GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
wanita di bawah rembulan part 2


__ADS_3

"kamu sengaja dan-dan ra, buat ketemu aku?" dia sedikit mengelak agak-agak malu gitu. "i~h apa~an sih, orang biasa aja!" 


waktu bergeser beberapa jam sebelumnya. sebenarnya, meera sudah melihat keberadaanku dari tadi, waktu aku tengah berbincang dengan jery dan dion. dia melihat dari arah belakang, sehingga aku yang tak melihat keberadaannya. meera juga menyimak beberapa perbincangan tadi.


  "mereka yang tadi itu, teman sekolah kamu?" tanya meera. 


  "iya, tapi cuma yang laki-lakinya doang. perempuannya sih aku gk kenal."


  "tadi, aku mendengar mereka mengolok-olok kamu, kenapa kamu diam saja?"


  "kadang, kita harus terlihat bodoh, di depan orang yang pura-pura pintar!" 


meera menganguk-anggukan kepala dengan laun. mungkin mengerti dengan peribahasa yang aku ucapkan. malam itu sikapnya sangat berbeda dari sebelumnya. dia menjadi lebih santai, tidak ngegas dan tidak jutek. dia sangat menikmati malam itu.


  merangkak laun, kadang dia suka mencuri pandangan dariku, ketika aku tatap balik wajahnya namun ia membuangnya.


yang paling aku tak percaya, kala meera menanyakan tentang devi. "devi gimana?" tanyanya. "hah!" sedikit kaget aku menghela nafas, bola mataku melotot dengan mulut menganga, seakan tak percaya pertanyaan itu terucap. "de~vi?" aku memperkuat. "apa hubungannya?" sambung tanyaku.


dengan laun dia menjawab. "gk di jadikan pacar?" jawab isengnya. ternyata hampir semua obrolan tadi di dengar oleh meera. 


   "dia terlalu sempurna, untuk orang yang serba kekurangan!"   


  "apa karena dia anak orang kaya?"


  "aku tidak menjadikan harta sebagai patokan!"


  "lantas?"


   "aku sadar diri! walaupun kebahagiaan tidak terletak pada cincin berlian, tapi kenyataan akan menuntut itu!"


  "ya ya ya. benar juga sih!" puji meera.


  "apa kamu sudah mulai jatuh cinta, setelah mendengar perkataanku tadi?" ucapku mengisenginya. "plak" dia memukul pundakku. "mulai lagi deh!" ucapnya. he he he dia membuatku tergugu. 


tak lama setelah itu, meera merasa lapar. dia mengajakku untuk makan. dan katanya "kita cari makanan yang mahal saja."  itu sindiran. "pecel lele." ucapku dan meera bersamaan. "ha ha ha" lantas kami tertawa.  aku dan meera memesan dua porsi pecel lele. tempatnya masih di sekitaran alun-alun. 


  "besok libur kan?" tanyaku.


  "he~em. memang kenapa?" jawabnya.


  "kita nikah yuk!" ajakku becanda.


  "hi~ih." keluhnya manja. 


aku mengajaknya jalan, dia bertanya "jalan ke mana?" aku akan membawanya ke surga. tapi dia tak percaya. katanya "ini bukan dunia fantasi!" jadi yang wajar-wajar saja. aku tetap dengan pendirianku, yang akan membawanya ke surga. dia menambahkan "itu artinya harus mati dulu dong!" karena surga bisa di temui setelah kematian. 


masih di kursi dan meja tempat pecel lele, suasana sepi hanya ada aku dan meera. tanpa sengaja meera menengok jam di pergelangan tangannya, jarum jam sudah berada di angka 12. seakan tak percaya dengan penglihatannya. meera mengangkat tangannya untuk lebih mendekatkan jam ke hadapannya. dia tak salah jam memang sudah menunjukkan pukul 12 malam. "nu nu nu!" tangannya menarik-narik lenganku, tapi pandangan masih ke arah jam tangan. "ini udah jam 12 malam tau!" ucapnya heboh. suasana berubah mencekam, wajahnya panik dengan tangannya terus menarik-narik lenganku. 

__ADS_1


 "emang kenapa?" tanyaku. dia nyolot menjawab. "kamu tanya kenapa? ini udah larut malam, pintu asrama di tutup sampai jam sebelas doang." 


  "jika begitu, pagi saja pulangnya!" tak terima dengan ajakkanku, dia memandang tajam dengan mata yang melotot, bibirnya merapat seakan tidak ada lagi senyuman untuk hal itu. 


