GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
datang bersama keajaiban


__ADS_3

apakah ada alasan, kenapa Tuhan mempertemukan ku dengannya? apakah itu untuk belajar, ataukah mengajarkan. apakah untuk sesaat ataukah selamanya. entah akan menjadi bagian terpenting, atau sekedarnya. yang jelas, Tuhan tidak menjanjikan langit itu selalu biru, bunga selalu mekar, dan mentari selalu bersinar. tapi ketahuilah, Tuhan selalu memberi pelangi di setiap badai, tawa di setiap air mata, berkah di setiap cobaan dan jawaban di setiap do'a.


dia yang bernama meera, sudah aku anggap selayaknya penyihir. karena sudah membuat perubahan dalam satu pertemuan. dia memaksaku untuk selalu mengingatnya. sulit untuk mengakui, bahwa aku tidak suka. aku sedang tidak baik-baik saja.


"satu kali kamu mengenal meera, selamanya tak akan bisa lupa!" ucapan itu tetap terngiang-ngiang di telinga. apakah benar akan seperti itu? sering aku bertanya pada diri sendiri. "bisakah waktu, membawa kembali dalam pertemuan?"


selang tiga hari berlalu. pagi yang tak biasa. layaknya matahari terbit.


kebiasaanku. pasca lulus SMA, aku tidak pernah lagi melihat matahari terbit. itu karena tidak pernah bangun pagi. aku akan terbangun kala matahari sudah berada di atas kepala, itu pun karena perut yang sudah kelaparan.


setelah lulus sekolah, aku tidak punya kegiatan apa pun, hingga ibu menyebutnya. "dasar pemalas." saking terbiasanya tak mau bangun pagi, membuat ibu tak akan lagi membangunkan. istilah bahasa belandanya "bodo amat!" padahal si amat juga sudah tak bodo lagi.


tapi lain di pagi itu. di mulai dari jam 1/2 8 [setengah delapan], ibuku sudah heboh membangunkan. aku tak tahu untuk apa alasannya. tangannya tak henti mengetuk pintu, sambil memanggil "nu~ bangun!" pintanya dengan suara kencang, kencangnya melebihi suara sound sistem. berulang kali cara yang sama dia lakukan, agar aku lekas bangun.


aku rasa itu cukup mengganggu. jadi aku putuskan untuk membuka kunci, dan membiarkannya masuk. hanya di biarkan untuk masuk, bukan berarti aku akan terbangun, dan memilih untuk melanjutkan sisa tidurku.


bukan hanya bicara ke sana kemari, dia juga melakukan dengan fisik, seperti menarik selimut, menggoyang-goyangkan tubuhku, sampai memukulku dengan bantal. hal semacam itu, tak membuatku untuk terbangun.


di balik alasan ibuku membangunkan, hanya untuk sekedar berbantu di rumahnya si ilham. berhubung jarak antara rumahku dan rumah si ilham hanya terhalang din ding pembatas.


hari itu di sebut hari munjungan. di mana si ilham akan datang bersama mertua dan sederet keluarga besar dari istrinya. rutinitas semacam itu sering di lakukan, pasca resepsi pernikahan.


kala rombongan si ilham dan mertuanya datang, aku masih dalam keadaan tertidur. sementara ibu meninggalkanku, ikut menyambut di rumah si ilham.


"bi, mana si danu?" tanya ilham pada ibuku. oh iya, di antara sepupuku yang lain, yang paling dekat dan akrab ialah si ilham. itu karena kami sering main bersama waktu kecil.


"jangan di tanya! jam segini, dia belum bangun." jawab ibu di depan semua orang, sampai ratna dan meerapun ikut mendengar.


ratna yang kala itu duduk bersama meera, saling berbisik. "itu ibunya ka danu!" kata ratna. meera menujukan sikap dingin dengan tidak menanggapinya. "bu, bilangin ke danu! di tanyain teh meera gituh!" pesan ratna.


"i~h apa an sih kamu!" meera menyangkalnya.


ibuku lantas pulang, dengan niatan akan membangunkanku kembali. satu kata dari ibuku yang cukup jitu untuk membuatku terbangun. "ada meera tuh nanyain kamu!" seketika aku terperenjat, mampuh tersadar dengan baik. dengan mata yang melihat-lihat. apakah aku tak salah mendengarnya, ataukah itu hanya gurauan ibu semata demi menarik simpatiku. "di mana?" tanyaku memastikan.


