GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
bagian dari kemarin


__ADS_3

rasanya baru kemarin, aku menemukan sebutir biji, di tengah ladang yang tandus dan gersang. diaku bawa, danku tanam di pekarangan hati. aku berharap biji itu akan tumbuh dan berkembang. kelak dia akan menjadi tempatku bersandar dari rasa lelah, dan berteduh dari panasnya mentari. 


perjalanan panjang di malam minggu telah usai, walau di penghujung tanpa kehadirannya. aku habiskan malam dengan terjaga, karena aku tak bisa merelakan malam itu berlalu begitu saja. namun malam itu telah tertulis di buku diary dengan tinta hitam, sebagai malam purnama merindu.


tiba di minggu pagi. seduhan kopi hangat tersaji di atas tatakan piring kaca. sepiring goreng pisang krispi dengan taburan cokelat di atasnya, melengkapi hidangan di atas meja warung bi eem. masih ingat dengan warung bi eem? warung yang berada di seberang sekolah tempat meera mengajar. sengaja aku datang tanpa mengabarinya dahulu, ibarat kata orang memberinya surprise. dan sengaja pula menunggu di warung bi eem, karena aku masih merasa takut jikalau bertemu dengan pak sekuriti, dia pasti buat perhitungan dengan ulah semalam.


ambil ponsel di saku celana, lantas menghidupkannya. buka menu kontak, scroll ke bawah mencari nama kontak GR {Gadis Rembulan} itu nama kontaknya.


aku mencoba menghubunginya. tut... tut... tut... bunyi deringnya terdengar. satu panggilan dariku tak terjawab. "apakah dia masih tertidur?" tanyaku dalam sanubari. aku letakan ponsel di atas meja, berharap dia menghubungiku kembali.


tak lama, ponselku berdering, menandakan panggilan masuk. saat aku tengok panggilan itu dari meera. 


   "jika mentari setia menyapa bumi dengan sinarnya, maka aku setia menyapa hati dengan cintanya!" jawabku dalam panggilannya,  tak membiarkan untuk meera berkata terlebih dahulu. 


   "terus...!" jawabnya.


   "aku sudah jauh berlayar, mengarungi samudera. lelah tanganku mendayung, rapuh kakiku mengayuh, namun tak ku temukan intan dan berlian. namun aku melihat kilauan mutiara yang terselip di antara serpihan-serpihan pasir."


   "sekarang kamu datang kemari, sekalian bawa lamaran! kayaknya, kamu berbakat tuh jadi guru sastra! pagi-pagi sudah sarapan puisi, mana kenyang!" ucap sindirnya.


aku katakan kepadanya, kalau aku lebih berkenan untuk melamar dirinya, dan menjadi guru untuk anak-anak kita nanti, ketimbang jadi guru di sekolah.


pagi itu, lewat panggilan suara, aku memberitahukan kepadanya, kalau aku menunggu di warung bi eem. 


  ---o0o---


satu jam waktu berlalu, akhirnya meera datang menemuiku di warung bi eem. apa yang dia lihat, dia melihat aku tengah tertidur, duduk, berbantalkan sebelah lengan. "waduh.." keluhnya melihat.  


   "nu.. nu... bangun nu! jadi gk nih?" ujarnya membangunkan, sembari menggoyang-goyangkan punggungku. 


aku lantas terbangun, pandanganku sedikit ngeblur, bola mata yang kian memerah. "kamu siapa?" tanyaku pura-pura. dia tak menjawab, hanya duduk di muka, dengan wajah ngambeknya. "apa kamu pacar aku?" ucap guyonku kembali.


dia menggebrag meja, suara lantangnya terdengar. "mau aku tampar, apa aku siram pake air, supaya kamu sadar?" 


   "kalau di cium saja gimana?" 


hari-hari itu kian indah, pandangan gelap tentang sebuah rasa, kini di selimuti oleh cahaya mutiara. cinta telah mengangkatku dan menempatkan di tempat yang tinggi,  apa pun yang terlihat oleh mata, akan terlihat menakjubkan. 


dia membawakan segelas air bening untukku. "tuh minum!" 


dia memperhatikanku dengan seksama, pandangannya tajam, lantas bertanya "kamu pasti belum tidur yah, dari semalam?" tanyanya so peduli. aku pun  membantah tudingannya. lantas dia mempertegas kalau aku semalam tidur di mana? 


aku jawab kalau aku tidur di rumah seorang janda.


