G..ya

G..ya
tanpa mu


__ADS_3

KRINGG...KRINGGG..KRINGG...


Telepon rumah Angga berdering nyaring. Angga yang masih tertidur pulas di sofa ruang tengah terbangun karena mendengar samar-samar suara dering telepon.


" AHHH... siapa yang menelepon pagi-pagi begini..?"keluh Angga sambil berjalan menuju meja, lalu Angga teringat Maya.


" Mungkin Maya yang menelepon.." pikir Angga


"Halo Maya... sayang..."


" Mas ini aku ... Yohana...bukan Maya...."


Mendengar kalo Yohana yang telpon Angga pun kecewa.


" Ada apa kau telpon...? bagaimana kau tau nomor telepon rumah ku..?"


" Ibumu yang memberitahuku mas....aku khawatir dengan mu mas... kenapa kau tak kerja 2 hari ini..??" tanya Yohana khawatir.


" Bukan urusanmu..."


" Tapi mas........"


KLUKKK


Angga menutup telepon...


"Aku kira km yang menelepon ku Maya...Apa kau masih marah padaku...??" lirih Angga


" Dimana kamu sekarang Maya..?"


Angga berjalan lemas menuju kamar tidur nya merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur sambil sesekali ia melirik kearah meja rias yang selalu Maya gunakan.


"Maya.... bagaimana aku bisa hidup tanpa mu sayang..?"


" Bagaimana aku menjalani hari - hariku tanpamu Maya...?"


Angga mengingat untuk pertama kalinya dia mengenal Maya. Gadis Cantik yang bisa membuat jantungnya berdegup kencang saat pertama kali mereka bertemu.


Gadis sederhana dan pekerjaan keras yang membuat Angga kagum akan dirinya.


Angga jatuh cinta pada Maya pada pandangan pertama. Mereka bertemu di restoran diperkenalkan oleh Budi Santoso teman Maya.


Saat itu ..Maya mengenakan blus biru muda dan rok sifon putih. Maya tampak cantik meski memakai pakaian yang sederhana. Rambut panjang yang di kuncir kuda. Leher yang jenjang. Kedua mata yang indah dan bibirnya yang tipis merah merona.


Tutur bahasanya yang lembut.. Angga mengingat kembali semua itu.


" Maya... perkenalkan ini Angga temanku waktu kuliah dulu di Bandung.." kata Budi memperkenalkan Angga pada Maya.


" Hai ....saya Angga... Angga Pratama " kata Angga memperkenalkan dirinya. Angga mengulurkan tangannya kearah Maya.


" Aku ...Maya...Maya Wulandari..." jawab Maya dan menjabat tangan Angga.


" Maaf aku tak bisa menemani kalian makan siang...aku ada urusan ..jadi aku pergi dulu...oke..." kata Budi

__ADS_1


" Makasih ya ...Bud.." bisik Angga pada Budi ketika Budi pamit pulang


" Sama-sama... ingat Angga jaga Maya baik-baik...aku percaya padamu... Maya gadis yang baik..." kata Budi sambil berlalu.


Angga pun tersenyum.." oke..."


" Maya sudah pesan ...."


" Belum mas ..."


" Baiklah.." Angga pun memanggil pelayan.


Seorang pelayan pun menghampiri meja mereka duduk.


" Mau pesan apa pak..?" kata pelayan sambil menyerahkan daftar menu kepada mereka.


" Maya mau makan apa...?"


" Maya pesan jus apel saja mas..."


" Kenapa hanya jus....tak ingin makan...?"


" Makasih mas .. kebetulan tadi Maya baru dari rumah teman . Teman Maya sedang berulang tahun jadi Maya sudah makan di sana..." jawab Maya


" Baiklah.....mba tolong jus apel nya satu...nasi goreng spesialnya satu...es teh manis nya satu..." pesan Angga pada pelayan restoran tersebut.


" Baik pak...ada tambahan lainnya.."


" tidak .. makasih mba."


" Maya kamu sudah punya pacar..? "


" Belum mas...Maya tak ingin pacaran..klo memang sudah ada yang cocok Maya maunya langsung menikah.."


"Ohh...Pria idaman Maya seperti apa..?"


