GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
terciptanya sebuah buku diary


__ADS_3

tibalah waktu, untuk mengantarnya.


dia sudah menunggu di depan rumah bude. rasanya sudah tak sabar pengen cepat berangkat. sengaja aku buatnya menunggu, karena sehabis melaksanakan salat magrib aku berdzikir dan berdoa dahulu, supaya allah memudahkan dan membuka hatinya.  aku segera datang membawa sepeda motorku.


       "sudah siap tuan putri?" tanya isengku. dia tersenyum, lantas pamit dengan semuanya.                   "hati-hati nu! awas saja kalau sampai terjadi apa-apa!" kata ilham mengancam. "siap komandan." jawabku hormat.  


meera tengah berdiri di samping motorku, yang siap untuk naik ke atas boncengan. aku menyuruhnya menyingkir. "awas-awas."  menjadikannya mundur beberapa langkah. "huh~huuh." aku tiup-tiup jok yang bakal dia duduki. dia menggelengkan kepala. "aneh" katanya. 


yang terakhir aku mengelus-elus, mempersilahkannya untuk segera naik.  "hurp" aku menarik napas dalam-dalam. "hu~h" lantas membuangnya.  ''plak'' dia menepuk pundakku. "ngapain" tanyanya.


aku jawab. "biar gk tegang!"  "takutnya ngadak-ngadak serangan jantung." 


    "hihihi, kamu bisa aja!" pujinya manja.


    "you ready?"


    "so-soan pake bahasa inggris, ready lah!" 


aku memperingatinya, bahwa kecepatan motor ini 500cc, setara dengan motor balap. jadi aku menyuruhnya untuk berpegangan dan kalau bisa memeluk tubuhku.


    "aku harus berpegangan ke mana?"


    "pilih saja sesuka kamu! "asal jangan pegang pedalnya saja."


    "iih, ayolah jalan."


haruskah momen itu aku lupakan? sedangkan hangat dekapnya dari belakang masih terasa nyaman. momen itu, adalah momen pertama kalinya aku berada dalam satu boncengan dengan seorang wanita yang benar-benar aku sukai. tak terbayang gimana jantungku berdetak tak karuan, sedapnya angin yang menerjang seakan membuatku melayang-layang.  sengaja aku memacu motorku lebih lambat, supaya bisa bersamanya lebih lama.


    "ra~" menyapanya dengan lembut. "he~m" menyahutnya dengan laun.


    "gak ada niatan kah, untuk bertanya sesuatu?" tanyaku.


    "haruh" bunyinya mengeluh. "haruskah ku tanya?'' jawabnya begitu kencang.


    "aku mengharapkannya!"


     "harus aku tanya apa?"


     "tanya-tanya nama kek! "memangnya kamu sudah tahu, nama aku siapa?"


    "sudah!" jawabnya singkat. 


    "hah" aku kaget. "tahu dari mana? "perasaan aku belum kasih tau ke kamu."


dia menjawabnya detail. "nama kamu danu, usia 19th, lahir di pandeglang, beralamat menes, anak pertama dari 3 bersaudara, dua tahun nganggur, dan berstatus jomblo, titik.!" 


    "status jomblo itu, akan segera terhapus!"


    "alasannya?" tanya dia.

__ADS_1


    "alasannya kamu! "kalau kamu mau jadi pacarku!" 


    "kalau aku gk mau, gimana?"


    "ya tolong, bantuin lah supaya status itu terhapus."


    "terima nasib ajah lah, kalo udah jomblo mah jomblo ajah."


"hahahaha" aku di buatnya tertawa terpingkal-pingkal. yang paling terdengar lucu saat dia berkata bahwa statusku seorang jomblo. "tidak ku sangka, ternyata kamu diam-diam, mencari tahu tentangku yah?" 


   "itu semua, bersumber dari ilham dot com." 


setengah perjalanan sudah kami lalui, aku semakin memperlambat laju motornya, menepikan, hingga menghentikannya. meera yang terheran lantas bertanya "kenapa berhenti?" aku tak menjawabnya melainkan menepuk-nepuk perut. aku lirik wajahnya dan bertanya. "kamu gak ada niatan untuk makan dulu ra?" dia mengeleng kepala. "bener ra? tanyaku mempertegas. 


