GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
berharap pada harapannya


__ADS_3

saat aku membuka mata, tak ku lihat lagi hadirnya di samping, nafas di dada terasa sesak, berfikir kematian itu telah tiba, nyatanya hanya hati saja yang mati. sementara jasad masih utuh, untuk kembali melihat dunia, yang penuh tipu muslihat ini. 


aku mulai tersadar, menemukan diri tengah terbaring di rumah sakit. kejadian itu begitu cepat, hingga tak sadarkan diri. dalam hati bertanya-tanya, siapakah orang itu, yang membawaku kerumah sakit? hal itu menjadi pertanyaan yang di ajukan pada tante lisa.


menurut pengakuan tante lisa, meera lah yang telah membawaku ke rumah sakit, meera juga yang mengabari tante lisa. namun sayang, malam itu juga telah terjadi pertikayan antara meera dan dian.


pemicu pertengkaran antara meera dan dian terjadi, awalnya meera hanya memberi peringatan kepada dian, supaya tidak sampai jatuh hati padaku. hal itu di lantari meera mulai menyadari sikap dian yang mulai berbeda terhadapku, meera paham betul dengan sifatku, ia tak mau sahabatnya itu kecewa atau pun patah hati.


namun niatan baik itu malah di respon negatif oleh dian, dian mengira meera cemburu. selain itu dian juga menganggap kalau meera takut, aku akan di ambil olehnya. dian membantah nasehat meera, memperingatkan supaya meera tak usah lagi ikut campur dalam urusannya.


meera dan dian terlibat cekcok adu mulut, menjadikan mereka mulai perang dingin. status sebagai sahabatpun semakin di ragukan.


nama meera dan dian sering jadi bahan pembicaraan bagi teman-temannya. terbagi menjadi dua kubu, kubu yang pro si a dan pro si b. masing-masing memberikan pandangan yang berbeda.


menurut dari pandangan orang yang menyukai meera. menganggap dian sebagai seorang penghianat. pacar teman sendiri di rebut.


namun lain menurut pandangan orang yang menyukai dian. bagi mereka meera adalah seseorang yang munafik. bilang sudah tak cinta, namun tak bisa merelakan untuk orang lain.


aku tak percaya, hubungan mereka akan berakhir tragis, hanya gara-gara diriku.


....


di rumah sakit. ibuku datang bersama om iwan untuk menjemput. namanya orang tua pasti khawatir. "kenapa hanya karena cinta, kamu bisa seperti ini?" tanya ibuku. aku tak bisa menjawab, bahkan tak berusaha untuk menjawab. kemudian om iwan bertanya. "kamu mau di antar pulang kemana? kerumah om iwan atau kerumah ibumu!"


aku jawab "kerumah ibu saja!" aku ingin menenangkan diri di sana, memanggil jiwa-jiwaku yang hilang agar kembali.


sampai di rumah, dalam kamarku. aku hanya menyendiri, tidak mod untuk berbicara dengan siapa pun. kepribadianku telah berubah aku menjadi sosok yang pendiam. kadang setelah kejadian itu, suka berpikir dalam lamunan. dulu sering berharap pada tuhan, agar mengirimkan seseorang yang bisa membuatku jatuh cinta, tuhan pun memberinya. namun sayang aku lupa meminta agar bisa aku miliki selamanya.


---o0o---


beberapa hari kemudian. aku mendapat telpon dari ilham, yang mengabarkan dirinya tengah berada di rumah sakit sari asih serang. "aku tanya siapa yang sakit?" ilham menjawab; "ibunya meera tengah keritis."


aku segera berangkat menuju rumah sakit tersebut. tiba di rumah sakit sari asih serang, aku menemukan ilham tengah terduduk bersama ayahnya meera, menunjukkan wajah lesu. ayah meera menyambut ramah kehadiranku, bahkan mempersilahkan jika aku mau masuk menengok istrinya di dalam.


jika aku masuk, tantu aku dan meera akan saling bertemu, aku tak mau menambah kesedihannya, juga tak mau melihat ia bersedih. kesedihannya merupakan kesedihanku juga.


aku tak masuk untuk melihat, hanya memandangi dari balik kaca yang terdapat di pintu masuk ruangannya. aku melihat ibunya terbaring di atas kasur tak berdaya, sebuah kabel oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya, tak hanya itu, banyak juga terdapat kabel yang di tempel dalam tubuhnya.


aku hanya bisa mengelus wajah diri sendiri sambil membuang nafas dalam-dalam "hurp." apakah kamu sanggup menerima cobaan ini sendiri ra? yang datang secara bertubi-tubi. meera yang berada di samping ibunya, hanya ada risma yang menemani di sisinya. jika saja dia mau membagi sedikit kesedihan itu padaku, nescaya aku tidak akan merasa keberatan. namun sayang, aku sudah tak bisa lagi membuatnya tersenyum.


ilham menghampiriku untuk memberitahukan, kalau ibunya meera harus segera menjalani oprasi.


