GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
mendadak terkapar


__ADS_3

tidak ada yang tahu, sampai kapan jiwa itu masih bertahan dalam raga. detikan yang mana waktu akan berhenti untuk menghentikan segalanya. seberapa kuat kaki masih berdiri, pada akhirnya akan terkurai. seerat apa tangan mampu menggenggam, suatu saat pasti terlepas, sang surya akan tenggelam, meredupkan cahaya, meninggalkan dunia, mengingatkan cerita yang akan di kenang untuk mereka yang akan datang.


sempat terlintas senyumnya yang meronta, terbuai dalam ingatan, terjatuh dalam angan. "andai" katanya. "anak-anak kita masih berada di sini, berkumpul bersama seperti dulu kala, pasti kesepian tidak akan pernah terlahir." ujar sang nenek sebelum melepas kepergian aku dan meera dari rumahnya.


kakek dan nenek mengantar dan menjajapkan menuju luar rumahnya. aku menjulurkan telapak tangan terbuka, memastikan apakah air hujan itu masih menitis, ternyata iyah, titisan air hujan dari atap rumah mampu membasaha telapak tangan itu. hujan itu belum sepenuhnya reda, seperti di taburi sebuah formalin sehingga terlihat awet. mau tidak mau aku dan meera harus segera pulang karena hari semakin malam. hujannya tak lagi deras, hanya menyisakan gerimis kecil, jika mengenai baju cepat atau lambat bisa menjadikan basah.


satu langkah, dua langkah, kaki melaju meninggalkan rumah itu. kakek dan nenek tetap berdiri, menyaksikan kepergian kami. kadang aku menengok, memastikan apakah kedua insan itu masih tetap berdiri atau tidak. ternyata iya, mereka masih tetap berdiri dengan rindu yang di sematkan.


"kelak. suatu saat nanti, kamu akan datang lagi ke tempat ini!" ujar si kakek padaku meramalkan. dengan bangga hari itu telah menjadi bagian dalam ceritaku.


tiba di tempat, di mana sepeda motorku tersimpan. aku membuka bagasi, lantas mengambil sebuah kanebo untuk mengeringkan jok yang basah. tak hanya mengambil kanebo, aku juga mengambil sebuah jas hujan, untuk di berikan dan di pakai oleh meera.


"ini untuk apa?" tanya meera dengan satu buah jas hujan yang aku berikan padanya.


"masa gk tahu yang begituan? itu namanya jas hujan, supaya kamu gak kebasahan!" jawabku.


"aku tidak menanyakan namanya, aku juga tahu. yang aku tanyakan kenapa kamu memberikannya untukku, lantas bagaimana denganmu?"


"gak usah pikirin hal itu! aku sudah terbiasa hujan-hujanan."


"gk lah. biar sama-sama adil, kita pulang hujan hujanan aja!" seru meera sambil melipat kembali jas hujan tersebut.


pada akhirnya jas hujan itu di simpan ke dalam bagasi. aku pacu sepeda motor untuk meninggalkan cerita di kampung domba. sepanjang perjalanan, jalan yang di lalui begitu sepi, gemericik air hujan mengakibatkan sebuah kabut yang menutupi sinar dari lampu motorku.


rintihan air hujan perlahan membasahi tubuh, semakin lama semakin dingin, menjadikan tubuh mulai tak stabil. tubuhku mulai menggigil karena kedinginan. gemetar dari tubuhku mulai di rasakan oleh. "tubuhmu menggigil, apa karena kedinginan?" tanya meera.


"eng-gak tuh!" jawabku bohong.


"mulutmu bisa berbohong, tapi tidak dengan tubuhmu!"


