GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
history dalam do'a


__ADS_3

terlalu cepat baginya untuk berkata "sudah." sudahi ceritanya begitu saja. padahal, goong penanda perang belum di bunyikan. pantaskah untuk berjuang, bahkan memperjuangkannya. walau tak begitu yakin, aku tetap berusaha, entah apa yang ku dapatkan di akhir perjuangan itu nanti. setidaknya aku pernah berjuang.


kehadiranku seolah tak punya makna lagi dalam hidupnya. namun, aku akan memaknai kehidupan itu sendiri.


bagai mana mungkin, kita bisa menyelesaikan suatu masalah, tanpa tahu permasalahannya terlebih dahulu. kemaren menuntut untuk melamarnya, namun hari ini, meminta untuk berpisah. hal itu menimbulkan sebuah tanya besar.


aku menjumpai si ilham di tanggerang. dia berjaji akan menceritakannya saat bertemu langsung denganku. karena satu satunya orang yang bisa di mintai keterangan hanyalah dia. di tanggerang ilham tinggal di sebuah kontrakan, berdua dengan ayahku. kebetulan ayahku tengah sip malam jadi tak bisa bertemu, hanya aku dan ilham saja.


di ruang yang cukup sempit, ilham menyuguhkanku segelas kopi, sebungkus rokok serta beberapa macam makanan ringan.


"gw sudah menduganya, lo pasti akan menanyakan hal ini." ungkap ilham mengawali.


"secara mengejutkan ham. sikapnya berubah. gw tanya kenapa? namun meera tak menjawab."


"hurp" ilham membuang nafas. "yang gw sayangkan, lo gak ikut bersama kami di malam tahun baruan itu." ucap ilham menyayangkan. aku menghela nafas, kejadiannya tak bisa di ulang kembali.


di malam tahun baruan itu, dia beserta istri dan mertuanya sengaja datang kerumah meera, dengan tujuan untuk menengok, sekalian menghiburnya, membuat acara makan-makan atau babacakan. di tengah cakap ria, ibunya meera sering menyebut-nyebut namaku, andai aku juga berada di tengah-tengah mereka. padahal meera sudah mengingatkan kalau aku tak bisa datang karena tengah bersama teman-teman. menurut ilham juga, aku telah memupus harapan besar ibunya. sama seperti meera, ibunya berharap aku bisa datang untuk melangsungkan acara lamaran.


ibunya meera menjadi orang yang antusias, sering menceritakan tentang rencana pernikahan aku dan meera. hal itu mendapat respon negatif dari pihak mertua ilham.


"sory nu! malam itu, gw gak bisa membela lo."


"memang kenapa?"


"mertua gw menolaknya. atas alasan kekeluargaan. lo dan gw masih saudara, sementara istri gw dan meera juga masih saudara. menurutnya kita tak boleh membabal bambu serumpun, akan ada yang saling mengalahkan nantinya." ungkap ilham dengan kejadian di rumah meera kala itu.


dalam lanjutan cerita ilham, sesaat mertuanya mencekal hal itu, suasana mendadak hening. ibunya yang semula ceria kini terdiam dalam bingung. meera tertunduk lesu. nada laun dari ibunya bertanya: "gimana ra.?"


dengan berat hati meera menjawa: "jika itu di anggap salah! apalah daya, meera akan meninggalkannya." secara terus menerus, mertua ilham memberikan pendapatnya agar meyakinkan meera.


ibunya tak bisa lagi membela, karena baginya mertua si ilham orang yang di tuakan, semua pendapatnya pasti di terima.


"ibu selalu do'akan kamu, semoga bisa menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari danu." kata-kata itu semakin mengubur harapan meera. itulah berupa penuturan dari ilhan.


"mertua lo bilang, akan ada yang saling mengalahkan di antara kita, jika hubunganku dan meera bertahan. justru semua itu sudah terlihat, kalau gw dan meera lah yang kalah." ucapku.


