GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
hari yang panjang


__ADS_3

Di tempat itulah aku menemukan ruang untuk bercerita. seakan Tak ada dinding pembatas untuk saling melemparkan kata. Serpihan jiwa penghuni raga, mengikat batin teramat kuat.


Tempat itu pernah mengisi duniaku, ruangan itu sempat ceriakan hampaku. Menyimpan jejak jejak yang di tinggalkan nada, menjadi kenangan tentang puisi penuh makna.


serpihan batu kerikil tajam, tergeletak tak beraturan. jalan yang berliku dan menanjak harus kami lalu. sebuah kawasan di kaki gunung karang, yang  memiliki luas lahan sekitar 402 hektar. saat itu kampung domba belum menjadi daerah wisata alam secara resmi. jadi tak terdapat warung-warung maupun kedai seperti saat ini. baru di tahun 2012 pemda pandeglang menobatkan sebagai kampung domba terpadu yang di buka untuk umum. terdapat 2600 ekor domba yang di pelihara oleh 7 kelompok tani, atau sekitar 150 orang yang berkecimpung dalam usaha ternak domba. 


maksud dan tujuanku datang ke tempat itu bersama meera, bukan sekedar melihat peternakan warga, tapi aku ingin menunjukkan panorama indah yang tersaji di lereng gunung karang.


   "mana.? yang katanya, akan membawaku ke surga?" tanya ia menagih.  aku mulai menggandeng pundaknya, menunjuk dengan jari telunjuk ke arah barat atas. "ada di atas sana!" Dia pun memandang, mengikuti arah telunjukku. Dua Bola matanya melotot seakan tak percaya apa yang terlihat. "haruskah kita melewati jalan yang menanjak itu?" Tanya ragu.


aku menganggukkan kepala. dia pun ter teguk. Aku mengawali langkah lalu berdiri di hadapnya satu tingkat lebih tinggi.  Aku ulurkan tangan dengan telapak terbuka. untuk sekedar memapah dan menariknya agar lekas berjalan. 


  "Ini seriusan?" Kembali bertanya dengan raut wajah meragukan. Hembusan napasnya begitu dalam. "Huh" lantas menambahkan "Apakah tidak ada jalan pintas, selain jalan ini?" sambil menunjuk dengan jemari tangannya ke tanah. mendengar pernyataan darinya sedikit membuatku tersenyum, tapi hanya setengah. takut dia marah. 


    "Tak mudah, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga! Jalani, nikmati! Semua akan terasa tanpa beban."


di raihnya uluran tangan dariku. perlahan aku menariknya. langkah demi langkah mampu di lewati. aku pun mensejajarkan langkah dengannya.


 sambil berjalan, kata manjanya terucap: "Jika aku tak sanggup lagi berjalan, bersediakah kau menggendongku?"


  "Menggendong mu??" "Hem.. itu,  sama halnya dengan mati bunuh diri. Hehehe!"


   "tega kamu yah!" 


jangankan harus menggendongnya, menjadi jembatan sekalipun untuknya menyebrang aku pasti siap.


di bawah pohon rindang, ranting yang tertiup angin senantiasa bergoyang. kicauan burung seolah terdengar nyanyian. iringan langkahnya semakin tinggi semakin berat, kucuran keringat perlahan mulai terlihat. 


     "kamu gk bawa kamera?" tanyaku. 


dia menggelengkan kepala, tak lepas dengan senyumnya yang tersipu. 


    "sebuah kamera, yang tempo dulu kamu bawa, itu pasti bukan punya kamu yah?" 


lepas dari senyum, dia pun tertawa menanggapinya. "itu punya si dian, aku meminjamnya!" tutur meera.


   "iyah. ketahuan gapteknya!" sindirku.


   "tapi, itu kan jadi hikmah bagi kamu untuk bisa mengenalku kan?"


  "itu hanya jalan proses belajar menemukan!" 


   "tapi kan... selepas dari itu, kamu terus berniat untuk mendekatiku?"


