GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
dengar suara leni


__ADS_3

sepulang dari serang, aku turun di persimpangan menuju rumah om iwan. menyerahkan kemudi pada leni, bersama meera yang akan menginap di rumahnya. leni berjanji pada meera, akan menceritakan latar belakang tentangku. mungkin karena alasan itulah, meera bersedia mengikuti ajakkannya.


sebelum berpisah dengan mereka, sempat di peringatkan agar tidak membicarakan hal aneh tentangku nanti.


suasana di dalam kamar leni.


leni melemparkan tasnya, menubrukkan tubuhnya di atas kasur sambil menghelakan napas dalam-dalam "hurp." meera berjalan di belakangnya, begitu santai, dengan tatapan jelalatan. memandangi satu persatu apa yang terlihat di kamar itu. hal yang paling menjadi perhatiannya, yaitu sebuah foto yang menempel di dinding. sebuah foto kebersamaan antara aku dan leni selama 5thn, sudah beragam gaya serta ekspresi yang di tunjukan dalam hasil foto itu.


meera mengambil satu, menatapnya tajam, sambil melirik ke arah foto lain. "banyak sekali foto kalian berdua?" ucap meera dalam komentarnya. tak hanya fotoku bersama leni saja yang ia perhatikan, beberapa foto lain pun ia perhatikan. "mereka berdua ini siapa?" tanya meera dengan sosok beni dan devi yang ikut serta dalam foto bersama.


"sini sini!" pinta leni sambil menepuk-nepuk kasur, agar meera senantiasa di sampingnya. "pokoknya, malam ini kita bakal begadang. soalnya aku akan menceritakan seperti apa danu itu sebenarnya!" sambung ucap leni. meerapun mengikuti seruannya, dia segera naik ke atas kasur dan berada di samping leni.


"kamu tahu ra?" tanya leni laun. meera menolehnya dengan wajah bertanya-tanya. "aku dan danu di takdirkan untuk bersama, namun tidak untuk di persatukan." ucap leni berkaca-kaca. meera tak membuka pertanyaan, selain termenung menyimak kata yang ia dengar.


"aku yakin, siapapun wanita itu orangnya, jika dia dekat dengan danu, dia pasti akan jatuh cinta." tambah ucap leni.


"kenapa begitu?" tanya meera heran.


"dia memiliki sebuah kharisma, jika kita memandanginya, maka tak ada alasan untuk berkata: itu membosankan. dia seorang pribadi yang menyenangkan, bagi orang-orang yang mengenalnya. kadang suka menjengkelkan juga, hal itulah yang selalu menjadikannya sosok yang di kangenin. satu hal lagi yang bisa membuat wanita terpanah asmara olehnya, yaitu sebuah kata-kata yang terdengar absurd tapi bisa menyentuh dalamnya perasaan." jawab leni sedikit memberi pujian padaku.


ketahuilah, aku tak pernah meminta leni untuk menyanjungku di hadapan meera, hanya untuk menarik simpati darinya. itu murni atas inisiatip leni sendiri.


meera memperdalam cerita itu. "kapan, pertama kalinya kalian di pertemukan?" tanya meera.


"hehehe." leni tertawa sejenak, mengingat pertemuan itu yang di rasa lucu. "aku tergugu jika mengingat hal itu."


dua wanita cantik, yang melengkapi keseimbangan saat itu. mereka menceritakan tentangku, seakan-akan aku adalah pemeran utamanya. leni dan meera terbaring, bersama tatapan yang sama ke arah langit-langit.


leni mengajaknya ke tahun 2004, di mana aku dan dia masuk ke sekolah menengan pertama di smp negri 1 pandeglang. yang sama-sama masuk kelas A bisa di bilang kelas unggulan.


kata leni dalam ceritanya: "sosok danu yang aku kenal saat itu, ialah anak yang jorok, iseng dan *****, asal nempel langsung molor. dia itu jorok, sering memakai seragam yang terdapat bercakan saos ataupun kotoran lain yang menempel di baju sendiri." tutur leni membuka aibku. jika dia tahu alasannya, baju seragam itu aku mencucinya sendiri, mungkin karena asal asalan jadi kurang bersih. aku tinggal bersama om dan tanteku, tak mau merepotkannya sebisa mungkin harus mandiri.


