
hari- hari mulai memasuki fase penghujung, seiring tahun yang akan berganti, cerita manis bersamanya akan terhenti. "satu kali kamu mengenal meera, selamanya akan tetap mengenal!" ucapan itu akan teringat, bahkan perlahan aku mulai memahami, sebuah arti yang terkandung di dalamnya.
tahun itu telah memberi warna. tentang belajar menemukan, hingga merasakan manisnya cinta itu. aku memilikinya, jalinan kasih telah terbina, secara pasti status itu pun berubah sebagai pasangan yang saling memiliki.
aku tak ingin hari terus beranjak, khawatir perasaannya akan berubah. jika bisa, aku ingin berhenti di tahun itu{2011}. biar aku tidak merasakan apa itu kekecewaan, apa itu kesedihan?
hari itu aku masih menjadi danu, danu seperti yang mereka kenal. aku sedang berada di rumah, tengah berkumpul bersama ibu, ayah, serta kedua adikku. tak hanya mereka, rumah kami pun tengah kedatanga om iwan dan tante lisa. om iwan tak menyangka, tumben tumbenan aku ada di rumah, biasanya keluyuran gk jelas.
memang benar, seharusnya aku berada di pangkalan badak kulon, bersama teman-temanku yang tengah menggelar party besar-besaran. namun alasannya, ada hal yang lebih penting harus aku bicarakan kepada orang tuaku ketimbang pesta itu. ini menyangkut masa depan.
"ayah, ibu, danu ingin mengungkapkan sesuatu." ucapku membuka. semua terdiam, menunggu kata apa yang akan aku sampaikan, terdengar sangat penting.
"beberapa hari yang lalu di rumah sakit. ibunya meera tengah sakit keras, seolah yang terlihat hanya tinggal kematian. meera adalah anak satu-satunya yang mereka punya, dia sebagai pelipur, pengobat rindu dan alasan ibunya terus berjuang melawan penyakit demi bisa melihat meera terus bahagia. namun hari itu keadaan sudah lemah, ia merasa tak akan lama lagi. namun sebelum kepergiannya, ia ingin memastikan meera bahagia. ibunya berharap, sebelum ajal menjemputnya, ia ingin melihat meera bisa menikah, dan pernikahannya itu bisa di saksikan langsung olehnya. kebetulan, dia tahu kalau danu merupakan kekasihnya meera, dia berharap besar supaya secepat mungkin danu melamar dan meminang anaknya. danu tak berdaya bu, yah. ketika ibunya meera meminta itu semua, selain danu tertunduk merasakan ketakutan. lantas bagaimana?" ungkapku dengan panjang. kenapa begitu cepat kenyataan mengharuskanku, di saat aku belum siap menerima ajakkan itu.
ibuku menjadi orang pertama yang menanggapinya: "ibu tak merasa keberatan, jika kamu harus menikah dengan meera. yang jadi masalahnya, kamu itu masih muda, baru kemarin lo lulus SMA. kamu harus tahu, saling mencintai itu hanyalah sebuah landasan, bukan jaminan. membina rumah tangga itu butuh persiapan, karena bukan untuk satu atau dua hari, tapi untuk selamanya. itu bukan menyatukan antara dua orang, namun dua keluarga. ibu tak bermaksud melarangnya, tapi coba kamu pikirkan dengan matang. sudah banyak terjadi, orang-orang yang menikah muda, paling hanya bertahan beberapa tahun, bahkan hanya hitungan bulan saja, bukan paktor ekonomi saja yang menjadi tuntutan, tapi mental juga!" jawab ibuku sangat panjang, bahkan yang lain harus menunggu giliran untuk menanggapi.
sekarang giliran ayah memberikan suaranya, ayahku bicara sambil memegang pundakku, laki-laki terlihat lebih bijak: "kamu anak lelaki kami satu-satunya, bahkan anak yang pertama. kamu adalah pemimpin rumah tangga bagi anak dan istrimu kelak. ayah tidak merasa keberatan jika kamu ingin segera menikah. tapi kamu harus tahu, ada konsekuensinya! sekarang ayah akan bertanya, kamu jawab dengan jujur. apakah tekad mu sudah bulat dan yakin atas pilihan mu mau menikah secepat itu?" aku hanya bisa terdiam sambil menundukkan kepala. "nu.." ayahku mengingatkan agar segera di jawab. aku menggelengkan kepala karena tidak tahu, aku begitu ragu, bahkan takut, jika nanti tak bisa memenuhi kebutuhannya.
