
"Jangan abaikan orang yang menyukaimu, karena suatu saat nanti jika dia lelah dan pergi, maka kau akan merindukannya."
—Friendship Is Love—
Di hari weekend ini seperti biasanya Karin dan Zaki jogging dipagi hari mengelilingi lapangan komplek perumahan, karena waktu telah menunjukkan sekitar pukul 08.00 pagi Karin dan Zaki memilih beristirahat sejenak.
"Rin lo capek ga?" tanya Zaki.
"Ya gitulah, gue haus." jawab Karin sejujur-jujurnya.
"Ya udah kalo gitu lo tunggu disini, gue beli minum dulu!" Zaki beranjak lalu langsung melenggang pergi meninggalkan Karin.
"Oke,"
"Lama banget sih Zak, gue haus banget nih!" gumam Karin, tak lama kemudian dari arah yang berlawanan datanglah seseorang yang Karin tunggu, Zaki.
"Ini Rin buat lo, maaf kalo lama!" ucap Zaki.
"Hm," jawab Karin, karena Karin merasa sangat haus ia pun langsung saja meneguk minuman dingin itu.
"Haus banget neng?" goda Zaki yang mendekatkan tubuhnya disamping Karin.
"Ih apaan sih sama lo jangan deket-deket gue!" Zaki yang mendengar itu malah semakin mendekat.
"Makasih," bisik Zaki ditelinga Karin.
"Makasih untuk apa?" tanya Karin mengernyit heran.
"Makasih untuk hari ini dan karena lo udah maafin gue." ucap Zaki sedikit ragu.
"Hahaha," Karin yang mendengar itu malah terkekeh.
"Kenapa lo malah ketawa?" tanya Zaki "Apa gue salah ngomong kaya gitu?" lanjut Zaki merasa pessimist "Haha, gak bukan gitu. Biasa aja sih gak usah bilang makasih." sergah Karin.
"Lo yang terbaik Rin," gumam Zaki, tanpa Zaki sadari Karin mendengar ucapannya.
"Maksud lo?"
—Friendship Is Love—
"Assalamu'alaikum ma," ucap Karin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah "Mama lo gak ada!" tutur Zaki seakan memberitahu "Tau dari mana lo? Kok mama gak bilang sama gue?" tanya Karin mengintogasi Zaki.
"Tadi mama gue nelpon, terus bilang kalo mama lo lagi pergi sama mama gue, dan handphone mama lo low," Zaki menjelaskannya secara detail.
"Oh," jawab Karin singkat.
"Ya udah yu masuk," ajak Zaki seolah-olah itu rumah miliknya.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh? Ini kan bukan rumah lo, enak aja!" omel Karin.
"Hehe maaf cuman bercanda aja kok," ucap Zaki cengengesan.
__ADS_1
"Boleh masuk kan?" lanjut Zaki.
"Gak boleh! Kalo gak ada mama, lebih baik lo duduk disini!"
"Aelah Rin kaya ke siapa aja sih,"
—Friendship Is Love—
Seperti biasa yang dilakukan Zaki yaitu duduk disamping balkon rumah Karin tapi sebelum Zaki menghampiri balkon rumah Karin, Zaki memilih mengirimi pesan terlebih dahulu.
Zaki Putra: Rin gue ke balkon rumah lo ya..bt gue di rumah..
Dreet....
Handphone Karin seketika bergetar yang menandakan ada sebuah pesan masuk, pesan itu dari Zaki, tanpa tunggu lama Karin langsung membalasnya.
Karin Aulia: Males gue kalo ada lo di balkon.
Zaki Putra: Ayolah Rin plis gue bt sumpah.
Karin Aulia: Ya udah tinggal ke sini aja.
—Friendship Is Love—
"Dateng juga lo, gue kira gak dateng haha!" leedek Karin.
"Ya pasti gue dateng kan gue yang ngajak lo!" balas Zaki.
"Ya udah gue boleh duduk kan?" tanya Zaki.
"Boleh aja, tapi lebih bagusnya lo berdiri aja deh biar kaya patung pancoran." lagi-lagi Karin mengejek Zaki dengan perkataan yang sengitnya itu.
"Jahat amat, tapi gue seneng lo ketawa mulu Rin, berarti gue lucu yah?" tanya Zaki antusias.
"Ge-er banget sih, ya gue pengen ketawa aja."