"yang kedua, danu suka iseng. waktu itu penah, saat guru bahasa indonesia menyuruh anak muridnya untuk memberikan contoh, tentang suatu kalimat majemuk, soal hubungan dan akibat. secara santai dan yakinnya danu mengacungkan tangan, semua orang mengira, danu akan menjawab soal yang di berikan bu guru itu, gak taunya dia menjawab: "leni tahu jawabannya bu!" malah melemparkan untuk menyudutkanku. bu guru lantas tertuju padaku dan bertanya "apa leni?" saat itu juga keringat dingin mulai meliputi sekujur tubuhku, amarah mulai menggebu serta darah yang mendidih, wajahku memerah karna tak bisa memberikan contohnya, rasanya ingin secepat mungkin keluar dari kelas itu dan langsung menerkam wajahnya danu. danu melakukan itu karna sengaja, dia ingin membuatku malu, karena dia tahu, aku paling tidak suka dengan pelajaran bahasa indonesia. dalam hati sudah bersumpah akan membalas perlakuannya nanti. "awas lo nu. tunggu pembalasanku nanti." aku akan membalasnya di pelajaran bahasa inggris, karena itu kelemahannya."


"coba deh, nanti kamu ajak dia berdialog pakai bahasa inggris, aku yakin dia pasti hanya cengar cengir gak jelas kayak orang bego." sambung ucapan leni menghasutnya.

__ADS_1


"nanti akan aku lakukan. terus... si tukan ***** itu gimana ceritanya?"


"hal itu di karenakan dari kebiasaannya yang suka begadang, jadi siangnya membuat ia mengantuk. bahkan di saat jam pelajaran, tak jarang ia selalu ketiduran di dalam kelas. karena hal itu danu di anggap kurang di siplin, hingga pada akhir semester dan kenaikan kelas danu harus rela terzonasi dari kelas unggulan pindah ke kelas B. kalau dari segi pelajaran, aku akui kalau dia lebih pintar dariku. banyak juga para guru-guru yang menyayangkan hal itu.


di kelas VIII aku tak lagi satu ruangan dengannya, hal itu seperti sesuatu yang hilang, tapi jadi hikmah dalam kedekatanku dengan danu. awalnya ada sebuah keterbatasan untuk melihat wajahnya, udah beda kelas, di tambah danu mulai menjadi anak yang liar. dia menyukai musik, terutama alat musik gitar, ia bertekat bisa memainkan alat musik tersebut, hal itu mendorongnya bergaul dengan anak jalanan, maka tak hera, jika kamu melihat banyak anak jalanan yang mengenalnya, dia itu orang yang mudah bergaul."


"pantesan... aku pernah merasa terheran, waktu itu jalan sama danu di alun-alun, trus ada sekumpulan anak tongkrongan sambil nyanyi nyanyi gitu, saat melihat danu mereka langsung memanggil manggil namanya." ucap meera membenarkan.


---


di dalam rumah om iwan, aku yang tengah membaca sebuah buku novel, merasakan telinga sebelah kananku terus menerus berdengung, dalam hati sangat meyakini kalau itu di akibatkan oleh mereka berdua yang sedang membicarakanku. aku raih ponsel milikku, berniat akan mengirim pesan teks pada meera. "sudah malam, mending tidur, daripada ngomongin aku terus, sampai sakit nih telingaku, karna di omong omongin terus sama kalian."


meera yang menemukan dan membaca pesan teks dariku lantas tertawa cekikikan, leni yang mendengar dan melihat tingkahnya yang mendadak aneh lantas bertanya hera: "kamu kenpa? tiba-tiba tertawa sendiri?"


