Friendship Is Love

Friendship Is Love
(01) Just Friends


__ADS_3

"Kau bagaikan rintikan hujan yang tak pernah menentu di mana akan terjatuh dan mengalir deras."


—Friendship Is Love—


Seperti biasa Karin dan Zaki berangkat bersama ke sekolah. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, mungkin saja Karin memiliki perasaan lebih kepada sahabatnya itu namun Zaki tak peduli dan bersikap acuh seperti biasanya. Bagi Karin, Zaki sosok lelaki baik, penyayang, perhatian dan selalu ada untuknya di saat suka maupun duka.


“Pagi Rin, udah siap?” tanya Zaki ketika sudah sampai di depan gerbang rumah Karin. Karin mengangguk sambil tersenyum tipis. “Ayo, langsung berangkat!”


Zaki memasangkan helm miliknya untuk Karin tetapi Karin hanya diam sambil menatap Zaki kagum. “Woy! Biasa aja lo, gue terlalu ganteng?” Zaki menyadarkan lamunan Karin.


Lo bener banget Zak, ganteng banget.


“Eh, apa? Pede banget!”


Keduanya tertawa bersama.


—Friendship Is Love—


Sekitar sepuluh menit Karin dan Zaki tiba di sekolah. Karin berjalan lebih dulu sedangkan Zaki sibuk mencari tempat parkir. “Rin,” panggil seseorang yang berdiri tegak di belakang Karin, Tari sahabatnya. “Rin, tungguin oy!” panggil Tari lagi karena Karin mengacuhkannya.


Karin menoleh, “Ck. Ayo cepet!”


Mereka berdua berjalan bersama tanpa adanya pembicaraan.


Dengan malas Karin melempar tasnya tepat di atas meja. Ia mulai merasakan ketidakpastian dalam hatinya.


Zak, kapan lo peka? Kenapa lo hanya anggap gue teman?


“Rin, lo kenapa? Sakit?" tanya Tari di samping Karin.


“Kagak," balas Karin terkekeh.


Gue tau lo ada masalah, gue sahabat lo Rin. - batin Tari.

__ADS_1


"Tapi Tar, gue pengin cerita sama lo," ujar Karin yang hendak duduk.


"Boleh, kenapa?" tanya Tari yang sudah siap mendengarkan curhatan sahabatnya.


"Tar, apa salah gue menyukai sahabat gue sendiri?" pertanyaan Karin itu mampu membuat Tari bingung namun Tari tau siapa yang Karin maksud.


"Ya gak salah Rin. Cuma mau sampai kapan lo suka Zaki? Sepihak itu gak enak."


Karin hanya mengangguk pelan.


"Gue tau dan hati gue gak bisa memilih harus suka siapa. Gue suka Zaki dari lama tapi dia anggap gue sebatas sahabat." air mata Karin mulai luruh. Tadi yang melihatnya tida tega.


"Gak usah nangis oy! Percuma kalo orangnya gak ada, habisin tenaga cuma buat tangisin cowok gak peka kaya ZAKIrun," ujar Tari sengit. "Mungkin suatu saat Zaki akan menyadari perasaan ke lo, menurut gue sih." lanjutnya.


Tiba-tiba Zaki tiba dari depan pintu dan langsung menyapa Karin.


"Eh udah ada Karin toh, lo beneran tega ninggalin gue, tapi gak papa soalnya banyak cewek cantik yang nyapa gue haha," ujar Zaki tanpa mengetahui bahwa Karin tak suka.


"Gue gak peduli!" sahut Karin ketus tanpa menatap Zaki sedikitpun.


"SABAR Rin," ujar Tari sengaja menekan kata 'sabar' seakan menyindir Zaki, dengan tampang tak berdosa Zaki justru meninggalkan kelas.


"Lo pake apaan sih Zak? Kenapa gue suka dan gak bisa benci sama lo?"


—Friendship Is Love—


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang yang menandakan bahwa siswa-siswi SMA Jaya Negri kembali ke rumah masing-masing.


"Rin woy sini lo!" teriak Zaki yang sudah standby di parkiran "Hmm?" Karin hanya berdehem lalu menghampiri Zaki.


"Ayo pulang udah sore." ajak Zaki dengan cepat menyodorkan helmnya.


"Iya," Karin pun menerima helm yang Zaki berikan.

__ADS_1


Sikap lo yang buat gue bingung Zak.


"Kenapa lo bengong? Biasa aja kali natap guenya." suara itu seakan dapat membuyarkan Karin dari lamunannya, namun Karin tidak menjawabnya sepatah katapun "Ya udah yu naik udah siap kan?" lanjut Zaki.


"Hmm,"


—Friendship Is Love—


Ditengah jalan tanpa Zaki dan Karin sadari hujan lebat mengguyurnya, mereka berdua akhirnya meneduh disebuah gubuk kecil pinggir jalan.


"Zak," panggilan Karin itu seakan memecahkan keheningan.


"Hm?" lagi-lagi Zaki bersikap acuh pada Karin.


"Zak gue serius mau tanya sama lo!" Karin menegaskan.


"Tanya aja kali Rin, biasanya juga gak izin kan," spontan Zaki mengatakan itu.


"Oke gue mau tanya satu hal sama lo dan lo harus jawab ju--," belum selesai Karin mengatakan unek-unek yang ada dibenaknya, Zaki terlebih memotongnya.


"To the point  aja!" ucap Zaki.


"Ya udah, Zak lo kenapa sih selalu antar jemput gue ke sekolah? Sedangkan kita itu gak ada hubungan apa-apa. Ya kan?" tanya Karin berusaha menutupi kesedihannya yang seakan-akan ingin menangis bersama derasnya hujan.


"Lo mau tau jawabannya?" Zaki berbalik tanya.


"Gue hanya ingin tau jawaban jujur dari mulut dan hati lo." ucap Karin.


"Karena lo teman gue, teman terbaik gue dan bisa dibilang lo itu sahabat kesayangan gue." kata-kata itu seakan dapat membuat Karin meneteskan air mata, namun sebelum Zaki melihatnya dengan cepat Karin menghapus air matanya.


"Oh jadi hanya sebagai teman yang lebih tepat nya sahabat?" tanya Karin lebih memastikan.


"Iya, emang lo maunya gue jawab apa?" Zaki berbalik tanya, sedangkan Karin hanya menanggapi Zaki dengan senyuman pahit yang terukir secara terpaksa walaupun hatinya panas seperti terbakar api, dan menangis dalam diam.

__ADS_1


Jadi itu alasan lo Zak, lo hanya anggap gue sebagai TEMAN? SAHABAT?


__ADS_2