GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
sinar dalam pertemuan


__ADS_3

plash back. 11/11/2011. pandeglang.


pagi bersahaja, lembutnya sinar mentari mampu mengusik ketenangan embun yang bersemayam di atas helai daun. suara ayam berkokok memberi sebuah isyarat menandakan hari akan segera di mulai.


seorang pemuda yang kian merangkak dewasa, masih tersimpan senyumnya yang polos, masih ada tawa yang lepas dan suka bertingkah dengan liar. ya, itulah aku. "danu"


jika ada yang bertanya "apakah aku bahagia?" tentu aku pasti menjawab "tak ada alasan untuk bersedih di hari itu"


ya, hari itu adalah hari minggu. hari yang mengantarku dalam pertemuan, dan juga hari pembuka dalam kisahku bersama meera.


hari yang bertanggal 11. bulan ke 11 atau bisa di sebut bulan november, bulan yang identik dengan musim penghujan. tapi bersyukur atas rahmatnya hari itu cuaca sangat cerah, padahal kemaren hujan turun sangat deras. satu lagi yang melengkapi yaitu tahun 2011, sebuah angkat yang sangat keramat, hanya terjadi satu kali dalam seumur hidup.


di tahun tersebut, usiaku baru menginjak di usia 19thn. bisa di bayangkan, usia segitu adalah masa keemasan bagi insan remaja. di mana anak remaja suka memiliki sederet cita-cita yang tinggi dan segudang harapan.


tahun itu juga adalah tahun kedua, aku menjadi seorang pengangguran yang terbilang sukses. "sukses tidak melakukan apa-apa!" itu di sebabkan karena minimnya ekonomi dalam keluarga, sehingga pasca lulus SMA aku tidak melanjutkannya ke universitas yang lebih tinggi


aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. bukan pula orang yang mudah mengubah rasa, jika suatu nama tertulis di dada, sulit untuk menghapusnya.


aku adalah tipikal orang yang menolak jika di kekang, dan enggan jika harus di suruh-suruh, itulah alasannya aku tidak melamar pekerjaan di pabrik seperti ayahku, atau pekerjaan lain yang berbakti untuk orang asing.


sekali lagi aku katakan, bahwa hari itu sangat spesial. hari itu di jadikan resepsi pernikahannya berlangsung. yaitu pernikahan sepupuku yang bernama ilham. dan sepupu meera yang bernama risma.


sudah sewajarnya, sebagai sepupu yang baik, aku pasti ikut dan menghadiri acaranya. acara yang di gelar di halaman rumah mempelai wanita {risma} berlokasi di karang anyar, kecamatan carita, kabupaten pandeglang. meskipun mencakup satu wilayah denganku, tapi membutuhkan waktu sekitar 1jam untuk sampai ke tempat tujuan.


kala itu, boleh saja ilham dan risma yang menjadi raja dan ratunya. tapi jangan lupakan meera, yang menjadi sinar di momen tersebut.


setelah ijab kabul terucap, di sah kan oleh para saksi, dan sederet pernak-pernik yang menjadi tradisi di lalukan. seorang remaja dengan rambut depan menutupi jidat, serta rambut belakang sampai ke pundak. terduduk di bangku barisan paling belakang. dia mengenakan baju batik dengan lengan pendek, berwarna putih dengan motif bunga hitam. bersama lima teman laki-laki yang seumuran dan bernasib sama. sama-sama jomblo. yah itulah aku, danu.


itulah alasanku dan teman-teman lebih memilih duduk di belakang. hanya untuk menghindari ocehan atau sindiran yang bersifat menyindir. "kapan nyusul!" "mana calonnya?" bla bla bla dan sebagainya. bagi kaum jomblo, ocehan seperti itu, sangat angker untuk di dengarkan.


aku dan ke lima temanku yang duduk di satu meja, seperti anak remaja pada umumnya. melakukan pengawasan terhadap remaja perempuan yang datang ke tempat itu. setiap kali ada gadis yang datang, komentar-komentar tengil suka keluar dari mulut mereka. "kurang cantiklah" "terlalu jeleklah" dan bermacam lainnya. gk nyadar, kita sendiri seperti apa?" pake mengoreksi tampilan orang lain segala.


di satu kesempatan, datanglah seorang perempuan yang mampu membungkam mulut kami. kami hanya terdiam menyaksikannya dengan mulut sedikit menganga. "waw" sepasang mata seakan tak mau berkedip, mengikuti ke mana dia melangkah. aku yakin, sudah ratusan orang di sihir dengan senyumnya.


dia itu adalah meera. Pertama kalinya, tuhan mempertemukan. pertemuan adalah permulaan dalam proses belajar menemukan.