"jika kamu masih ragu, lebih baik mundur! daripada nantinya kamu hidup dalam penyesalan. tunggu sampai kamu benar-benar yakin." tutur ayahku menyarankan.
"hidup di jaman sekarang itu nu. yang di pandang hanyalah harta dan tahta, jika kamu memiliki banyak harta serta jabatan yang tinggi, kamu akan di hargai dan di hormati. tapi jika sebaliknya, kita bak sampah yang tak berguna, jangankan di raih, di pandangpun tidak. bagi om dan tante, kamu adalah orang hebat, punya potensi menjadi orang sukses di masa depan." ucap om iwan ikut menambahkan.
jalan pikiranku seakan buntu, aku benar-benar seorang pengecut, aku tak bisa menentukan harus memilih yang mana, jika harus mundur, sungguh aku tak akan merelakannya sampai mati. tak ada cara lain, selain aku memiliki pekerjaan terlebih dahulu. aku sempat menanyakan hal itu pada om iwan, tidak pada ayahku, aku malas bekerja di tanggerang karena jauh, jadi bisa jarang bertemu meera. tapi jika bekerja di tempat om iwan, masih bisa untuk meluangkan waktu bertemu meera sesuka hati. om iwan mengingatkan aku harus menunggu sampai tahun baru tiba, nanti dia akan membatu merekomendasikan di kantornya, sambil menunggu aku di suruh mempersiapkan lamaran pekerjaannya.
semenjak dari siang ponselku terus berdering, sampai sampai aku menonaktifkannya, karena di anggap mengganggu. semua panggilan masuk itu ulah dari teman-temanku yang melakukannya, terutama leni. saat aku aktifkan kembali ponsel itu, tak terhitung berapa banyak BBM yang masuk. mereka menyuruhku untuk segera datang ke pangkalan badak kulon.
permintaan orang tua meera, sudah aku adukan di hadapan keluargaku, namun putusannya di tentukan oleh diriku sendiri. hah kepalaku pusing, aku butuh hiburan untuk mencairkan suasana. aku pamit dari hadapan mereka, akan berangkat menemui teman-temanku.
tiba di pangkalan badak kulon, aku sangat kaget, itu seperti sebuah konser musik, mereka menyiapkan semua alat musik, lengkap dengan sound sistemnya, suasana sangat ramai.
"hei itu danu!" ucap salah satu teman yang melihat kehadiranku. mereka langsung mendatangi sambil bersalaman ala anak gaul. aku tidak mengerti, kenapa mereka menyambutku secara berlebihan, mereka bersorak ria, menyebutkan namu sangat menggema. "danu danu, danu danu." perlakuan meraka membuatku malu, aku di lakukan bak superstar.
leni yang tengah bernyanyi, sesaat menghentikan suaranya, saat terdengar namaku yang di teriaki. dalam pengeras suara, leni mengucapkan selamat datang padaku. "akhirnya, seseorang yang kita tunggu bisa datang juga. berikan tepuk tangan yang meriah buat komandan kita danu.." begitulah bunyinya hingga membuat semua orang bertepuk tangan.
beni yang sudah tiba dari bandung, belum sempat bertemu denganku, dia melambaikan telapak tangannya padaku{helo} padahal dia tengah memegang sebuah gitar. sama halnya dengan devi, baru datang dari jogja belum bertemu denganku, mungkin karena kangen, saat melihat keberadaanku, ia langsung turun dari atas panggung, berlari kearahku untuk memeluk.
"gw kangen banget tau sama lo. dari kemaren gw telponin gak pernah di angkat-angkat, jahat banget sih lo." ucap devi dalam pelukannya. dia tak pernah berubah, masih tetap mencintaiku, padahal cintanya tak pernah aku balas. aku masih heran padanya, selama dua tahun dia jauh dariku, apa mungkin di jogja dia tidak menemukan seseorang yang membuatnya jatuh cinta, aneh.
sedekit bercerita, asal muasal pangkalan badak kulon tercipta.
pada awalnya, tempat itu biasa saja, tidak ada yang menarik. sebuah tempat di tepi kali, dengan pinggiran yang sudah di irigasi, terdapat tiang-tiang penahan tanah supaya tidak longsong, di sebrang kali terdapat sebuah perumahan. lebih tepatnya pangkalan badak kulon tepat di belakang pagar perumahan itu sendiri.
waktu masa SMA, aku sering bergaul dengan anak jalanan. salah satu temanku bernama wahyu, dia merupakan ketuanya, ia juga sekaligus mentor yang mengajariku bermain alat musik. sebenarnya, wahyu itu merupakan anak orang kaya, hanya saja di dalam rumah dia tak mendapatkan perhatian yang layak. orang tuanya hanya sibuk memikirkan pekerjaan, itulah pemicu dirinya bisa menghabiskan wakti di jalanan, ketimbang di rumah.