"itu kode bahasa tubuh, agar kamu memeluknya."


tanpa berpikir mau pun bertanya, meera melingkarkan kedua tangannya di atas perutku, tubuhnya mulai merapat di balik punggung, bermaksud memberikan sebuah kehangatan bagi tubuhku, entah apa yang terjadi semenjak meera memeluk tubuhku aku merasakan panas dingi, seperti demam mendadak. selama beberapa menit, aku tak berkata apa-apa selain kenikmatan yang aku rasa. meera meletakkan dagunya di atas pundakku kemudian bertanya: "gimana rasanya di peluk? apakah dinginnya sudah hilang, atau kamu tengah menikmatinya?"


"biarkan semesta menyaksikan ini ra. biarkan air hujan itu mengetahui bahwa rasa dingin yang di berikannya tak mampu mengalahkan hangatnya pelukanmu!"


dinginnya air hujan, sedikit terobati oleh hangatnya pelukan itu. sesuatu yang belum pernah aku dapatkan, malam itu tercipta oleh tangannya.


"kadang, sulit bagiku untuk ungkapkan sesuatu yang ingin aku ungkapkan!" tutur meera mendadak.


"he hem?" gumamku menanggapi.


"padahal, tak ada orang lain yang mendengar, hanya kau dan aku saja. dan lampu-lampu jalan yang menjadi saksi." sambung ucapannya.


"apa sih yang ingin kamu ungkapkan?" tanyaku yang mulai penasaran. aku menduga kalau malam itu, meera akan mengutarakan perasaannya padaku.


"tak banyak. hanya satu kata! yaitu terima kasih"


"atas hal apa?"


"terima kasih telah menjadi mataku. saat aku tak dapat melihat dunia luar. yah, aku akui, kamulah satu-satunya orang yang bisa membawaku untuk melihat dan menikmati semesta ini."


"harus di apresiasi, karena sebentar lagi, dunia baru akan tercipta!"


"maksudnya?"


"entah kenapa, dari pertama kali melihat kamu, aku jadi yakin. yakin, kalau suatu saat nanti kamu akan berada di sampingku, namun aku tidak yakin akan seberapa lama, yang jelas aku akan terus menikmati waktu selagi bersamamu."


"su'udzon..! tanya dulu kek orangnya mau apa tidak?"


"dulu, aku tak pernah menduga kalau aku bakal punya mimpi, tapi saat aku tatap matamu langit mendadak biru, saat itulah mimpiku baru di mulai.


perjalanan pulang bersama meera tak terasa, kami tiba di pusat kota pandeglang. gerimis mulai mereda, namun baju bayah kuyup. badanku kembali menggigil, pandangan mulai ngeblur, kepala terasa pusing, epek tidak tidur kemarin malam, di tambah dengan hujan-hujanan tubuhku mulai kehilangan ke stabilan, aku takut bisa doun sebelum rumah, aku juga tak yakin bisa mengantar meera pulang.


meera meminta untuk menepikan motor. menyuruh berhenti tepat di depan sebuah toko baju. ia segera turun, aku di buat tak mengerti, apa yang akan di lakukannya. ia menyuruhku juga agar turun, tangannya menarik-narik lenganku. katanya"ayo" mengajak paksa. aku tanya mau ngapain? dia bilang "ikut dulu sebentar!" aku sempat menolak ajakkannya. meera menegaskan kalau dia gak suka, ada orang yang menolaknya.


tiba di dalam sebuah toko baju. para pelayan toko menyambut, mereka mempersilahkan kepada kami untuk memilih-milih. bahkan salah seorang pelayan wanita ada yang menyapa meera, layaknya saling mengenal akrab.

__ADS_1


aku tak memilih baju apapun, hanya berdiri sambil memperhatikannya. aku terheran, ketika melihat meera mengambil satu buah baju cowok. aku tak berpikir kalau itu akan dia belikan untukku. "nih. kayaknya cocok buat kamu!" barulah aku mengerti setelah dia memberikannya.


"apa ini?" tanya basa basiku.