   "bilang saja kalau kamu yang lapar!" aku tersenyum geli mendengarnya. 


aku ajak dia untuk makan dahulu. "kita cari makan dulu ra! tapi, kita jangan cari yang enak, kita cari yang mahal ajah.!" dia tak menjawab, namun memasang wajah yang menyepelekan. 


   "nah, itu dia makanan yang mahal." aku menunjuk dan berhenti. aku putuskan untuk makan pecel lele, selain harganya mahal, tempatnya juga terlihat sepi, pas untuk berduaan.


aku dan meera duduk saling berhadapan. satu tanganku menahan dagu, satunya lagi berusaha memegang tangannya. tapi beberapa kali meera menepisnya. melihat wajahnya membuatku tak henti-henti untuk tersenyum, sapai-sampai pipipun terasa tembem. 


    "senyum aja dari tadi?" tanyanya menambah lebar senyumku. "bangga yah, bisa jalan denganku?" kata dia.  jika aku boleh menjawab, bukan hanya bangga bisa jalan bersamamu, tetapi ada sebuah ke bahagiaan terbesar di hari itu.


    "kamu tau ra?" tanya launku. seharusnya dia tak menjawab dulu. "tau apa?" eeh malah di jawab. jangan di potong dulu, tanyaku belum usai. "ok-ok" dia mengangguk. 


    "iih, kamu rese deh!" ku tegur dia. "memang kamu tahu apa yang bakal aku tanyakan?"  tanpa menjawab dia geleng kepala. aku pegang pundaknya kemudian mengingatkan. "dengerin yah!" dia menepis tanganku. "udah cepetan ngomong!" 


    "kita udah di pertemukan berapa kali" tanyaku. laganya so mikir, pura-pura lupa. "eem berapa kali yah?" menahan telunjuknya di jidat. "mungkin 10 atau 20?" 


    "iih serius nih?" aku mempertegas. "halah, kamu juga pasti tahu?" jawabnya mengelak. 


    "kamu tahu? pertemuan pertama itu, bisa di sebut apa?" dia menjawab singkat. "kebetulan."


aku pun membenarkannya. "terus kalau yang sekarang?" dia menjawabnya sama. 


    "yang ini beda! inimah adalah suatu keberuntungan." dia tak setuju, dan mengelaknya. matanya melotot jari telunjuknya bergoyang dengan keras menjawab. "iyah keberuntungan! tapi, keberuntungan buat kamu saja! tidak denganku." 


"jika nanti kita bisa bertemu kembali, ku harap itu akan menjadi sebuah keajaiban." mendengar pernyataan tadi, wajahnya jadi pesimis, hendak ketawa tapi di tahan.


---o0o--- moments later ---o0o---


tiba di tujuan. di depan pintu gerbang sebuah sekolah swasta yang berlokasi di maja. nama sekolahnya tak bisa aku sebutkan, takut di bilang promosi dan timbul hal-hal lain.


ku matikan motorku, membuka helm hingga turun dari atasnya. maksudnya turun dari atas motor. "di sini kamu mengajar?" tanyaku santai.


 dia menatap jauh lingkungan sekolah, menjawab pertanyaan tadi dengan laun. "aku tak mengajar!" ku tanya dengan mengayunkan tangan. "lantas?" rendahnya dia menjawab. "aku hanya mengamalkan, apa yang dulu ku pelajari." jawabannya membuatku terkesima. dia mengajar bahasa inggris di tingkat mts.


  meera berdiri di sampingku, dengan sama-sama memandang ke arah asrama.

__ADS_1


helm yang dia pakai belum sempat di buka, karena alasan lupa. padahal aku menyadarinya tapi sengaja membiarkannya, sampai seberapa lama meera tersadar bahwa dia masih menggunakan helm di kepalanya. 


sebelum aku kembali pulang, aku berniat akan meminta nomer ponselnya terlebih dahulu, agar nanti bisa mempermudah komunikasi dengannya. ku rogoh celana untuk mengambil hp. 


sebelum dia pergi meninggalkanku, dia sempat mengucapkan. "terima kasih atas tumpangan dan traktiran makan mahalnya." wajahnya naik menatapku. "ini gratis kan?" menambahkan.