Sekitar 15 menit Karin dan Zaki hanya terdiam tanpa suara disamping kamar Karin yang lebih tepatnya balkon rumahnya.
"Rin gue mau tanya deh, kalo cowok idaman lo kaya gimana?" tanya Zaki memecahkan keheningan malam yang sunyi.
Deg..
Karin tak kuat mendengar itu, itu pertanyaan yang keluar langsung dari mulut Zaki.
Kenapa lo tanya itu Zak, jawabannya ada pada diri lo sendiri.
"Kenapa lo diem?" tanya Zaki seakan membuyarkan lamunan Karin.
"Eh gak kok gak pa-pa," jawab Karin.
"Ya udah kalo gitu lo harus jawab pertanyaan gue!"
__ADS_1
"Kenapa lo pengen tau tentang cowok idaman gue?"
"Karena lo sahabat gue jadi apapun yang berkaitan sama lo, gue harus tau. Dan kali aja gue masuk dalam kriteria cowok idaman lo."
Lo masuk banget Zak, banget gue harap lo ngerti.
"Lo teelalu percaya diri banget sih Zak, tau dari mana kalo lo masuk kriteria gue?" tanya Karin.
"Ya karena hidup itu harus percaya diri, dan karena mulut tidak bisa membohongi hati. Ya udah deh jawab aja pertanyaan gue!"
"Oke lo maunya jawaban yang jujur atau yang bohong?" tanya Karin tersenyum sinis.
"Ya yang jujurlah gimana sih,"
"Ya udah gue jawab, cowok idaman gue itu ganteng, baik, perhatian satu sama lain, gak playboy dan lain-lain lha, yang jelas gak kaya lo yang playboy akut!" jawab Karin sambil menekan kata playboy, Zaki yang mendengar itu hanya menanggapi dengan cengiran khasnya.
Gue merasa munafik karena membohongi kebenaran.
Zaki merasa jika kriteria cowok idaman Karin sama seperti dirinya "Gue banget dong, ya kan Rin? Tapi kan gue gak playboy ya walaupun dulu iya sih hehe." tanya Zaki antusias
Banget...banget...banget...100%.
"Ge-er banget lo, ya kali lo. Bukanlah lo mah kan playboy cap kaki semut!" ucap Karin meledek Zaki.
"Yeah ya udah deh kalo bukan gue juga gak pa-pa," jawab Zaki merengek seperti anak kecil.
"Dan lo gak mau tanya seperti apa cewek idaman gue?" tanya Zaki.
"Buat apa? Gak penting juga kan, pastinya juga yang cantik, seksi, molek, pinter, kaya yang jelas teraduhai buat lo mah, bener kan?!" ucap Karin seakan tak peduli karena ia tak ingin sakit saat mendengar penjelasan Zaki.
"Yah gak adil banget dong Rin kalo kaya gitu, lagian yang lo terka itu gak bener." ucap Zaki.
"Bodo amat!" respon Karin.
"Sekarang bagian gue ya Rin,"
"Huft iya deh,"
"Jadi cewek idaman gue itu harus pinter, perhatian, gak cemburuan, gak manja, menerima gue apa adanya dan masalah cantik itu relatif, kalo rupanya cantik tapi hatinya buruk untuk apa? Sama aja seperti bunga raflesia, bunga yang besar dan cantik namun tidak sedap layaknya bangkai." Zaki menghela nafasnya sekejap sebelum melanjutkan ucapannya "Dan itu semua kaya lo Rin!"
Oh my god seperti gue? Gak salah lo Zak? Baper deh gue.
"Hah kaya gue? Hahaha impossible banget!" ucap Karin tak percaya.
"Gue serius Rin," respon Zaki meyakinkan "Tapi Rin lo gak usah baper ya soal tadi itu hanya perumpaan aja," ucap Zaki tanpa perasaan berdosa.
"Gue tau tenang aja," jawab Karin yang terpaksa berbohong berpura-pura seakan tegar "Ya udah kalo gitu maaf yah, lo gak usah BAPER sama ucapan gue," ucap Zaki sebari menekan kata BAPER, Karin hanya tersenyum sinis.
Sakit untuk kesekian kalinya karena lo Zak, lo gak punya perasaan, sifat lo tetap sama.
"Gue terlalu berharap sama lo Zak, gue kira semua yang lo ucapin bener namun gue salah, gue terlalu percaya diri." lirih Karin setelah kepergian Zaki dari tempat tinggalnya.
__ADS_1