GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
puncak sebuah rasa


__ADS_3

satu hal yang tak ingin terjadi dalam kehidupan, yaitu  perpisahan. hal yang sulit untuk di lupakan ialah kenangan, apalagi kenangan manis.


tiba pada waktunya. bukan sekedar waktu yang mengantar pada pertemuan lagi, melainkan hari yang menuju pada sebuah puncak dari sebuah rasa. aku merasakan hal yang tak biasa.


pagi telah tiba, mengangkat untuk terbangun. lihat di atas sana mentari termurung, cakrawala tak terlihat, padahal hadir di balik awan hitam.  hal itu tidak mematahkan semangat untuk berjuang. hari itu adalah hari yang perlu di garis bawahi. sebab hari esok, kenyataan tak lagi menuntun untuk bersama.


pukul 8 pagi.  aku sudah berada di depan rumah leni. bukan atas rindu, melainkan ingin menyapa kekasihku yang bermalam di rumah itu. 


aku mengetuk pintu rumahnya. "tok tok tok." hujan mulai turun sangat deras, ketukan pintu sampai tak terdengar. aku mengulangi hal yang sama, namun sedikit bertenaga. pintunya di buka, bukan oleh leni mau pun meera, melainkan oleh ce romlah. betapa terkejutnya ia saat melihat kehadiranku. "eh.. a danu ternyata!" ujar ce romlah reflek. 


ce romlah adalah pembantu rumah tangga di rumah itu. pengabdiannya sudah hampir lebih dari 20 tahun, lebih tepatnya saat leni masih dalam kandungan.


   "em.. mentang mentang ada non leni, baru deh datang kerumah ini lagi." tutur ce romlah menyindir, mengingat selama tidak ada leni di rumah, aku tak pernah lagi datang kerumah itu. 


  "ce romlah tahu, kenapa pagi ini saya datang kemari?" tanyaku.


  "ya pastinya karena ada non leni lah." jawab ce romlah.


  "bukan. justru aku kangen sama ce romlah. hehe" ujarku mengisenginya.


  "akh. si ganteng bisa aja!" puji ce romlah. ia mempersilahkan untuk masuk! ia juga memberitahukan, kalu non leni masih tertidur di kamar bersama temannya. 


sebelum ce romlah pergi ke dapur, ia sempat menawarkan "mau di buatkan minuman apa?"


aku memperingatkan tak usah repot-repot. aku mengikutinya pergi ke dapur, mencari makanan untuk sarapan. aku yang tak asing lagi dengannya, ce romlah menyuguhkanku secangkir kopi, dia juga akan membuatkan roti bakar untukku. sambil membuat roti bakar ce romlar banyak bertanya padaku, seperti "yang tidur bersama non leni itu siapa? ce ce baru melihatnya?"


aku memberitahukan kalau dia adalah meera, calon istriku. ce romlah malah tergugu tak mempercayainya. dia tahu kalau aku orangnya suka banyol. "kalau perempuan itu calon istrinya a danu, trus non leni sama siapa nanti?"


  "biarin aja dia jadi jomblo."


   "ikh.. gak boleh ngedo'ain kaya gitu! menurut cece, a danu sama non leni itu sebenarnya cocok, yang satu kasep, yang satunya lagi gelis! gak kebayang kalau punya anak nanti bakal seperti apa. kenapa sih a danu sama non leni gak pernah pacaran?" perumpamaan serta pertanyaan ce romlah cukup menggelitik. aku merasa terhibur atas tingkahnya.


  "jika dulu saya dan leni pacaran, bisa jadi, ce romlah tak bisa melihat kembali kehadiran saya di rumah ini."


   "kenapa?"


   "ya.. kalau hubungannya tak bertahan lama, pasti akan berpisah bahkan saling membenci, trus jadi mantan deh. kebaikan yang di berikan oleh leni terlalu besar, sampai danu pun bingung bagaimana cara membalasnya, jika tidak bisa membalas, setidaknya berusaha membuatnya bahagia."


satu jam sudah waktu berlalu, aku menemani ce romlah di dapur. namun leni dan meera tak kunjung bangun. aku menyuruh ce romlah untuk membangunkan mereka, karena aku khawatir meera akan terlambat datang kesekolah untuk mengajar.


ce romlah segera bergegas menuju kamar leni akan membangunkan.


