
apakah benar, jika sesuatu yang membuat asyik, bisa melupakan sebagian dari kehidupan yang lain?. aku masih berada di hari yang sama, hari yang membuat lupa akan pulang, dengan jiwa terasa aneh.
Aku ingin mengenalmu, seperti samudera mengenal senja. Walaupun tertutup awan warna jingganya tetap memancar. Aku ingin mengenalmu, seperti pendaki mengenal gunung. Walaupun berjalan mendaki, terasa indah di nikmati.
perputaran jam begitu laun namun pasti. aku masih terduduk, dan setia memandangnya. memperhatikan setiap gerak yang ia lakukan.
semua rombongan yang tadi ikut mengiring telah pulang, pulang ke rumahnya masing-masing. tinggallah diriku bersama kedua orang tua ilham yang masih bertahan.
meera, terlihat menyerahkan sebuah kameranya. ia serahkan kepada seorang laki-laki, yang mungkin masih kerabatnya. dia bergegas pergi meninggalkan tempat itu. beruntung jalannya melintas di hadapanku. Aku memberanikan diri se berani-beraninya dengan hal bertanya "mau ke mana?" dia menoleh cepat. "pulang." jawabnya singkat.
aku ajukan tawaran untuknya "mau aku antar?" dia menggedikkan bahu, menolak secara laun tapi jelas. "kayak yang tahu saja!" jawabnya sambil berjalan membelakangiku.
"sekalian di kasih tahu, agar nanti gk nyasar" aku memaksanya. "gk usah di repotin!" kembali dengan tolakannya.
dia tetap pergi, mengabaikan tawaran dariku. aku juga tak berniat untuk mengikutinya, hanya menambahkan beberapa kata sebelum dia pergi jauh. "nanti, aku akan berada di rumahmu!" dia tak peduli, dan enggan kembali menoleh ke arahku. kata itu bukanlah suatu ramalan, hanya guyonan belaka.
semenjak dia meninggalkan tempat itu, pandanganku mendadak gelap, karena sinarnya telah hilang. rasanya sudah tak mengasikan lagi. aku tak mengenal siapa pun, kecuali ilham dan kedua orang tuanya, yang kala itu tengah sibuk melayani tamu undangan.
aku masih terduduk sendirian. berbatang-batang rokok habis aku hisap. hanya bermain ponsel guna menutupi rasa jenuh dan bosan.
seorang lelaki paruh baya menghampiriku. "sudah makan belum?" bertanya ramah.
aku menoleh, menganggukkan kepala. "sudah." padahal belum. tanpa aku persilahkan, dia duduk di samping. "dari mana?" tanya basa-basinya padaku.
"dari menes." jawab alamatku. aku menyodorkan bungkus rokok "rokok pak!" tawaran untuknya. ia pun mengambil sebatang. Dengan rokok yg terbakar, asapnya menutupi wajah bapa tersebut bertanya "masih, saudaranya si ilham?" aku sempat berpikir, orang itu masih kerabatnya istri si ilham, karena sudah tak asing dengan ilham.
"iya, kami masih sepuh puan." jawab pertanyaan bapa itu tadi.
aku melihat jam di pergelangan tangan, menujukan pukul 01:25 wib hampir setengah dua. sebagai seorang muslim, aku belum menunaikan salat zuhur. berniat untuk melaksanakannya, bertanya "di mana musholanya pak.?" bukannya di tunjukan bapa itu malah balik tanya "mau salat yah?" aku pun menganggukan kepala. "ada sih, tapi jauh. "walaupun saya kasih tahu, kamu tak akan bisa menemukannya." aku pun di buat melongo dengan penuturannya yang ber belit-belit. "tunggu sebentar!" dia memintanya. aku kembali ter angguk, tanpa tahu apa yang akan di lakukannya.
dia kembali dengan seorang perempuan. "na, anterin tuh! "katanya mau salat." pintanya terhadap ratna untuk mengantarkanku. ratna adalah adik kandungnya risma, istri dari ilham.
ratna mengangguk. "mari!" ajaknya padaku. aku segera bangkit dan berjalan mengikutinya.
beberapa langkah berjalan, sengaja dia melaunkan langkahnya, untuk mengimbangi jalanku. "kk siapanya ka ilham?" bertanya tanpa menoleh.