"nih kamu lihat saja!" seru meera sambil memperlihatkan ponselnya di wajah leni. leni pun ikut membaca tiap kata yang aku kirimkan pada meera, dia pun sama halnya dengan meera, yaitu ikut menertawakan. "bilang aja ra.. kalau kita berdua sengaja. biar tahu rasa tuh telinganya, kita bakal sampai pagi gitu mau ngomongin kamu trus." ujar saran leni pada meera.


meera lantas menulis untuk membalas, perkataannya sama percis dengan yang di sarankan leni, setelah di rasa cukup, ia pun mengirimkannya padaku.


"yang aku takutkan, kamu bisa terbuai dalam cerita itu, hingga larut dan tak bisa kembali. mimpi mu akan selalu berhias wajahku, dan esok saat kamu bangun, kamu mencariku untuk mengatakan."aku cinta padamu!" lajuku membalasnya.


"tidak adakah kata lain, selain kata-kata yang di buat-buat itu?" tanya meera membalas. aku tidak lagi membalasnya, lebih membiarkan pujaan hatiku itu mendengarkan cerita yang di dengugkan oleh leni.


leni melanjutkan ceritanya yang sempat terhenti: "satu tahun waktu berlalu, aku mengenal danu hanya sebatas teman kelas, tak lebih. jangankan berkomunikasi lewat telpon, tahu nomornya juga pun tidak. karena danu tidak memiliki ponsel. di kelas 8 aku tak bisa lagi melihat wajahnya, aku harus terbiasa tanpa kehadirannya. andai saja hari itu danu tak menolongku, mungkin aku tak akan mengenalnya sedekat ini. kala itu jam istirahat, aku berniat akan pergi ke kantin seorang diri, di tengah perjalanan, ada 3 orang laki-laki kaka kelas, bisa di bilang premannya lah di sekolah itu. mereka bertiga sangat usil mencoba menggodaku, tadinya hanya kata-kata lebay saja yang mereka lontarkan padaku, aku sempat peringatkan untuk tidak menggangu dan pergi menjauh, mereka tak memperdulikannya malah semakin nekat, memegang tanganku dan mencolek colek wajahku, hal itu membuatku risi karena sikap mereka yang kurang ajar aku menamparnya. merasa tak terima atas tamparan itu, dia marah dan mendorongku, aku pasti terjatuh ke lantai, andai tak ada danu yang menahannya.


aku tak tahu danu datang darimana, yang jelas dia bagaikan pahlawan di hari itu. danu orangnya paling gak suka, jika melihat wanita di perlakukan dengan kasar oleh lelaki. "kalian gk punya otak, atau memang gak ngotak? bukan seperti itu caranya memperlakukan wanita!" ujar ambek danu menasehati mereka. "halah jangan sok jadi jagoan lo!" balas salah satu dari mereka sambil mendorong lemah tubuh danu."


"kamu tahu ra? hari itu aku sangat bangga, karena danu membela. danu terbawa emosi, sampai-sampai berani menantang mereka begini katanya: "kalian laki-laki, saya pun lelaki. sebutkan saja dimana tempatnya, gw pasti datang!" suara lantang dan kerasnya seakan membuat nyali mereka menciut, di tambah mereka tahu siapa danu, yang memiliki dekengan dari anak-anak brandalan, di pikir secara logis saja, jika mereka menerima tantangan dari danu, otomatis mereka berpikir anak-anak brandal itupun akan membantu danu. aku berusaha untuk melerainya. "udah nu, jangan di perpanjang lagi!" lantas aku membawanya pergi.


danu bertanya dengan keadaanku: "kamu gk papa?" aku menganggukkan kepala kemudian berterimakasih padanya. di mulai dari sejak itu, aku memiliki pandangan yang lain terhadapnya. mataku seakan tak mau berhenti memandangi wajahnya, aku juga aneh. betapa malunya diri ini, saat danu menyadari aku terus menatapnya. "udah, jangan liatin gw kaya gitu, nanti lo naksir lagi!" ucapnya itu membuat pipiku memarah. kamu gak usah heran ra, kata-kata seperti itu udah jadi ciri khasnya seorang danu."


"hehehee.." meera tertawa menanggapinya. "udah tak terhitung lagi, berapa banyak danu mengeluarkan ciri khasnya itu padaku, kadang, aku suka senyum sendiri mengingatnya." sambung meera.