   "setelah pertemuan itu, aku merasa nyaman dalam lelapnya tertidur. karena aku sebebas mungkin merekayasa mimpi untuk membuat panggung drama antara kamu dan aku saja."


terik matahari yang menyinar semakin terasa panas, cucuran keringat tak terbendung mengalir dari raut wajahnya yang anggun.


Kami berjalan sudah cukup jauh, bahkan setengah perjalanan sudah di lalui. 


keringat dingin mulai terasa di telapak tangannya, wajahnya yang semula kemerahan, mendadak pucat pias. helaan napasnya mulai terbata-bata dengan bunyi cukup nyaring. dia menahan lajuku. "nu.. istirahat dulu dong! aku capek nih."


di sela-sela sebuah batu besar, dia pun terduduk sambil meyandarkan tubuhnya. wajahnya sudah terpenuhi oleh keringat.


  "kamu gak bawa saputangan?" tanyaku. meera mencari dan merogohnya di dalam tas. ternyata dia lupa akan hal itu. dia pun menggelengkan kepala. tidak ada. 


    "emang buat apa'an.?" dia tanya buat apa? dasar aneh.


     "aku tak mau, jika wajah cantik kamu tertutup cucuran keringat. tahu gitu, tadi aku bawa kenebo."


  "kamu kira, wajah aku ini bodi motor gituh? mau di lap pake kanebo segala." 


aku membuka tas, untuk mengambil 2 botol air mineral,  yang sudah di persiapkan sebelumnya. aku memberikan satu untuk dia, meera segera memutar tutup botolnya, seraya ingin cepat meneguk air tersebut. tapi aku menahannya, untuk jangan dulu di minum. dia terdiam dengan pandangan melotot, tanya kenapa dari rawut wajahnya. 


aku menyuruh untuk mengatur pernapasannya terlebih dahulu, supaya tidak engap serta keluar keringat berlebihan nantinya. dia pun mengikuti arahan dariku, setelah dirasa reda, barulah dia meneguk air tersebut.


  "ra... jika kamu merasa lelah, lebih baik bicara lalu istirahat! jangan menyerah, apalagi pergi!" 


   "yang barusan.. sebuah puisi?" 


   "itu saran." 


Sekedar menunggunya istirahat, aku sempatkan mengambil sebuah buku diary, dan berniat mencatat momen tersebut. buku harian itu, selalu aku bawa, setiap kali jalan bersama meera. 


   "mau ngapain dengan buku itu?" tanya meera curiga. 


   "mau aku catat, biar menjadi sejarah."


   "ouh... gitu yah. kamu akan menulis, bahwa hari ini meera terkapar dengan wajah pucat dan napasnya yang sudah ngos-ngosan." ujar meera dengan sewot. 


    "jika nasib tidak menuntun kita selalu bersama, maka jangan pernah lupakan tentang hari ini! manusia tempatnya pelupa, jadi aku memutuskan untuk mencatatnya saja." 


   "sini aku bantuin nulis!" pinta meera yang merebut buku dan pulpen dari tanganku. dia mulai menulis di atasnya. "dalam canda yang membawa warna, mengetuk hati yang masih sunyi, kamu hadir membawa cerita baru dalam hidupku. perlahan aku tenggelam dalam lautan rasa, ketika pandanganmu tak henti-hentinya mengusik sanubariku, seketika juga teringat bahwa aku hanyalah sebutir batu di antara mutiara yang tak layak di bandingkan." seusai menulis, meera menyerahkan buku dan pulpen itu kembali padaku.