"udah pake! sekalian ambil celananya satu!" titah meera kembali.


kata meera, dia tak suka kalau ada orang yang menolaknya. ketika di suruh mengambil sebuah celana, tidak menolaknya lagi, aku segera mengambil. aku mengambil satu celana jeans yang ukurannya pas di pinggang. aku tak memperhatikan berapa harga untuk celana itu, yang penting pas aja. setelah aku mendapatkan satu buah baju dan celana, meera menyuruh untuk segera di pakai, dia pun membawaku ke ruang ganti.


setelah selesai aku pun keluar dengan satu setel pakaian baru, hasil pemberian dari meera. entah itu berupa hutang, atau murni pemberian darinya, sampai saat ini pun semua itu tak pernah dia ungkit kembali. "nikmat mana lagi yang mampu aku dustakan!"


perjalananku kembali di lanjut, setelah terhenti untuk berganti baju. rasa demam mulai meningkat dalam tubuhku, aku sudah tak yakin bisa mengantar meera kembali. dalam hati bergumam, aku putuskan akan membawa meera ke rumah om iwan dahulu, karena jaraknya dekat.


setibanya di jalan menuju rumah om iwan, meera menanyakan hal itu "kenapa kita ke rumah om kamu lagi?" aku tak menjawab, dan meera tak tahu apa yang tengah aku rasakan saat itu.


sampai di depan rumah om iwan. aku lepaskan helm, kepalaku sangat sakit, pandangan mulai kabur, tapi aku masih dalam keadaan tersadar. aku memaksakan turun dari motor berniat membuka pintu pagarnya, namun pijakan kakiku tak lagi tegak, semuanya bergetar semakin lama semakin lemas, sontak pandanganku menjadi gelap, aku terurai lemah sampai tak sadarkan diri. tubuhku terjatuh dan terkapar di atas tanah.


melihat akan hal itu, sang pujaan hatiku segera mungkin untuk meraihnya. dia letakan kepalaku di atas pangkuannya, keringat dingin mulai menghiasi wajahnya yang anggun, perasaan cemas mulai meliputi sanubarinya, tangannya yang lembut mampu mengelus wajah dan kepalaku dengan laun.


andai hari itu adalah akhir dari kehidupanku, maka aku mati tepat di pelukannya. andai aku tahu hari setelah itu akan berat dan kehilangan pelukannya, maka aku lebih rela mati saat itu juga.


suara keras ketar ketinya meminta tolong, mampu terdengar ke dalam rumah om iwan. betapa kaget dan terkejutnya mereka saat melihatku tengah terkapar di dalam pelukan meera.


---o0o---


pagi itu aku kembali terbangun, hanya bisa bersyukur atas sisa waktu yang masih di miliki. terkadang mimpi membuat hidup bergairah, dan bersyukur menjadikan hidup terasa bahagia. terima kasih tuhan atas matahari yang masih di tampakkannya pagi itu, terima kasih pula atas kesempatan untukku berjuang melewati hari ini.


saat aku membuka mata, aku menemukan diriku tengah terbaring di atas kasur berselimut tebal. masih tergeletak di atas jidatku sebuah handuk kecil bekas kompresan semalam.


suasana rumah terdengar hening, di sekitar kamar aku pun tak menemukan siapa-siapa alias kosong. aku singkirkan selimut yang menutupi tubuh, lantas terduduk. aku menggerak-gerakkan kepala ke kanan dan ke kiri berulang ulang, lantas aku tapakan kaki di lantai untuk kemudian berjalan.


aku berjalan untuk menemui seseorang yang bisa aku temui, aku pun melihat tante lisa tengah menyapu lantainya, aku pun duduk sembari memperhatikannya. melihat kehadiranku tante lisa bertanya "udah bangun kamu?" aku anggukan kepala menanggapinya. "yang lain pada ke mana tan?"


"om kamu kerja, delisa sekolah, sementara meera juga tadi pamit bilangnya mau ke asramanya!"


"kapan meera balik?"


"tadi pagi di antar sama ommu. meera juga nitipin pesan pada tante, bilangnya suruh jagain kamu dulu! dia perhatian banget yah sama kamu?"


tante lisa datang mendekat sambil membawa teh hangat, dia pun menemaniku duduk di samping sambil menyodorkan teh buatku.