   "jika mereka sudah bangun, bilang danu menunggu di halaman belakang!" pesanku pada ce romlah.


menunggu mereka terbangun, aku sempatkan membaca sebuah buku novel di halaman belakang rumah tersebut.


tak berapa lama, terdengar suara "duh.. mentang-mentang pacarnya ada di sini, pagi-pagi udah bertamu ke rumah orang." ucap leni dari belakang sambil menghampiri.


  "mana meera?" tanyaku atas keberadaannya.


  "ada tuh di dalam, gak ilang. kayaknya dia masih mandi."jawab leni menanggapi. "lo tahu nu? seandainya hari ini gw masih jomblo, gw tidak mau mengenal meera! karena gw pasti sakit hati. perasaan yang lo berikan pada meera cukup besar, aku tak tahu, jika hubungan kalian tak mampu bertahan lama, apa yang terjadi dalam kehidupan setelah itu!" sambung leni. 


  "lo jangan berpikiran yang negatif!"


  "gw tahu, lo adalah orang yang sulit untuk jatuh cinta. lo tidak mencari wanita cantik apalagi kaya, pernah gk lo berpikir? seandainya di bumi ini meera tak pernah terlahir, wanita yang seperti apa yang akan lo cintai?" 


aku tak menjawab pertanyaan dari leni itu, karena meera keburu datang. baru saat itu, aku tak memberi pujian atas penampilannya, melainkan menertawakan, karena meera terlihat aneh. 


tak lama setelah aku tanyakan, pujaan hatiku datang menghampiri. baru saat itu, kehadirannya tak menuai pujian dariku, tapi menertawakan. ntah apa yang terjadi padanya, ia menunjukkan diri, berbusana melik leni.  penampilannya terlihat aneh, hal itulah yang membuatku menertawakannya. postur tubuh meera dan leni sangatlah berbeda, leni sedikit gemuk dan tinggi, baju itu seperti memakan tubuh meera.


  "jangan tertawa!" seru meera ngambek.


bagaimana mungkin aku tak sampai ketawa melihatnya? baju yang ia kenakan cukup besar, terlihat gomblang seperti termakan bajunya sendiri. usut punya usut, baju yang di pakai oleh meera ternyata bajunya leni. maklum meera tak membawa baju ganti. tubuh meera dan tubuh leni sangat berbeda, leni sedikit gemuk serta tinggi. 


  "aku tidak menertawakan, tapi ini sepontan. baru semalam dengan dia, udah terlihat aneh aja." jawabku sambil menunjuk leni, karena dia yang aku maksud adalah dirinya.


leni menepis telunjukku, lalu membantah: "apaan sih?" 


  "dengar-dengar, ada yang gk tidur nih semaleman. sebegitu pentingnya diriku yah, sampai rela begadang hanya untuk membicarakan tentangku." sambung ucapku mengejek mereka.


  "yah.. karena leni, sekarang aku sudah tahu semua keburukanmu." jawab meera. 


   "kamu harus tahu! jika leni membicarakan keburukanku, maka artinya dia tidak setuju dengan hubungan kita. tapi, jika dia membicarakan tentang kebaikan, maka dia setuju. tapi apakah dia mengakui, kalau dia pernah jatuh cinta padaku?" 


  "ems..." meera bergumam lama, kedu matanya mengedip-ngedip cepat ke arah leni, seperti tengah bermain kode. leni yang menyadari isyarat meera itu lantas menanggapi dengan cara menggeleng kepala sambil menutupkan telunjuknya ke mulut."suttt." menyuruh meera agar bungkam. 


  "jangankan dari anak orang kaya, dari keluarga sederhana saja, wanita mana yang tak jatuh hati pada danu!'' tutur meera sedikit memuji. hal itu tidak membuatku merasa jadi orang ganteng, melainkan merasa seperi orang beruntung.


hari menjelang siang, meera tetap bersantai di rumah leni, lantas bagaimana dengan anak didiknya di sekolah, hal itulah yang membuatku terheran lantas menanyakan: "kamu gak ngajar ra?"  


dia jawab "tidak." "sudah ijin" katanya. aku tak mau hanya karena sibuk pacaran, ia lupa  tanggung jawabnya di sekolah. aku tanya alasan atas ijinnya itu, dia memberikan jawaban yang membuatku terkejut. bukan karena aku, meera ijin dari sekolah. melainkan ia sudah berencana akan menemani ibunya di rumah sakit. ibunya mengidap penyakit diabetes, serta komplikasi  dengan penyakit jantung, sehingga di haruskan check up satu bulan sekali, kebetulan hari itu adalah jadwalnya.