dia datang mengenakan gamis putih yang di hiasi motif bunga berwarna pink, balutan hijabnya juga berwarna pink, mengikuti struktur bajunya. aku tidak begitu paham dengan jenis gamis dan hijab yang dia kenakan, aku hanya ingat dengan warnanya yang cerah. tak hanya itu, dia juga membawa tas selempang serta sebuah kamera yang tergantung di lehernya. tapi sayang dia datang bersama seorang pria.


saat itu, yang ada di benakku dia sangat mempesona. tak peduli dengan siapa dia datang.


salah satu temanku bertanya. "nu- gimana?" tanyanya serius. aku hanya mengacungkan ibu jari sebagai tanda good menanggapinya. seperti yang aku katakan, dia adalah sinarnya di hari itu. entah kenapa saat dia datang, seperti membawa kebahagiaan. dia yang datang aku yang bahagia gitu.


aku tak menilai dia dari kecantikannya! itu sangat relatif. ada sesuatu yang di sisipkan tuhan dalam sanubariku, bersamaan dengan kedatangannya . kami berenam, layaknya ibu-ibu yang tiap pagi datang ke tempat sayuran, nge gosip gitu. dan meera sebagai topik pembicaraannya.


di depan sana, tepatnya di singga sana pengantin. hampir semua keluarga besar aku naik ke atas panggung. untuk melakukan foto bersama. si ilham merasa ada yang kurang, dengan ke tidak ikut sertaan diriku. ilham pun menyeru padaku agar ikut foto bersama.


aku rasa, bagaimana mungkin untuk ikut foto bersama, sedangkan suasana panggung sudah terisi penuh, jadi aku mengurungkan niat untuk ikut foto bersama, dan menunggu giliran lain. si ilham terus memaksaku untuk naik dan mengabadikan momen itu bersama keluarga. dengan sindirannya dia berkata. "mau lo.. di coret dari buku keluarga?" aku tak peduli karena situasi tidak memungkinkan.


beberapa saat, kehadiran meera sempat tak terlihat. kini dia kembali, membawa kamera, sekaligus bertindak sebagai foto free weddingnya. di tahun itu, khususnya di daerah perkampungan, sangat jarang orang yang memiliki kamera digital, mungkin hanya sebagian orang tertentu saja yang memilikinya.


suasana di atas panggung sudah siap untuk pemotretan, tapi tidak dengan sang fotografernya. aku yang kebetulan memperhatikan, melihat meera tengah kesulitan mengoperasikan kamera yang di bawanya. aku kira, kamera tersebut bukan miliknya.

__ADS_1


aku menjadi orang paling naif yang seketika mencari segala cara untuk dapat sekedar berdialog dengannya.


"apakah perlu bantuan?" ajuku menawarinya. dia menoleh cepat, sedikit memberi senyumnya yg manja. bagusnya, dia tidak memiliki rasa gengsi, jadi sadar dengan ke tidak mampuannya. "memang kamu bisa?"


keringat dingin mulai terasa menyelimuti, detakan kencang di jantung mulai gk karuan. "bisa sih engga! akan aku coba untuk dirimu."


dengan mengangguk dia menyodorkan kameranya "yaudah nih!"


ke lima temanku mendadak heboh di belakang, melihat kedekatannku bersama meera. aku mengambil kamera dari tangannya. sebuah kamera digital coolpix p700 produksian nikon. walaupun aku berasal dari keluarga kurang mampu, tapi aku sedikit beruntung di kelilingi teman dari keluarga yang berada. jadi aku tidak begitu gaptek dengan benda semacam ini. itulah untungnya bergaul dengan orang-orang kaya.


aku tunjukkan menu yang tersedia di dalam kamera tersebut, dan memberitahukan cara dan pungsinya satu per satu. Aku berikan contoh dengan memoto si ilham beserta keluarga. aku rasa meera sudah mengerti, dan mengembalikan kamera itu kembali. saat aku hendak meninggalkannya, tak lupa membisikan sesuatu di telinganya "jika butuh bantuan! aku di belakangmu!" dia tersenyum, dengan senyuman yang di buat-buat.


Aku tak mau menjauh darinya, hanya memperhatikan dari belakang. Pancaran sinarnya seakan menutupi ruang-ruang dunia, dan hanya terfokus berada di garis-garisnya.


"kamu suka yah dengan dia?" ucap mendadak seorang pria paruh baya di sampingku. sontak aku menoleh cepat ke arahnya.


"kamu sudah tahu siapa namanya?" tanyanya mengayun. aku gelengkan kepala, karena memang tidak tahu. "mau tahu siapa namanya?" aku mengangguk anggukan kepala. tanpa membunyikan suara.