kegiatan kami sebagai anak jalanan, ialah mencari kebabasan, kami suka nongkrong, kadang mencari uang dengan cara mengamen. setiap hari kami selalu berkeliling di pusat kota. di suatu hari, kami menemukan kebosanan dengan tempat itu. wahyu pernah berkata: "kalau hidup itu harus seimbang, setiap hari kita berada di tengah keramaian, kadang kita butuh tempat sepi untuk merenung dan menenangkan pikiran.
kami putuskan untuk berjalan tanpa arah dan tujuan meninggalkan keramaian. tanpa di sengaja, satu teman kami mendadak kebelet buang air kecil, di tempat itulah ia membuang hajatnya. kami yang menunggu, melihat wahyu tengah berimajinasi, menggerakan tangannya mereka, jika di letakan ini dan itu akan terlihat menarik. secara sepontan ia menentukan. "disini markas kita." semua yang mendengar di buat bingung. "apa yang menariknya dari tempat itu?" tempatnya bukan sepi lagi, tapi sepi banget.
__ADS_1
sejak menemukan tempat itu, wahyu mengajak kami untuk merevitalisasi, namanya ketua, tidak ada yang berani membangkangnya. uang hasil ngamen yang di kumpulkan akhirnya di buka, untuk membeli beberapa peralatan, seperti cat, kayu, paku, kabe, lampu serta pernak pernik lainnya. setiap hari kami selalu berusaha mencari uang, agar markas itu cepat terlealisasi. di pinggiran kali, kami mengecatnya. membuat tempat duduk dari mulai ban mobil bekas, sampai kaleng drum yang tak terpakai. is magic, tak butuh waktu lama tempat itu selesai. meski tak terbilang mewah, namun menarik.
setelah selesai, wahyu memberikan nama untuk tempat itu, yaitu pangkalan badak kulo, atau sering di singkat dengan sebutan PBK. pemberian nama tersebut tidak serta merta asal saja, namun mengandung arti. Pangkalan yang di artikan sebagai tempat berlabuh, siapa pun orang yang butuh menyendiri, atau butuh teman baru, pangkalan itu bisa jadi alternatipnya. Badak kata badak yang di ambil dari simbol lambang kabupaten pandeglang. Kulon yang di artikan barat.menurut peta lokasi, kabupaten pandeglang berada di titik barat pulau jawa.
seiring berjalannya waktu, anggota anak jalanan semakin bertambah. puncaknya ketika aku menjabat sebagai ketua osis di sekolah, serta tergabung dalam kesenian Pandawa. dalam kegiatan pandawa, kami suka bingung menentukan tempat jika hendak menggelar pertemuan. aku sebagai anggota badak kulon, sempat meminta ijin agar pangkalan itu bisa di jadikan ajang pertemuan bagi anak-anak pandawa.
ketika teman-teman pandawaku melihat tempat itu, mereka rasa sangat menarik. mereka siap membantu merestorasi secara besar-besaran. aku sedikit menyesal, karena telah memperlihatkan tempat itu pada mereka, jika pada akhirnya anak-anak jalanan akan tersisihkan. tempat itu bukan merupakan tempat untuk merenung lagi, tapi tempat untuk pacaran, setelah pejabat setempat ikut campur tangannya. mulai di sediakan kedai-kedai, maupun tempat ngopi lainnya.
setelah tempat itu menjadi ramai, wahyu berpamitan, dan menyerahkannya padaku. sampai sekarang aku tak tahu lagi wahyu berada di mana.
play back. kembali pada devi yang merangkulku.
dari atas panggung, leni kembali membuat ulah dengan pengeras suaranya: "berhubung komandan kita sudah hadir di tengah-tengah, tak sempurna jika tak naik keatas panggung, untuk menyumbangkan suaranya." ucap leni lewat mikrofon tersebut.
devi langsung menyeretku, menarik narik sampai ke atas panggung. sampai di atas panggung, devi kembali duduk di depan kyeboardnya, aku menghampiri beni, dia pun memberikan tosnya padaku. tak beni, aku juga menghampiri ridwan dan arif yang tengah memegang drum dan gitar.
leni menyerahkan micnya padaku sambil berbisik di telinga. "meera juga hadir di tempat ini, sudah bertemu apa belom?" ucap bisiknya. aku menggelengkan kepala, karena tidak tahu kalau meera hadir di tempat itu.