  "nu. lo harus temenin! ini kesempatan lo, buat dapatkan hati calo mertua lo." saran leni.


tak perlu di jadikan alasan, hanya untuk mendapatkan perhatiannya. 


  "gw tak perlu cari muka, orang udah ketemu. tanpa di minta pun gw udah pasti menawarkan diri, jika dia tak mau, gw akan memaksanya." 


  "gimana ra, kita berangkat sekarang?" tanyaku.


  "tapi, di luar sedang hujan deras." jawab meera.


  "kita hujan-hujanan lagi ajah, kaya yg dulu."


  "akh. nanti sakit lagi."


   "sejak kapan sih, lo jadi orang bego kaya gini? itu ada mobil gw, lo tinggal pake aja, gk usah bawa motor." ucap leni menyarankan.

__ADS_1


   "akh. nanti gw di sangkain orang kaya lagi!" jawabku.


   "hei... apakah semua orang yang memakai mobil itu terlihat seperti orang kaya? coba lo perhatikan, seseorang yang bekerja menjadi supir pribadi, kemana-mana dia yang menyetir, pas turun, orang-orang yang melihat bisa membedakan mana sopir, mana majikan." 


   "sekiranya gw yang bawa mobil, kira-kira orang-orang akan menganggapnya seperti apa?"


   "wajah lo gk punya tampang orang kayanya."


   "kalo gitu, siap di berangkatkan." jawab pungkasku setelah beberapa kali terlibat candaan dengan leni. sebenarnya, leni ingin sekali ikut, namun sayang dia sedang banyak tugas. sebelum berangkat, leni membekali uang sebesar 200 ribu padaku. katanya uang itu buat beli buah-buahan, biar calon mertuaku senang, jangan di beliin rokok. sebelum berangkat, aku menyuruh meera untuk mengganti bajunya. meera mengganti baju dengan baju miliknya, meski bekas di pakai kemarin, dia memakainya lagi, untuk menghilangkan aroma bau, dia menyemprotkan sedikit parfum.


  suasana di dalam mobil. ini bukan lagi antara aku dan dia, tapi antara hati ke hati. suasana di dalam mobil sedikit canggung, bingung, harus mengeluarkan kata apa lagi, agar bisa mencairkan keadaan. ntah mengapa aku mendadak kaku, aku memutar musik romantis, agar dapat inspirasi dari lagu tersebut, se dari tadi meera berdiam diri, raut wajahnya seperti menyimpan segudang pertanyaan, yang aku perkirakan, ia sedang memikirkan nasib ibunya, maka dari itu aku sampai tak berani melontarkan kata-kata guyon seperti biasa, meski hanya menghiburnya.


 "ra.. tak terjadi apa-apa kan semalam?" tanyaku.


 "semalam, aku telah mendengar sesuatu yang luar biasa." jawab meera. "ada begitu banyak pertanyaan, yang harus aku tanyakan! tolong kamu jawab pertanyaan itu satu persatu dengan jujur!" sambung ucap meera.


  "kapan, kamu mendengar ucapanku berbohong?" 


  "hem." meera mendesah sepele. lantas menatapku tajam. "ucapanmu semuanya dusta nu!"


aku bingung, apa yang dia katakan. aku mencoba berpikir kata dusta apa yang pernah aku ucapkan padanya.


  "kamu seolah-olah ber pura-pura bodoh, hanya untuk membodohiku!" tutur meera yang semakin membuatku tak mengerti. 


   "hal pertama yang ingin aku tanyakan. kenapa, kamu tidak mencintai leni mau pun devi, padahal mereka jauh lebih baik dan cantik dari padaku?" tanya meera yang pertama. aku ingin tersenyum bahkan menertawakan pertanyaan darinya, tapi ia bertanya sangat serius.


   "bagiku kamu lebih baik dan cantik dari mereka, kamu tahu alasannya kenapa?" jawab dan tanyaku. meera bergumam "ehem." raut wajah bertanya kenapa.


  "itu karena aku memandangmu dengan suka. leni dan devi, mereka akan terlihat baik dan cantik, dimata orang yang menyukainya. yang menentukan cinta atau tidak itu bukan dari sebuah ucapan, melainkan dari hati ra. hatiku terguncang, bahkan bergejolak hingga kehilangan keseimbangan, saat aku berdamai dengan hati itu, kemudian ia berkata dengan lembut aku mencintainya, dan aku tidak merasakan hal itu terhadap mereka."


