
setelah beni masuk di awal semester, kini masuk lagi seorang siswi pindahan bernama devi di kelas ipa. kemunculan devi membuat popularitasku menghawatirkan, pasalnya devi berparas cantik, semua anak cowok mengakuinya. yang paling aku takutkan, ia bisa membuat danu jatuh cinta padanya, duniaku bisa kiamat.
tapi itulah danu, seseorang yang tak pernah membuatku mengerti, atas keinginan sosok wanita seperti apa yang dia mau. jikala orang tengah berloba lomba untuk mendapatkan hatinya devi, danu malah tak tersentuh sama sekali.
hari penentuan siapa yang terbaik di antara dua cowok populer di sekolah. reputasi danu dan beni di pertaruhkan dalam ajang pemilihan ketua osis. itu bukan lagi sekedar siapa yang bakal menduduki jabatan ketua osis, melainkan pembuktian siapa yang terbaik diantara mereka berdua.
dua nama besar saling berkolaborasi antara beni dan devi, disinyalir beni akan memenangkan pemilihan itu dengan mudah. mereka gencar melakukan kampanye mengajak para siswa memilihnya.
tapi danu yang aku dukung sepenuhnya masih terlihat santai, istilahnya bodo amat, menang syukur gak menang gak apa-apa.
hari pemilihan ketua osis di mulai. acaranya di gelar di lapangan sekolah. semua murid di wajibkan untuk berkontribusi memberikan suaranya. pemiliha suara telah di lakukan, hampir 95% para siswa ikut berpartisipasi memberikan suaranya, semua di rasa cukup, waktunya penghitungan, siapa yang lebih unggul suaranya diantara mereka. sebelum hari pemilihan tiba danu sempat berkata: "jika semua anak ips memilihnya, dan anak ipa memilih beni, tentu danu akan memenangkan pemilihan itu. sebah jumlah anak ips lebih banyak di bandingkan anak ipa.
suasana menegangkan, decak riuh bergemuruh dari pada hadirin yang menyaksikan hasil suara pemilihan itu. satu per satu kertas suara di buka, lantas di tunjukkan kemudian di catat. sampai pada kertas suara yang terakhir, ketika semua hasil suara di jumlah, suara danu lebih unggul ketimbang beni, dengan selisih 20 suara, dan danu layak menduduki jabatan ketua ossis. sorak suara kencang dari anak ips menggema menyambut kemenangan itu, aku sedikit terharu bercampur bangga, sambil meloncat-loncat aku memeluk danu kegirangan. sementara danu masih bersikap dingin tak menari di atas kekalahan orang lain.
keesokan harinya, di dalam kelas danu mengumumkan rencana, kalau dia akan menggaet anak ipa untuk bekerja sama menjalankan organisasi osisnya. di hadapan danu anak ips seperti tak keberatan, namun lain saat di belakang, mereka tak setuju atas rencana danu.
aku melihat danu tengah berjalan seorang diri, saat aku tanya "mau kemana lo?" dia menjawab "akan menemui beni." aku tak bertanya apa yang akan dia lakukan? namun aku mengikutinya. tiba di kelas ipa, anak-anak yang melihat kehadiranku dan danu menjadi heboh. mereka berpikir maksud kedatangan kami akan menertawakan atas kekalahannya, tapi tidak danu menunjukkan sikap bijaksana.
"ngapain kalian kemari?" tanya beni jutek. "apa mau menertawakan kekalahan gw?" sambung perkiraannya.
"sebenarnya, orang yang pantas menjadi ketua osis itu bukan gw, melainkan lo! hanya saja gw lebih beruntung dan orang-orang lebih percaya sama gw. bagi gw, itu bukan merupakan suatu kebanggaan melainkan beban. 49% suara memilih lo, maksud kedatangan gw kemari untuk mengajak lo bekerja sama!" tutur jawaban danu.
"apa yang lo inginkan?" tanya beni.
"gw minta lo bersedia menjadi wakil ketua osis!"
"sama saja dengan merendahkan gw."
"apakah tujuan lo mencalonkan diri menjadi ketua osis, hanyalah demi popularitas semata? lo gak benar-benar niat ingin mengharumkan nama sekolah ini. seumur hidup kita hanya sekali duduk di bangku sma, apa lo tidak ingin membuat sejarah di sekolah ini, yang selalu di kenang oleh siswa-siswa yang akan datang setelah kita."