   "sekalian di tambahin! bahwa hari ini, seorang danu yang menyandang gelar jomblo abadi, dengan bangga bisa mengajak meera berkencan di kampung domba!" hihihi. tambah ucap guyonnya.


bukan hanya sekedar menjadi kebanggaan bisa bersamanya hari itu, tapi dalam benakku berkata, itu adalah bentuk keajaiban bisa mengenal bahkan mencintainya. jika saja, aku pandai  mengukir batu. sudah aku ukir wajahnya agar menjadi sejarah, bahwa aku dan dia pernah bersandar di tempat itu. 


di bawah teriknya mentari, aku berjalan menapaki langkah yang panjang. seolah itu adalah awal pembuka dalam sebuah kebahagiaan. hidup seakan tak ada lagi pilihan, selain bersamanya bahagia. air mata pun tak bisa mewakili terhadap hari itu untuk bersedih. 


rambutnya yang terurai, terombang ambing selaksa angin menyapa. dia berdiri tegak, kedua matanya terpejam, tangannya di bentangkan, menghirup udara begitu dalam, lalu menghembuskannya. "hurp..."  awan berarak mengikuti sang angin yang menggiringnya. kami tiba di lereng gunung karang. sebuah tempat yang aku janjikan padanya. seketika rasa lelahnya terbayar lunas. melihat panorama indah sering meera tersenyum sendiri, bahkan sampai berteriak begitu histeris. 


   "kamu tahu ra..? apa yang menjadikan tempat ini begitu berkesan buatku?" 


   "apa.?" tanya meera lembut. 


aku pun duduk dengan kaki melipat, memandang semesta jauh dan luas. begitu pun dengannya yang ikut duduk di sampingku. hingga pada hari itu, semesta mendukung agar aku bertemu dengannya kembali. teriknya panas siang hari, ternyata lebih bersahabat dari biasanya.


  "saat aku jajakan kaki di tempat ini, kemudian membuka mata, aku tak percaya bahwa ini nyata. lantas aku berpikir bahwa ini mimpi. tetapi aku dalam keadaan tersadar, bahwa keindahan ini benar-benar nyata. tapi sayang, aku tak seimbang, tempat ini berubah hampa dalam kesendirian, yang lebih ironisnya aku iri pada langit dengan birunya."


  "lantas?"


   "sejak saat itulah aku mulai berjanji. kelak, aku akan datang ke tempat ini kembali, dan akan membawa kekasihku.!" 


 meera memandang tajam wajahku sambil menyembunyikan senyumnya. 


   "tahu kah kamu..? ada dua hal yang membuatku malang datang ke tempat ini!" 


   "apa itu?"

__ADS_1


  "yang pertama, telah membantu mewujudkan mimpimu! dan yang kedua kamu mengklaim sebagai kekasih, padahal itu belum berlaku." 


lalu aku berdiri, menyodorkan tangan dan menariknya untuk pergi. dia aku bawa ke bawah pohon besar aku akan menunjukkan sesuatu padanya. pernah aku mengukir namaku dan lambang love di batang pohon, namun belum ada nama yang mengisi di bawahnya. 


segera aku mengambil pisau dan mengukir nama meera. {danu love meera} 


kembali aku dan meera bersandar di bawah pohon besar itu. pertemuan adalah permulaan dalam proses belajar menemukan, seakan-akan batin sedang berdialog manja dengannya kala itu. sebuah ritual tanpa janji lepas tapi memikat, tak berpikir panjang apakah harus aku miliki atau sekedar basa basi, hanya bisa menikmati saat itu. 


  "kamu gk kuliah?" tanya meera santai. 


aku menggelengkan kepala. 


    "kenapa?" sambung tanyanya.  


    "gk ada biyaya!" 


    "gk ngejar beasiswa?"


    "aku tak yakin pada diriku sendiri.! pasti terdapat ribuan orang yang berlomba untuk mendapatkannya."


   "jadi, kamu merasa kalau diri kamu itu tak mampu! akan lebih bodoh lagi, jika kamu tak mau mencobanya.!" 


sebenarnya, aku pernah mengejar beasiswa di UGM, hingga lulus seleksi substansi. namun aku mengundurkan diri yang beralasan karena sakit, padahal aku meles jika harus satu kampus bersama devi. di pembicaraan hari itu bersama meera, aku sengaja menutupinya. 


meera yang begitu memprioritaskan pendidikan sangat ngotot mengguruiku. 