"perlu kamu tahu, dia adalah sosok perempuan dengan pendiriannya yang kuat! sekali bilang iya ya iya! sekali tidak ya tidak!" tutur pria tersebut seolah mengingatkan.


aku rasa, pria paruh baya itu mengenal meera sangat dekat. hingga dia tahu sifat yang di milikinya. dan aku tak mengerti dari maksud perkataannya itu terhadapku.


"dan saya sarankan! sebaiknya tidak mengenal dia!" perkataan itu, sangat bertolak belakang dengan keinginanku. Menurutku itu bukan saran, melainkan larangan. aku benar-benar di buat tak mengerti dengan maksud perkataannya, yang melarangku untuk mendekati meera. aku jadi bertanya-tanya pada diri sendiri. "emangnya dia siapa, mengatur-ngatur hak orang! aku adalah orang yang tidak suka di kekang. perkataannya yang terus menerus membuatku kurang nyaman, aku putuskan untuk menjauh darinya.


Ketika aku berdiri hendak meninggalkannya, dia memegang tanganku. "dia adalah meera! sekali kamu mengenalnya, selamanya kamu akan tetap mengenal!" ucapnya. lalu dia pergi meninggalkanku. perkataannya yang terakhir cukup membuat bulu kudukku merinding. "apa yang dia maksud?" aku mengurungkan untuk pergi, karena dia yang lebih dulu meninggalkanku.


aku sempat berpikir sejenak tentang perkataannya. pria tersebut seolah tahu, dengan keinginanku terhadap meera. namun aku tidak punya alasan untuk menuruti perkataannya. aku sempat teringat, pria tadi menyebut bahwa perempuan itu bernama meera. aku jadi penasaran dan ingin mencari kebenarannya. sengaja aku berteriak memanggil namanya. "me~ra~." bukan hanya meera yang menoleh ke arahku, tapi hampir semua orang.


dari atas singgah sana pengantin, si ilham memanggil-manggilku. "nuu, sini, foto bareng!" ajaknya dengan tangan melambai-lambai. aku segera naik ke atas panggung, untuk memenuhi ke inginnya.


ketika berada di atas panggung, ramai teriakan dari teman-temanku melihat. "nu, yang pake kerudung pink, jangan sampai di anggurin.!" tingkah yang mereka perlihatkan sedikit membuatku malu.


aku menghadap si ilham, dia menarikku. mendekatkan mulutnya di telinga, lalu membisikan sesuatu yang suaranya terdengar keluar. "kamu gk masukan amplop ke kotak?" bunyi bisiknya menyindir. kebetulan sekali, aku tidak menyiapkan akan hal itu.


bukan danu namanya, jika tidak bisa ngeles. aku berlaga sok-soan, aku menjawab lantang. "ham, kalo pake amplop, kesannya ingin terlihat, itu namanya ria." aku menggoyang-goyangkan telapak tangan. "aku bukan tipe orang seperti itu. coba deh, cek rekening bank kamu!"


"kenapa?" tanya ilham penasaran. "kamu kondangannya langsung via transfer?" seolah percaya dengan perkataanku.


dengan tegas aku menjawab. "yah ng-ga lah. orang aku gk punya atm." dia menepuk pundakku kesal. "sialan loh. transfer ng-ga, sekarang juga ng-gak." heboh banget perkataannya, hingga semua dibuat celongok.


"suttt" aku menutupkan telunjuk di mulut. "jangan bongkar rahasia perusahaan donk." giliran aku yg balik berbisik kepadanya. "ham, aku ingin di foto, sama tukang fotonya!" dia yang kaget malah menepuk bokongku. "iih, jangan macam-macam loh." dia kembali berbisik dengan guraunya. "salah milih kayaknya bro." ''ha-ha-ha." kami menertawakan hal itu. tinggallah istrinya yang menjadi bingung.


meera yang kala itu menjadi foto frewedd di buat menunggu, lantas bertanya. " jadi di foto gk nih?" tanyanya dengan keras.


entah ke mana rasa malu dalam diriku kala itu, hingga berani menanggapinya. "mau, tapi maunya sama kamu!"


dia melemparkan sedikit senyuman untuk hal itu, mungkin merasa jijik. "sudahlah jangan aneh loh!" ilham membantah.


aku sedikit maju, memanggil meera, agar mendekat. beruntung dia tak menolaknya dan mendekatkan diri padaku. "apa?" tanyanya ketus.


"aku kan tadi udah bantuin kamu! sekarang giliran kamu yang bantuin aku!"