"apa yang akan lo buat? hingga gw harus terlibat di dalamnya?" tanya beni.
"gw ingin membuat gebragan baru, jika lo bersedia, nanti gw bakal bahas di rapat kordinasi hari sabtu mendatang. struktur organisasi akan gw isi dari anak ipa dan ips, lo siapkan 7 orang anak ipa, sisanya dari anak ips." tutup danu.
saat aku dan danu meninggalkan kelas ipa, kami tak mendengar kata setuju dari mereka. dalam hati kecilku mengeluh "ngapai sih danu, pake ngelibatin anak ipa segala!" aku tak tahu kalau itu akan menjadi hikmah di hari yang akan datang.
rapat kordinasi pertama. aku, danu serta beberapa anak ips tengah menunggu di ruang osis. sementara anak-anak ipa belum juga tiba. sempat berpikir kalau anak-anak ipa tidak akan datang, nyatanya, perkiraan kami salah, anak-anak ipa pun tiba, langsung di sambut oleh danu, sambil mempersilahkan mereka untuk duduk.
rapat pun di mulai, di hadiri kepala sekolah serta pembina osis. danu yang resmi manjadi ketua osis langsung berdiri untuk membacakan narasinya. sebelum membacakan narasi danu mengucapkan salam hormat terlebih dahulu bagi semua orang yang hadir di ruangan itu. tak hanya itu, dia juga sempat mengingatkan, selama narasinya berlangsung jangan ada yang memotongnya, meski tak setuju. nanti ada bagiannya untuk memberikan pendapat dan saran masing-masing.
"SMA sekolah menengah atas. selama ini kita hanya berfokus dalam mata pelajaran yang mengikuti kurikulum, dalam kata lain masuk sma agar mudah melanjutkan sekolah ke universitas lebih tinggi. SMA bukan lagi ajang membuat cita-cita, melainkan mempersiapkan kehidupan yang nyata. bagi yang mampu bisa saja setelah lulus sma mereka akan melanjutkan ke universitas, tapi bagaimana dengan yang tidak mampu? apa yang akan mereka dapatkan di bangku sma, apakah mereka akan berpikir yang penting sekolah, urusan kerja gimana nanti. dengan simpelnya mereka akan melamar pekerjaan pabrik jadi buruh. ironis!
seharusnya sekolah SMA bisa membekali, kemampuan-kemampuan, mau pun menonjolkan bakat, agar kelak anak-anak bangsa bisa bekerja mandiri, berkarya sendiri tanpa ketergantungan orang lain. sekarang kita lihat sekolah-sekolah smk. mereka memprioritas hal itu terutama di bidang seni. anak SMA tidak boleh kalah saing dengan mereka, anak sma harus di ajarkan bermain alat musik, seperti gitar, kyeboard, drum band, angklung dan gendang. kita juga harus membuat seni tari dan teater." begitulah bunyi narasi yang di bawakan oleh danu. ia belum usai. namun devi memotongnya untuk berpendapat, padahal itu belum saatnya.
menurut pendapat devi, hal semacam itu bisa di dapatkan di luar sekolah, asalkan pandai bergaul. itu hanya akan mengganggu waktu pelajaran saja.
danu menegurnya supaya tidak menyampaikan pendapatnya sebelum dia selesai menjelaskan. danu kembali melanjutkan narasinya, namun devi tetap saja melakukan hal yang sama. dari situlah danu dan devi terlibat perselisihan hingga cekcok. puncaknya terjadi kala danu melayangkan sindiran pedas pada devi "percuma lo pintar tapi tak beretika! percuma lo cantik, kalo cara berpikirnya dangkal." perkataan itu sangat tajam, hingga membuat devi tersinggung lantas menangis sambil meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
atas kejadian itu, anak-anak ipa mengundurkan diri dari anggota osis. danu yang terbakar amarah tak peduli. jika anak ipa mengundurkan diri kata danu dia akan mencari penggantinya. baginya, apa gunanya mempertahankan orang yang tak sependapat, itu hanya akan menjadi penghalang rencana. danu itu orangnya sangat teguh pendirian.