"ada di rumah si ilham." jawab ibu. aku mengusap wajah, mengucek-ngucek kedua mata, segera bangkit untuk mandi.


aku yang ingin segera bertemu meera, berjalan sangat terburu-buru. tiba di depan rumah si ilham, suasana terlihat ramai, terpaksa aku harus mengendap-ngendap. berdiri di balik pagar, melakukan pengintaian. "duh ramainya!" keluhku sendiri yang tak punya nyali.


tujuanku hanya satu, yaitu untuk menemui meera. tapi sayang aku tak punya nyali untuk hal itu, karena meera berada di tengah-tengah kerumunan. aku hanya bisa berdo'a agar keajaiban tuhan datang kembali.


tuhan memang maha bijak, selalu memberikan apa yang hambanya butuhkan. mungkin hatinya di ketuk, dengan ajaib meera dan ratna keluar dari dalam rumah si ilham, dengan alasan "kepanasan." mereka berdua duduk di sebuah kursi yang memang terdapat di depan rumah itu. langsung ku tadahkan kedua tangan, mengucap rasa syukur kepada tuhan. "alhamdulillah."


tak tunggu lama, aku segera bergegas menghampiri mereka. layaknya foto model, aku berjalan penuh gaya di hadapan meera, berjalan jingkrak-jingkrak bersama kedua tangan yang di masukan ke dalam saku celana.


dari jauh, kedatanganku sudah terlihat oleh mereka. "orang aneh datang!" tutur meera.


siulanku berbunyi. "wit wiww." saat melewat di hadapannya. "bagaikan matahari terbit, sinarnya mampuh membangunkanku."


"haruskah ku alami hari na'as lagi!" keluh meera menutupkan telapak tangannya pada wajah.


"sehat kamu?" tanyaku tak bertuju.


ratna menjawab. "tanya ke siapa?"


"tanya kamu dan kamu di sebelahnya!" sambungku.

__ADS_1


"tu~h kan na~, dia itu orang aneh! gk usah kamu tanggapi, nanti ke tularan aneh juga!" timpal meera.


"aku menemukan seorang gadis, dia cantik serta manis, aku tak tahu gadis itu mencintai atau tidak, yang jelas aku mencintainya." kataku so puitis, padahal itu sebuah kutipan yang aku temui di dalam buku.


"kamu tahu na?" tanyaku pada ratna. "apa?" menjawabnya.


"semalem, aku mengulangi mimpi yang sama, tapi bedanya, mimpi kali ini, perempuan itu memakai kerudung ungu, serta gamisnya yang serupa."


ucapanku membuat meera memperhatikan penampilannya. "apa yang dia kata, sama dengan yang aku pakai sekarang." kata meera dalam hatinya.


"tapi anehnya, kali ini, perempuan itu mengungkapkan perasaannya di hadapanku." sambung isi ceritaku.


dengan lantangnya meera membantah. "halah, jangan di tanggapi na! itumah cuman akal-akalan dia saja." ratna hanya tersenyum melihat tingkah kami berdua.


"setelah aku ingat-ingat dan pikir-pikir, sangat percis dari kerudung, baju, sampai wajahnya, mirip dengan kamu ra! apa jangan-jangan kamu orangnya? jadi kapan, mau mengungkapkan perasaannya kepadaku?"


"sekarang, tidak pake nanti lagi! aku~ tidak~ suka~ sama~ kamu~." jawab meera ngegas.


"yah, aku hargai keputusan kamu!" pujiku. "nah gitu." jawab meera sedikit lega.


"pokoknya, apa pun ucapan yang keluar dari kamu, aku anggap semuanya iyah."


"maksudnya?"


"aku dan kamu, iyah. saling mencintai!"