__ADS_1


"bantuin apa?" tanya meera. "udah naik sini!" aku memanggil salah satu temanku yang bernama fajar. "jar sini jar!" si fajar langsung menghampiriku. "ada apa nu?" tanyanya. aku ambil kamera dari tangan meera dengan paksa, lalu memberikannya kepada fajar. dengan bingung si fajar bertanya "untuk apa nih?" "sekarang lo fotoin gua yah!" suruhku padanya. tanpa menolak si fajar langsung sigap.


hanya saja, ada sedikit penolakan dari meera. "apaan sih! ngak ngak. aku gk mau ah!"


"ehh. ingat, tadi aku udah bantuin kamu! coba kalo gk aku bantuin, kamu pasti bingung!"


"jadi cowok kok itung itungan bangat sih!"


"tidak ada toleransi, pokonya harus naik."


dengan terpaksa, meera bersedia mengikuti kemauanku. sambil menunggu meera naik, aku berbisik di telinga si fajar "di lama-lamain ajah jar! biar gw bisa lama bersama si meera!" "bisa di atur!" jawab si fajar.


Kini meera telah bersamaku di atas panggung. Yang aku harapkan, aku berada di sampingnya ketika hasil foto itu keluar, tapi meera memilih berdiri di samping risma, jarak yang jauh dariku. Tentu itu tidak ideal. Aku pun bergeser dan berdiri di samping meera. Meera hendak pergi kembali, tapi aku tahan, agar bertahan di sampingku.


"siap jar?" tanyaku semangat. si farar mengangguk. Aku menyolong gandengan tangan darinya, agar terlihat seperti pasangan kekasih, dia berusaha untuk melepaskannya, tapi itu gagal, karena aku terlalu kuat menahannya. "apaan sih ini?" tanyanya sewot.


"sudah diam! ini hanyalah suatu pembuktian, bahwa sekarang aku tidak lagi jomblo."


"maksudnya, dengan cara mengaku-ngaku bahwa saya ini pacar kamu gitu?" sewotnya nyaring


"sudahlah, gk usah pura-pura, akuin saja, bahwa aku pacar kamu!"


"idih. gk tau malu banget!"


berkali-kali aku menggandeng tangannya, tapi dia selalu melepaskannya. sampai-sampai, aku menggandengnya terlalu erat, hingga membuatnya merasa kesakitan. "aww. sakit tau!"


"oh sory-sory!" ucap maafku sambil mengelus tangannya. "modus banget sih!" sindirnya.


hari itu, entah setan dari mana yang merasuk ke dalam tubuhku. aku menjadi orang yang tak tahu malu, tapi aku suka hal itu. hingga akhirnya, si fajar berhasil mengambil momen aku dan meera yang tengah bergandengan.


setelah selesai, aku dan meera buru-buru turun, untuk merebut kamera dari tangan si fajar. meera berniat akan menghapusnya, sementara aku bersikeras akan mempertahankan. si fajar menyerahkan kamera itu pada meera. Kamera berada di tangannya, secepat kilat aku rebut darinya. kerap dia memelas agar kamera itu di kembalikan padanya. sesaat suasana pesta mendadak ribut oleh kelakuan aku dan meera. orang tua si risma melerai kami. meerapun terdiam dengan wajah asem.


aku membuka hasil foto tadi, lalu bertasbih "subhanallah" "terpesona yah lihat kecantikan saya?" sahut meera menanggapi. "gk usah ke pedean!" sindirku. "udah akuin aja! sampe ada yang bela-belain, maksa, ingin berfoto dengan saya."


"baru kali ini, aku melihat hasil foto wajahku sendiri. ternyata masyaallah." "ganteng banget yah!"


"emang gk ada cermin di rumah?" sindirnya dengan wajah sepele. "kalo merasa ganteng, gk mungkin dong jomblo?" sambungnya.


"heh heh heh." aku mendekatkan diri padanya untuk mempertegas. "asal kamu tau yah! saya jomblo itu, bukan berarti tidak ada cewek yang mau sama saya, tapi saya menolak mereka untuk jadi pacar!"


"halah~ akuin saja lah, gk usah halu!" "sudah sini kameranya!"


"udah kamu duduk aja, biar saya yang melakukannya!" pintaku.


"apa itu artinya, kamu suka sama saya?" lagi-lagi dia menyindirku.


"ingat yah, ada juga kamu nanti yang suka sama aku!"


"halah gk usah ngelak! atau nggak, ini cara kamu untuk menarik simpatiku, agar nanti suka gituh sama kamu? "ingat yah, jangan ngarep!"


sebetulnya, aku tidak berniat untuk menarik simpati darinya, aku hanya sekedar mencari kesempatan, agar bisa mengenalnya lebih dekat.

__ADS_1


__ADS_2