setelah hari itu berlalu, selama beberapa hari devi tak terlihat masuk sekolah. aku pikir itu hanya masalah sepele, gak taunya perdampak panjang.
terhitung sudah tiga hari devi tidak masuk sekolah, hari ke empatnya dia datang pas waktu istirahat, tidak menggunakan seregam sekolah datangnya pun di temani oleh ayahnya.
aku dan danu tengah berada di kantin sekolah, betapa kagetnya ketika salah satu siwsa memberi kabar, kalau aku dan danu di panggil keruang kepala sekolah. kami berdua pun memenuhi panggilan itu untuk menghadap. tiba di ruang kepala sekolah, disana sudah ada beni dan pembina osis, serta devi beserta ayahnya. bapa kepsek mempersilahkan kami duduk, aku dan danu duduk berhadapan dengan devi dan ayahnya. sementara beni dan pembina osis ada di samping kanan kami, dan pak kepsek di samping kiri.
danu mulai di introgasi kepala sekolah waktu rapat osis kemarin. padahal pak kepsekpun ikut menyaksikan. hal yang jadi pembahasannya yaitu tentang perkataan danu yang menyebabkan devi menangis. hal itulah yang membuat ayah devi tak terima. mengingat ayah devi adalah seorang ajun komisaris besar polisi {akbp} yang bertugas di kepolisian resor atau polres pandeglang.
pada putusan kepala sekolah, danu di anggap bersalah. harus meminta maaf pada devi dan di kenai hukuman skorsing selama tiga hari. danu merasa itu tak adil, lantas menggugatnya.
"kenapa hanya di skor tiga hari? gak lebih! kenapa gak sekalian di DO {Drop Out}. saya lebih bangga di keluarkan dari sekolah ini, dari pada saya belajar sama orang yang tidak menjunjung tinggi nilai keadilan. apa karena bapa memandang jabatannya hingga saya di anggap salah, bahkan akan tetap salah." ujar pembelaan danu.
bapa kepala sekolah merasa tak terima atas pernyataan danu, yang menganggap putusannya itu di dasari jabatan ayah devi. "sekolah ini tidak mengajarkan anak yang tidak tahu sopan santun. percuma kamu pintar jika tak beretika. mulai hari ini juga kamu saya akan keluarkan dari sekolah ini." jawab pak kepsek marah.
danu terancam, dia pun keluar meninggalkan ruangan tersebut. sebelum menyusulnya aku sempat mengancam pak kepala sekolah: "asal bapa tahu, jika danu keluar dari sekolah ini, maka saya pastikan akan ikut keluar. jika ayah ku bertanya kenapa? maka aku akan memberikan jawaban seperti yang danu katakan barusan." aku pun pergi menyusul danu. setelah mendengar ancamanku pak kepsek sangat panik, nasibnya terancam. jabatannya bisa di copot, dia tahu siapa ayahku, ayahku bisa melakukannya.
aku yang berencana menyusul danu sudah tak menemukan kehadirannya lagi. saat mencari ke kelas dia pun sudah tak ada, aku bertanya pada teman-teman: "ada yang melihat danu gak?" mereka menjawab kalau danu sudah pulang membawa tasnya. mereka penasaran apa yang sedang terjadi? aku menjelaskan kalau danu akan di keluarkan dari sekolah. semua merasa kaget bahkan tak percaya. "aku juga bilang sama pak kepala sekolah, jika danu keluar aku juga akan keluar. tak ada gunanya belajar jika tak menjunjung tinggi keadilan." ujarku di depan teman-teman ips.
aku tak menyangka, ucapanku itu akan membuat mereka berontak. mereka berbondong-bondong mendatangi ruangan kepala sekolah untuk menuntut keadilan, jika danu benar-benar di keluarkan, mereka pun nekat akan keluar dari sekolah itu.
aku mengabari ayah, menceritakan apa yang tengah terjadi di sekolah. ayah segera datang, dia melihat suasana tak kondusip di depan ruang kepala sekolah, anak-anak tengah berunjuk rasa, di halau guru BP dan sekuriti mengamankan.
