Friendship Is Love

Friendship Is Love
(03) Baikan?


__ADS_3

"Kata maaf memang mudah diucapkan namun apa kamu yakin dengan maaf itu kamu tidak akan melakukan kesalahan lagi?"


—Friendship Is Love—


Karin dan Zaki yang sudah menyelesaikan hukuman langsung saja beranjak keluar dan kembali menuju kelasnya, saat ini memang sudah jam pelajaran ke-3 tepatnya pada mata pelajaran Matematika, mata pelajaran yang sangat Zaki benci.


"Gue capek, gila baru juga sembuh ada aja hukuman yang gak masuk akal." oceh Karin mengeluh, Zaki yang berada disamping Karin menoleh dengan cepat.


"Sabar, gue tau ini salah gue," ucap Zaki mengakui kesalahannya.


"Udah tau lo salah malah nanya lagi!" respon  Karin ketus.


"Maaf, gue minta maaf, maaf,"


"Bilang apa lo?"


"Gue bilang gue minta maaf,"


Tanpa berniat membalas permintaan maaf dari Zaki, Karin hanya tersenyum sinis lalu meninggalkan Zaki yang masih menunggu jawaban.


—Friendship Is Love—


Pelajaran matematika sedang dimulai saat ini dan dikelas memang sudah ada pak Agung, pak Agung sendiri merupakan guru Matematika.


Dengan cepat Karin memberi salam dan langsung masuk ke kelas sedangkan Zaki hanya mengkuti langkah Karin dibelakang tubuh Karin.


"Assalamualaikum pak," sapa Karin.


"Waalaikumsalam, Karin dan Zaki kenapa kalian baru datang?" tanya  pak Agung yang langsung menghentikan kegiatan mengajarnya.


"Karena kita terlambat pak, terus kita berdua dapat hukuman dari guru piket dan terpaksa kita berdua mengerjakan hukuman itu diruang BK." jelas Zaki menceritakan semuanya secara detail.


"Baiklah kalo begitu Bapak akan maafkan kalian, silahkan kalian duduk dan ikuti pelajaran saya!" tanpa berniat menjawab perintah Pak Agung Zaki dan Karin hanya mengangguk pelan.


—Friendship Is Love—


Saatnya jam istirahat tiba, ini adalah waktu yang sangat dinantikan oleh setiap siswa-siswi, begitupun dengan Zaki. "Rin," panggil Zaki pada Karin yang masih duduk terdiam dibangkunya, namun Karin tidak menggubris Zaki.


Karin memilih untuk tetap diam mencatat materi yang tertinggal tadi "Karin Aulia," panggil Zaki lagi dengan menggunakan nama panjangnya Karin, Karin yang mendengar itu merasa terguncang karena tidak biasanya Zaki memanggilnya sedetail itu, dan jika Zaki memanggilnya seperti tadi itu menandakan bahwa Zaki sangat marah besar pada Karin, tanpa banyak pikir Karin langsung saja menjawabnya.


"Iya?" respon Karin singkat.


"Lo itu kenapa sih Rin?" tanya Zaki "Gue gak pa-pa," jawab Karin singkat dingin sedingin salju.


"Tapi sikap lo beda akhir-akhir ini sama gue Rin?" tanya Zaki lagi.


"Gue biasa aja tuh Zak," namun tetap saja Karin menjawab dengan jawaban yang singkat.

__ADS_1


Karna gue gak mau lebih sakit, dari semua ini Zak.


"Rin dengerin gue, kalo misalnya gue punya salah sama lo gue minta maaf." ucap Zaki meyakinkan namun, tetap saja Karin tidak menggubris Zaki "Rin lo itu sahabat terbaik gue, gue mohon maafin gue," lanjut Zaki yang mampu membuat hati Karin sakit dari sebelumnya, hati Karin saat ini seperti dihantam oleh berbagai benda tajam.


Ini yang gue benci Zak, lo hanya anggap gue sahabat.


Karin berusaha untuk tetap tegar dengan yang ia dengar tadi "Iya gue tau gue sahabat terbaik lo, tapi gue ragu kalo lo sahabat gue," jawab Karin yang membuat Zaki bingung, dalam hati Zaki terus bertanya akan itu.


"Maksud lo?" tanya Zaki.


"Gak usah di bahas lupain aja," Karin berusaha untuk tidak mengingat hal itu.