"gw tidak mengalahkan kalian, lagian itu hanyalah sebuah mitos orang tua dulu aja nu!" jawab ilham menanggapi. "baik dan tidak baiknya suatu hubungan, tidak bisa di perkirakan oleh akal. selama agama tidak melarang, itu sah sah saja." tambah ucap ilham.


"kenapa lo gak langsung melamar meera? padahal, itu sangat di harapkan baginya." tanya ilham kemudian. aku menceritakan keadan yang terjadi pada ilham, sesuai dengan obrolan bersama orang tuaku waktu itu. kesimpulannya aku belum siap.


"lo tahu sendiri kan nu? harapan terbesar ibunya ingin menyaksikan meera menikah, sebelum ia wafat."


"gw paham keadaan itu. namun kondisi gw tidak memungkinkan. jika sudah seperti ini, bagaimana seharusnya?" tanyaku.


"lo yakin menyukai meera?" tanya ia. aku menganggukan kepala. bukan hanya yakin, tapi aku sangat yakin menyukainya.


"keadaan tak lagi sama. sekarang lo harus kembali berjuang, bukan hanya meyakinkan meera, namun orang tuanya juga. jika lo berhasil, mereka akan mengabaikan pendapat dari mertua gw."


aku mulai merenung, meresapi tiap kata yang di ucapkan ilham. ilham mencoba menghibur, bertanya dengan pujian. "bagaimana ceritanya, lo bisa dapetin meera?" menurutku, mendapatkan itu lebih mudah, yang berat mempertahankannya. mengisi kegalauan, aku bercerita pada ilham tentang kenangan manis yang pernah aku lalui bersama meera. meera belum sepenuhnya aku dapatkan, dia hanya sekedar singgah untuk kemudian pergi lagi.


di kontrakan itu, aku sudah tak sabar ingin segera pulang menemui meera, mengajaknya berdialog membahas alasan kemundurannya. namun ayahku berpesan agar tidak pulang dulu sebelum bertemu dengannya. aku di haruskan menginap semalam bersama si ilham.


setelah bertemu ayahku, siang hari aku kembali ke pandeglang. sampai di pandeglang aku tak kerumah om iwan, apalagi pulang kerumah orang tuaku. aku memilih mendatangi tempat meera mengajar. tiba di tempatnya, aku di halau oleh penjagaan pak sekuriti yang ketat. bermacam alasan sudah aku berikan, namun tak membuat pak sekuriti itu berubah pikiran.

__ADS_1


aku pun tak bisa masuk untuk menemui meera. aku bergerak menuju warung bi eem. yang terletak di depan sekolah tersebut. satu-satunya cara untuk menarik meera keluar, hanyalah dian. aku menelponnya untuk meminta bantuan. bagaimana pun caranya dia harus membawa meera keluar.


saat aku pinta langsung, dian tak bisa memenuhinya. tapi dia berjanji akan membawa meera keluar malam nanti. dian juga menyuruhku agar menunggu di taman kota, dia akan datang ke tempat itu bersama meera.


malam tiba, aku sudah menunggunya di taman kota. dian menghampiri seorang diri, tanpa bersama meera. membuatku bertanya dengan kehadirannya. "katanya bersama meera. lantas mana meeranya?" tanyaku.


"meera ada di tempat ini! sebentar lagi kamu akan melihatnya." jawab dian menjanjikan.


benar saja, meera berada di tempat itu. dia tengah berjalan bersama revi melintas di hadapanku. meera mendadak kaget, ketika melihat kehadiranku bersama dian. kenyataannya dian tak berangkat bareng dengan meera ke tempat itu. dian lebih dulu pergi sendirian. sementara meera memang berangkat bersama dengan revi. sebuah permainan yang mereka berdua, antara dian dan revi. kejadian seolah memperlihatkan aku dan dian kepergok sedang berduaan. aku tak menyadarinya, bahkan tak memperdulikannya. yang jadi tujuanku hanyalah bertemu meera. tak peduli dia mau menganggapnya seperti apa.