   "waw... anget dong?" respon kagetnya.


   "bukan anget lagi, tapi kres kres juga!" 


dia mencubit pipiku, katanya jangan nakal.


tak ada alasan untuk melupakan hari itu, hari yang kelak akan menjadi rindu. saat hendak berangkat dengan lugunya dia bertanya. "kita akan pergi ke mana?" lalu aku jawab: "seberapa mewahnya tempat itu, tak akan terasa istimewa jika bukan bersama orang yang tepat. tapi seberapa buruknya tempat itu, jika datang dengan orang yang tepat, maka kebahagiaan akan turut menyertainya." 


   "padahal tinggal sebutkan saja tempatnya! gk usah pake argumentasi segala!" 


pukul sembilan pagi, aku sudah membawanya pergi. tanpa memberitahukan akan membawanya ke mana. di atas boncengan aku menyuruhnya memeluk diriku, tapi dia menolak dengan jawaban takut ketularan. aku ingin tahu maksud ketularan darinya. dia menjawab lagi "ketularan gilanya." dia menganggapku gila. 


   "tapi kamu suka kan?" tanyaku. 


   "yah... jika terus di paksa, itu tidak menutup kemungkinan!" 


beberapa kilo meter motorku melaju. aku sempatkan berhenti di rumah om iwan. lokasinya tidak jauh dari alun-alun pandeglang. meera gelagap tak mengerti dari maksudku berhenti di depan rumah om iwan. "kenapa berhenti? kita sudah sampai dengan tempat yang kamu janjikan?" 


   "masuk dulu sebentar! aku mau nagih hutang sama yang punya rumah ini!" 


om iwan adalah adik kandung dari ayahku. aku pernah tinggal bersama mereka selama beberapa tahu, setelah lulus SMA, aku tak lagi tinggal bersama mereka di gantikan oleh adiku delisa. delisa menggantikan posisiku, dia tinggal dan bersekolah di tempat yang sama denganku dulu. saat itu dia duduk di kelas12 mengambil jurusan IPA. sementara aku dulu mengambil jurusan IPS. 


aku sudah tak asing lagi dengan rumah itu. aku mulai memasuki pagar yang kebetulan tak terkunci, aku meminta meera untuk mengikuti. mengetuk pintu, lalu memberikan salam. "assalammualaikum!" 


  "waalaikumsallam!" sahut yang punya rumah. di bukanya pintu rumah itu, sedikit kaget tante lisa menemukanku bersama seorang perempuan. "danu...!" ujarnya heboh. dia menggaruk kepala. "eh.. sama siapa tuh?" sambung tanyanya. meera tersenyum sembari menunduk kala tatapan tante lisa mengarah padanya. bisik tante lisa terus menggoda, kala dirinya membawa kami masuk, tanya siapa perempuan yang bersamaku. lalu aku katakan bahwa dia adalah calon istriku yang akan aku kenalkan pada mereka. 


mendengar perkataanku, dengan kesal meera menahan laju. dia menarik lenganku, sambil memperingatkan  agar aku tidak bicara sembarangan tentang dirinya. 

__ADS_1


  "coba lihat nih! siapa yang datang?" kata tante lisa menyeru. om iwan yang tengah terduduk sambil membaca koran langsung menengok. adiku delisa yang tengah bermain bersama erfan juga ikut menengok, wajahnya begitu tercengang "kak danu.." 


meera yang tak tahu mereka siapa kian bingung, pandangannya jelalatan kesana kemari. aku mempersilahkannya untuk duduk. dia pun lantas duduk di hadapan om iwan. aku perkenalkan meera kepada om dan tanteku, menyebutnya sebagai pacar. jidatnya mengkerucut, bola mata kian menyempit, pandangan sinis mulai di tunjukan terhadapku. 


  "Akhirnya, kamu menjawab keraguan tante nu!"


  "Ragu kenapa tan?"


Sekian lama aku tinggal bersama mereka, sering aku mengajak teman-teman main ke rumah itu, terutama teman wanita, tapi tak ada dari mereka yang aku akui sebagai pacar, mungkin itu yang menjadi keraguan bagi tante lisa tentang diriku.


  "Setelah lulus sekolah, sibuk apa sekarang nu?" Tanya om iwan.