"kenapa tidak di segerakan?" tanyaku.


ilham membeberkan, jika ingin operasi itu segera di lalukan, harus menyiapkan uang sejumlah 50 juta terlebih dahulu. aku sangat tercengang mendengarnya. 50 juta bukan nominal yang sedikit, tidak bisa di dapat dengan cepat.


aku muali bertanya pada diri sendiri, tentang apa yang bisa aku lakukan lagi untuk membantu meera? jika aku punya uang sebanyak itu, akan aku berikan untuknya tanpa kecuali.


risma keluar meninggalkan ruangan. "eh. ada danu ternyata!" ucapnya melihat kehadiranku.


"bagaimana keadannya?" tanyaku dengan kondisi ibunya meera.


"harus segera di lakukan oprasi, keadaannya makin memburuk." jawab risma.


ayahnya meera lantas masuk menggantikan risma. sampai di dalam ia memberitahukan pada meera, bahwa di luar ada diriku. saat meera keluar untuk memastikan keberadaanku, ia sudah tak menemukan. aku sudah meninggalkan rumah sakit itu.


"katanya danu disini, mana?" tanya meera terhadap ilham dan risma.


"barusan udah pergi!" jawab ilham.


"oh." gumam meera kemudian masuk kembali.


aku sadar ayahnya pasti akan memberitahukan kahadiranku pada meera, aku takut meera akan mengusirku setelah tahu. jadi aku putuskan untuk pergi sebelum di suruh pergi.


aku kembali teringat dengan harapannya sebelum meninggal. ia berharap bisa melihat meera menikah. kini dia tengah terbaring, jika sampai meninggal, maka harapannya pun ikut mati tak bisa terpenuhi. aku ingin melihat harapannya bisa terpenuhi, meski harus melihat meera menikah dengan orang lain, aku tak peduli.


aku meninggalkan rumah sakit itu, untuk kembali ke pandeglang. sepanjang perjalanan tak henti-hentinya memikirkan cara untuk mendapatkan uang yang berjumlah banyak itu. sempat terrencana ingin membobol sebuah bank, setelah di pikir aku tidak punya keahlian untuk melakukan hal itu.

__ADS_1


tiba di pangkalan badak kulon. aku memandangi speda motorku cukup lama. satu-satunya harta yang aku punya hanya itu, apa salahnya jika aku korbankan untuk meera, meski tidak mencukupi, paling hanya berharga sekitar 8 jutaan tapi aku berencana menjualnya.


di pangkalan badak kulon, tidak pernah sepi dari orang-orang. hal itu akan mempermudah rencanaku, mudah-mudahan ada yang berminat untuk membeli motorku.


aku mulai berjalan kedepan, mengambil pengeras suara kemudian menyuruh agar diam sejenak, meminta tolong untuk mendengarkan kata yang akan aku sampaikan. namanya komandan, perkataannya akan di turuti.


melalui pengeras suara itu, aku menawarkan siapa saja yang berminat membeli motorku untuk merapat. semua yang mendengar merasa heran, untuk apa aku menjual motor itu?


aku memberikan alasannya, apa yang aku lakukan itu semuanya demi meera. aku juga menyampaikan berita duka tentang ibunya meera, tengah kritis di rawat di rumah sakit sari asih serang, membutuhkan biyaya yang besar untuk menjalani oprasi.


setelah mendengar pengakuanku, hati mereka mulai tergugah, hingga berinisiatip akan menggalang dana untuk ibunya meera. hal itu membuatku terharu melihat solidaritas yang mereka tunjukkan.


mereka mulai mengelilingkan dus kosong, untuk memungut sumbangan dari para relawan. seiring itu berjalan, salah satu peminat motorku menghampiri untuk bernegosiasi. harga 8 juta deal aku melepasnya.


setelah motorku terjual, aku hanya bisa meratapi kesalahan, dalam hati yang paling dalam meminta maaf pada ayahku yang sudah membelikannya untukku, namun aku menjual tanpa se ijin darinya. menurutku nyawa lebih penting ketimbang harta. 