  "seandainya, aku tidak membalas cinta itu, apa kamu akan menyesal telah mencintaiku?" 


  "cinta itu adalah anugerah, datang tak mengenal waktu, berlabuh tak mengenal siapa! jika kamu tak membalas cintaku, maka aku pastikan akan tetap mencintaimu, sampai cinta itu benar-benar bosan bersamaku."


  "tentu kamu akan sengsara hidup dalam penantian itu, kenapa kamu tidak pergi untuk mencari pelabuhan lain!"


  "pelabuhan itu tempat tinggal sementara, sementara aku hanya mencari tempat, dimana aku bisa hidup di dalamnya."


beberapa pertanyaan yang di ajukan olehnya bisa aku jawab, ntah bisa di mengerti atau tidak baginya. 


   "hal selanjutnya, apa alasan kamu tidak mengambil beasiswa itu?" tanya meera kembali. aku tak bisa memberikan alasannya, aku terdiam sangat terdesak. aku menggelengkan kepala, lalu meminta maaf padanya karena tak mau memberikan alasan itu.  meera sangat memahami, pasti ada alasan lain yang tak bisa aku ceritakan terhadap orang lain, padahal alasannya sangat simpel hanya karena devi. tapi aku enggan menceritakannya pada meera. nanti ia akan membahasnya berkepanjangan.


  "lalu, kenapa kamu menolak tawaran ayah leni, yang akan mendaptarkanmu masuk kuliah di ITB?" 


  "jika dulu aku masuk ITB, mungkin kita tak akan saling mengenal seperti ini, apalagi saling mencintai!"


  "i~h.. jawab serius!" serunya manja.


  "ayahku pernah mengajarkan, hidup tak boleh terlalu bergantung pada manusia! sebab, kebaikan manusia tidak ada yang murni, manusia akan selalu mengharapkan timbal baliknya, istilah kata lain tidak ada yang gratis bro.. jika nasib menuntunku pada kesuksesan, dia akan mengingatkan, ingat! kamu sukses itu karena saya. itu sama halnya aku berdiri di atas kaki orang lain."


  "menurut kamu? salah tidak, kalau aku tidak mencintaimu?" tanya meera. katanya jelas, namun aku ingin mendengarnya lebih jelas. aku mematikan musik di dalam mobil itu, lantas memintanya untuk mengulangi perkataan tadi. meera pun mengulangi katanya cepa dan lantang: "menurut kamu salah tidak kalau aku tidak mencintaimu?" 


  "aku tidak memaksa agar kamu mencintaiku! hanya saja kamu perlu melakukan ini untukku, yaitu: menjawab setiap kata yang aku tanyakan, hadir di saat aku rindukan dan bersedia saat aku mengajak pergi!" 


  "akh. itu sama saja dengan orang pacara tau! ya kalau seperti itu permintaannya, mending sekalian pacaran aja. tapi jujur nu, aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya. meski pernah datang beberapa laki-laki meminta padaku, aku tidak tahu soal cinta, dan aku tidak belajar akan hal itu. tapi semenjak kehadiranmu aku baru paham sesuatu yang aneh terjadi padaku. aku juga mencintaimu nu." ucap meera mengakuinya. 


  "itu hal yang pasti!" jawabku sombong. "aku sudah sangat yakin, sejak pertama melihatmu. hanya saja aku harus menunggu waktu, sampai kamu menyadarinya." sambung ucap sombongku di hadapannya. 


   "hah... nyesel aku sudah mengakuinya." 


  "jam berapa nih." ucapku mendadak heboh. "mau aku tulis, kalau meera juga mengakuinya."


  "eh jangan konyol! nanti saja di tulisnya, kalau nabrak gimana?"