"sebelum gw bernyanyi, bolehkan berkata-kata dulu?" ucapku lewat mikrofon
parahadirin menanggapi dengan menjawab serentak "boleh."
"kata mereka, bahwa malam itu terlihat gelap dan mencekam. tapi bagi kita, malam itu indah. karena kita melihat, di balik langit itu bulan hadir memberi cahaya." semuanya bersorak sambil bertepuk tangan.
"malam bukanlah sekedar pergantian waktu, saat tenggelamnya sang mentari. namun malam memberikan arti, dimana tuhan ingin memperlihatkan kuasanya, melalui paparan cahaya bintang dan rembulan, ketika saling bersanding berpasangan memantulkan cahayanya.
aku mulai menyanyikan sebuah lagu milik band naff, yang berjudul akhirnya ku menemukanmu. lirik lagu itu bisa mewakili pertemuanku dengan meera, meski aku tak melihat keberadaannya, namun aku yakin, jika dia berada di tempat itu, dia pasti mendengarnya.
saat turun dari atas panggung, sempat teringat bisikan dari leni yang memberi tahu kalau meera ada di tempat itu. ucapan itu membuatku percaya tak percaya. atau mungkin itu merupakan akal-akalan leni saja. lewat panggilan suara, aku menghubungi meera untuk memastikan. meera mengangkat panggilan dariku, namun suaranya cukup berisik hingga tak terdengar satu persatu apa yang dia ucapkan. tapi aku mulai yakin, kalau meera memang berada di tempat itu. karena dari suara telponnya, terdengar suara musik yang sama terdengar dari atas panggung. aku menutup telponnya, kemudian mengirimkan pesan teks "aku tunggu di kedai pak tejo!" sebuah kedai yang berada di lingkungan pangkalan badak kulon. aku harap meera bisa menemukannya.
di kedai pak tejo, meera pun tiba. aku menyapanya "hai." dia tersenyum lalu duduk di hadapan. dia tak datang sendirian, melainkan bersama dian, aku juga menyapanya "hai yan!" dian melabai sambil mengangguk sekali.
"sudah lama?" tanyaku.
"sebelum kamu naik ke atas panggung, kita sudah berada di tempat ini."
"tau dari siapa?"
"leni yang menyuruhku datang ke tempat ini! kamu tahu? aku ini di jadikan alat baginya untuk menarik kamu datang ke tempat ini."
"waduh kasihan banget! lagian kok mau maunya sih ngikutin perintah leni? dia tuh sesat."
aku tak tahu, kedatangan meera ke tempat itu hanya di jadikan alat bagi leni, untuk memancingku datang.
"aku tak menyangka, kedatangan danu di sambut sangat meriah, sudah di anggap seperti super star gitu. aku juga tak menyangka, ternyata pacarku seorang komandan bagi ganknya. namun sangat di sayangkan, kenapa dia mencintai perempuan seperti diriku ini, apa yang dia lihat, dan apa yang terjadi padanya?" ucap meera kenapa.
aku membalasnya. "yang harusnya di salahkan mereka! kenapa mereka tak bisa membuatku jatuh cinta. yang harusnya bersyukur kamu, karena saat aku melihat kamu, tuhan tengah tersenyum."
__ADS_1
satu pertanyaan dari meera. "kata-kata yang kamu ucapkan di atas panggung tadi, untuk siapa?"
sebuah pertanyaan dari meera untukku, mampu di dengar oleh devi, leni dan juga beni, yang baru tiba di kedai pak tejo. sayangnya mereka tak langsung menemuiku, karena mereka melihat aku tengah bersama seseorang. leni belum menceritakan apapun tentang meera pada mereka, jadi beni dan devi belum mengetahui kalau meera merupakan kekasihku.
"kira-kira, kata-kata itu buat siapa yah?" jawabku pada pertanyaan meera tadi.
"buat siapa?" tanya meera memaksa.
"duh pengen banget yah namanya di sebut?"
"terserah!" jawab meera ambek, padahal ia tahu, kata-kata itu aku tujukan padanya, tapi itulah wanita, suka di puji dan di perhatikan.
"kata-kata itu untuk rembulanku. saat malamku terlihat gelap, dia datang membawa sinarnya. saat aku tak punya arah, dia menuntunku untuk menciptakan tujuan. dia yang mengajariku untuk tersenyum, padahal jiwanya tengah di rundung kesedihan. aku tak tahu, bagaimana nanti, jika rembulan itu menutup sinarnya."
"siapa rembulan itu?"