tak membuang kesempatan yang ada, aku harus bicara dengan meera. aku menghampirinya, menarik paksa sedikit menjauh dari dian dan revi. meera merengek kesakitan, meminta agar di lepaskan. revi menghalang halangi. aku ingatkan untuk tidak ikut campur urusanku dan meera.


meera memberikan sebuah kode pada revi, untuk berhenti menghalangiku. ia pun menuruti perintah meera.


di dalam jiwa yang membara, aku menatap wajahnya begitu sinis, menggenggam kedua tangannya.  dia tertunduk lemah, seolah pasrah menerima keadaan. sebuah kata tanya pertama aku ucapkan di depannya dengan lantang: "mana? kata sayang, yang dulu sempat kau ucapkan di depan wajahku ini? aku belum pikun ra, mau pun tuli. aku mendengarnya dalam keadaan tersadar, sesadar sadarnya."


"ya." ucap nada lemahnya. wajahnya memerah pucat pias. ia menghela napas untuk kemudian menjawab: "kamu memang tidak tuli, dan kamu juga benar-benar dalam keadaan tersadar. mungkin aku yang kehilangan kesadaran, saat mengungkapkan kata-kata itu. aku berharap, kamu bisa menjadi orang yang bijak, bisa memaafkan dan menghargai keputusan orang lain." jawab meera.


"aku harus menghargai hal yang sepele itu?" tanya sinisku.


"mungkin menurut kamu sepele. namun itu berarti bagiku!"


"aku sudah tahu ra! apa yang menyebabkan mu menghindar seperti ini."


"syukurlah jika kamu sudah memahaminya."


"jika kamu menginginkan sebuah perpisahan, akan aku wujudkan. jika kamu meminta untuk berhenti, aku pasti berhenti. namun tolong berikan aku satu alasan di balik keputusan ini. kamu juga harus tunjukkan dimana letak kesalahannya. jika bisa aku terima, aku akan pergi tanpa harus kamu minta lagi."


meera terdiam dalam renungannya, raut wajah darinya tak bisa berbohong atau membohongi. sebuah keputusan berat harus di pilihnya. padahal kita sering berjanji, jika tuhan mengijinkan kita akan hidup bersama, melewati hari-hari ini sampai tua nanti. 


meera menjawab: "kita terlibat dalam satu ikatan keluarga nu. kamu dan ilham, serta aku dan risma. menurut pendapat orang tua, hal itu tak boleh terjadi!" jawabannya di sertai nada bergetar.


"kenapa tak boleh terjadi? kamu tidak menggunakan pengecualian ra. kecuali kita yang sepupuan, bukan aku dan ilham, serta kamu dan risma."


"jika kita memaksakan hubungan ini, akan ada yang saling mengalahkan nantinya." ucap meera.


"tak perlu nunggu nanti, kita sudah kalah saat ini juga."


"kita tidak kalah, namun mengalah."


aku dan meera telibat adu argumentasi, sebuah tanya jawab sering terlontar begitu sengit. 


"tuhan telah menjadikan di antara kita rasa kasih dan sayang, sungguh hal yang demikian itu adalah sebuah tanda kebesarannya. apakah kita menyalahi aturan dalam agama? aku tidak menemukan agama melarangnya! bukankah agama itu suatu pedoman yang mengatur kehidupan manusia di bumi ini? lantas kenapa kamu harus meyakini sebuah pendapat, yang belum tentu kebenarannya. aku ingin kita bisa berpegang teguh pada keyakinan kita terhadap  allah yang mengetahui." ucapku begitu panjang hingga melibatkan tuhan agar ia meyakininya. 


meera kembali terdiam, tak bisa lagi mematahkan argumentasi dariku. perlahan, air matanya menetes membasahi pipi yang merona itu. aku tak sanggup lagi, jika harus melihatnya menangis. kesedihannya adalah kesedihanku.


aku menurunkan nada bica menjadi lemah untuk bertanya: "masih pantaskah untuk di perjuangkan ra? atau aku harus berjuang sendirian?" 