  "kita akan mati dalam keadaan saling mencintai.'


ungkapan rasa cinta yang keluar dari lisannya, seolah menjadi permata indah, perisai untuk kesepian dan dan kebahagian sebagai penutup dari kesedihan. hidup mengajariku tentang keyakinan, kesabaran, indah akan datang bagi mereka yang terus berjuang.


ada baiknya leni tak ikut bersama kami hari itu, jika saja dia ikut, mungkin meera tidak akan mengungkapkan isi hatinya di hadapanku, biarlah hanya mobilnya saja yang menjadi saksi bagi cintaku dan meera. 


  tiba di RSUD BEKAH PANDEGLANG. sebuah lokasi yang di tuju. aku memalkirkan mobilnya, di luar hujan sangat deras. aku mencari payung di bagasi mobil itu, kebetulan ada satu payung yang tersedia. rintiknya air hujan yang membasahi bumi, aku berteduh di bawah payung bersama meera, dengan masing-masing satu tangan menggenggam penyangganya. momen romantis seperti yang terlihat dalam drama korea, hanya saja kami tak sampai bernyanyi sambil berjoged.


di depan ruangan tempat ibunya di rawat, meera mengetuk pintu sembari mengucap salam: "assalammualaikum!" "waalaikum salam." jawab ibu serta ayahnya di dalam bersamaan." lantas meera membuka pintunya dan masuk, aku mengikutinya.


ayahnya sedang terduduk di samping ibunya yang tengah terbaring lemah.


  "ra.." sapa ibunya lemah. "kamu sama siapa?" sambung tanyanya.


  "nih datang sama orang aneh!" jawab meera.


  "aneh kenapa?" 


aku langsung menampakkan diri di depan ibunya, untuk menyerobot jawaban atas pertanyaan itu. "aneh bu, meera sampai bisa suka!"


  "ekh. kamu pasti pacarnya meera yah?" tanya ibunya terhadapku.


  "ikh. ibu pinter banget kalau soal tebak menebak." jawabku memuji. dari belakang meera mencubit perutku. "jangan asal bicara!" ujarnya kesal menasehati.


di balik tubuh yang terkapar, tersimpan di wajah sebuah angan dan harapan. ibunya menarik laun telapak tangan meera, supaya duduk di sampingnya. meera mengepal kembali tangan ibunya dengan kedua tangannya. 


sebenarnya aku ingin menutup telinga, agar tak mendengar pembicaraan yang di lakukan meera dengan ibunya, tapi apalah daya aku harus menyaksikan itu di depan mataku sendiri. 


apa yang di ucapkan ibunya pada meera merupakan sebuah pesan penting, sebuah wasiat yang mengharuskan aku ikut di dalamnya. 


  "umur ibu, gak akan bertahan lama lagi!" tutur ibunya membuat bulu kudukku merinding.


  "ibu jangan ngomong seperti itu!" jawab meera menyarankan.

__ADS_1


aku tak ingin mendengar kata kesedihan itu lagi, aku berencana akan keluar dari dalam ruangan, namun meera menahan, dia ingin aku tetap bersamanya mendengarkan kata wasiat yang di sampaikan oleh ibunya.


 "kamu adalah anak ibu satu-satunya, sebelum ibu meninggal, ibu ingin sekali melihat kamu bisa menikah, dan memastikan anak ibu bahagia bersamanya."


  "iyah. tapi menikah dengan siapa bu?" jawab meera kencang, seolah ingin terdengar olehku.


  "apakah orang yang datang bersamamu itu sangat meragukan? sehingga kamu tanya dengan siapa?" tanya ibunya pada meera bermaksud menunjukku.


jika saja waktu bersinergi dengan keadaan, aku tak akan berpikir panjang, bila perlu tak usah berpikir lagi. saat itu aku hanyalah seorang bocah, pengangguran tak jelas masa depannya, apa yang akan aku jaminka untuknya.


pembicaraan meera dan ibunya terhenti, meera menarikku keluar. saat jauh dari hadapan ayah dan ibunya meera menanyakan hal tadi padaku. "kamu mendengarkannya kan nu? apa yang tadi ibuku katakan?" tanya meera mempertegas.


  "aku mendengarnya, bahkan sangat jelas!" 


  "lantas, bagaimana menurutmu?"


  "semua orang pasti memimpikan bisa hidup dan bersanding dengan orang yang di cintainya. saat tuhan mempertemukan aku dan kamu, kamu menjadi tujuannya agar aku bisa memimpikannya. aku mendadak jadi orang yang sering mengadu pada tuhanku, hanya untuk meminta agar aku bisa hidup di buminya denganmu. ketahuilah aku datang bukan hanya ingin mengenal, tapi aku ingin hidup sambil menunggu kematian bersamamu." 