"Jadi kita udah baikan nih?" tanya Zaki.


"Siapa bilang? Gue gak bilang kalo gue sama lo baikan!" balas Karin yang membuat Zaki sedikit kesal.


"Terus tadi lo ngomong panjang lebar lagi sama gue,"


"Itu karena lo yang ajak gue ngomong!" tanpa ingin mendengar balasan Zaki, Karin langsung saja meninggalkan kelas.


—Friendship Is Love—


Tari yang baru saja balik dari kantin merasa bingung saat menatap Karin yang melamun dan matanya hampir berkaca-kaca, Tari khawatir dengan yang Karin alami kali ini, dengan cepat Tari menghampiri Karin.


"Rin lo gak pa-pa kan?" tanya Tari pada Karin.


"Eh, gue gak pa-pa kok," jawab Karin.


"Gak pa-pa kok Tar, thanks ya lo udah jadi sahabat terbaik gue dan selalu perhatian sama gue." ucap Karin, Tari yang mendengar itu seakan terbawa perasaan.


"Lo gak usah bilang makasih karena itu gunanya sahabat, saling menyemangati satu sama lain, dan sahabat itu gak pernah mentingin diri pribadi." ucap Tari panjang lebar seakan menghibur Karin.


—Friendship Is Love—


Kring...kring...kring…


Waktunya jam pelajaran selesai.


"Rin pulang sama gue yu, gue mau ajak lo ke suatu tempat." ajak Zaki menghampiri tempat meja Karin.


"Gak bisa hari ini Karin pulang sama gue!" sahut Tari.


"Siapa lo? Gak bisa pokoknya Karin balik sama gue!" balas Zaki tidak terima.


"Gue sahabatnya Karin dan lo juga siapanya Karin? Pacar? Haha atau suka? Masa suka selalu buat Karin sedih! Loser." Tari berbalik tanya.


"Berisik lo berdua! Bisa diem gak?!" ucap Karin secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Kalo misalnya kalian berdua masih berisik gue gak mau pulang bareng diantara kalian berdua!" lanjut Karin lalu meninggalkan Zaki dan Tari yang masih berdebat.


"Ini semua gara-gara lo!" bentak Tari.


"Enak aja lo ngomong, ini semua karena lo!" balas Zaki tidak terima.


"Ya udah kalo gitu lo aja yang pulang sama Karin, sana lo susul!" saran Tari, tanpa berniat menjawab ucapan Tari, dengan cepat Zaki mengejar Karin.


—Friendship Is Love—


"Karin tunggu gue," teriak Zaki.


"Karin tunggu gue, pulang bareng gue ya plis" teriak Zaki lagi pada Karin yang masih berdiri tegak sedang menunggu taksi.


"Gue gak mau!" jawab Karin ketus.


"Tapi jam segini jarang ada taksi sama angkot Rin."


"Ya terus?"


"Ya masalahnya gimana kalo ada apa-apa sama lo?"


"Oh jadi lo doain gue ada apa-apa gitu? Iya?"


"Gak, bukan itu maksud gue,  gue hanya ingin lo baik-baik aja."


Deg …


Detak jantung Karin tak karuan mendengar pernyataan Zaki, rasanya langsung nusuk dalam hati dalam-dalam, namun Karin masih bersikap acuh seperti biasa.


"Apa pedulinya lo sama gue?" tanya Karin "Karena gue say--, maksudnya karena gue sahabat lo!" bohong Zaki.


Lo itu bagaikan hujan yang tak pernah menentu kapan akan turun.


"Oh gitu ya? Serius?"jawab Karin tersenyum kecut.


"Gue rasa iya, ah udahlah ayo Rin pulang sama gue aja!" ajak Zaki.


"Hmm, ya udahlah gak usah diperpanjang lagi, yu pulang," ucap Karin berusaha melupakan masalahnya dengan Karin.


"Iya kalo itu mau lo, by the way Rin jadi mulai sekarang kita baikan lagi?"


"Gak tau, tapi oke deh kita baikan."


"Kita sahabat sejati kan?"


"Iy--iya kita sahabat sejati," dengan perasaan tak enak Karin terpaksa mengatakan itu.

__ADS_1


Lo gak tau betapa sakitnya hati gue Zak, gue rapuh ketika lo mengatakan itu secara langsung dari mulut lo.


"Apapun yang terjadi lo tetap sahabat terbaik gue."


__ADS_2