GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
kenapa terjadi


__ADS_3

sisa-sisa tawanya masih terngiang di tengah sanubari yang meronta karena kerinduan. langkahku seakan tersesat, dengan jalan pulang yang kian menghitam. aku hanya bisa meraba, pada rindu yang berganti pilu.


hari itu membawaku pada titik, di mana sang waktu mempertemukan. di bawah rintik rintik air hujan yang membasahi tubuh, dia memeluk dan mendekap erat, seraya tubuhnya menggigil di atas boncengan motor.


hari ini menjadi tanya, terhadap waktu yang mengubah jalannya. aku menapaki langkah yang tak pasti. di antara riuhnya manusia, bahkan aku merasakan sepi. aku bukan hanya kehilangan keseimbangan, tapi seketika hancur berkeping-keping. hingga membuatku berpikir, bahwa ini adalah akhir, sebab yang terlihat di hadapan mata hanyalah jalan buntu.


aku pernah mengisi tiap lembaran kosong menjadi kita, kita yang selalu mengisi dan menghiasi tiap kata menjadi paragraf. tiap paragraf mengandung syair dan sajak yang di buat mendadak, baris berbaris di tuntun dengan indah, berkumpul menjadi cerita, terangkum dalam satu buah judul "sweet memorys bersama meera."


namun, langit yang tadinya cerah, mendadak gelap, karena awan hitam mengusik ketenangannya. mentari pun ikut termurung kala harus merelakannya pada badai. purnama rembulan harus sirna, meninggalkan bintang-bitang bersinar sendirian.


saat itulah sajakku mendadak hilang, sukaku berubah duka, senyumku memudar, tawa tinggallah tangis. aku berdiri memandang tajam rembulan, lalu bertanya padanya "kenapa ini terjadi?" dia tak menjawab, hanya meninggalkan sinarnya yang redup. aku pergi mengunjungi pantai, untuk sekedar bertanya?"kenapa ini terjadi?" dia tetap membisu, hanya memperlihatkan sisa-sisa ingatan yang sulit di lupakan. aku harus menaklukkan hari yang tak mudah.


'serang 2018. kantor warta berita.


hari ini tanggal 11, bulan 11, tahun 2018. tepat 7thn yang lalu aku bertemu dengannya {meera} namaku ibnu setiawan. orang-orang memanggilnya dengan sebutan danu. aku lahir di kota pandeglang tahun 1992. dan sekarang usiaku menginjak di usia 27thn. sepeninggal meera, aku masih berstatus jomblo, sampai detik ini.


usia yang sudah tak muda lagi, seharusnya sudah memiliki pasangan, paling tidak merencanakan untuk hal itu. sebab teman-teman satu angkatan denganku, kebanyakan sudah memiliki pasangan, bahkan sudah ada yang memiliki keturunan. hal itulah yang selalu di tuntut oleh ibuku.


aku anak pertama dari tiga bersaudara, dan satu-satunya anak laki-laki. kedua adikku berjenis kelamin perempuan. adikku yang pertama bernama delisa, usianya hanya terpaut tiga tahun lebih muda dariku. ke khawatiran ibuku memuncak, kala ada seorang laki-laki yang datang untuk melamar delisa. istilah bahasa sundanya "karunghal" yaitu ke duluan nikah sama adiknya.


aku selalu berharap kepada takdir, untuk kehidupan yang lebih baik. tapi kenyataan menuntunku dalam kesedihan, kenyataan memperlihatkan kesepian, aku seolah terkubur dalam harapan.


aku bekerja di perusahaan warta berita. Sejak 2013 lalu. perusahaan yang bergerak di media cetak maupun online. Sempat resign beberapa thn, karena alasan pendidikan di bandung. khaila memintaku untuk bergabung kembali, setelah owner sekaligus ayahnya meninggal pada tahun 2017. karena perusahaan itu sangat berjasa dalam kehidupanku, aku putuskan untuk kembali bergabung, saat ini menjabat sebagai ketua redaktur atau ketua editor.


di dalam ruangan kantor. akhir akhir ini, aku tak begitu fokus dalam pekerjaan. pikiranku sangat kacau, karena ibuku yang setiap hari, selalu menanyakan "kapan kamu menikah?" pertanyaan itu selalu di ulang-ulang bahkan bukan hanya setiap hari, lebih ke setiap saat ibuku selalu menanyakannya. padahal, aku sudah mengingatkan, untuk segera menikahkan delisa. jangan terganggu olehku.