2.878000 uang hasil penggalangan dana teman-temanku sudah di serahkan padaku. secara bangga aku mengucapkan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya, atas kedermawanan yang mereka lakukan. tak hanya itu, aku juga meminta do'a untuk kesembuhan ibunya meera, serta di lancarkan pengobatannya.


jumlah uang yang aku dapat malam itu masih kurang, bahkan kurang banyak. aku akan berusaha mendapatkannya dari leni. di tengah malam aku berjalan di alun-alun kota, terduduk di samping trotoar jalan. aku mulai menghubungi leni lewat telpon. beberapa panggilan dariku tak di jawab olehnya, ia tak mendengar karena dalam keadaan tertidur. 


aku tak berhenti menghubunginya, sampai nada dering panggilan masuk terdengar olehnya. leni pun mengangkatnya. "halo." nadanya laun namun serak.


"tumben lo udah tidur?" tanyaku.


"pake tanya. ini kan udah malam bego." jawab leni. "ngapain sih lo, malam-malam telpon gw?" sambungnya.


"ini penting! gw butuh bantuan lo."


"iya apa an?" 


aku bilang tidak akan memberitahukannya, sebelum ia bangun total dan menyimak kata-kataku dengan baik. aku menyuruhnya untuk mencuci mukanya terlebih dahulu, bahasa sundanya sibenget. dan jangan dulu menutup telponnya, aku akan menunggu.


leni yang mengikuti arahan dariku, setelah semua di lakukan ia kembali pada telponnya dan bertanya: "ada apa sih, kedengarannya penting banget?" 


jika bukan karena penting, aku tak mungkin mengganggunya malam malam. jujur aku belum pernah melakukan hal ini padanya.


"ibunya meera tengah dalam keadaan kritis. gw butuh lo untuk pulang dahulu sebentar!"


aku mencoba menjelaskan, tentang hubunganku dengan meera yang tengah hancur. aku ingin ia segera pulang, agar bisa menemani meera disisinya. meera tengah di hadapi oleh masa sulit, aku ingin leni bisa mewakili kehadiran diriku di samping meera. seperti yang di ketahui aku sudah tak bisa.


"kok bisa?" tanya leni tak percaya. "gw akan jelaskan nanti." imbuhku.


"ok. besok gw pulang, kalau beni bisa nanti sama dia pulangnya." janji leni. 


tak hanya meminta agar pulang, aku juga menceritakan kondisi seuangan yang sangat minim buat biaya oprasi. leni menyarankan agar aku datang kerumahnya saja dan bertanya pada orang tuanya. "orang tuaku pasti tahu nu jalannya." ucap leni setelah memberi penjelasan. 


"nanti besok gw kerumah lo, lo sampaikan saja dulu pada orang tua lo!"


"ok. nanti gw kabarin." tutup leni.


aku bisa bernafas lega, leni bersedia membantu, dia juga rela pulang hanya demi diriku. 


aku kembali ke rumah sakit sari asih, untuk memberikan uang pada meera, dengan mengendarai sepeda motor yang aku pinjam dari temanku. 


di jalan, aku sempat membeli makanan. setiba di rumah sakit, aku melihat si ilham tengah tertidur di atas bangku, dengan tubuh meringkel. ku bangunkan: "woy.. bangun." samibil menggoyang goyangkan punggungnya. ia terperenjap segera bangun. "abis dari mana lo?" tanyanya kaget melihat kehadiranku kembali. 


"nih habis beli makanan." jawabku.


"masa iya, beli makanan sampai ber jam-jam."


"kan belinya di pandeglang."


"bego. emang di serang gk ada yang jual tah?"


"banyak. tapi gk ada yang bisa di hutangin."


aku memberikan makanan yang aku bawa pada ilham, agar di bawanya masuk untuk di serahkan pada meera. "jangan bilang sama meera, kalau makanan itu dariku!" ucapku setelah memberikannya. 

__ADS_1


ilham bergegas membawa makanannya, baru hendak membuka pintu, aku mulai teringat uangnya belum di kasihkan. aku menggupainya agar kembali. dia bilang "apa lagi?" 


"tolong berikan ini pada meera! jika tidak, berikan saja pada ayahnya." ujarku sembari meletakan uang dalam amplop di tangan ilham. ilham mengecek isi amplop terlebih dahulu, ketika di lihat itu sebuah uang. "banyak banget." bisiknya sendiri.


"lo dapat dari mana uang sebanyak ini?" tanya ia curiga.


"tadi abis bobol bank." jawabku gurau.


"jan becanda!"


"gw pastikan itu uang halal, lo juga jangan bilang itu uang dari gw pada meera."