  "Sibuk mencintai om! "


Semua orang di buat tergugu dengan jawaban lebayku.


  "Om tahu, kamu pengennya kuliah. Om juga tahu, kamu tak ingin membebani orang tua kamu, dan kamu juga lebih membiarkan adik kamu delisa yang masuk kuliah. Menurut saran om, lebih baik kamu bekerja dulu! Nanti bisa ngambil kelas karyawan."


Saat itu, om iwan menyuruhku untuk bekerja, dia akan merekomendasikan untuk masuk di kantor warta berita. Tapi aku merasa, menjadi seorang reporter ataupun jurnalis bukanlah bidangku, jadi aku menolak tawaran itu. 


Om iwan sudah tak bisa berkata apa apa lagi, dia tahu aku orang yang gk bisa di paksa.


Delisa membawakan dua gelas minuman untukku dan meera. "Delisa, kenalin nih. Calon kakak ipar kamu!"


Delisapun tersenyum sembari menjulurkan tangan kanannya. "Delisa." Memperkenalkan diri terhadap meera. Meera menjabat tangannya. "Meera." ujarnya.


"Ibu pasti bangga nih, punya menantu secantik kak meera!" Ujar delisa memuji.


"Ibu sudah tahu!" Jawabku.


Delisa kian terheran, dia pun duduk di sebelahku.


"Udah kk ajak ke rumah?" Tanya delisa.


"Dia yang datang sendiri!"


Meera tak terima dengan pernyataanku, tanpa belas kasih tangannya mencubit perutku dengan keras.


  "Risma.. Istrinya ka ilham itu?"


  "Iya."


  "Pantesan kk pulangnya terakhiran. Rupanya ada sesuatu!"


Aku tarik delisa, untuk menjauh dari mereka. ada sesuatu yang ingin aku bicarakan berdua. Dia aku bawa ke dalam kamarnya. Sampai di dalam kamar, ku bisikan sesuatu. "Kamu punya simpanan uang gk? Kk pinjem dulu!"


"Ouh.. Ternyata kk datang kemari hanya untuk sekedar meminjam uang?" Hehehe.


"Jangan kenceng-kenceng! Nanti om, tante sama meera dengar!"


Maksud kedatanganku ke rumah itu bukan untuk menagih hutang, tapi aku mau meminjam uang terhadap adikku. Aku mengajak meera untuk jalan, tapi kondisi dompet sangat menghawatirkan.


Tidak panjang lebar lagi, delisa memberiku uang 50rb, katanya hanya segitu uang yang dia miliki. Aku tak menawarnya lagi dan langsung mengambilnya.


Aku dan delisa kembali ke ruang tamu. Tante lisa sudah curiga, dengan ulahku yang menarik delisa .


"Kaka kamu bisikin apa'an de?" Tanya tante lisa. Dengan tersenyum delisa menggelengkan kepala. Dia menutupi semuanya.


"Halah. Kayak gk tau aja bun! Palingan si danu, sudah malakin adiknya." Tutur om iwan menohok.


Satu hal yang membuatku takjub kala itu, ialah respon tante lisa yang memberiku uang, tanpa terlihat meera. Tante lisa meminta kunci motor dariku, aku memberikannya. Tante lisa keluar menuju motorku, dia membuka bagasi dan menyelipkan uang sebesar 200rb.


Tak lama dia kembali, kemudian pesan teks masuk dari tante lisa. "Nanti kamu buka bagasi!"


Harus aku akui, kebaikan om dan tante terhadap keluargaku sangat besar. Menurut penuturan mereka, itu tak sebanding dengan pengorbanan ayahku terhadap om iwan dahulu.


Aku plash back sedikit tentang cerita om iwan dan ayahku. Ayahku anak kedua dari 7 bersaudara. Sementara om iwan anak ke 7. Di umur ke 7thn, om iwan sudah di tinggalkan oleh kakek ku. Ayahku menjadi tulang punggung bagi keluarganya, karena dia satu-satunya anak lelaki yg paling tua.


Tahun tahun berlalu, kakak perempuan dan adik perempuan ayahku, mulai membina rumah tangga, satu persatu dari mereka ikut dengan suaminya.  Ada yg di jakarta, bandung bahkan di kalimantan. Yang masih menetap di pandeglang hanyalah ayahku dan om iwan. Semua biaya sehari-hari om iwan di tanggung oleh ayahku. Hingga om iwan masuk kuliah, bekerja sampai menikah, semua ikut campur tangan ayahku.