"semalam, meera tuh khawatir banget sama kamu, kayaknya dia tuh sampai gk tidur bela belain jagain kamu!" ujar tante lisa. tante lisa juga menambahkan ceritanya kalau semalam meera yang mengompres jidatku.


"tante rasa meera itu anak yang baik. kamu juga pasti setuju! pertanyaan tante, alasan apa yang membuat kamu jadi suka padanya? setahu tante kan, kamu itu sangat dingin terhadap perempuan, contohnya terhadap leni dan devi. bahkan devi itu secara terang-terangan bilang sama tante, kalau dia suka sama kamu!"


"aku menemukan lekukan indah dalam wajahnya yang memberikan sebuah pesona, saat itulah batin terusik lalu hati berkata aku pengagumnya."


"kata-kata kamu itu loh nu, kaya sang pujangga! emang begitu yah, kalau orang sedang di mabuk asrama"


"asmara tan?" jawabku membenarkan.


"pokoknya tante selalu doakan kamu yang terbaik! saran tante sih, mending kamu cepat melamarnya, nantinya takut di senggol orang!"


terlalu dini ketika tanteku membicarakan tentang lamaran, padahal dia sendiri juga tahu kalau aku belum memiliki pekerjaan tetap, jangankan buat nafkahin orang lain, buat diri sendiri aja susah.


hari itu, hari yang masih memberikanku senyuman. aku masih bisa ketawa saat membicarakan namanya [meera] tak tahu, kelak nasib akan menuntunku dalam kesedihan dan aku akan menangis saat menyebut namanya.


malam mulai menyingsing, aku tetap stay di rumah om iwan. seharian itu aku tak mendengar kabar darinya, apalagi dengan senyumannya. seharian itu tak ada kabar darinya, beberapa kali aku menghubungi nomornya namun tak pernah aktif, hal itu membuatku sedikit khawatir.


guna menutupi rasa gabut, aku alihkan dengan membaca buku novel di kamar delisa, sementara delisa tengah anteng dalam buku pelajarannya.


suara ketukan pintu mulai terdengar di balik pintu kamar itu. "tok tok tokk." itu sebuah ketukan pintu yang di lakukan oleh tante lisa untuk memanggilku. "nu... danu.!"


"iya, ada apa?" tanyaku dalam panggilannya.


tante lisa membuka pintunya lantas masuk, ia pun memberitahukan bahwa di depan rumah, ada seseorang yang mencariku. saat aku tanya siapa? tante lisa menyuruh agar aku temui dan melihatnya sendiri.


saat aku temui, dia tengah terduduk di bangku teras depan, menunjukkan pandangan kosong yang lurus ke depan. aku sudah berada di belakangnya tanpa ia sadari. lalu aku tanya: "gak di persilahkan masuk sama yang punya rumah?"

__ADS_1


mendengar perkataanku membuatnya menoleh. dia pun tersenyum sambil menyapa: "hi."


seuntai sapaan dari pujaan hati yang tengah aku rindukan, begitu berdebar dan bergemanya detak jantung. malam itu meera datang menjengukku dia datang seorang diri.


"sudah sehat kamu.?" tanyanya mengayun. aku tak langsung menjawab sebelum duduk di sampingnya.


"seharian ini badanku masih terasa sakit, karena tidak mendengar kabar darimu! tapi setelah kamu datang, sekujur tubuhku mendadak sehat. mungkin kamu adalah penawarnya!"


"akh bisa aja nih sapu jangga! eh.. kamu bisa saja sembuh, tapi kayaknya aku yang bakal sakit, karena terus menerus di serang oleh gombalan maut mu itu."


"ingat yah! aku datang kesini bukan karena rindu.!" sambung ucap meera.


"rindu itu tak terlihat, tapi terasa. rindu itu tak perlu di ucapkan, cukup temui."