"ibuku dan ibunya ilham, punya bapak yang sama! Ibu yang sama, serta kakek yang sama." " aku dan ilham punya satu nenek yang sama." ratna di buat celongok mendengarnya. "Kalian juga pasti punya paman yang sama, bibi yang sama, sodara yang sama bahkan tetangga yang sama. Kenapa gk langsung bilang kalian itu sepupuan! Apa susahnya yah?" balas ucapku oleh ratna.
"hihihi" aku menertawakannya. memang hidupku sudah ribet. Dan aku ingin membagi keribetan itu kepada semua orang.
dia menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah. "ayo masuk!" mengajaknya padaku. hanya anggukan kepala yang aku lakukan, tanpa bertanya ini rumah siapa.
tak permisi dulu atau mengucap salam, ratna langsung membuka pintu yang kebetulan tak di kunci. "salatnya di sini saja!" menyuruhku. "tuh kamar mandinya." tunjuk dengan jemari tangannya.
aku yang pergi ke kamar mandi, untuk mengambil air wudu. hatinya baik, ratna menghamparkan sejadah untuk nantiku aku shalat. balik dari kamar mandi, ratna berdiri di depan pintu. dia menunjukkan tempatnya. "salatnya di situ kak!" dengan sebuah ruangan khusus untuk sholat, menunjuk dengan jarinya. "arah kiblatnya di barat kak!" sedikit membuat guyonan.
selepas dari itu, aku keluar mencari keberadaannya. aku melihat dia tengah duduk di atas sofa, kedua tangannya menahan ponsel dan pandangannya pokus ke layar. aku ikut menemaninya duduk. ada sedikit yang membuat pandanganku terkejut, ya itu kala melihat sebuah foto yang menempel di din ding. dalam hatiku berkata: "gk salah, ini pastinya rumah meera!" karena terdapat beberapa foto meera sendirian dan foto bersama keluarganya. aku sengaja pura-pura tahu kalo itu adalah rumah meera, dan yakin kalo meera berada di salah satu kamar tersebut.
dia menghentikan sejenak bermain ponsel, dan menoleh ke arahku. "udah selesai?" tanyanya. aku jawab dengan anggukan kepala. "kembali lagi yuk!" katanya mengajak.
tak ku jawab ajakannya tersebut. aku hanya tersantai sambil menata rambut. "ayo balik!" dia mengulangi ajakannya. "nanti dulu lah!" aku menahannya. sengaja aku menahannya di rumah itu, karena ada hal-hal yang akan aku tanyakan kepadanya untuk memancing meera keluar.
"nama kamu siapa?" aku bertanya. pertanyaan itu adalah sebuah basa-basi, biar tak terlihat mencolok. dia menjawab santai. "ratna." padahal aku sudah tahu.
aku menatap wajahnya dengan teliti, dia menunduk tersipu malu. aku mengira-ngira bahwa dia adalah adik kandungnya risma. saat aku tanyakan, dia menjawab "iya". lantas menambahkan. "tahu dari mana?" aku hanya iseng menebak, dan ada kemiripan dari wajah kalian. "kaya peramal ajah!" ejeknya.
"kamu tahu gak?" tanyaku santai. dia menadahkan wajah. "e~m." di hatinya bertanya "tahu apaan?"
"yang menjadi foto free wedding itu siapa?" ratna terdiam berpikir. "yang mana?" ingatnya meraba-raba.
"yang cewek jutek itu?"
"maksudnya teh meera!" jawab ratna.
"iyah betul! namanya meera."
"emangnya kenapa?"
"kamu tahu, maksudku datang ke acara pernikahan ini?" tanyaku.
ratna menggedikkan bahu. lantas menjawab: "ya kan bagian dari keluarga ka ilham!" "jadi pasti datang kan?" sambungnya.
"yah, itu termasuk, tapi bukan itu alasan kuatnya!"
"emang apa?" tanya penasaran ratna.