di tengah jiwa yang kacau, aku larut dalam lamunan. tanpa mengetuk dan memberi salam, seperti kebiasaannya, khaila akan masuk untuk menemui. walaupun dia menjabat sebagai ketua redaksi, tentu, kedatangannya bukan untuk mengenai pekerjaan. paling pertama-tama dia akan menyapa "sehat loe...?" dia seorang partnerku dari dulu, sejak merintis jadi reporter thn 2013. sejak pertama bertemu, aku tidak tahu kalau ayahnya pemilik perusahaan, dan dia pun sengaja menutupinya.


aku pernah membuatnya menangis, bahkan hancur. sampai sekarang ibunya masih membenciku, karena dia menyangka, akulah penyebab dari kematian suaminya.

__ADS_1


khaila yang masuk lantas menemukan wajahku tengah murung, dia pandai mengira "ini pasti, ulah nyokap lo. yang menuntut untuk segera menikah! iya kan..?" seperti biasa, ia duduk di hadapan, sambil tersenyum gak jelas.


tatapan tajamnya memandang ke arahku. "nasibmu dan nasibku, sama." ucapnya laun, namun serius. dia berdiri, berjalan laun membelakangiku. lantas menghentikan langkahnya di depan jendela, dia melipatkan kedua tangannya di atas perut, menunjukkan tatapan kosong yang jauh keluar jendela. "kita tersesat di lembah yang kosong. bodohnya, kita hanya berharap kepada seseorang yang bisa mengeluarkan kita dari lembah itu. tapi kita tidak pernah berusaha untuk mencari jalan keluarnya sendiri!"


"sampai kapan nu...? kita saling menyiksa diri kita sendiri! meera menyiksa dirinya, kamu menyiksa dirimu, sementara aku juga terlibat menyiksa diriku sendiri. "sampai detik ini, di antara kita bertiga, tidak ada satu pun yang mampu keluar dari kenyataan ini!"


perkataan itu sangat menamparku. aku terlalu larut dalam penantian, seolah hidup tak lagi memberiku pilihan, bahkan air mata tak mampu mewakili dalamnya luka. senyum terenggut, kebahagiaan lenyap seketika.


setelah tidak mendengar tanggapan dariku. khaila kembali duduk di hadapan. dia merogoh isi tasnya, mengambil buku dan melemparkannya di atas meja. "masih ingat dengan itu?"


dalam benakku menjawab. "mana mungkin aku melupakannya. sebuah buku kecil dengan sampul biru, berpita merah dan judul sweet memorys." dengan reflek tanganku mengambilnya. perlahan ku angkat, tersenyum kala mengingatnya. terluka kala melupakannya. sebuah catatan kecil yang menjadi sejarah di mana batin mengikat teramat kuat, tentang ruangan yang sempat ceriakan hampa, di mana jejak jejak yang di tinggalkan nada, menjadi kenangan tentang puisi.


"dari mana kamu dapatkan itu?" tanyaku tegas menatap wajahnya. padahal buku itu sudah aku buang sekitar 7 tahun yang lalu.


dia mengelak dengan cara menertawakan. "he he he."


rasa tak percaya meliputi kalbuku, aku begitu tak menyangka catatan kecil dengan tinta hitam kini ada di tangan khaila.


"apa untungnya bagi kamu?" tanyaku.


"saat aku menemukan buku ini, kemudian aku membacanya." ucapnya berkaca-kaca. "apa yang terjadi?" "aku iri pada meera, aku ingin jadi bagian dari cerita itu! andai saja bisa, aku ingin berada di posisinya dan menjadi meera." ucapnya dengan terbata.


"apa yang kamu temukan di dalam buku itu?" tanyaku kembali.


dia membalikkan badan, membelakangiku, berjalan dengan langkah laun, pandangan tegak dengan wajah berkaca-kaca. "sangat di sayangkan! aku tidak menemukan akhir dari kisah itu. berkali-kali aku membacanya, tapi apa kamu tahu? tulisan ini, cukup membuatku tersiksa dengan ke ingin tahuan tentang bagaimana akhirnya dari kisah ini!" ungkap khaila dengan lebar.


kepalaku tertunduk, dengan lembut telapak tangan mengusap wajah, setelah mendengar pernyataan darinya. dia tidak tahu, apa yang terjadi setelahnya. helaan napas panjangku adalah petanda, bahwa aku sudah begitu lelah sehingga aku tak mampu untuk meneruskan kisahnya hingga usai. "aku sudah tak lagi menemukan pesan cinta, yang selalu menggetarkan hati, menguatkan langkah, dan menghilangkan gelisah."


