
pagi yang berkabut, mengangkatku untuk terbangun. dengan kata "tumben." aku tadahkan wajah dengan mengangkat dua tangan, berucap "alhamdulillah" memuji syukur kepada tuhan yang masih membiarkanku untuk hidup di buminya. "semoga keberuntungan berpihak padaku!"
pukul 07 wib. aku sudah rapih dan siap berangkat ke maja. tak henti-hentinya ibuku menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan anak laki-lakinya yang tak biasa. aku pun berangkat tanpa berpamitan, untuk menemui pujaan hatiku yang bernama meera.
satu jam perjalanan dengan kecepatan standar. pukul 08:00 wib. aku jajakan kaki di halaman sekolah tempatnya mengajar. namun sayang, pintu pagarnya sudah tertutup rapat plus kunci gembok yang tergantung. aku menggaruk-garuk kepala. "bagaimana bisa masuk?" bertanya pada diriku sendiri.
aku berjalan mendekati pintu pagarnya, sambil mencari celah kosong untuk bisa memasukinya. pagar itu cukup tinggi, tak bisa jika aku harus memanjatnya. aku melihat sekitar, pak sekuriti sedang standby di posnya. aku mencoba menarik simpati darinya, dengan cara mengetuk-ngetukan gembok tersebut hingga menghasilkan bunyi yang nyaring. mendengar suara bising dari balik pagar, pak sekuriti segera datang untuk mengeceknya.
dia datang menghampiriku dengan wajah yang beringas. "ada apa?" tanyanya bernada tinggi. sebelum menjawab, aku lemparkan senyum untuknya. "met pagi pak!" menyapanya. "hem" hanya bergumam tanpa terlihat gigi darinya.
"nama saya danu. saya mau bertemu seseorang di sekolah ini.!"
"mau bertemu siapa, dan apa kepentingannya?"
waduh, aku harus mencari cara. bagai mana bisa lolos dari pertanyaan pak sekuriti yang tegas ini. kalau aku berkata mau bertemu dengan meera. bisa panjang pertanyaan yang bakal di ajukan olehnya.
"gini aja pak! saya mengikuti tata tertib di sekolah ini. jangan mengganggu saat jam pelajaran berlangsung."
"iyah, terus?"
"ijinkan saya masuk, dan menunggu di pos bapa, sampai waktu istirahat tiba!" tawaran yang aku ajukan, membuatnya tak berpikir panjang. dia membuka gerbangnya dan membiarkan aku masuk.
"motor kamu gk di bawa masuk?" tanya pak sekuriti.
"biarin lah, sudah saya titipkan di warung sebrang jalan sana."
hingga akhirnya aku berada di pos sekuriti, beberapa pertanyaan saling kami lemparkan. aku merasa ada yang kurang, jika mengobrol tanpa di temani secangkir kopi hangat. aku berikan uang sebesar 50rb, agar pak sekuriti membelikannya kopi, dan sisanya buat dia.
tapi aku berpesan, agar membeli kopinya di warung depan saja, sekalian mengecek kondisi motorku yang terpalkir di sana. bodohnya, pak sekuriti mau saja mengikuti perintahku. sudah aku atur sebelumnya, dan bekerja sama dengan pemilik warung di sebrang. pak sekuriti itu tak akan kembali dalam waktu dua jam. jadi aku bebas untuk menemui meera di dalam.
aku berjalan menyusuri kelas demi kelas, namun belum menemukan keberadaan meera. bunyi bel terdengar, sebagai tanda jam pelajaran akan berganti. dari arah kejauhan, aku melihat meera yang masuk ke salah satu ruangan. segera aku datangi ruangan tersebut dan memperhatikan dari luar cara meera mengajari anak murid ber bahasa inggris.
kebetulan, di atas tanah terdapat selembar kertas yang tergeletak, serta bekas pulpen yang masih ada sedikit tintanya. aku mulai menulis sebuah kata-kata di selembar kertas itu, setelah selesai, kulipat-lipat kertasnya untuk di jadikan pesawat terbang.
sambil mengendap-endap sedikit aku buka jendelanya, agar bisa menerbangkan pesawat itu. sial beberapa anak murid melihat keberadaanku. "suut diam, jangan berisik!" pintaku pada mereka. langsung aku terbangkan pesawatnya.