"alasanku datang ke tempat ini, karena aku takut kehilangan seseorang yang mungkin langka dari muka bumi ini."


"langka apanya?" tanyaku.


"ya langka aja, beda sama yang lain. kamu tuh aneh, gak jelas, suka ngaku-ngaku, bahkan memaksa seseorang tuk jadi pacar kamu demi memenuhi kekurangannya!"


harusku akui di hadapannya, aku bukanlah orang yang sempurna, masih banyak kekurangan dalam diri ini, aku tidak mencari yang sempurna, aku hanya mencari seseorang yang bisa menutupi kekurangan itu.


Di malam penuh irama, dua pasang mata saling menatap, sebuah kata manja saling tanya dan jawab, mengisi tiap lembaran yang masih kosong.


Tak terasa hari mulai larut, dia masih bersamaku di rumah om iwan. Aku ingatkan padanya untuk menginap saja, biar nanti tidur dengan delisa. Dan jika pagi datang, aku akan mengantarnya kembali.


Dia aku bawa menuju kamar delisa, sesampai di depan kamarnya, aku mengetuk pintu. Kemudian delisa membukanya, bertanya "ada apa kak?" Tanya delisa saat melihatku dan meera tengah berdiri di depan pintu kamarnya.


"De, biarkan malam ini, kak meera tidur denganmu!" Ujarku memintanya.


Dengan senang hati, delisa merangkulnya, untuk membawa meera masuk.


"Awas loh, jangan ngomongin kakak di belakang!"


Seruku mengingatkan.


Malam itu, aku tertidur lebih awal di sofa. Sementara meera dan delisa yang tidur bersama, saling mengobrol, mencari tahu hal tentang diriku yang meera belum tahu.


"Delisa gak inget deh, bagaimana kak danu waktu itu bisa bertemu dengan kak meera?" Tanya delisa heran.


Sebelum menceritakannya, meera tertawa dahu. Mengingat pertemuan yang absurd denganku itu.


"Kamu ingat gak? Pas keluarga besar kalian naik untuk foto bersama saat pernikahan ilhan dan risma itu?" Jawab tanya meera.


"Iyah. Kebetulan delisa juga ikut. Tapi tidak dengan kak danu."


"Masih inget sama foto grafernya?"


"Delisa, tak begitu memperhatikan!"


"Saat itu yang menjadi foto free wednya kak meera sendiri. KAkak meminjam kamera milik teman kakak, kebetulan kak meera belum cukup mengerti mengoperasikan kamera tersebut. Tak tahunya kak danu memperhatikan, dan dia membantu kakak menggunakan kamera tersebut." Tutur meera dalam ceritanya.


"Apakah setelah itu, kak meera langsung jatuh cinta? " Tanya delisa iseng.


Meera mengelakkan sambil tertawa. "Atuh gk secepat itu juga!"


"Trus... Apa yang membuat kak meera kian dekat dengan kak danu?"


Malam itu bersama delisa, meera menceritakan semuanya yang telah di lalui bersamaku. Pada akhir ceritanya meera menyimpulkan. "Kakak kamu itu punya kata-kata magic. Siapapun perempuannya jika ia di perlakukan seperti itu, maka dia pasti akan jatuh cinta!"


"Betul sekali kak! Andai saja delisa juga bukan adiknya, delisa juga akan jatuh cinta padanya." Jawab delisa menambahkan pujian.


"Jika kakak ingin tahu lebih dalam tentang kak danu, kakak harus mengenal kak leni. Karena kak leni lah yang lebih tahu tentang kak danu."


"Siapa dia?" Tanya meera.


"Dia itu teman dekatnya kak danu dari SMP. Pokoknya kakak harus minta di kenalin sama dia."

__ADS_1


Sebagai penutup perbincangan antara meera dan delisa, delisa sempat menceritakan tentang sosok leni sahabat dekatku.


Simak ceritanya di halaman berikut..


__ADS_2