"maksudnya lo dapat uang ini dari mana?" tanya ilham ngotot. suaranya keras, sampai terdengar ke dalam ruangan. 


suara pintu terbuka terdengar "krekk.."  aku mulai khawir, jika yang keluar itu adalah meera. hendak kabur, namun ilham menahan tanganku. seseorang itu keluar. aku menutup mata. "tadi darimana?" tanya seseorang itu padaku. aku menyadari itu suara ayahnya, aku membuka mata kembali untuk menjawab. "anu pak. tadi habis keluar dulu." 


makanan dan uang yang ku titipkan pada ilham, tak jadi di bawa masuk. ilham menyerahkan pada ayahnya meera. "ini pak dari danu." 


ayah meera menerimanya, sambil berucap basa basi. "apa ini nu?"


"akh. bukan apa-apa pak. tapi tolong di terima!"


ayahnya membuka isi amplop itu. "ini uangnya banyak banget nu? gak salah kamu memberikannya?"


"tak banyak pak, bahkan tidak mencukupi. uang itu hasil pemberian dari teman-teman danu di pangkalan badak kulon, mereka berharap itu sedikit bisa membantu meringankan biaya pengobatan ibunya meera."


"masya allah. alhamdulililah. bilang sama teman-teman kamu, kami menerimanya senang hati. kami juga mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar besarnya." 


suara pintu terbuka kembali terdengar. semuan pandangan menoleh cepat ke arahnya. aku sangat yakin, kali itu pasti meera yang keluar. benar saja meera yang keluar. aku harus pergi, namun sayang si ilham menghalangi jalanku, hingga aku tertahan dan bertemu meera. 


" mau kabur kemana lagi lo?" tanya ilham, dia menyadari aku takut sampai bertemu meera. meera berjalan mendekat ke arah kami, aku hanya tertunduk, seperti menyaksikan komandan sedang lewat. 


ayahnya menceritakan apa yang aku berikan, sesui dengan ceritaku. meera menerimanya. "makasih." ucapnya singkat. aku jawab "sama-sama." 


jika saja malam di rumah sakit itu, ayahnya bersedia menikahkanku dengan meera. tentu harapan ibunya bisa tercapai dan kisahnya tamat. namun tidak, takdir tidak mengijinkan hal itu terjadi. 


mendadak ilham ingin ke toilet, ia pun pergi ke toilet. di ikuti oleh ayah meera yang masuk untuk menengok keadaan ibunya di dalam. tinggalah aku dan meera berdua saja di ruang tunggu. 


aku mulai duduk, meera mengikutinya. meera mulai menghitung jumlah uang yang ada di dalam amplop. semua totalnya 10 juta. "apa benar nu, semua uang ini kamu dapatkan dari teman-teman mu di pangkalan badak kulon?" tanya meera.


"jika kamu tak percaya, kamu boleh datang dan tanyakan langsung pada mereka di pangkalan." 


"aku khawatir, kamu akan mengorbankan apapun demi diriku." 


tidak aku ungkap, hanya lewat hati saja. jika aku berani, nyawa sekali pun akan aku korbankan untuknya. 


"boleh aku berkata sesuatu?" ucap ijinku.


"katakanlah!"


"ada harapan ibumu, yang belum kamu penuhi."


meera terdiam, tak mau menanggapinya. 


"aku ingin ia hidup, untuk menyaksikan kamu menikah. meski pernikahan itu bukan denganku, setidaknya harapannya terpenuhi." tambah ucapku.


meera mulai menaggapi untuk menjawab: "ini sudah jalannya, dan ini menjadi takdirku."


"kita suka berbicara mengenai takdir, segala hal di kait kaitkannya. padahal takdir itu bisa di ubah, asalkan kita berusaha. nasib seseorang tidak akan berubah, kecuali seseorang itu mengubahnya sendiri."


"kamu lihat sendiri nu, ibuku tengah sekarat disana. apa yang bisa kami lakukan, selain menunggu nyawanya di cabut. harusnya ibu segera di oprasi, namun kami sudah tak punya biaya."


"mohon maaf. jika aku boleh tahu, pengobatan ibumu pakai jalur mandiri, atau dengan bantuan pemerintah? misalnya BPJS, atau semacamnya?"


"kami lewat jalur mandiri."


"jika kamu mengijinkan, besok aku akan datang ke rumah leni untuk bertanya pada ayah dan ibunya, bagaimana pun juga mereka seorang pejabat, mundah-mudahan bisa membantu."

__ADS_1


"gak usah nu, kesannya seperti pengemis."


"tak apa ra, mau bagai mana pun orang-orang memandang kita, nyawa itu lebih penting dari pada martabat." 


__ADS_2