pesawat kertas itu, tidak mendarat tepat kepada meera, yang tengah menulis di papan bor. namun mengenai salah satu anak murid. sehingga teman-teman yang melihatpun menertawakannya. si murid yang terkena pesawat kertas itu mengambilnya, dia membuka lipatan-lipatannya hingga terbentuk normal. dan menemukan beberapa kata puitis yang aku tulis. meskipun tidak keras, tapi terdengar satu ruangan dia membaca tulisannya. "aku tidak mengerti dengan bahasa yang kau ajarkan kepada mereka! sama halnya dengan ke tidak mengertian jiwa ini saat jauh darimu. "jika bahasa inggris mempunyai rumus, maka ajarkan rumus itu padaku. jika mencintaimu ada tuntutan, maka berikan ruang untukku mengisinya! danu."
mendengar hal seperti itu, sontak membuat meera menghentikan tulisannya. dia pun mengambil kertas itu dari muridnya. "dari mana kamu dapat ini?" tanya meera. beberapa murid menunjuk ke luar jendela. meerapun membuka jendela menemukanku yang tengah jongkok untuk bersembunyi. "danu. ngapain kamu di situ?"
"hehe. aku mau ikut belajar sama ibu guru!" jawabku.
"ini jam pelajaran, jadi tolong jangan ganggu yah!"
__ADS_1
"aku tunggu kamu di kantin! saat jam istirahat tiba." ucapku padanya.
satu jam sudah aku menghabiskan waktu di kantin, hanya sekedar untuk menunggu meera. bunyi bel terdengar, menandakan waktu istirahat telah tiba. kali ini, keyakinanku sedikit ragu. dengan meera yang akan datang menemuiku.
benar, keraguan itu terjawab. kala ada seorang wanita yang datang menghampiriku tapi bukan meera. "kamu pasti danu yah?" tanya perempuan tersebut. aku anggukkan kepala dalam hati berkata "ko dia tahu namaku?" padahal aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. dia menjulurkan tangan untuk memperkenalkan diri "gw dina!" ucap namanya. "gw temennya meera. dia menyuruh gw untuk menemui lo di kantin!"
"meeranya ke mana?" tanyaku.
saat hendak menemuiku di kantin, mendadak kepala sekolah memanggil meera. tak mau membuatku kecewa, meera menugaskan dina untuk menemaniku sesaat, sebelum urusannya selesai dengan kepala sekolah.
sambil duduk dengan beberapa minuman di meja. dina bertanya: kalo boleh tahu, lo siapanya meera?"
"kalo lo percaya, gw adalah calon masa depannya!" jawabku. mendengar hal itu, sedikit membuat dina mesem-mesem.
"kemungkinan besar yang akan di dapat seorang calon itu hanyalah dua! satu iyah, dan dua tidak." "itu semua tergantung nasib dan takdirnya sendiri." sambung dina.
"tuhan telah menakdirkanku dengannya. jikapun tidak, maka aku akan memintanya!"
"wi~h optimis banget." timpal dina.
sebenarnya, urusan meera dan kepala sekolah hanya sebentar. dan saat itu pula dia bergegas menuju kantin. hanya saja dia membiarkanku bersama dina, sementara dirinya bersembunyi dan mengawasi dari kejauhan.
jam istirahat telah usai. "gw balik kelas dulu yah!" ucap pamitnya dina. aku pun mepersilahkannya. dan menitipkan pesan untuk meera. "bilang pada meera, aku masih menunggunya di sini."
perputaran jam din ding terus bergulir, aku melihatnya di atas meja kasir. rasa kantuk mulai menghampiriku. karena semalam hanya tertidur tidak lebih dari dua jam. tak terasa lagi aku sampai ketiduran di tempat itu.
antara sadar dan tidak sadar, aku seolah mendengar suara perempuan yang berbunyi: "hi calon masa depanku!" mataku sedikit merem melek. pandangan sedikit ngeblur, seperti penampakan wajah meera. aku mengucek-ngucek kedua bola mata, untuk memastikan bahwa dia meera atau bukan. bak mimpi di siang bolong, ternya itu meera, dan dia benar-benar menemuiku di kantin. meera yang duduk di hadapanku, dengan sigap memperhatikanku yang mulai terbangun. aku mencubit pipinya. dia menjerit kesakitan. "maaf, aku hanya sekedar memastikan, bahwa itu memang benar kamu!"
"sakit tahu!" ringkiknya manja.
"kok kamu bisa masuk?" tanya heran dengan penjagaan sekuriti di depan. "biasanya hanya orang-orang yang berkepentingan saja yang di bolehkan masuk!" sambung ucapnya.
"kamu pikir, ini gk penting gitu?"
"orang keras kepala kaya kamu, pasti gk bisa di larang. atau gk kamu menyogoknya yah?"
"nggak lah, ngaco kamu! orang pak sekuritinya baik ko, membiarkan aku menemui pujaan hatinya."
"halah, aku gk percaya itu! pasti ada main nih di belakang!" "oh iya, mau apa kamu nekat datang kemari?" tanyanya.