  "kita harus pulang sekarang!" ajaknya memaksa. aku menertawakan kecil. "memangnya kita tinggal bersama?" ucapku menanggapi kata "kita harus pulang" yang di lontarkan meera. 


ada benernya, meera terdiam sejenak. tak mau kalah dia mengancam. "ya udah, aku pulang naik ojek aja!" 


  "ini sudah malam, bagaimana jika kang ojek tidak mengantarkan kamu ke tempat tujuan. malah di bawa ke tempat sepi, terus dia melakukan macam macam sama kamu gimana?" ucapku menakut nakutinya.  


  "danu... ih.. ya udah ayo kamu aja yang nganterin aku balik!"


  "aku gk mau ke tipu lagi sama kamu!" ucapku.


  "ke tipu apaan?" 


  "aku bersedia mengantar kamu balik, tapi ada dua syarat!"


  "ya udah apaan? asal jangan yang aneh-aneh!"


aku mengajukan dua syarat kepadanya, syarat pertama dia harus memberikanku nomor ponselnya. dan syarat yang kedua, dia harus mau untuk menjadi pacarku. 


untuk syarat yang pertama dia menyanggupinya. tapi syarat yang kedua, meera mempertimbangkannya dengan lama. dan pada akhirnya, dia memberikan jawaban: "apakah pantas, bagi seorang danu, yang memiliki banyak penggemar wanita, harus meminta bahkan memaksa sebuah cintanya kepada seorang wanita yang sedang terdesak." 


kata-katanya  menjatuhkan mentalitas seorang pria. aku merasa kalah, karena tidak bisa mematahkan argumentasinya. 


aku dengannya berjalan menuju tempat parkir, di mana motorku di titipkan. di pertengahan jalan, beberapa laki-laki dan perempuan tengah berkerumun, istilah bahasa gaulnya nongkrong. dengan kocak dan ramainya mereka bernyanyi nyanyi dengan iringan gitar dan tepuk tangan. ketika mereka melihat keberadaanku yang melintas, mereka menghentikan nyanyiannya, lantas berteriak memanggil namaku. aku yang mendengar lantas menoleh, berikut dengan lambaian tangan. 


  "mau ke mana?" tanya salah satu dari mereka. segera aku hampiri, di ikuti meera. "gw balik dulu!" jawabku. dia menambahkan "gk kepangkalan?" katanya. aku jelaskan, nanti aku akan kembali lagi dan nongkrong di pangkalan. tapi saat ini akan mengantar pacarku dahulu. 


ketika aku sebut pacar, dagunya mengkerut dengan bola mata yang menyempit, serta mengkerucutkan bibir. bukti meera tidak setuju. dan dia menegaskan ketika duduk di atas boncengan motorku. "ada yang gak tau malu, pake ngaku-ngaku pacar segala!" 


   "ada yang gk terima nih?" tanyaku. "ya jelas!" sambarnya cepat. 


  "kenapa tadi gk komplain?"


  "kalau aku langsung komplain, aku takut wibawa kamu akan runtuh!" 


  "harusnya itu bisa menjadi kebanggaan bagi kamu! karena belum ada satu pun wanita, yang aku sebut sebagai pacar di hadapan mereka." 


   "haruskah aku menari-nari akan hal itu?" "terus... yang mereka sebut pangkalan itu, apaan?" 


harus aku katakan, "pangkalan" yang di sebut kawanku  tadi, adalah sebuah tempat tongkrongan, lokasinya di gardu tanjak. sebuah  lahan kosong di pinggiran kali, yang di modifikasi layaknya taman. terdapat beberapa bangku dengan hiasan lampu neon pernak pernik. di tambah kehadiran warung pak tejo, yang menambah nuansa indah bak kaffe. 


pangkalan itu di namakan "PBK" {pangkalan budak kulon} Budak Kulon adalah nama dari geng itu sendiri. geng yang sudah berdiri 5thn yang lalu. aku hanya ikut-ikutan dari seniorku dulu. budak kulon, bukanlah suatu geng anak motor, apalagi geng yang terlihat anarkis lainnya. kami hanya sekumpulan anak muda yang menikmati masa masa muda tanpa beban. 


  "menjadi anggota geng itu, tidak bisa di pisahkan dari anarkis. di pandang bergajulan, premanisme dan hal-hal buruk lainnya! aku gk suka itu. lagian, masa muda itu bukan untuk di habiskan dengan cara ber leha leha. harusnya itu bisa mengawali sebuah karier yang akan menjadi penopang di masa depannya." tutur kritik dan saran meera. 

__ADS_1


  "masa depanku sudah jelas ra.. yaitu kamu!"


  "bisa enggak, serius dikit? kamu tuh, kalo aku diam kamu ngomong serius, tapi saat aku tanggapi, jawabnya malah nyeleneh." 