Mangkanya aku dan delisa di sekolahkan oleh om iwan, untuk membalas budi kebaikan ayahku dulu.

__ADS_1


   "Plain kalian, sekarang mau ke mana?" Tanya om iwan.


  "Mau jalan-jalan lah!" Jawabku.


  "Iya. Maksudnya mau jalan ke mana?" "Kebetulan, hari ini, kita semua mau pergi ke tanjung lesung. Ibu dan ayah kamu juga ikut. Apa gk sekalian, kalian ikut juga?"


"Nggak lah.. Itumah acara keluarga!"


Hari itu, mereka akan pergi berlibur. Delisa akan bertemu dengan ibuku. Aku khawatir kalau dia akan memberitahukan kepada ibu, kalau akau datang meminjam uangnya. Bisa habis aku di caci maki olehnya.


Semula rencanaku meminjam uang kepada delisa di rahasiakan, tapi aku keceplosan saat mengingatkan kepada delisa. "De.. Jangan bilang ke ibu, kalo kk pinjam uang kamu!" Setelah tersadar dengan ucapanku, aku langsung membungkam mulut sendiri.


Tante lisa mulai geleng-geleng kepala.


  "Tuh kan.. Apa yang ayah bilang! Si danu pasti malakin adiknya." Jawab tebakan om iwan.


Tante lisapun meminta, agar aku mengembalikan uang itu kembali.


  "Laki kok gk punya modal!" Sindir om iwan kejam.


Meera tak banyak bicara di dalam rumah itu. Tapi dari raut wajahnya, dia sedang menahan sesuatu. Aku sudah yakin, dia pasti membombardirku dengan sederet cibirannya setelah keluar dari rumah itu.


 ---000---


aku lanjutkan perjalanan bersama meera. putaran roda terus bergerak, melewati pepohonan hijau yang berbaris menanti matahari menyinarinya. 


  "kamu tahu nu..?" 


  "enggak!" 


  "i~ih.." keluhnya manja, sambil *******-***** pundakku. "kamu sudah berbohong padaku!" 


  "itu demi kebaikanku."


  "tapi aku gk suka! katanya mau nagih hutang! nyatanya malah berhutang." 


  "tapi aku suka!"


  "suka berhutang?"


   "suka sama kamu!" hehehe


tiba di tempat tujuan, setelah melewati jalanan yang menanjak. tempatnya di kaki gunung karang, kampung cinyurup, desa juhut, kecamatan karangtanjung, kabupaten pandeglang. langit selaksa biru nan indah, awan berarak mengikuti sang angin, pagi menunduk dalam kebersahajaan, terhampar di atas permadani kuning alam pesawahan, gunung terlihat gagah, menjulang penuh digdaya. inilah potongan surga, yang tuhan titipkan untuk negri ini. 


saat ujung motorku berhenti. meera menjulurkan kakinya menapaki tanah, untuk turun dari atas motorku. wajahnya tercengang, mulutnya menganga. 


  "apakah ini, yang di sebut kampung domba nu?" tanyanya.


aku mengangguk menjawab pertanyaannya sambil meletakan helm di atas spion. "sudah pernah kesini sebelumnya?" tanyaku.


dia menggedikkan bahu. Lengkap bersama gelengan kepala. "aku cuma tahu lewat media!" 


  "akh.. mainnya kurang jauh!" sindir kecilku. "itulah untungnya kamu jadi pacar aku." 


matanya melotot. aku terhening dengan kerutan di dahiku. ingin rasanya tertawa. 


  "sejak kapan kita sudah pacar?" tanyanya.


  "sejak pertama ketemu."


  "kok bisa?"


  "bisa lah."


dia menggaruk kepala. "itu ada jurang!" tangannya menunjuk. "mau aku dorong kesana?" 


  "wih... sadis."


"ouh. aku tahu sekarang! kanapa kamu mengajakku ke kampung domba? kamu mau pulang kampung ternyata." ujar meera mengejek.


  "justru. aku membawa kamu kesini. karena banyak anak domba yang tak punya induk."

__ADS_1


hari di kampung domba belum usai. lanjut di bab selanjutnya.


__ADS_2