"entah kenapa, beberapa hari belakangan, aku sering melihat meera datang di dalam mimpiku. kemaren-kemaren kan aku tidak tahu, bahwa perempuan itu bernama meera. tapi hari ini, menjawab semua apa yang terjadi dalam mimpiku"
__ADS_1
"lantas apa jawabannya kak?" tanya ratna.
"itu berarti, tidak lama lagi meera akan~" belum usai aku berkata pada ratna. dari dalam kamar dengan cepat secepat kilat meera langsung memotong perkataan tadi. "bohong na!" potongnya dengan keras. "dia itu cowok halu!" sambung ucapan meera di hadapanku. tinggallah ratna yang kian bingung. "aku gk ikutan teh, ka!" kata ratna hingga meninggalkan untuk pergi.
kalian tau, betapa garangnya wajah singa? tapi itu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan garangnya wajah meera waktu itu. "benar apa kata pepatah! jika jodoh gk bakalan ke mana." ucapku mengguyoninya. "ngarep!" jawab juteknya.
"semesta begitu mendukung! dan takdir merestui kita."
"iih, lupa minum obat kali ini orang!" dia menatapku dengan tajam. bertanya dengan lantang: "ngapain masih di sini?"
"aku tersesat!" "dan aku tak mau kembali"
"iih makin aneh aja nih orang." ejeknya. dengan kasar, meera menarik-narik tanganku, agar keluar dari dalam rumahnya. "eh, jadi cewek kasar banget sih?"
"yah lagian, mau ngapain lagi di sini?"
"aku ingin bertemu dengan orang tua kamu!"
"idih, mau ngapain?"
"aku mau melamar anaknya!"
"jika kamu gk mau pergi juga, maka saya yang akan pergi!" katanya mengancam.
dengan tangan terbuka, aku mempersilahkannya untuk pergi. eh meera beneran pergi. tapi aku tak khawatir. layaknya rumah sendiri, aku begitu santai duduk di sofa yang tersedia. aku yakin, meera pasti kembali. benar, beberapa menit setelah itu, meera kembali dengan wajah asemnya. dia menubrukan badannya ke sofa tanpa sepatah katapun terucap.
"kenapa gk pergi?" tanyaku.
"gk usah tanya!"
"mau sampai kapa?" tanyaku kembali.
"apanya?" jawab meera.
"mengungkapkan cinta padaku!"
"sampai kura-kura ber uban pun, aku tak akan mengungkapkan hal itu!" jawabnya sinis. "nih orang, bener-bener yah! udah pegat kali urat malunya!" ocehannya dengan ngambek.
jangankan meera, aku sendiri pun merasa aneh dengan hari itu. pernah aku katakan sebelumnya, aku tidak pernah mencintai seorang wanita sebelumnya. dan aku pun tak tahu, bagai mana seharusnya mendekati wanita itu dengan bijak. tapi, aku ingin menjadi diri sendiri, dan mengejar cintaku dengan caraku sendiri. itu adalah bagian dari proses menciptakan seni.
"kata hadis nabi, tamu itu ibarat raja! masa raja gak di kasih minum sih?" "sadis banget!"
"kan syaitonnya sudah pergi barusan."
"maksud kamu ratna?"
"aku tidak menyebut inisialnya." "jadi jangan suudzon!"
"hihihh" matanya melotot dengan suara yang menggeram serta kedua tangan yang menggepal. menandakan dia sangat kesal. "ehem ehem" aku mendesah, memberikan kode agar dia menyuguhkan air minum untukku. bukannya kurang peka, meera hanya sengaja tak memberiku segelas air.
"ya allah, yang maha membolak balik hati manusia. balikkanlah hati manusia yang berada di hadapanku ini, agar dia baik, dan memberiku segelas air minum untuk melepas dahaga hambamu ini! amin."
seakan tak mau kalah denganku, meera balik berdoa: "ya allah ya tuhanku, apa salah dan dosaku ini? sehingga engkau menurunkan cobaan yang berat ini. tolong angkat cobaan ini ya allah!" amin."
aku menatap wajahnya sambil menertawakan. hahaha. meera balik menatap dan bertanya: "ngapain kamu tertawa?" dengan sedikit senyuman. dia juga ter gugu dengan apa yang kami lakukan.
