tuh Nita teriak teriak manggil Mama sudah kayak orang gila" Nita sambil bercanda


"Ahh Kamu Ma, kayak gitu bercanda terus sama mama, jadi sekarang kamu dimana Nit, kunci kan mama mrnyimpannya ditempat biasa." Jawab Ariska


" Ini sudah masuk kok Ma. Untung Nita ingat kebiasaan mama kalau keluar rumah selalu menyimpan kunci dibawah pot bunga." Jawab Nita


"Oh sykurlah kalau gitu. Nit sudah dulu yah, soalnya Mama sama Kakak kamu mau pulang". Ariska menutup telponnya.


"Iya Ma, hati hati dijalan Ma. Assalamualaikum." Jawab Nita


"Ehh Mama kebiasaan deeh... main mutusin panggilan telepon lagi. Tanpa mendengar lawan bicaranya terlebih dahulu. Kan Nita baru mengucapkan salam


Walaupun Nita berbicara ke Mamanya dengan ceria, namun hatinya penuh dengan luka. Itulah Nita selalu menutupi segala kesedihannya didepan keluarganya, dia begitu tegar dan selalu ceria seberat apapun kesulitan yang dia hadapi dan sesedih apapun dirinya, dia tidak akan memberitahukan pada siapa pun walau orang terdekatnya sekalipun. Dia lebih memilih menyelesaikan segalanya, karena ia selalu berpikir seberat apapun masalah yang ia hadapi, kalau memiliki hati yang kuat dan keikhlasan untuk menghadapinya, Allah akan memudahkannya.


Nita berjalan kekamarnya.


"Sekarang gue harus bagaimana?, apa yang harus gue lakukan? teman teman disekolah membenciku, hidupku nggak seperti dulu lagi, bagaimana cara gue bertahan disekolah? kalau gue bertahan, gue hanya akan menderita mendengar mereka apalagi akhir akhir ini mereka sudah berani main fisik. Sekarang gue hanya punya Mahyra, tapi gue tidak mau melibatkan Mahyra dalam masalah ku, pasti dia menderita kalau berada didekatku." Benak Nita


"Pokoknya gue harus memikirkan cara untuk keluar dari masalah ini tanpa melibatkan siapa pun." Nita sambil berpikir


"Gimana kalau gue pindah sekolah ajha yahh. kalau gue pindah sekolah, tidak ada yang membenci ku lagi dan Mahyra pun tidak perlu dikucilkan karena bergaul sama gue. Nanti malam kalau papa sudah pulang gue akan memberitahukannya, tapi lebih baik gue menceritakan ke mama dulu dehh... sambil memikirkan alasan yang tepat untuk keinginan ku pindah sekolah" Ucap Nita sambil mencari alasan dengan keputusannya pindah sekolah.


Tak lama kemudian, Ariska dan Anna pulang.


" Assalamualaikum" Ucap Ariska


"Waalaikumsalam" Nita bergegas keluar kamarnya sambil menjawab salam.


"Bagaimana kandungan Kak Anna Ma?" Tanya Nita


"Semuanya baik baik saja, sekarang usia kandungan kakakmu sudah 7 bulan, kamu bantu mama ya jaga kakakmu, karena hanya kita sekarang yang bisa kakakmu andalkan. Kamu tau sendirikan bagaimana kondisi kakak mu sekarang. Mama hanya tak ingin kakakmu mengalami kesusahan disaat kehamilannya sekarang ini. Apalagi kandungan kakakmu itu rentang." Nasehat Ariska


"Baik Ma, aku akan menjaga kakak, segenap hati jiwa dan ragaku."Jawab Nita dengan wajah serius.


"Kamu ini. Oh iya mama belum menyampaikan yahh, calon ponakan mu itu nanti laki laki". Beritahu Ariska dengan wajah gembira


" Alhamdulillah yahh Ma. Oh iya Ma, aku ingin menceritakan sesuatu dan meminta pendapat


Mama, setelah Mama mendengarnya, aku harap mama setuju, dan kalau mama sudah setuju nanti aku memberitahukan ke Papa."

__ADS_1


"Emang ada apa Nit?" Jawab Ariska dengan wajah penasaran.


"Gini Ma.... mending kita duduk ruang tamu aja ya ma". Nita ingin memberitahukan mamanya tapi dia agak takut mamanya menolak keinginannya


"Yaudah ayok." Sambil menggandeng tangan Nita


"Sekarang cerita ke Mama, kamu ada masalah?" Tanya Ariska


Nita menggeleng, dia sudah bertekad untuk tidak memberitahukan mamanya masalah disekolah, dan hanya ingin mamanya tahu keinginannya untuk pindah sekolah.


"Tidak Ma, hanya saja aku pengen pindah sekolah, aku tidak cocok disekolah itu ma. Aku pengen mencari suasana baru." Nita memberikan alasan mamanya.


"Kenapa mau pindah Nit? padahal kamu lohhh yang memilih bersekolah tersebut, awalnya kan Mama sama Papa kamu tidak setuju bersekolah tersebut. Jawab Ariska


"Iya Ma, Sekarang Nita menyesal, dulu karena ikut ikutan teman, jadi gini dehh. Dulu Nita berpikir kalau sekolahnya bareng teman pasti tidak perlu berusaha mencari teman lagi diawal masuk sekolah dan tidak perlu lagi berusaha mengakrabkan diri dari orang yang baru kita kenal." Nita dengan menunjukan wajah menyesal.


Melihat hal tersebut membuat Ariska menghela napas dan nampak berpikir sejenak.


"Baiklah nanti kita membicarakan pada Papa kamu, walau bagaimanapun Papa kamu berhak memutuskan segala sesuatunya. Lebih baik kamu memikirkan dengan matang karena bagaimana pun itu itu keputusan yang penting dan menyangkut masa depan kamu". Ariska memberikan saran.


"Baiklah Ma, thank you Mamaku sayang". Jawab Nita sambil memeluk mamanya.


"Kalau begitu, Nita kekamar dulu Ma". Nita sambil berlalu dihadapan mamanya.


Sesampainya dikamar, Nita merasa lega karena sudah memberitahukan keinginannya untuk pindah sekolah. Sekarang Nita harus meyakinkan Papanya, agar ia juga setuju dengan keputusannya untuk pindah sekolah.


" Semoga ini pilihan terbaik untuk masalah ku ini. Bukannya gue mau melarikan diri dari masalh itu, tapi gue tak sanggup untuk menghadapinya, apalagi kalau Nyokap gue tau pasti dia sedih, sedangkan kalau Bokap, gue tak perlu berpikir lagi hidup mereka akan hancur karena gue.


****


ย TBC


Ditunggu sarannya!!


vote and comment yaa ๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡


Jangan lupa follow๐Ÿ˜‰


Let's reading next part๐Ÿ˜‡

__ADS_1


__ADS_2