  "perkataanmu sangat panjang, susah di mengerti. aku hanya tanyakan, apakah kamu siap atau tidak jika harus menikah denganku?"


pertanyaan itu antara siap atau tidak, meera menginginkan agar aku menjawabnya hari itu juga. aku sangat bingung atas penekanan itu, ini masalah serius,  bukan sekedar siap atau tidak siap, itu harus di pikirkan dengan matang, karena sebuah pernikahan bukan hanya melibatkan antara aku dan dia saja, tapi melibatkan dua keluarga. aku tidak bisa memberikan jawaban apa-apa selain terdiam. melihat aku terdiam cukup lama sampai sampai meera menyebutku seorang "pengecut."


aku bukanlah seorang pengecut, hanya saja kesiapan itu membutuhkan waktu. aku meminta kepadanya agar di berikan waktu, meera tak menanggapi lagi hal itu.


ibu dan ayahnya keluar dari dalam ruangan, waktunya untuk kembali pulang. semua barang-baranya sudah di kemas.


  "ibu dan ayah mau pulang, kamu gimana?" tanya ibunya pada meera.


  "meera juga ikut pulang dulu deh." 


   "lantas, bagaimana di sekolah kamu?"


   "gampang bisa ijin lagi." pungkas meera.


   "kalau gitu, sekalian saja danu anterin sampai rumah!" ujarku menawarkan.


    "gak ngerepotin nantinya?" tanya ibunya.


    "enggak lah! apa sih yang tidak buat calon mertua?"


sebelum mengantar pulang, aku bisikan sesuatu di telinga meera: "jika nanti habis bensinnya di jalan, kamu bayarin yah! soalnya aku gak bawa uang."


meera balas berbisik: "gak bawa uang, atau memang gak punya uang?" tanyanya menyindir.


 aku hanya bisa pasrah sambil menggaruk garuk kepala.


aku yang mengemudikan, meera duduk di samping, sementara kedua orang tuanya duduk di belakang. selama perjalanan ibu meera banyak bercerita tentang kematian. menurutnya: "sebuah penyakit yang di berikan allah, mengandung hikmah di dalamnya. selain dapat mengurangi dosa-dasa yang pernah kita lakukan, ada satu hal yang dapat di mengerti dari kehidupan, bahwasanya kita hanya tengah menunggu kematian tiba. dalam keadaan sakit, yang ada di pikiran hanyalah mati, mati dan mati. di sisa waktu yang masih ada, katanya bisa di gunakan semaksimal mungkin untuk berbuat baik."


aku menanggapi: "beruntung bu, bagi orang-orang yang bisa bertaubat sebelum kematiannya datang!"


waktu menjelang magrib, aku baru tiba mengantar mereka di rumahnya. kedua orang tua meera menyuruhku untuk masuk! aku tanya masuk kemana?" mereka menjawab "masuk kedalam!" "kedalam mana?" "akh. jangan di ladenin bu! dia memang aneh!" meera memotong.


aku, meera beserta orangtuanya, melaksanakan shalat magrib berjamaah, dengan di imami bapaknya sendiri. seusai shalat magrib, di adakan makan bersama. di meja makan, aku duduk saling berhadapan dengan meera. "ra.." sapaku. "hem." jawabnya. "jika kamu adalah magrib, aku ingin menjadi isya!" ucapku akan membuat gombalan. "memang kenapa?" tanya meera. "karena antara magrib dan isya jaraknya selalu dekat." jawabku.


"lagi makan juga, sempat-sempatnya membuat gombalan." ucap meera. kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum melihat itu. 


malam di rumah meera. sebenarnya aku akan kembali pulang, namun orang tuanya menyarankan agar menginap, mengingat waktu sudah malam. aku merasa tak keberatan, malah senang, apalagi bisa tidur berduaan dengan meera. 


di ruang tengah, orang tuanya mengajakku bernostalgia. menceritakan tentang meera yang masih kanak-kanak, tingkahnya yang lucu, lugu dan masih banyak lainnya. canda tawa di rumah itu, seakan membuatku sudah menjadi bagian dari keluarganya. di tengah keceriaan, malam itu kedatangan tamu. tak lain tamunya adalah risma [istri ilmah] bersama kedua orang tuanya. setiap pulang dari rumah sakit, keluarga risma rutin menengok ke rumah orang tua meera. menanyakan perkembangan penyakitnya.


bodohnya, aku tak menyadari malam itu merupakan cikal bakal terjadinya sebuah perpisahan.