   "tidak semua orang setuju dengan apa yang kita lakukan, tidak semua orang percaya dengan apa yang kita yakini, dan pada akhirnya kita harus berjalan sendiri untuk mencapai apa yang kita impikan." ucapku membalasnya. 


   "apa yang kamu ingin capai dalam kehidupan ini?" tanya meera. 


   "aku ingin hidup dengan caraku sendiri!"


  "seandainya, kamu di berikan dua pilihan, dan harus memilih salah satu di antaranya, antara kuliah atau menikah, kamu akan memilih yang mana?" tanya meera.


sempat jaim dalam renungan apa yang harus aku pilih, kemudian aku balik bertanya dengan guyon, "nikahnya sama siapa dulu?"


meera pun mempertegas untuk memilih salah satunya saja. dengan keyakinan yang hqq, aku memutuskan untuk memilih menikah, ketimbang kuliah. meera memperdalam, terhadap alasanku yang lebih memilih menikah.


   "apa alasan kamu lebih memilih menikah, ketimbang kuliah?" 


   "dan di antara tanda-tanda{kebesarannya} ialah dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda {kebesaran allah} bagi kaum yang berpikir. {QS Ar rum ayat 21}" 


    "bukankah yang kita cari sebuah ketenteraman dalam hidup ini?" sambung tanyaku. 


    "tapi.. pendidikan juga penting! supaya kita bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, agar kelak keluarga kita menjadi tenteram!" 


    "apakah sebuah pendidikan tinggi bisa menjamin sebuah ketenteraman?"


     "ya.... enggak juga! tergantung orangnya, mau berusaha atau tidak!" 


untaian-untaian kata terus terucap dengan sendirinya. serpihan-serpihan jiwa yang kosong mulai tertata dengan rapi. aku memberanikan diri untuk memegang telapak tangannya. dia membalas dengan tatapan sinis, aku kira, dia akan segera menghempaskan genggaman tangan itu, ternyata dia lebih menggenggamnya dengan erat. 


sambil berjalan menikmati panorama indah, dalam gandengan tangan yang sulit di lepaskan, aku mencumbu dan merayunya. 


   "apakah pernah sebelumnya seperti ini?" tanyaku.


dia berpikir sejenak, meraba-raba ingatannya, dengan polos dia pun menggelengkan kepala, seolah memberi tanda belum pernah sebelumnya.


    "bukankah, nasibmu juga sama halnya denganku?" jawab meera membalas.


    "aku ini bagaikan wanita malang, yang mau-maunya di ajak kencan, demi menghapus status jomblomu yang sudah berkepanjangan." "tau gitu, aku gk usah mengikuti ajakanmu, supa kamu bisa memperpanjang status jomblomu itu." 


   "kamu, sudah pernah merasakan pacaran belum ra..?" 


   meera pun menggedikkan bahu, seraya di ikuti dengan gelengan kepala. 


   "apakah itu karena, tidak ada laki-laki yang sebaik dan seganteng diriku ini?" 


dengan tergugunya meera menertawakan hal itu. 


    "yang lebih baik dan lebih ganteng darimu itu banyak! tapi, tidak ada yang lebih aneh dan nekat selain daripada dirimu!" 


jika saja aku bisa memperlambat waktu hari itu agar tidak cepat berlalu, sudah aku ulur perputarannya biar bisa berlama-lama bersama meera. 


   "kalau kamu gimana? apakah sudah pernah pacaran sebelumnya?" tanya meera. "ehh.. aku lupa! kamu kan jomblo, jadi, pasti belum pernah merasakan, bagaimana rasanya pacaran kan.?" ralat meera menyindir. 


   "kamu do'akan saja, aku sedang menuju titik itu. sebentar lagi cinta dalam genggamanku!"


    "ouh.. yah?" tanya menyepelekan.