"kamu tahu ra? aku mulai menjadi orang yang peduli. saat di rumah, aku suka memikirkan tentangnya, kadang ingin sekali bisa berbicara berduaan dengannya. namun itu sulit karna aku tak bisa berkomunikasi dengannya lewat telpon.


jika jam istirahat tiba, aku suka berlama-lama di kantin, sekedar menunggu kemunculannya. namun sayang dia tak pernah datang, dalam hati suka bertanya-tanya: "kenapa danu tak pernah ke kantin? trus dimana dia selama jam istirahat berlangsung?"

__ADS_1


di hari yang lain, aku sengaja tak pergi ke kantin, memilih pergi ke kelas danu untuk mendatanginya secara langsung, setiba di kelas dia ternyata ruangan sudah kosong, "wah danu kemana nih?" tanyaku sendiri. aku berusaha mencarinya, semua tempat hampir aku datangi namun tak kunjung menemukannya. sampai jam pelajaran masuk pun tiba, aku kembali masuk kelas, dalam angan belum menyerah, aku akan menemuinya lagi sepulang sekolah.


waktu pelajaran sudah berakhir, aku segera keluar kelas untuk bergegas menunggu danu di tempat palkiran sekolah, karena aku mengira danu bersekolah membawa sepeda motor, itu sangat identik bagi anak cowo. namun sial, aku yang menanti kehadirannya di tempat palkir cukup lama, bahkan sampai tak tersisa satu motor pun lagi namun danu tak kunjung terlihat. dia semakin membuatku penasaran.


hari berikutnya, berniat yang sama, tapi rencana yang berbeda. lima menit sebelum jam istirahat tiba, sengaja aku meminta ijin akan pergi ke toilet, padahal aku akan pergi ke kelas danu dan menunggunya di depan sampai dia keluar. lima menit aku menunggunya sambil mengendap, jam istirahat pun berbunyi, satu per satu siswa dari kelas itu keluar, aku menunggunya keluar cukup lama, bisa di bilang danu orang paling terakhir keluar dari kelasnya.


pada akhirnya aku bisa bernafas lega, danu sudah terlihat. dia berjalan keluar kelas dengan tangan menenteng buku, tapi tidak ke arah kanti, aku tak tahu dia akan pergi kemana, yang jelas aku mengikutinya tanpa ia sadari. ternyata, di setiap jam istirahat berlangsung danu selalu mendatangi ruangan seni, aku mengintipnya di balik jendela, dia tengah memainkan sebuah gitar. "dasar orang miskin, mana kenyang hanya dengar suara music."


setelah memastikan dia berada di ruangan seni, aku tak langsung menemuinya, memilih pergi ke kantin dahulu berniat akan membawa makanan untuknya. kamu tahu tidak ra? setelah aku balik, kembali mendatangi tempat itu, ternyata sudah ada beberapa orang di ruang seni itu bersama danu, kebanyakan dari mereka adalah perempuan, dan lebih dulu melakukan hal yang sama denganku, membawakan makanan untuknya. aku mulai ragu, masa iya sih aku harus bergabung dengan yang lain, trus harus memberi alasan apa jika mereka bertanya? aku sangat gengsi, masa iya karna danu!


tapi tak ada pilihan lain, aku harus mengubur ego, demi bisa bertemu dengan danu. saat danu melihat kedatanganku dia langsung memberikan sapaannya: "hai len. tumben lo kesini, pasti kangen gw yah?" gila, aku langsung mengelus jidat dan membalas ucapannya: "tempat ini untuk umum, gk ada alasannya dengan kehadiran lo!" ucapku sangat jaim.


di dalam ruangan itu bersama mereka, aku tak banyak kata apalagi tingkah. aku memperhatikan cewe-cewe ganjen itu minta di ajarin cara main gitar oleh danu. padahal aku juga mau. hehehe." tutur cerita leni.


"sebegitu mempesonanya yah seorang danu, hingga banyak di kagumi seorang wanita?" potong meera sesaat.