"perjuangan itu akan cepat tercapai, jika kita bisa mengiklaskannya!" jawab meera yang mulai memalingkah wajah. suara isak tangisnya masih terdengar tersendu sendu. ia meminta ku agar melepaskan tangannya.


aku tak rela, jika malam itu harus menjadi akhir. berkali kali meera meminta agar aku melepaskannya, aku tak mau melepaskannya, hingga membuat meera bersikeras terlepas dari genggaman tanganku, aku mendengarnya merengek melas, melihat hal itu membuat revi ikut terlibat. revi yang menghampiri meera, berusaha membatunya melepaskan tanganku, revi berbuat kasar seolah ingin terlihat seperti pahlawan di hadapan meera. ia menghepaskan tanganku hingga terlepas dari tangan meera. revi juga mendorongku hingga aku terjatuh. 


perlakuan revi terhadapku membuat amarah terbakar, aku mulai marah, sambil berdiri aku sudah mengepalkan tangan untuk menghajarnya. wajahnya ku pukul hingga membuat revi tersungkur. meera yang menyaksikan menjadi syok, dia kaget terhentak dengan mulut menganga. revi bangkit, lalu membalas menghajarku, pukulannya mengenai hidungku, aku pun terjatuh dengan hidung yang mulai mengeluarkan darah. 

__ADS_1


meera berteriak histeris sambil menangis, memintaku dan revi agar menghentikan perkelahian itu. orang-orang yang hadir mulai berkumpul mendengar keributan yang di lakukan olehku dan revi. 


setelah melihat perkelahian itu mereda, meera berdiri untuk kemudian berlari meninggalkan kami. revi bangkit untuk mengejarnya. sementara dian masih berdiam diri hendak menolongku. aku ingatkan "jangan pedulikan aku! lebih baik pergi dan susul mereka!" 


dian merasa tak terima atas perlakuanku terhadapnya. "jika kamu tidak bisa berterimakasih terhadap kebaikan orang lain, setidaknya hargai kebaikan itu!" ucap seruan dian. 


aku menyuruhnya agar pulang, malam itu aku ingin menyendiri dulu, meratapi sesuatu yang tak bisa aku percayai. aku tak menyangka akan terjadi tragedi sepereti itu. dian pun lantas meninggalkanku. 


di bawah malam yang gelap, aku berjalan tertatih seorang diri, menatap langit untuk melihat rembulan, namun rembulan itu telah tiada bersama cahaya yang meninggalkan cerita pilu itu. 


rasa sakit yang di akibatkan pukulan revi di hidung, tak sebanding dengan rasa sakit yang di berikan oleh meera saat meninggalkan. aku merasakan air mata terjatuh, dan rasanya tidak enak. aku mengerti apa yang di sebut dengan kekecewaan, itu ternyata menyakitkan.


revi yang berusaha mengejar meera, namun tidak berhasil. meera telah kembali pulang seorang diri. kini di dalam kamar asramanya, meera terbaring sambil menangis. "kenapa bisa terjadi seperti ini?" dia terus meratapa dalam kesedihannya.


dian yang menyadari, seolah tak merasa bersalah. dia yang mencoba menemui meera, untuk menenangkan. tak di ijinkan masuk oleh meera. meera memilih untuk sendiri. 


kenapa begitu cepat waktu mengubah senyuman itu menjadi tangisan? serta kebahagiaan menjadi kesedihan. 


...


ke esokan hari. malam  cuaca sedang turun hujan, aku harus datang ke asramanya untuk bertemu dan meminta maaf atas kejadian kemarin.


aku tak tahu bisa bertemu atau tidaknya dengan meera, aku sudah menerima segala konsekuensi apa pun yang terjadi, aku akan memaksakan diri sampai bertemu.


di depan pintu gerbang  menuju ke asrama meera. seperti biasa, aku harus melewati para penjaganya. tak peduli lagi seberapa dinginnya air hujan membasahi tubuh, aku hanya bisa memohon pada pak sekuriti agar bersedia membuka pintu pagarnya untukku. setidaknya jika tidak di ijinkan, aku meminta supaya di panggil saja meera agar datang menemuiku. 


kehadiranku tak di anggap oleh penjaga, bahkan yang menjadi permintaan sekaligus permohonanku tak sedikitpun mereka tanggapi. maka jangan salahkan diriku jika berbuat sesuatu di luar dugaan. aku mengancam akan melakukan sesuatu yang akan membuat seisi asrama keluar. 