"dirimu."
meera kian tersenyum lebar, hatinya berbunga-bunga. malam itu seolah menjadi malamnya. namun tidak dengan devi, aku tak menyadari keberadaannya, jika tahu, aku tak mungkin berlebihan memuji meera, hanya untuk menjaga perasaannya.
devi merasa kecewa, bahkan patah hati, setelah mendengar pujianku untuk meera. dia berlari meninggalkan kedai pak tejo, leni berteriak "dev. mau kemana lo?" karena teriakan leni itu yang membuat kami menoleh. leni mengejar devi. sementara beni hanya terpaku berdiamdiri kebingungan. aku menghampirinya untuk menanyakan apa yang terjadi?
"pengagum lo tuh, sudah mendengar semuanya. mungkin dia kecewa." jawab beni. aku langsung memahaminya yang di maksud adalah devi.
"yang tadi itu devi?" tanya meera.
"kok kamu tahu?" jawabku.
"ya ampun, aku jadi gak enak hati. leni sudah menceritakan tentangnya, yang selalu berharap cintanya pada danu."
"itu bagian dari cinta, ada konsekuensi yang harus di terima."
semenjak mencintai, aku mulai tak peduli terhadap perasaan orang lain, menurutku itu merupakan pilihan. tapi menurut meera, aku harus bisa menjaga perasaan orang lain, katanya "aku tak bisa menari di atas tangisan orang lain." kata meera.
hampir separuh malam, aku, meera, dian, leni dan beni, bercakap ria di kedai pak tejo pangkalan badak kulon. aku memperkenalkan meera pada beni, dan menceritangan awal kami bertemu hingga pacaran. beni dan leni juga menceritakan kekonyolan mereka hingga bisa jadian. "aku harus berterimakasih pada lo nu! gara-gara lo jauh dari leni, dia bisa jatuh cinta sama gw." tutur pujian dari beni untukku.
"lo bayangin aja ben! seandainya, sekalang lo belum jadian sama tu orang. bisa habis gw di tuntut, bahkan gw harus nyembunyiin hubungan gw sama meera kali, kalau gak gitu bisa di bakar rumah gw." jawabku.
"akh sialan kalian berdua ini." ucap leni. "tadinya gw sempat berpikir nu, kalau si beni ini pakai guna-guna, kenapa gw sampai bisa suka padanya. setelah gw telusuri ternyata benar, dan lo yang jadi bah dukunnya." tambah ucapan leni dengan guyon. semua di buat tertawa atas tingkahnya itu.
malam pergantian tahun tinggal beberapa hari. leni dan beni sudah merencanakan akan merayakannya di pulau umang, beberapa teman lain sudah menyetujuinya, mereka berdua mengajakku dan meera untuk ikut. bagaimana mungkin aku menolaknya, secara mereka memaksa, akupun mengikutinya, yang penting tidak di pungut iuran. namun meera menolak ajakan itu, alasannya: "mana mungkin aku bersenang senang, sementara ibuku tengah sekarat di rumah." kami memakluminya, ia juga membolehkan aku ikut bersama mereka.
dari lubuk hatinya paling dalam, sebenarnya meera ingin mengungkapkan sesuatu di malam itu, keinginannya, saat malam tahun baru tiba aku bisa datang bersama keluargaku ke rumahnya untuk melamar dirinya, namun keinginannya itu tak sempat ia ungkap. karena sudah keduluan sama rencana teman-temanku.
pukul 1 dinihari, aku mengantar meera dan dian kembali ke asramnya dengan memakai mobil si beni. sampai di depan asramanya, sebelum melihatnya pergi aku sempat berkata: "beberapa hari lagi, kita akan menutup tahun yang indah ini. semua cerita yang sudah kita lalui bersama, sudah tercatat dengan rapih di dalam buku diary ini. semuanya hampir terasa manis, hingga aku menamainya sweet memoris. kamu tidak usah khawatir, tahun berganti, bukan berarti cinta kita akan berlalu. aku akan tetap mencintai orang yang sama, seperti tahun kemarin."
"hal yang paling berat, yang harus aku terima saat kita bertemu, yaitu perpisahannya. setelah kamu pergi, secepat mungkin aku ingin segera tertidur, karena mimpi itu akan kembali mempertemukanku denganmu. bukankah mimpi itu berasal dari sesuatu yang sering kita pikirkan, bagaimana tidak, setiap hari aku selalu memikirkanmu." balas meera.
__ADS_1
cerita manis itu di tutup, saat meera tersenyum sambil berkata: "hati-hati di jalan!"