"kita lihat, doa siapa yang lebih dulu di kabulkan allah!"
"o~keh." jawabnya mengangguk nggukan kepala.
"assalammualaikum!" bunyi salam terdengar dari luar rumah. aku dan meera menjawabnya bersamaan: "waalaikumsalam." tanpa di bukakan pintu oleh meera, orang yang memberi salam tadi langsung masuk. dia adalah ibunya meera. "e~h, ada tamu rupanya?" tanyanya dengan heboh saat melihat keberadaanku.
aku langsung berdiri untuk menyambutnya dengan ramah, lantas bersalaman dengannya. "siapa nih ra?" tanya ibunya pada meera. "orang aneh!" jawab meera.
"danu harus manggil apa nih? ibu, apa mamah, ataukah bunda?" tanyaku. ibunya lantas tersenyum. "panggil aja nenek!" timpal meera ketus.
"panggil saja ibu!" jawab ibunya meera. "baik ibu." tandasku.
"ibu~ibu, masa danu dari tadi namu, gk di kasih minum sama meera!"
"ya ampun, atuh di kasih ra! tega banget sama tamunya."
"haruh!" keluh meera dengan mengelus wajah. diapun bergegas pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
"ini minumnya tuan raja!" ucap meera.
aku berbisik kepada meera: "ternyata, allah lebih dulu mengabulkan doaku ini."
__ADS_1
"itu karna kamu main curang tau!" "sudahlah, ayo balik ke tempat tadi!" ajaknya.
"cie-cie, ada yang mau jalan bareng nih?"
"terserah kamu lah." ambeknya hendak meninggalkanku. "nanti dulu!" aku berusah menahannya. "mau ngapain?'' tanya herannya.
"ibu~ ibu." aku memanggil ibunya. ibunyapun menyahut dan menghampiriku.
"danu mau pamit dulu!"
"ouh yah silahkan!"
"sekalian mau minta restu!" sontak mendengar hal itu, meera mencubit perutku.
"restu untuk apa?" tanya ibunya.
"untuk jalan bersamanya!"
"hah, kamu bisa ajah!" pungkas ibunya.
dia segera berjalan, jalannya sangat cepat, seakan tak mau untuk aku mengikutinya. tak mau di tinggal, apalagi di tinggalkan, aku bergegas mengejarnya. sesekali dia berhenti untuk menengokku yang mengikutinya di belakang. tak jarang dia selalu menatapku dengan wajah garang. aku berupaya untuk memberinya senyuman, walaupun dia tak pernah membalasnya.
dia kembali berjalan, sambil membelakangi berkata. "jaga jarak, jangan terlalu dekat!"
"gk tahu nih, seperti ada magnet, pengennya nempel terus." jawabku.
di pertengahan jalan, seorang ibu-ibu memanggil namanya. "ra~" hingga membuatnya menengok. tak kurang, dia lemparkan senyum untuk si ibu, lalu menghampirinya. aku tetap mengikutinya. mereka saling berjabat tangan, berciuman pipi kiri dan kanan. aku peragakan hal yang sama, cuman tak sampai mencium pipinya.
"iih, ikut-ikutan melulu!" tegur meera. si ibu itu menatapku dengan asing, mengedip-ngedipkan sebelah mata pada meera. "siapa ra?" tanyanya. "i~h, meni kasep!" sambung ucap dan pujian untukku. mendengar pujian yang keluar dari mulut si ibu, sontak membuat tanganku mengelus-ngelus rambut.
"gk usah ge'er!" kata meera menyindir.
"gk tahu." jawab meera pada si ibu. "orang gini nih!" sambungnya dengan jari telunjuk di gesek-gesekan ke jidat menganggap aku adalah orang stres. si ibu langsung menegur. "gk boleh gitu!" sedikit membuatku tersenyum atas pembelaannya. aku segera memperkenalkan diri pada si ibu. "saya calon suaminya bu!" layaknya terjangan halilintar, tangan meera cepat mengenai perutku hingga menarik kencang. dia merasa tak terima dengan penuturanku.
"mudah-mudahan, setelah risma, kalian cepat menyusul!"
aku anggap itu sebagai bentuk do'a, lantas mengaminkan.
