
sepulang sekolah, aku dan danu akan pergi bersama untuk membeli sebuah gitar, aku menyuruhnya untuk menungguku di tempat palkiran. saat aku sampai di tempat palkiran itu, aku melihat danu tengah berdiri saat aku tanya "ngapain lo?" dia pun menjawab: "nungguin lo bego!"
"mana motor lo?" tanyaku.
"orang miskin tak punya motor." danu tak pernah gengsi, dan suka bicara apa adanya, pulang pergi ke sekolah biasanya naik angkutan umum.
kebetulan aku berangkat sekolah membawa sekuter matic, otomatis aku dan danu akan pergi dengan motor itu, sangat gak etis kalo cowok di bonceng sama cewe. aku menyodorkan kunci motornya. "pakai motor aku aja, nih kamu yang bawa!"
danu tersenyum kecil sambil menggeleng kepala memberikan jawaban kalau dia tak pernah bawa motor. "aku tak pernah mengendarai motor sebelumnya, jadi aku ragu bisa atau tidaknya."
"haruh..." keluhku mendengarnya. tak ada pilihan lain, selain aku yang memboncengnya.
"kamu tahu ra? membelikan gitar itu tidak serta merta, itu adalah rencanaku agar bisa dekat dengan danu selalu. itulah salah satu caranya. tiba di sebuah toko musik, aku dan danu segera masuk untuk memilih. salah satu pelayan toko itu menghampiri sambil bertanya "cari apa?" danu menjawabnya "cari gitar, yang murah aja. yang penting ada suaranya." aku tak sependapat atas keinginannya. "ngapain cari yang murah, ambil aja yang bagus! berapa pun harganya gw bayarin." ucapku menyuruhnya, apa yang aku lakukan,ternyata terlihat berlebihan di matanya, danu terdiam dengan ketidak setujuannya. "jadi pilih yang mana nu?" tanyaku memastikan. danu pun menjawab "terserah." sikap dinginnya masih di tunjukkan. pada akhirnya kami membeli gitar dengan harga sedang, mahal tidak, murah juga tidak.
setelah membeli sebuah gitar, aku mengajaknya ke rumah, danu tak merasa keberatan hanya saja dia ingin pulang dulu sebentar untuk meminta ijin pada tantenya. hari itu, untuk pertama kalinya danu memperkenalkanku dengan tante lisa, tapi tidak dengan omnya, berhubung tak ada di rumah itu.
tiba di rumahku, pertama kalinya danu menginjakkan kaki, dia berdiri tegak dengan pandangan yang luas. "rumah lo besar banget!" ucapnya dalam pujian.
"lo tau nu? rumah sebesar ini layaknya kuburan bagi gw." jawabku.
"memang kenapa?" tanya danu menimpal. "ayo masuk! nanti lo tau sendiri." ajakku.
saat aku membuka pintu, secara sepontan danu mengucapkan salam "asalammualaiku." kemudian aku ingatkan "percuma, gak bakal ada yang jawab salam itu." setiap hari rumahku dalam keadaan kosong. ayah pergi ke kantor, pulangnya gak nentu, dia bekerja sebagai seorang sekda di kabupaten pandeglang. sementara ibu bekerja di rumah sakit umum daerah pandeglang, menjabat sebagai kabid pelayanan medis. meskipun ibuku adalah seorang dokter, kegemarannya membaca buku apalagi buku novel, dia sangat suka.
"kamu tahu kan, kalau danu itu suka baca novel?" tanya leni pada meera.
__ADS_1
"iyah." meera membenarkan. "aku pernah masuk ke kamarnya, di dalam kamarnya itu banyak sekali buku, layaknya sebuah perpustakaan." sambung meera memperkuat.
leni melanjutkan dan berkata: "semenjak saat itu, aku selalu mengajaknya main ke rumah, tanpa sengaja sebuah buku bekas ibuku membaca, tergeletak di atas meja, danu menemukan, isengnya ia membuka dan membaca ntah apa yang ia temukan, ia terbawa suasana cerita dalam novel itu, karena hal itulah danu menjadi hobi membaca buku.
yang tadinya suka bermain gitar, kini teralihkan dengan membaca buka, kadang danu suka lalai mengajariku dalam bermain gitar. aku merasa tak adil, dia asik dengan sendirinya, sementara abai dengan perjanjian yang akan mengajariku bermain gitar sampai lihai. aku buat suatu tawaran padanya, aku akan memberikan semua buku novel milik ibuku, asalkan setelah dia mengajartiku bermain gitar, dia menyodorkan tangannya untuk menyepakati. "deal" bilangnya.