"haruh, pusing pala barby kalo gini ceritanya." keluh meera menepuk jidat.


ratna yang kebelet pengen buang air kecil, meminta untuk menumpang kamar mandi. berhubung kamar mandi di rumah si ilham lagi penuh, dia memintanya padaku.


dengan senang hati aku mempersilahkan. ratna meminta meera untuk bersedia menemani. bukan hanya sekedar menumpang ke kamar mandi, mereka juga menumpang untuk melaksanakan shalat sunah duha.


di awali oleh meera. sebelum masuk, aku sudah berpesan. "jangan komen saat melihat isi dalam kamar itu!"


kamarku yang berukuran 3x4 meter, terdapat sebuah kasur kecil 120x220cm di dalamnya, di tambah meja belajar dan lemari baju serta sebuah rak yang terpenuhi dengan buku-buku. seandainya tidak terdapat kasur di dalamnya, siapapun yang melihat pasti menyangka bahwa itu adalah sebuah perpustakaan.


koleksi buku novelku sangat banyak, maka tak heran jika berserakan di mana-mana. ada yang tergeletak di atas kasur, itu bekasku membacanya. ada yang di atas lantai, ada pula di meja. jangan bilang kalau aku jorok, aku hanya belum sempat untuk membereskannya.


satu langkah masuk ke dalam kamarku, sudah berhasil membuatnya menggelengkan kepala. "masya allah, berantakan sekali." beberapa dia ambil dan di simpan di tempat semestinya.


seusai dari salat, meera tak langsung keluar. dia pergunakan untuk melihat-lihat se isi kamar. ada beberapa foto yang dia pandangi, mulai dari fotoku bersama alumni SMA, keluarga dan teman-temanku. yang paling banyak, adalah foto bersama beni, leni dan devi. mereka bertiga adalah temanku yang paling dekat. bukan hanya foto, meera juga membuka beberapa buku novel.


merasa ada yang aneh dengan meera, karena hampir setengah jam berada di dalam kamarku, membuatku bertanya-tanya kepada ratna. "dia lama banget salatnya?" ratna yang tengah duduk bersamaku ternyata merasakan hal yang sama. "apa mungkin teh meera ke tiduran yah?" guyonnya.


"teh lama amat?" tanya ratna di balik pintu. merasa ke enakkan hingga lupa kalau ratna menunggunya di luar. meerapun menutup buku yang tengah dia baca dan menyimpannya kembali.


giliran ratna yang masuk untuk melaksanakan salat duha. ratna juga tak berbeda jauh dengannya. saat dia kembali keluar, dengan sengaja mengambil satu buah buku. "kak, itu kamar apa perpustakaan?" tanyanya.


"aku sudah ingatkan, jangan komplain!" jawabku.


"aku pinjam satu yah!" sambil menunjukkan bukunya. lalu aku jawab. "bagai mana di tolak? orang bukunya sudah kamu ambil!" dia pun tertawa nyaring. jika tak gengsi, meera sudah melakukannya lebih awal.


"na, ambilkan satu dong!" pinta meera. "judulnya cinta suci zahrana." novel itu edisi baru, yang di tulis oleh habiburahman el shirazy. buku itu baru aku beli, baru beberapa halaman saja yang di baca.


saking asyiknya membaca novel, meera dan ratna sampai lupa dengan keberadaan keluarganya di rumah si ilham. hal itu, membuat si ilham mencari-carinya. ilhampun menemukan kalau meera dan ratna tengah berada di rumahku.

__ADS_1


"rupanya kalian di sini?" kata ilham.


si ilham mengajakku, meera serta ratna untuk makan bersama. bahasa sundanya "babacakan." aku menolak tawaran itu, dan anehnya meerapun ikut menolak. dia lebih memilih meneruskan bacaan novelnya. sementara ratna ikut ajakan dari si ilham.


boleh saja pandangannya fokus terhadap buku yang sedang dia baca, tapi pandanganku fokus menatap wajahnya. sesekali dia tersadar bahwa aku tengah memperhatikannya, tak lantas menoleh ke arahku dengan sinis. "terus aja pandangin, sampai puas!" ucapnya mengejek.


aku tak mengeluarkan sepatah kata apa pun, hanya memperhatikan dia yang serius membaca. "kamu, suka baca novel?" tanyanya ngadak-ngadak.


sebelum menjawab aku tersenyum dahulu. "aku kira, aku hanya di anggap patung!" jawabku menyindirnya.


"tadinya berpikir demikian, tapi aku kasihan!" ucap meera begitu sadis. gaya seperti itulah yang selalu aku rindukan darinya. "apa kamu tak berpikir, kalau aku ini ganteng?" dia menggedigkan bahu dan menggelengkan kepala.


