
Dada Karin sangat sesak saat ini rasanya sudah tak bisa lagi bernapas untuk beberapa waktu.
Ini sungguh menyakitkan bagi Karin. Karin tidak menyangka jika Zaki sudah berpaling darinya.
Memang dari awal Karin sudah mengira jika Zaki memang tidak menyukai dirinya.
"Rin udah jangan sedih terus noh lo perhatiin pak Abdul yang daritadi lagi jelasin materi." ucap Tari yang terus berusaha menenangkan Karin.
"Gue nyesek Tar, sakit hati gue." sahut Karin.
"Gue tau tapi lo juga harus tahu ternyata Zaki itu gak ada perasaan apapun sama lo!"
"Gue tahu Tar!" Pak Abdul rupanya mendengar obrolan antara Karin dan Tari.
Seketika Pak Abdul pun menoleh Karin "Ada apa ini?" tanya Pak Abdul menginterogasi.
"Gak ada apa-apa kok Pak," dusta Tari, mewakilkan Karin.
"Bapak tanya Karin bukan Tari!" bentak Pak Abdul.
"Ih bapak gimana sih kita bertiga itu udah sehati bersahabat sejati sehidup semati." timpal Zahra.
"Zahra kamu diam!" bentak Pak Abdul kini Zahra pun terkena imbas bentakan Pak Abdul.
"Hehe iya deh Pak tapi gak usah bentak saya juga kali!" Zahra memanyunkan bibir tipisnya.
Namun Pak Abdul tidak peduli ia kembali menginterogasi Karin "Karin jujur sama saya kenapa mata kamu merah?" tanya Pak Abdul curiga.
"Dasar kepo!"gumam Tari pelan.
"Saya gak papa kok Pak hanya sakit sedikit saja," jawab Karin berusaha kuat.
__ADS_1
"Sakit apa? Sakit hati?" tebak Pak Abdul yang membuat seluruh murid tertawa dan memecahkan keheningan di dalam kelas.
"Eh? Apa Pak? Gak kok. Ya kali saya sakit hati, saya kan jomblo Pak." sahut Karin polos.
"Apa? Jadi kamu jomblo? Oh jadi kamu ceritanya curhat sama saya iya?"
"Dasar guru gila! Karin jawab salah gak jawab juga salah."gumam Zahra.
"Duh Pak kan tadi Bapak nanya ya saya jawablah Pak. Ah Bapak mah kok jadi serba salah ya saya jadinya berasa Raisa." protes Karin.
Semua murid kembali tertawa ketika melihat perdebatan antara Karin dengan Pak Abdul "Diam semuanya sudah sekarang kembali fokus belajar!" bentak Pak Abdul yang langsung menuju papan tulis.
"Dasar guru kurang waras!" gumam Karin
"Sabar Rin!" balas Tari.
****
Saat Zaki akan melangkah keluar menuju parkiran Zaki melihat Cella yang diam berdiri di parkiran.
Cella sangat keringatan saat itu. Ya karena matahari saat itu sangat menyengat. Zaki tidak tega melihatnya dan karena Zaki seorang cowok yang gentlemen Zaki pun menghampiri Cella.
"Cel belum pulang?" tanya Zaki yang berusaha bersikap baik. Saat itu juga rasanya jantung Cella terasa copot karena ulah Zaki yang mengagetkan dirinya.
Apa gue mimpi? Zaki menghampiri gue dengan sendirinya?
Cella cengengesan sendiri. Zaki merasa bingung "Kenapa lo bengong?" tanya Zaki lagi.
"Eh? Gak papa kok, iya nih gue belum di jemput, lama panas lagi." sahut Cella.
Zaki tidak tega melihat Cella yang kepanasan bagaikan cacing kepanasan di siang hari yang terik ini. Zaki pun berniat untuk mengajak Cella pulang bersamanya.
__ADS_1
"Oh gitu, yaudah lo pulang bareng gue aja." ajak Zaki. Betapa terkejutnya Cella. Ini seperti mimpi bagi Cella.
Sesuatu yang Cella inginkan menjadi kenyataan tanpa harus ia minta.
"Eh? Emang gak ngerepotin?"tanya Cella gugup.
"Ya gak tau, emang rumah lo di mana?" tanya Zaki.
"Di jalan melati komplek C no. 126."
"Oh ya searah dong sama jalan ke rumah gue."
"Serius?"
"Hm. Yu naik nih helm nya!" Zaki menyodorkan helmnya.
"Makasih,"
Dari ujung kelas bagian bawah Karin melihat jelas dengan mata kepalanya sendiri jika Zaki membonceng Cella menggunakan motor kesayangannya.
Karena biasanya yang selalu menaiki motor sport kesayangan Zaki hanya Karin. Namun sekarang harus tergantikan oleh Cella.
Harapan Karin musnah seketika. Karin mengira jika Zaki sedang menunggunya untuk meminta maaf.
Namun nyatanya tidak sama sekali. Sepertinya Zaki memang mulai menyukai Cella. Ya itulah pemikiran Karin saat ini.
Hati Karin jadi tidak menentu saat ini dan yang ia rasakan adalah cemburu dan hatinya sangat panas.
"Kenapa gue jadi gini? Segitu cemburunya kah gue?" Karin langsung meninggalkan tempat itu.
Karin memang sangat mencintai Zaki sahabatnya dari kecil. Karin pun sadar jika ia tidak pantas untuk cemburu dengan apa yang Zaki lakukan.
__ADS_1
Karena hanya sebatas sahabat. Hubungannya pun tidak ada kepastian. Zaki pun selalu menganggap Karin hanya sebatas sahabat dan tidak lebih.