"Maya hanya ingin pria yang seiman dan pekerjaan keras. Tak perduli pria itu kaya ..tampan.. tapi jika dia tak seiman dan pemalas ... aku tidak kan mau ."


Angga pun terkesan dengan jawaban Maya. Jarang ada wanita yang berpikiran seperti itu.


" Mas Angga sendiri sudah punya pacar ?"


" Belum ....belum ada yang cocok..."


"Memang mas Angga mau cari gadis seperti apa..??...siapa tau Maya bisa kenalkan dengan teman Maya,.." kata Maya sambil tersenyum.


" Manisnya senyuman mu Maya.." gumam Angga dalam hati.


" Boleh...asal dia manis seperti mu..." jawab Angga


" Seperti ku...Mas Angga bercanda ...apa bagusnya dengan diri Maya... "


" Kamu sempurna di mataku Maya..."

__ADS_1


Maya hanya tertunduk malu dan tersenyum.


Ini hal baru bagi Maya, tapi Angga meyakinkan Maya bahwa dirinya memang mencintai Maya dan bersungguh-sungguh dalam hubungan mereka.


Sejak pertemuan itu, Angga selalu mendekati Maya. Kadang Angga menjemput Maya pulang kerja . Angga sering menelepon Maya untuk sekedar menanyakan keadaannya.


Angga masih ingat ketika ia menyatakan cintanya kepada Maya. Malam itu di taman kota Angga menyatakan cintanya dan juga melamar Maya.


"Maya.. aku ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting pada mu.."ujar Angga


" Ada apa mas....?"


" Mungkin ini terdengar terburu-buru .. tapi jujur ... sejak aku melihat mu.. aku merasa kalau kau adalah belahan jiwa ku.... aku selalu merindukan mu bila kita berjauhan... aku selalu ingin bersamamu..." jelas Angga


" Maya Wulandari... aku mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati ku... Mau kah kau menikah dengan ku...?" tanya Angga


Angga berlutut di hadapan Maya memegang sebuah cincin.


" Maya tak menolak lamaran mas Angga tapi bisa beri Maya untuk belajar mencintai mas Angga.."


"Hehhmmmm... baiklah..aku akan menunggumu ... kuberikan waktu untuk mu belajar mencintai ku.." kata Angga.


" Tapi boleh aku memintamu untuk menerima cincin ini...ku mohon Maya.."


Maya hanya menganggukkan kepalanya tanda ia mengizinkan Angga mengenakan cincin itu di jari manis Maya.


Sebulan setelah Angga menyatakan cintanya


Maya menerima lamaran Angga karena ia telah yakin bahwa Angga pria yang baik.


Tapi Angga tak pernah bercerita kepada Maya kalo sebenarnya dia sudah di jodohkan oleh orang tua nya. Angga menikahi Maya tanpa restu dari orang tua nya.


Angga ingat bagaimana mereka menikah hanya di hadapan penghulu dan dua orang saksi tanpa di hadiri oleh kedua orang tua Angga.


Angga beralasan bahwa keluarganya sedang ada di luar kota dan berhalangan hadir. Angga menikahi Maya hanya dengan pernikahan siri .


Pernikahan mereka belum di sahkan oleh negara. Angga belum bisa melakukan itu karena keluarga nya belum memberikan restu pada pernikahan mereka.


Angga pun kembali tersadar dari lamunannya. Dia merasa sangat bersalah. Angga menyesali perbuatannya pada Maya.


" Maya... maaf kan aku yang selalu mengecewakan mu... Maaf kan aku yang membohongi mu.."


"Maaf kan jika aku pun mengekang kebebasan mu... semua itu karena aku tak sanggup jika melihat pria lain menatap kecantikan sayang..."


" Dan .. maafkan aku sayang karena telah mengkhianati cinta kita...bahkan aku membiarkan orang ketiga hadir di pernikahan kita.."


"Aku sangat mencintaimu..."


"Aku takkan sanggup hidup tanpamu Maya."


Angga memberanikan diri untuk menelpon Maya kembali. Dia berharap semoga kali ini Maya yang menerima panggilan telepon nya.


TUTTT.....THUTT..THUTT...

__ADS_1


" Nomor yang anda tuju tak menjawab.. silahkan tinggalkan pesan setelah nada bib"


" Maya..." keluh Angga menutup telepon nya.


__ADS_2