 ---o0o---


tiba di halaman asrama. meera yang cemas, dengan cepat segera turun dari motor. "tuh kan benar, pagarnya sudah di gembok." keluhnya meringkik. 


dengan sigap kakiku melangkah mendekati pos sekuriti. aku berteriak laun menyeru penjaganya. sebuah kunci motor, aku jadikan alat untuk di pukul ke pagar, agar menghasilkan bunyi. beberapa kali aku mengetuk ngetukkannya. pak sekuriti yang sudah tertidur di posnya, mendadak terbangun karena mendengar suara bising dariku. 


sarung yang menutupi badan, di tangan menenteng pentungan. pak sekuriti datang menghampiri. gayanya yang siaga lantas bertanya nyerocos "ada apa nih, malam malam ganggu saja?" plus dengan suara kencang.


dengan cepat meera menjawab. "pak. tolong bukain pagarnya!" nadanya lemah, wajah begitu melas. pak sekuriti melakukan pandangan tajam ke arah meera. dia sadar kalau meera mempunyai peran di tempat itu. tapi dia paham, peraturan ya peraturan yang harus di jaga. 


  "kamu tahu batasan? hem... pagar ini di tutup sampai jam 11 malam." 


beberapa kali meera memohon, namun pak sekuriti tak menanggapinya. aku kasihan melihatnya, ingin rasanya mendobrak pagar tersebut. pak sekuriti memalingkan badan, meera tertunduk lesu. satu langkah kaki pak sekuriti meninggalkan kami di luar. 


  "pak pak pak... tunggu dulu." ujarku menahan. meera yang sudah pasrah, memintaku untuk berhenti memohon. pak sekuriti membalikkan badan kembali ke arah kami. 


  "bapa tidak tanya alasan kami, kenapa pulang larut malam?" tanyaku. dengan sombong sekuriti itu menjawab. "saya tak perlu tahu alasannya. saya hanya menjaga peraturan!" 


  "pernahkah sebelum ini, meera pulang malam-malam?" tanyaku kembali. pak sekuriti terhening berpikir sejenak. lantas menggelengkan kepala. 


  "peraturan itu, boleh di tetapkan jika di langgar dengan sengaja. bapa, tidak mendengar penjelasan kami dulu sebelum mendakwa."


  "apa alasannya?" tanya pak sekuriti. 


tampangku yang serius cukup membuatnya terkesima. aku memberikan penjelasan dengan membohonginya. 


  "meera keluar untuk membeli sebuah buku." ujarku lalu meminta meera menunjukkan bukunya. meerapun menunjukkan buku novel yang aku pinjamkan. 


  "saat mau pulang, sesuatu yang tak di inginkan terjadi di jalan. sebuah motor menyerempet motor saya, alhamdulillah kami tak sampai jatuh, lain halnya dengan motor itu, dia jatuh tepat di samping saya. meskipun kami tak salah, ya kami merasa kasihan, lantas menolong dan membawanya ke rumah sakit. itulah alasan kenapa meera pulang larut malam." 


aku kira, pak sekuriti akan langsung membuka pagarnya setelah mendengar dalihku. eh nyatanya dia tak langsung percaya begitu saja. 


  "mana buktinya?" tanya pak sekuriti. aku menyuruhnya untuk keluar dan mengecek kondisi motorku. dengan penasaran pak sekuriti akan membuka pintu pagar untuk melihat kebenaran motorku. sebelum itu dia mengambil kuncinya terlebih dahulu di posnya. aku mulai membisikan sesuatu kepada meera. dia mendekatkan telinganya, dan aku berkata. "saat aku bawa pak sekuriti itu untuk melihat motorku, kamu langsung masuk jangan ikuti kami." meera mengangguk angguk seraya mengerti dengan instruksiku. 


aku mendorong motorku agar lebih jauh dari pagar, agar memudahkan meera untuk masuk.  pak sekuriti segera datang membawa kuncinya dan di bukalah pagar itu. aku langsung menarik tangannya, tidak membiarkan dia menutup kembali pagar itu. pak sekuriti itu terfokus mengecek motorku, dia sorot dengan lampu senter yang di bawanya. 


   "mana orang gk ada yang lecet?" ucap pak sekuriti yang tak menemukan bekas senggolan di motorku. 


  "tadi mah ini hancur pak! saya juga gk tau siapa yang udah benerin!" 


  "lah... kalian ini sudah bohongin saya. saya gk akan kasih untuk masuk!" 


betapa terkejutnya pak sekuriti itu, setelah tidak melihat keberadaan meera. "waduh saya sudah ketipu!" keluh pak sekuriti sendiri.

__ADS_1


__ADS_2