"aku juga bingung, apa sih istimewanya seorang danu? ganteng.?? yah, memang sedikit lebih ganteng, tapi banyak yang lebih darinya. tapi kembali lagi soal perasaan, sebuah mata yang memandanginya karena suka, akan selalu terlihat menyenangkan meski dia berperilaku buruk. lain dari pandangan orang yang tidak suka, melakukan hal baik pun tetap terlihat salah." jawab leni. leni melanjutkan ceritanya: "setelah bel masuk berbunyi, danu tetap memetik senar gitar di tangannya, sementara yang lain buru-buru masuk ke kelas. aku yang masih berdiam diri tinggal berdua bersama danu di ruang seni itu padahal jam pelajaran di kelas sudah di mulai. aku bertyanya kenapa dia tak masuk kelas? jawabannya sangat simpel yaitu "males gw."


aku mulai mengira itu pasti karena pelajaran bahasa inggris. saat aku tanyakan ternyata benar saja. lalu danu balik bertanya padaku: "lo juga kenapa bolos?"hendakku jawab namun danu menjawabnya lebih dulu. "pasti pelajaran bahasa indonesia kan?" tepat sekali tebakannya, aku pun tersipu lantas tertawa.


"jika lo gk suka pelajaran bahasa indonesia, mendingan lo gk usah tinggal di indonesia lagi, sana pindah ke serang kek apa ke tanggerang gitu!" ucapnya menyindir, lalu aku tanggapi. "serang dan tanggerang itu masih indonesia bego." aku berniat membalas ejekannya tapi sangat mudah untuk di patahkan. "lo juga gak bisa bahasa inggris, jadi gw harap lo jangan pergi ke luar negri yah."


"jika pun gw mau pergi ke luar negri, hal pertama yang harus di pikirkan itu bukan cara bicaranya, tapi mikirin ongkosnya dulu."


tanpa di rencanakan, hari itu aku dan danu bolos sekolah bersama.


"lo suka tebar pesona yah?" tanyaku pada danu sedikit menyentil.


"kenapa?" tanya danu kenapa seolah tak ada yang salah dengannya.


"itu... cewek-cewe pada datang nemuin lo, pake bawain makanan segala, kenapa begitu coba kalo lo gk tebar pesona? hem.." tadinya ra, aku hanya ingin menyindir kecil gitu, ketika danu balik bertanya, aku malah kena mental. begini jawabnya: "seharusnya pertanyaan itu bukan untukku. tapi untuk dirimu sendiri. apa yang kamu lakukan, sama halnya dengan yang di lakukan mereka."


aku terjebak pertanyaan sendiri, sebisa mungkin mengalihkan topik perbincangan itu. aku menanyakan alasannya, kenapa setiap jam istirahat tiba dia selalu pergi ke ruang seni?"


"di rumah, aku tak punya gitar. kesempatan satu-satunya hanya disini{ruang seni} aku bisa belajar, dan mengasah kecepatan pergantian tanganku dari suatu nada ke nada lain." mendengar alasan yang di ucapkan danu, aku sedikit prihatin, tapi aku senang mengejeknya: "harga gitar paling berapa sih? seratus, dua ratus atau tiga ratus, masa lo gak sanggup beli?"

__ADS_1


"uangku belum cukup. baru ada 30ribu. itu kenapa aku tak pernah jajan tiap istirahat." jawab danu. aku sangat terheran sambil menggeleng gelengkat kepala, masa iya baru punya tiga puluh ribu, kapan terbelinya. "ternyata kamu semiskin itu yah?" ujarku becanda. hebatnya danu, dia tidak akan tersinggung walau aku sering menyebutnya orang miskin. kata dia: "keadaan miskin itu, bukan suatu penghalang bagi seseorang untuk berkembang, walau pun prosesnya sering terhambat." itulah menurutku yang jadi pembeda antara danu dan yang lain.


dari mulai saat itulah, persahabatanku dan danu yang sesungguhnya baru di mulai. detik-detik terakhir di ruang seni sebelum berpisah, aku berjanji akan membelikannya sebuah gitar, asalkan dia bersedia mengajariku sampai bisa. dirasa tak keberatan, danu pun menyepakatinya.


__ADS_2