betapa kagetnya pak kepsek saat melihat kedatangan ayahku di sekolah itu. aku menemani ayah ke ruangan kepsek, tubuh pak kepsek begitu gemetar, mempersilahkan ayahku untuk duduk dengan suara terbata. ada yang menarik dalam pertemuan itu, dimana ayahku dan ayahnya devi sudah saling mengenal satu sama lain, mungkin karena punya peran dalam pemerintahan pandeglang. mereka saling berjabat tangan, bercakap ria sambil memperkenalkan anaknya masing-masing.
di ruang pak kepsek, semua orang tengah menunggu kedatangan danu. dia seperti orang penting saja. namun kehadirannya sangat di harapkan. danu kembali, dia kaget, di ruang pak kepala sekolah sudah ada ayahku menyambutnya. "da~nu.." sapa ayahku saat bertemu, sambil menepuk pundak dan meletakan menggandengnya.
"bapa tahu? kalo danu ini adalah anak saya!" tutur ayahku di hadapan pak kepsek. semua orang tak percaya, mereka saling berbisik. "berarti danu dan leni adik kaka!" bisik mereka percaya dengan pengakuan ayahku. "walau dia bukan anak kandung saya, namun saya menganggapnya seperti anak sendiri." lanjut ucap ayahku.
pada kesepakatan sidang, jalur damai di ambil. danu tidak akan di skor apalagi di keluarkan, hanya saja dia harus meminta maaf pada devi. danu melakukannya, danu dan devi berjabat tangan saling maaf maafpan. sidang di tutup, semuanya boleh meninggalkan ruangan itu. aku berjalan di samping danu, menuju kelas. dia menegurku, katanya: "jangan mentang-mentang ayahmu punya kedudukan tinggi, lantas kamu gunakan sebagai senjata untuk menjatuhkan orang lain! gw gak suka itu." seru danu sampai terdengar yang lain. devi yang mendengar pun tersipu malu, bahkan ayaku sampai tersentuh mendengarnya.
"apa salah, jika aku hanya membela keadilan semata?" jawabku menanggapi.
hari pertama pasca insiden. aku kira semuanya kembali normal, ternyata tidak. devi jadi bahan bullyan bagi anak-anak ips, termasuk anak ipa yang tak suka padanya. katanya: "sok keras! anak baru belagu, mentang-mentang punya ayah polisi seenaknya main hakim sendiri! ingat! di atas langit masih ada langit. itu berdampak pada mentalitas devi yang terganggu, dia mulai di jauhi teman-temannya, bahkan dia jadi minder saat bertemu orang lain.
dia harus bersyukur karena danu. semenjak cemoohan yang sering ia terima, ia memutuskan untuk tidak sekolah lagi, bahkan memutuskan akan pindah sekolah. kabar itu di dengar oleh danu, danu ingin menemui devi, namun ia tidak tahu alamat rumahnya. wali kelas devi memberitahukan alamat rumahnya pada danu, danu segera berangkat, yang semula akan pergi sendirian, setelah aku mengetahui niatannya aku meminta untuk ikut menemani.
sesampainya di rumah devi, dan mengetuk pintu dan memberi salam. pintu rumahnya di buka langsung oleh ayah devi. tanpa basa basi ia langsung bertanya "untuk apa kalian datang kerumah ini?" nadanya tegas, maklum aparat. devi menyadari kedatangaku bersama danu, namun ia tak mau menemui, hanya bersembunyi di balik jendela sambil menguping.
"kami ingin menemui devi!" jawab danu.
"ada perlu apa?"
"untuk bertanya, kenapa dia tak pernah masuk sekolah lagi?"
"dia mau pindah sekolah!"
__ADS_1
"apa alasannya?"
"kamu tanya apa alasannya? apakah kamu tidak berpikir, apa yang kalian lakukan di sekolah terhadap devi itu membuatnya minder. lagian sekolah itu selalu bawa masalah untuknya, terutama kamu!" tutur ayah devi memberikan alasan.