aku menanyakan kabar si ilham pada istrinya. risma lupa, kalau aku ini adalah sepupu dari suaminya. "kamu dari menes juga?" tanya risma. aku mengiyahkan. lalu meera ikut menambahkan: "dia dan ka ilham itu sepupuan tahu!" pengakuan meera mulai di tanggapi bapaya risma. "benar kalian itu masih saudara?" tanya bapaknya risma padaku. 


aku membenarkan, kalau aku dan ilham itu sangat dekat. bahkan rumah kami hanya terhalang pagar pembatas. ibunya meera ikut membeberkan kalau aku dan meera tengah merencanakan sebuah pernikahan. semua yang mendengar kabar itu ikut bahagia, kecuali bapaknya risma. ia juga turut tersenyum, namun senyuman itu hanyalah sandiwara untuk menutupi ketidak setujuannya. 


sebelum tidur aku merasa gelisah, memikirkan sebuah pernikahan. aku tak menyangka akan secepat itu, dari lubuk hati yang paling dalam sesunggunya aku belum sepenuhnya siap. jika aku mundur, otomatis aku akan kehilangan meera selamanya. mengingat ibunya sangat menginginkan agar meera menikah sebelum ia wapat. 


pagi buta, meera mencoba membangunkanku yang tengah tertidur di atas sofa. mengingat aku sedang bertamu, sebisa mungkin untuk terbangun meski keadaan masih sangat ngantuk. "gimana rasanya tidur di rumah mertua? nyaman kan.?" tanya meera. "akan sangat nyaman, jika tidur di rumah calon mertua berduaan denganmu!" jawabku.


"jika kamu siap, itu akan cepat terwujud." 


"do'akan saja, semoga tuhan meridhoi." 


"sudah cepat bangun! trus mandi, abis itu kita sarapan bareng." 


cuaca di rumahnya sangat dingin, aku tak biasa mandi terlalu pagi, aku putuskan hanya membasuh muka, apa yang aku lalukan mendapat sindiran darinya "kaya kambing, jarang mandi!" kata sindirannya. "brisik.." jawabku.


sehabis sarapan, aku dan meera berpamitan terhadap orang tuanya. kita akan kembali pulang ke pandeglang. 


"ibu tunggu yah i'tikad baiknya dari kamu! ibu harap secepatnya kamu bisa datang kerumah ini lagi, tapi bukan seorang diri, melaikan datang bersama keluargamu untuk melamar meera." ucap ibunya padaku saat berpamitan. aku hanya bisa terangguk sambil memberikan senyuman, aku sangat bangga, mengharapkan aku menjadi menantunya. namun aku kecewa terhadap diri sendiri, karena takut mengambil resikonya. 


sudah aku tulis di bagian awal, namun aku ingatkan kembali, rumah meera berlokasi di kecamatan carita. carita merupakan kawasan pesisir pantai di daerah pandeglang.


ntah apa yang ada di benaknya, meera mengajak untuk mampir dahulu ke pantai, sebelum pulang ke pandeglang. "bagaimana dengan anak-anak murid kamu?" tanyaku


"nanti, aku akan minta guru lain untuk mengisinya!"


"wah.. kenapa sekarang kamu jadi nakal kaya gitu yah?"


"terbawa pengaruh jahat kamu. ini juga sekalian untuk merayakan hari jadian kita!"


aku dan meera mampir di pantai pasir putih. suasananya sangat sepi, maklum bukan hari libur. jika pada hari libur, tempat itu akan di penuhi para pengunjung. 


hari itu merupakan bait-bait terakhir yang mampu aku tuangkan kedalam buku swet memoris bersama meera. dimana aku masih bisa melihat senyumannya, menyaksikan tawanya, memperhatikan tariannya juga mendengar nyanyiannya.


gandengan tangannya masih sangat erat, ketika ia menarikku untuk berlari. tangannya yang iseng mendorongku supaya tercebur kedalam ombak. aku segera bangkit untuk membalas, namun ia berusaha menghindar sambil berlari tertawa lepas. 

__ADS_1


kenapa hari itu harus terjadi, jika esok harus di lupakan? aku sampai tak sadar, bahwa di balik kebahagiaan, ada sebuah kesedihan. di balik tawa, pasti ada tangis. di balik pertemuan, akan ada sebuah perpisahan. meski semua tak menginginkan itu akan terjadi, entah suka mau pun tidak. 


__ADS_2