"mari bu!" ucapnya untuk segera pergi. di hatinya masih menyimpan rasa jengkel terhadapku. sambil berjalan pun tak henti-hentinya dia menggelengkan kepala. "haruh haruh!" keluhnya terngiang. "belum kenal, sudah ngaku-ngaku!" "ko ada yah orang semacam itu?" omelannya tertuju padaku.
tiba kembali di tempat resepsi pernikahan. aku yang datang bersamanya menjadikan sebuah perhatian bagi orang-orang yang melihat, terlebih orang yang mengenalnya.
seperti tiga orang wanita yang tengah menjadi pagar ayu. ketiganya saling berbisik. "itu meera datang sama siapa?" "apakah itu pacarnya?" semuanya saling mengira.
"teh, sini-sini!" seru mereka memanggil meera.
aku berikan jarak untuk saat itu, membiarkan meera sendiri menemui teman-temannya.
"siapa itu?" tanya mereka pada meera dengan kehadiranku. hanya gelengan kepala yang meera tunjukan. ratna yang ikut nimbrung langsung membeberkan. "pacarnya lah!"
meera langsung memaki-maki. "gara-gara kamu tuh bawa orang itu ke rumah, lihat kan jadinya?"
"kenapa sih? lagian dia ganteng, cocok sama teteh!"
"i~h, kamu ituh gk tahu, kalau dia itu orang aneh!"
"halah, nanti juga yang aneh itu ko bisa suka."
"udah tahu namanya?" tanya ratna.
meera menggedikkan bahu. "pusing ngomong sama kalian!" pungkasnya lalu pergi meninggalkan mereka.
selama meera bersama mereka, tak membuat lepas dari pantauanku.
kini meera sudah bergeser, berniat akan naik ke atas panggung guna menghampiri pengantin. aku segera beraksi mengejar dan mengikutinya untuk naik ke atas panggung. meera sadar bahwa di belakang aku tengah mengikutinya. "lailahhaillallah." suaranya mendengung. "kamu lagi, kamu lagi!" dia melakukan langkah yang cepat, untuk segera menghampiri si ilham. lantas mengadu. "ka ilham!" ucapnya geger, menunjuk jemari tangan ke arahku. "kenal sama orang itu?" bertanya. bukannya melakukan pembelaan si ilham malah memojokan. "dia mah kurang waras!"
"jika ada tambang, tolong di ikat dulu itu orang! gantung di atas pohon, di belakang tuh!" kata meera begitu sadis.
meera lantas berjabat tangan dengan si ilham, memberikan ucapan "selamat" kemudian bergerak pada risma, mencium pipi kiri dan kanannya. "selamat yah, semoga samawa! sakinah mawadah warohmah!" risma mengaminkan membalasnya dengan senyum, berbisik di telinga meera. "cepet nyusul yah!"
apa yang di lakukan si ilham, setelah tahu aku selalu membuntuti ke mana meera pergi. dia menarik tanganku sambil berkata. "nekat banget!"
"namanya juga usaha ham."
risma menarik tangan meera, mengajaknya untuk photo bersama, meera yang di ajak aku yang girang. dengan senang hati, meera mengiyahkan ajakan dari risma.
aku yang berada di ujung kiri, sementara meera di ujung kanan, sadar posisi tersebut gk ideal terlalu jauh. aku ingin ketika pemotretan itu di lakukan aku harus berada di samping meera. aku putuskan pindah dan berdiri di samping meera. tadinya meera bersikeras pindah, namun mampuh ku tahan, hingga hasil foto itu keluar aku berdiri di samping meera. kali kedua aku foto bersama dengan meera. foto itu masih di abadikan di rumah si ilham sampai sekarang.
__ADS_1
begitulah hari di mana tuhan mempertemukanku dengan meera untuk yang pertama kalinya. meskipun tak terbilang manis, tapi saat itu aku menyebutnya anugerah.
kenapa alasan tuhan mempertemukanku dengannya? hingga membuka pintu hati terhadapnya, kala itu aku tapsirkan sendiri, "apakah mungkin karena tuhan ingin untuk aku menjaganya."