"jangan pernah didik, anak bapa menjadi seorang pengecut! jangan biarkan dia menyerah, saat dalam keadaan kalah. jangan biarkan hancur, saat dia dalam keadaan lemah. masalah itu bukan untuk di takuti, melainkan di hadapi. jika benar terjadi devi pindah sekolah, saya anggap kalian kalah. satu hal yang perlu di ingat! jangan pernah ajarkan kami tentang kekalahan, tapi ajari kami bagaimana seharusnya berjuang!" aku yang mendengar perkataan danu di buat terkesima. begitu pun ayah devi yang merasa takjub. dengan bangga ayahnya mengapresiasi danu. "negara kita, butuh orang-orang seperti kamu!" tutur memujinya.
sikap yang di tunjukan ayah devi mulai berubah, dia mendadak baik, mempersilahkan kami masuk untuk menemui devi. akhirnya danu bisa bertemu devi, ia meminta maaf kembali, menyuruh devi agar masuk sekolah dan memberikan jaminan bahwa tidak akan adalagi bullyan dari para siswa untuknya, jikalau ada, orang tersebut akan berurusan dengan danu.
devi mulai kembali bersekolah. sejak turun dari atas mobil, danu langsung mengawasinya, hingga menuju kelas pun danu tetap membuntutinya dari kejauhan. di pertengahan jalan, devi berpapasan dengan beberapa siswa, devi menundukan wajah takut mereka akan kembali mengejeknya. benar saja, salah satu dari mereka melayangkan cibiran pada devi, danu langsung bergegas mendatangi orang-orang itu, memberi peringatan agar tidak lagi membully devi.
danu menarik devi, membawanya ke tengah lapangan. sesampai di tengah lapangan ia meminta para siswa agar berkumpul, danu mengumumkan agar tidak ada lagi yang membully devi, bagi siapa saja yang masih melakukan hal itu, maka akan berurusan dengannya.
anak-anak SMA, siapa yang berani membantah ancaman danu itu? secara mereka tahu kalau danu adalah anggota gank yang bernama pasukan badak kulon, sebuah gank yang bermarkas di gardu tanjak. perlahan tidak terdengar lagi ada orang yang mengejek devi, semua kembali normal.
plan struktur organisasi osis yang tertunda, itu di aktipkan kembali. danu sebagai ketuanya, wakil ketua osis di isi oleh beni, aku di tunjuk sebagai sekertaris dan devi bendaharanya. adapun untuk sekbid di bagi menjadi dua bagian, sebagian anak ips dan sebagian lagi oleh anak ipa.
kata kata beni yang selalu aku ingat: "gw baru mengerti, kenapa anak-anak lebih percaya lo buat jadi ketua ossis ketimbang gw, karena lo memang lebih layak. jiwa sosial lo sangat tinggi, berwawasan luas dan sangat bijaksana, gw sering menganggap kalau gw lebih baik, nyatanya ada seseorang yang lebih baik di banding gw. hari ini, bersediakah lo jadi teman gw?" perkataan beni yang di tujukan pada danu.
sebuah komunikasi mulai terjalin dengan baik, danu dan beni berteman akrab, beni juga sering mengajak danu menginap di rumahnya. kamu tahu ra? mulai saat itu, devi mendadak jadi orang yang pengertian sama danu, tiap hari berusaha menemuinya, tak hanya di dalam sekolah tapi di luar sekolah juga, perhatianku pun sampai kalah olehnya. jika hari libur, aku, danu, beni serta devi akan pergi bersama. dan itu menjadi rutinitas bagi kami.
dalam kegiatan osis, kami bekerja sama dengan smkn 1 pandeglang akan membuat sebuah teater. dari hasil kesepakatan, di bentuklah sebuah grup yang diberi nama pandawa. berhubung danu terkenal suka membaca novel, dia di tantang untuk membuat sebuah naskah, yang nantinya akan di mainkan dalam teater.
semaksimal mungkin danu membuat alurnya, konsepnya tentang alam dan percintaan, yang di beri judul "putri yang terbuang." saat naskah yang di buat danu sudah jadi, semua anggota pandawa mulai di kumpulkan untuk di buat casting, menentukan siapa saja yang pantas memerankan sebuah karakter yang terdapat dalam cerita itu. sosok devi di anggap cocok untuk memerankan tokoh sang putri. tapi kesulitan saat menentukan siapa yang cocok untuk memerankan tokoh pangerannya. tinggal satu orang yang belum ikut casting yaitu danu.
naskah di buat olehnya, sudah tentu danu pasti bisa memerankan tokoh pangeran itu sendiri. disitu aku hanya berperan sebagai piguran.