   "ha-ha-ha" aku menertawakannya, tawa itu cukup nyaring. "tak bisa begitu! di negri ini, tak ada kata gratis." ia merespon dengan jengkel, itu terlihat dari kedua alisnya yg mengerut. "haruskah aku bayar?" tanyanya keras. aku pasang wajah serius, menjawab "tentu." 


   "yaudah berapa?" jawabnya cepat sambil mengeluarkan dompet. aku mengangkat tangan dan mengacungkan 2 jari. "berapa tuh?" dia tak mengerti. "dua belas angka yang menjadi nomor ponselmu." jawabku dengan menyodorkan hp kepadanya. dia menolak dan mendorong tanganku kembali. "kalau aku gk mau gimana?" 


   "kamu melanggar aturan." lantas terjadi perselisih yang cukup alot.


   "lantas mau apa?" jawab dia menantang.


   "akan ku laporkan pada pihak yang berwajib!" 


dia bergerak sedikit, membuang pandangannya dan membelakangi tubuhku. 


   "untuk saat ini, aku belum berniat untuk memberikan nomor ponsel!" "gk tau kalau nanti!" 


   "alasannya?" tanyaku.


   "belum tertarik!"


   "kalau begitu, aku harus membawa tambang, untuk bisa menarikmu!"


   "mati dong aku!"


   "terus,  aku harus gimana?" tanyaku kembali.


   "buatlah diriku hingga mau memberikan nomor padamu!" "aku ingin melihat, seberapa besar upaya kamu untuk hal itu."


aku tersenyum mendengarnya, memasang gaya sombong di depannya. lihat saja nanti aku pastikan kamu bakal sujud-sujud di depanku, meminta untuk menjadi kekasihku. 


dia berjalan begitu saja meninggalkanku, tanpa menoleh lagi. aku belum berniat pergi dari tempat itu sebelum dia kembali. dan aku yakin dia pasti kembali untuk menemuiku. "sampai kapan dia akan menyadari kalau di atas kepalanya masih memakai helm." 


meera berjalan ke arah pos sekuriti, di sana dia bertemu dengan penjaganya, meminta untuk di bukakan pintu gerbang tersebut. ntah apa yang mereka bicarakan aku tak mendengarnya, akan tetapi meera membalikan badannya kembali menoleh ke arahku. dengan tersenyum malu, wajahnya menunduk dia berlari.


benar dugaanku, dia pasti kembali. tersenyum-senyum bibirnya dia berkata. "maaf helmnya belum di balikin!" aku tertawakan dirinya, hingga dia tersipu malu. "bukannya di kasih tahu!" 


setelah selesai dari mengantarnya ke sebuah asrama, aku tak langsung pulang ke rumah. lebih memilih mampir ke alun-alun pandeglang. aku ingin menikmati malam itu biar tak cepat berlalu. di sana ada sebuah taman, terdapat beberapa tempat duduk yang di hiasi lampu lampu neon. tempat itu sering di jadikan tempat memadu kasih, untuk mereka yang mempunyai pasangan. duduklah aku di salah satu tempat bertemankan secangkir kopi dan se bungkus rokok.


ku lihat langit begitu cerah, bulan tampak setengah lingkaran, beberapa bintang tertutup awan putih. taman-taman cinta mulai tertata di dalam hatiku, aku sangat ingin menceritakan kepada siapapun, bahwa malam itu aku sangat bahagia.


sampai di rumah pukul 01:00 dini hari. aku terbaring berbantalkan lengan. aku coba pejamkan mata, namun yang tergambar hanya bayangannya semata. jiwaku kacau hingga membuatku tak bisa tidur. ingin rasanya bercerita tentang meera, tapi tak tahu harus pada siapa. aku berinisiatif lebih baik aku tuangkan ke dalam buku saja.


aku ambil sebuah buku A5, yang berukuran 210x150mm. aku duduk di meja belajar dan mulai menulisnya. "aku menemukan seorang gadis, dia cantik serta manis. aku tak tahu gadis itu mencintai atau tidak yang jelas aku mencintainya. dia bagaikan selimut dikala ku kedinginan. dia bagaikan awan yang menutupiku di tanah gersang. dia adalah meeraku, untuk hari ini dan hari-hari yang akan datang. 


itulah, hari di mana buku diary itu tercipta.

__ADS_1


__ADS_2