"silahkan jika bisa!" ucap pak sekuriti menantangku. aku akan menjadi orang yang berani, bahkan nekat jika di tantang, sekalipun masuk penjara aku tak peduli. 


jiwa mudaku berontak, aku mengambil ancang-ancang untuk menendang pagarnya. pak sekuriti berteriak, agar aku menghentikannya. aku mengambil sebuah besi, untuk di pukulkan pada pagar itu, bunyinya nyaring. pak sekuriti mulai kalang kabut, melihat aksi yang di lakukan olehku. 2 pak sekuriti keluar akan menangkapku, aku tidak lari, melainkan akan melawan mereka. suara keributan mulai terdengar ke dalam asrama.  aku terlibat baku hantam melawan 2 sekuriti itu. 


satu per satu orang-orang yang berada di dalam asrama mulai berhamburan keluar, mendatangi pos sekuriti, mencari tahu apa yang sedang terjadi.


hampir seisi asrama keluar untuk menyaksikan, namun tak ada satu pun yang melerai perkelahian itu, meskipun wajahku sudah babak belur.


 pak kepala sekolah di tempat itu mulai bertanya "apa yang terjadi?" bertanya pada pak sekuriti. pak sekuriti menjawab kalau "lelaki ini datang untuk menemui meera, kami melarangnya, namun dia nekat hingga membuat kekacauan."


pak kepala sekolah lantas meminta salah seorang untuk memanggilkan meera. ia juga menasehati pak sekuriti itu. "jika ia meminta ingin bertemu, maka pertemukanlah. jangan kalian tahan lantas menghakiminya. dia nekat seperti ini, mungkin ada alasan yang kuat sehingga di haruskan bertemu meera." 


pak sekuriti menjawab pembelaannya: "kami di suruh pak revi, jika orang ini datang mencari meera, kami tak boleh mengijinkannya."


meera yang datang setelah di panggil, menemukanku tengah terkapar di atas tanah bersimpuh darah. meera melemparkan payungnya untuk menghampiri dengan cepat, kakinya mulai terulai lemah menyaksikan ke tidak berdayaan diriku.


aku sudah tak berdaya lagi, selain berpikir kematian telah tiba menjemputku. tangannya yang lembut mulai meraih untuk mengangkat kepalaku di letakan di atas pangkuannya. dia usap keningku yang bercucuran darah itu, sambil menangis bercucuran air mata, hingga tak terasa lagi air mata itu jatuh mengenai wajahku. 


sekujur tubuhku sudah tak berdaya, namun aku masih tersadar. aku masih sempat berkata walau dengan nada lemah: "kamu lihat hujan yang begitu deras ini ra? sama derasnya dengan cintaku padamu. namun sayang, kamu malah menghindar, untuk berteduh di bawah payung itu."


"kenapa kamu bisa senekat ini nu? kamu bukan hanya kehilangan cinta, namun nyawamu juga nu!" balas meera. 


"aku tak peduli lagi ra! karena untuk apalagi hidup, jika setiap hari hanya menyaksikan kesedihan."


"jangan memaksakan egomu sendiri! barangkali, kita tidak di takdirkan untuk bersama nu."

__ADS_1


"jika benar, kita tidak di takdirkan untuk bersama. maka setiap malam ku akan memohon dan meminta kepada yang membuat takdir itu untuk mengubahnya."


pandanganku mulai gelap gulita, hingga aku tak sadarkan diri lagi. saat hari esok tiba, aku tersadar sudah berada di rumah sakit, di temani tante lisa dan delisa.


__ADS_2