satu momen dimana devi membuka isi hatinya untuk danu di hadapan anak-anak pandawa. di dalam naskah cerita itu, ada satu dialog dimana sang putri mengutarakan perasaannya terhadap pangeran. di sesi latihan, dialog itu di peragakan. "kerasnya gelombang kehidupan mampu kita tahan. bermacam penderitaan sudah kita lalui. terpisah karena jarak, bersatu karena waktu. sudah saatnya pangeran, kebahagian itu kita dapatkan. aku mencintaimu, apakah kamu bersedia untuk hidup bersamaku, s e l a m a n y a.." dialog itu sangat di jiwai oleh devi, mata yang memandanginya sangat tajam, seolah itu bukan lagi sekedar latihan. danu memahami sikap yang di tujukan devi itu luar. danu menertawakannya, devi terheran lantas menanyainya: "kenapa lo tertawa? ada yang lucu?"
"gw tergugu mendengarnya. gw merasa dialog yang lo bacakan bukan hanya sekedar latihan, namun itu murni, sebuah perasaan yang lo tunjukkan buat gw."
"bukannya lo selalu bilang, kita harus menjiwai suatu karakter dengan hati?"
"tapi lo, bukan sedang menjiwai sebuah karakter, melainkan menjiwai dalamnya perasaan. apa lo jangan-jangan suka sama gw yah?"
wajah devi kian memarah, namun kepalang tanggung. "kalau iya kenapa?" devi pun mengutarakan perasaannya secara langsung. anak-anak yang mendengar mendadak heboh, kecuali diriku yang merasa cemas. takut kalau danu juga beneran suka sama devi. semua orang memberikan dukungan, agar danu menerimanya sebagai pacar.
"semua laki-laki pasti menginginkan kamu sebagai pacarnya, termasuk diriku. tapi apalah daya, kita bagaikan pasir dan ombak. aku seperti pasir, akan selalu berada di bawah ombak. saat ombak itu pergi/surut maka pasir akan berubah kekeringan." tutur danu menanggapi perasaan devi, tidak menjawab iya, apalagi menolaknya.
aku pernah menanyakan hal itu kepada danu, kenapa dia tak menjawab iyah atau pun tidak saat devi menembaknya. danu menjawab: "gw tidak punya alasan untuk berkata iyah. karena gw tidak mencintainya. jika gw bilang tidak, itu akan terdengar anak-anak, yg gw takutkan mentalitasnya jatuh, mengakibatkan teater kita jadi berantakan."
tahun 2009 kita lulus SMA. aku,danu,beni dan devi, sepakat untuk mengejar jalur beasiswa di universitas gajah mada jogja. kami ber4 sebenarnya merasa tak yakin bakal lolos, hanya untung-untungan saja, sebagai antisipasinya, aku beni dan devi mendaptar di kampus ITB lewat jalur mandiri, namun tidak dengan danu, dia tak bisa jika harus melalui jalur mandiri karena biayanya minim. ayahku pernah menawarkan jika tak lolos di UGM danu akan di daptarkan ke ITB. alhasil, nama danu dan devi tercatat dan di tetapkan lulus seleksi substansi, namun sayang seribu kali sayang, danu malah mengundurkan diri sebagai penerima beasiswa, aku tak tahu apa alasannya. ia juga menolak tawaran dari ayahku.
sebelum aku berpisah dengannya, danu sempat bersiasat: "gw harap, lo akan menemukan cinta disana {bandung} itu bisa terwujud karena lo terbiasa tanpa kehadiran gw di samping. ketahuila satu hal yang menjadi penghalan buat lo jatuh cinta yaitu gw, lo selalu berada di bawah bayang-bayang itu, jadi sekarang lo mulai membiasakan diri untuk memulai membuka hati yang baru!" pungkas danu.
yah memang benar! jika aku masih berada di samping danu, aku tidak bisa membuka ruang untuk orang lain" tutup leni dalam suaranya.
suara adzan subuh mulai menggema, menandakan pagi telah tiba. benar meera dan leni tak tidur malam itu. itulah sedikit cerita tentangku yang di ceritakan leni pada meera.
__ADS_1
tapi kisahku dan meera masih tetap berlanjut.