"aku tidak suka membaca novel! hanya gemar saja!" jawabku membuat lelucon, tapi sayang tak membuatnya tertawa, hanya rasa gedeg yang muncul di wajahnya.


"apa yang membuatmu jadi gemar?" tanyanya kembali.


"ada kehidupan di dalamnya!"


"he~m.!" dia memperdalam dari ucapanku.


"buku novel adalah sebuah benda yang mati, jika kita memandangnya dengan mata. "tapi jika kita memandang dengan perasaan, di situ ada kehidupan yang nyata. "ribuan bahkan jutaan buku novel sudah terbit dari tahun ke tahun, meskipun hampir semua rumusnya terbilang sama, yaitu tentang kehidupan, tapi ada yang selalu menjadi pembeda!" tutur penuturanku.


"apa?" tanyanya.


"ia itu prosesnya." pungkasku.


"pantesan kamu jadi halu, banyak main di dunia fantasi sih!"


hari itu, bukan hari yang kebetulan. tapi hari yang sudah di tetapkan oleh tuhan, sebagai garis pertemuanku kembali dengannya. jika aku harus menggambarkan di dalam sebuah buku tentang rasa kepadanya, tentu buku itu tak akan cukup untukku mengisinya.


sebetulnya, aku tak mau hari itu cepat berlalu. tapi sore menjelang, langit di ujung barat menampakkan warna jingganya, hari akan segera berganti. padahal masih banyak kata yang ingin aku bicarakan dengannya, masih belum puas rasaku bersamanya. kenapa dikala pertemuan terjadi, harus di akhiri dengan perpisahan?


dengan berat hati, aku harus merelakan meera pulang bersama keluarganya. sementara aku segera balik ke rumah, membaringkan tubuhku di atas kasur, menatap langit-langit yang kosong, membayangkan wajahnya yang tengah berseri, hingga menari-nari di dalam pikiranku.


'tok tok tok' bunyi suara ketukan pintu kamarku. lantas aku membukanya. aku temui itu adalah ibunya si ilham. berhubung ibunya si ilham adalah kakak kandung ibuku, aku memanggilnya bude. "ada apa bude?" tanyaku. bude malah menarik tanganku. "ikut sebentar!" pintanya seakan mau menunjukkan sesuatu. di dalam hati aku bertanya-tanya. "apakah ada yang salah?" dengan rasa bingung.


bude membawaku masuk ke dalam rumahnya. "tuh" menunjukkan sesuatu. betapa tercengangnya diriku, ketika melihat meera masih berada di rumah itu. "ra~" sapaku meringkik


dia menoleh, dan memberikan senyum kecilnya. "bukannya tadi udah pulang?" tanyaku. dia hanya menggelengkan kepala, namun bude yang menjawabnya. "dia gk jadi ikut pulang, katanya mau langsung berangkat ke asrama!"


"mau ngapain di asrama? kaya anak yayasan aja!"


"gk usah banyak omong! tempatnya di maja!" timpal si ilham.


maja adalah sebuah nama kecamatan, yang letaknya di tengah-tengah kota pandeglang, nama aslinya majasari.


"jam segini kan udah gk ada angkutan umum!" kataku sambil melihat jam di pergelangan tangan.


"justru itu, kamu harus bersedia mengantarnya!" jawab si ilham telak.


"wah rejeki nomplok nih" kataku di dalam hati.


aku berjalan beberapa langkah, mendekat ke arah meera, dan duduk di hadapannya, kemudian bertanya. "beneran kamu mau ke maja?" sekedar memastikan. dia menganggukkan kepala menunjukkan kata iya. aku ajukan tawaran. "mending menginap saja di rumahku!" dia melotot dengan ke ngeriannya. melihat jam di pergelangan tangan sudah 17:30wib, sebentar lagi waktu magrib tiba. "aku mau nganterin! tapi habis magrib saja ya, tanggung nih!"


"terserah!" jawab meera. "asal jangan menginap di rumah kamu saja!" sambungnya.

__ADS_1


"kalo jadi pacar aku mau?"


"belum ada niatan!" jawabnya.


__ADS_2