"mau menanyakan, apakah kamu sudah jatuh cinta apa belum?"
"gak ada kerjaan banget sih!"
__ADS_1
tak perlu aku uraikan tentang hari itu, dan hari-hari yang akan datang. jika hari itu di tolak, maka aku akan datang di hari esok, untuk menanyakannya kembali. jika di tolak lagi, maka aku akan datang di hari-hari berikutnya, untuk menanyakan hal yang sama. jika dia bertanya mau sampai kapan, aku pasti menjawab, sampai salah satu ada yang mengalah. ntah dia mengalah pada egonya, ataukah aku yang mengalah pada kenyataan.
"apa kamu tahu ra?"
"he~em?"
"aku sedang melakukan penelitian di sini! untuk proyek besarku nanti."
"proyek apa tuh?" "apakah mencari sebuah bahan, yang nantinya kamu tulis untuk sebuah buku, yang di dalamnya berisi namaku?"
"semenjak dekat denganku, kok kamu seperti paranormal gitu! bisa langsung tahu apa yang ada di pikiranku."
"aku sudah bisa membaca, dengan modus yang kamu buat."
meera pernah berkata: "tak cukup jika hanya menjadi seorang pujangga, untuk membuatnya jatuh cinta!" lantas aku bertanya "harus jadi apalagi?" dia pun menjawab: "kamu harus bisa membuatku tertawa!"
aku jawab tantangan itu. aku bisa mengubah diriku layaknya sang pujangga, atau menggantinya dengan seorang komedian, bahkan menjadi seorang motivator sekaligus. apa pun bisa aku lakukan, karena aku berada dalam keadaan tak sadarkan diri, akibat dimabuk asmara.
sebelum menutup perjumpaan itu, aku mengajaknya untuk berkencan. sedikit jaim namun akhirnya mau. tapi dengan beberapa syarat. yang pertama harus di malam minggu. yang kedua aku harus meminjamkan sebuah buku novel kepadanya. menurutku syarat seperti itu sangat mudah sekali. tapi ada satu hal yang mengganjal, dia tak memberikan nomor ponselnya, menurutku itu sangat penting, untuk mengecek keberadaannya. yang dia janjikan pokonya di alun-alun pandeglang, tanpa menentukan jam.
balik ke tempat pak sekuriti. aku sedikit khawatir pak sekuriti bisa marah-marah nih, karena aku terlalu lama berada di lingkungan sekolah. sampai di posnya, pak sekuriti begitu antusias menyambutku, itu membuatku deg degan. dia menarikku lalu mendudukkannya.
tangannya menggandeng pundakku, kemudian berkata: "maaf ya mas, tadi beli kopinya kelamaan!" mendengar kata maafnya sedikit membuatku bernapas lega.
"gk papa! tadi saya nungguin bapa, ko lama banget? hingga jam istirahat tiba, bapa tak kunjung datang. jadi saya putuskan untuk masuk dan menemui seseorang di dalam sana."
"saya jadi gk enak nih!" kata pak sekuriti. "tadi pas beli kopi, banyak sekali gangguannya, merek kopi yang mas mau gk ada, jadi harus beli ke warung sebelah, lama~ lagi belinya! pas mau di seduh, air panasnya habis, terus harus di masak dulu. gk sampai di situ, tiba-tiba gasnya habis terpaksa harus nunggu beli terlebih dahulu. wah pokoknya kacau deh. entar, entar mah jangan beli di warung itu lagi!" begitulah penuturan cerita pak sekuriti yang aku suruh untuk membeli kopi.
aku pun meninggalkan sekolah itu, dan mengambil motor di seberang jalan. sebelum pulang aku sempatkan mampir dahulu di warung yang tadi motorku di titipkan. nama pemilik warungnya bi eem. "hi bi!" sapaku saat masuk. "eeh si aa, udah beres urusannya? tanya bi eem.
beberapa kata pujian aku lontarkan kepada bi eem. karena dia sudah berhasil menjalankan rencanaku dengan baik. "pak sekuriti itu pasti kapok a, belanja di warung ini lagi!" ucap bi eem.
"emang si aa, mau bertemu siapa di sekolahan?" tanya kepo bi eem.
"saya mau bertemu meera bi!"
"ouh ce meera! aa pacarnya yah?"
"bibi kenal sama meera?" tanyaku.
"kenal atuh a, diakan sering nongkrong di sini, sama temannya yang bernama dina."
hari itu, kembali dengan keberuntungan yang masih berpihak padaku. sesuatu yang aku inginkan, akan selalu aku perjuangkan.
__ADS_1