sosok danu sering aku ceritakan pada ayah dan ibu di waktu senggang, kata ibu: hampir setiap hari, topik yang selalu aku ceritakan hanyalah danu danu dan danu. "apakah dia itu pacar kamu?" tanya iseng ibuku.
perlahan waktu mulai terbiasa, danu buka lagi sosok yang asing dalam keluargaku, dia kenal baik dengan ayah, bahkan sangat akrab dengan ibu, apalagi saat ngomongin soal buku novel, yang lain hanya bisa menyimak. setiap kali ada edisi buku novel keluaran baru ibu membelinya, setelah ia membacanya, tentu buku itu akan menjadi milik danu, karena ibu pasti akan memberikan untuknya. hebat yah danu ituh? bukan cuman kita yang di buatnya jatuh cinta, tapi ibuku juga, ibu pernah berayal katanya: "andai saja danu itu terlahir seumuran dengannya, ibu akan berusaha untuk menjadi pacarnya." ada ada saja kelakuan ibuku itu." tutur leni dalam ceritanya.
"lantas.. beni dan devi, kalian mengenalnya dimana?" tanya meera.
jam dinding kian menunjukkan pukul 01 dini hari, meera dan leni yang tengah bercerita tak menghiraukan itu. kisah tentangku belum usai di ceritakan olehnya. leni akan melanjutkan ceritanya di halaman selanjutnya..
masih dengar suara leni, yang belum usai menceritakan tentangku pada meera. leni melanjutkan cerita yang sempat terjeda. "cerita di sekolah menengah pertama telah usai. tidak ada kenangan manis yang aku dapatkan, hanya saja itu merupakan permulaan terjalinnya sebuah persahabatan yang indah.
"lo pernah dengar nama sekolah, MAN INSAN CENDEKIA?" tanyaku pada danu untuk memancingnya.
"siapa yang gak tahu nama sekolah itu!" jawab danu.
"sekolah itu gudangnya murid teladan, apa lo gk ada niatan buat menjadi bagian dari mereka?" tanyaku membujuk. danu selalu punya pemikiran yang lain, maka sulit sekali untuk bisa mengarahkannya. ia memberikan penjelasan. "gw tidak muluk-muluk, sudah bisa melanjutkan ke sekolah SMA pun sudah sangat bersyukur! sekolah man insan cendekia itu sekolah elit pasti membutuhkan biaya mahal. menurut gw, semua sekolah itu sama. ingin memberikan yang terbaik untuk anak didiknya."
hari kelulusan tiba. ayah dan ibuku akan mendaptarkan ke sekolah man insan, sebelum pergi berangkat terjadi perselisihan di dalam rumahku. aku menolak untuk bersekolah di man insan. alasannya aku ingin bersekolah bersama danu di SMA 1 PANDEGLANG. untuk pertama kalinya aku menjadi anak pembangkan hanya karena danu. waktu pendaftaran sekolah tinggal sebentar lagi akan di tutup, aku belum mendaftarnya, sempat bersitegang selama beberapa hari demi mempertahankan keinginan, pada akhirnya kedua orang tuaku mengalah dan mendaftarkan di SMA 1PANDEGLANG. aku bisa bernafas lega, akhirnya bisa kembali masuk sekolah bareng danu.
masa-masa SMA, adalah masa-masa paling indah bagi insan remaja. kita bisa mengenal rasa, bisa membedakan mana yang ganteng dan mana yang jelek. aku masuk satu kelas dengan danu yang sama-sama mengambil jurusan ips.
__ADS_1
hari pertama masuk sekolah SMA. seperti biasa aku menjemputnya ke rumah om iwan, mengajaknya berangkat bersama. tiba di ruang kelas, beberapa anak perempuan bertingkah ganjen, ada yang langsung mengajak kenalan sama danu, bahkan juga ada yang meminta tempat dudukku demi bisa duduk di sebelah danu, kebetulan aku duduk satu bangku dengan danu. hari pertama di kelas danu langsung menjadi pusat perhatian para siswi. wah, setiap hari aku bakal terbakar api cemburu trus nih. keluhku melihat keadaan.
setiap hari aku selalu datang dan pulang bersama danu. banyak yang beranggapan kalau kami itu sepupuan. padahal aku sudah ingatkan kalau kami itu pacaran, tapi mereka tak percaya, katanya: tak ada tampang pacaran diantara kalian berdua. mungkin karena danu tidak memperlakukanku seperti kekasih, dia sangat kasar."