"aku sudah berusaha dan membuang kisah itu! jangan ingatkan kembali tentangnya." saranku untuknya.

__ADS_1


"aku tak memintamu menceritakannya kembali untukku! biarkan kamu menceritakannya kembali kepada dirimu sendiri, untuk mencari di mana letak kebodohanmu sendiri" "tuh, bawa pulang kembali buku itu!" ucap khaila dengan emosi, tanpa pamit meninggalkan ruangan itu.


kata-kata khaila, seolah menjadi tamparan balik untukku. meskipun lisanku berkata "sudah melupakan meera" namun hati bersikeras tak merelakannya.


sepulang kantor, pukul 20 wib. kegalauan terus meliputi hariku. di halaman teras rumahku yang berlokasi di jalan syekh moh nawawi al-bantani km1 banjar agung cipocok jaya serang. aku sudah punya rumah sendiri, dan tinggal pun sendiri. hampir semua sudah aku miliki, kecuali istri.


seduhan kopi panas berubah menjadi dingin, karena terlalu lama di endapkan. tak terkecuali dengan rasanya. bunyi klakson terdengar keras di luar pagar. sebuah mobil Honda Jazz RS putih tengah menunggu pintu pagar untuk di buka. dan itu adalah mobil khaila.


"ngapain tuh anak, malam-malam datang kemari!" ujarku dalam hati.


dengan senyumnya, khaila turun dari mobil dengan menenteng sesuatu di tangannya. "hi..." sapanya manja. tanpa aku persilahkan untuk masuk, dia pasti akan masuk juga. dan berlaga senonohnya di rumahku, layaknya rumah sendiri. dia hidangkan makanan yang di bawanya, lalu kami duduk berdua.


"sengaja aku datang kemari! aku masih kepikiran dengan ucapanku tadi siang. aku tak bermaksud mengusik ketenanganmu! dan tak ada niatan untuk mengingatkan pada harimu yang berat itu." tutur khaila to the poin.


"its ok." aku tidak begitu mempersoalkannya. aku rasa khaila juga tak salah.


setengah malam, khaila menemaniku berbicara kesana kemari tentang meera. dia memintaku agar membuka kembali kisah meera. dia juga menyuruh, untuk aku meneruskan kisah itu dan kalau bisa kisah itu terbit menjadi sebuah buku novel, karena khaila tahu bahwa cita-citaku ingin menjadi seorang penulis.


sepulang khaila, di dalam kamar aku terbaring ber bantalkan lengan, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. buku itu telah mengingatkanku pada kenangan lalu, menjadikanku gelisah dan berandai-andai. seandainya, aku bisa melupakan sebagian dari ingatanku, aku lebih memilih untuk melupakan meera, dan kembali dalam kehidupan semula.


waktu sudah larut malam, mataku sulit untuk tertidur, karena ingatan selalu melukis tentang wajahnya. "adakah sedikit rindumu tentang namaku?" "pernahkah aku hadir di mimpimu, walau itu hanya sebentar lalu pergi?" bila saja kamu berada di sisiku, akan aku berikan apa saja yang kau minta.


sebelum khaila pulang, aku sempat berjanji padanya, akan membuka dan membaca kisahku dengan meera kembali. dan akan melanjutkan hingga perpisahan terjadi.


meskipun berakhir pahit, padahal aku pun tak sanggup, tapi demi memenuhi keinginannya, aku bersedia melakukannya.


aku bukanlah seorang cendikiawan, aku tak pandai dalam menulis cerita, aku juga tak hebat dalam mengolah kata, tapi aku ingin bercerita tentangnya.


cek ceritanya di halaman berikut. apabila ada kata yang salah, maupun terdengar belibet. kritik dan saran sangat di butuhkan untuk menjadikan ceritanya lebih baik. tulis di kolom komentar yah...

__ADS_1


.


__ADS_2