"tapi kalian seperti merasa pacaran atau tidak?" potong tanya meera.
hehehe. leni tergugu atas pertanyaan itu. "kalau dulu kami pernah pacaran, berarti sekarang udah mantan! yah enggak lah... itu hanya akal-akalan ku saja." jawab leni mengakui.
"seandainya kala itu danu bilang kalau dia mencintaimu, jawaban apa yang akan kamu berikan padanya?" tanya umpama meera.
"aku tidak akan berpikir lagi untuk menjawab iyah. kata ungkapan itu selalu aku harapkan bisa keluar dari mulutnya, itulah hebatnya sebuah perasaan, sekali tidak ya tetap tidak. aku sudah menunggu kata itu keluar selama bertahun-tahun. bohong, jika aku tidak mencintainya, setiap hari aku selalu bersamanya, baik di sekolah mau pun di luar sekolah, perasaan itu akan tumbuh dari mulai yang kecil menjadi besar.
dia sangat pintar, sudah bisa memprediksi aku bakal jatuh cinta padanya. mangkanya dia selalu mengingatkan agar aku tidak boleh jatuh cinta padanya. dia suka bilang, aku bisa menjadi adikmu, aku bisa menjadi kakakmu aku juga bisa menjadi temanmu, tapi aku tidak bisa menjadi pacarmu. jika kamu tidak ingin kehilanganku, maka jadikanlah aku ini sebagai temanmu! devinisinya tidak ada teman yang menjadi mantan.
kerap, danu sering menyokongku untuk mencari kekasih.maaf bukannya aku berkata sombong, jika aku mau dan menerima mereka, banyak anak lelaki yang terang terangan menyatakan cintanya padaku, tetapi aku lebih nyaman bersahabat dengannya, ketimbang memiliki pacar orang lain.
satu tahun sudah di lalui, waktunya naik kelas. masuk di kelas X1 {sebelas} danu di belikan motor oleh orang tuanya. otomatis aku tidak bisa antar jemput dia lagi. aku sempat berpikir akan hal itu, jika danu tak datang dan pulang bersamaku, maka akan ada banyak perempuan yang mencari kesempatan buat minta tebengan motor padanya. oh tidak, itu sesuatu yang mengerikan untuk di tonton, aku tak rela jika itu terjadi.
aku mengungkit semuanya, dan meminta timbal balik darinya. dulu, aku yang selalu menjemput dan mengantarnya pulang ke sekolah, sekarang aku tak membawa motor lagi datang ke sekolah dan meminta danu melakukan hal yang sama, seperti yang pernah aku lakukan terhadapnya. dengan begitu aku bisa tetap datang dan pulang bersama danu.
eksistensi danu sebagai cowok populer di SMA mulai terbagi, semenjak masuknya sosok beni di kelas ipa, sebagai siswa pindahan. beni, merupakan satu-satunya siswa yang datang menggunakan mobil ke sekolah kala itu. huh.. wanita mana yang tak tergiur, "duh krennya.." begitulah kata pujian yang sering mereka lontarkan. itulah yang menjadi alasan kenapa beni bisa langsung hits."
"beni masuk jurusan ipa, sementara kalian masuk ips, kok bisa akrab?" tanya meera mendadak.
"bisa di katakan, kalau beni itu paket komplit. udah ganteng, kaya, pinter lagi. cuman sayang, dia seorang play boy. memanfaatkan kelebihan itu untuk menggaet perempuan yang dia inginkan, setelah bosan dia tinggalkan. dia juga merupakan orang yang sombong, sering membanggakan dirinya sendiri, pernah mengklaim kalau dirinyalah yang paling terbaik di sekolah saat itu. bagi fans danu, hususnya anak ips, beni itu hanya bergurau, danu lah yang terbaik. ada yang aneh dengan danu, semenjak kehadiran beni, dia tak merasa posisinya terusik, bahkan ia tak peduli sama sekali akan hal itu. menurutnya, ganteng itu bukanlah suatu prestasi yang mesti di banggakan. itulah yang membuatku mengaguminya, is the best lah pokoknya.
__ADS_1
sebetulnya, masih banyak perseteruan antara anak ipa dan ips terutama tentang siapa yang terbaik di antara mereka berdua. satu hal yang tak bisa di capai oleh beni, yaitu mendapatkanku untuk menjadi pacarnya, mungkin karena pengaruh danu yang kuat tertanam di hatiku.