   "itu semua bisa terwujud dengan cepat, asalkan kamu mau membantunya!"


   "kalau aku gk mau, gimana..?"


   "aku akan bernegosiasi dengan bah dukun!"


   "akh sialan."


detikan waktu terus berjalan, iringan awan hitam pekat terus berkumpul hingga menutupi sinar sang surya, semestapun mendadak redup. 


hari yang semula bersahabat, itu telah pergi. meninggalkan kabut bersama kencangnya angin. kilatan halilintar mulai menampakkan cahayanya, seperti sebuah cahaya yang di hasilkan dari sebuah lensa kamera. hal itu membuat wajah meera menjadi tegang. 


letusan suara gemuruh petir, melengkapi hari yang mencekam di lereng kampung domba.  sejak saat itulah suara meera kian hening, hanya isyarat tubuh yang menggigil wajah pucat pias serta keringat dingin yang terjadi. 


ada rasa haru biru serta iba yang muncul dari diriku. tat kala di mana dengan refleknya meera memeluk tubuhku sesaat setelah suara petir berdentum dengan keras.  dengan nakal, tanganku mendorong pelukan itu untuk semakin dekat. 


daguku yang berada tepat di atas kepalanya, dengan mudah bibirku mencium rambutnya. dalam pelukan itu, tubuhnya menggigil kedua matanya terpejam, aku menjadi heran, kenapa meera bisa se histeris begitu saat terdengar suara petir? 


 tak hanya memeluk dan menggigil saja darinya, kerap meera juga memuji nama tuhan. "subhanallah" saat suara petir berdentum. 


ketika aku tanyakan hal itu padanya, alasan darinya tidak rasional, saat aku perdalam, ternyata meera fobia terhadap suara petir. dia tidak menjelaskan secara detail kenapa bisa sampai fobia saat mendengar suara petir.


dalam pelukan, meera berbisik laun "pulang yuk!" katanya laun mengajak.


rasa iba dalam jiwaku muncul, aku tak tega melihatnya layu, lantas menggandeng pundaknya untuk memapah berjalan meninggalkan tempat itu. di dalam hati, tak henti-hentinya aku memanjatkan do'a. meminta kepada sang pencipta untuk menunda turunnya hujan, karena jika hujan turun tiba-tiba maka aku yang akan terkapar di tempat itu. 


pikiran sudah was was, takut kehujanan sebelum berteduh. hati yang sudah gk karuan, berjalan dengan langkah cepat. tak terasa aku dan meera sudah jauh dan hampir sampai di tempat pemukiman warga. perlahan gerimis pun turun, aku segera membuka jaket untuk di jadikan payung. aku bentangkan di atas kepalaku dan meera, sesaat meera menghentikan langkah lantas memandang tajam wajahku. 


di bawah sudah tampak sala satu rumah, aku berpikir bahwa kami sudah sampai di tempat pemukiman warga. sementara hujan makin deras. aku dan meera numpang berteduh di emperan rumah yang memakai joglo. rumah itu masih sangat tradisional, semuanya terbuat dari kayu dan bambu. rumah itu sangat terpencal dari rumah warga lainnya. pintu rumahnya tertutup rapat, bahkan aku tak mendengar tanda-tanda suara di dalamnya. 

__ADS_1


sempat berpikir kalau rumah itu tak berpenghuni, tapi halaman serta penampilannya sangat bersih. jadi tidak mungkin kalau rumah itu kosong. 


hujan turun begitu deras, aku dan meera duduk berdua di bale-bale bambu yang tersedia. dikala suara petir terdengar, dengan kagetnya meera berteriak. kerap dia melakukan hal itu berkali-kali. 


langkah suara kaki berjalan mulai terdengar dari dalam rumah yang kami teduhi. suaranya nyaring, hasil pijakan kaki dari alas rumah yang masih memakai papan kayu. tak lama suara pintu terbuka pun terdengar. dengan cepat pandanganku langsung menoleh kearahnya.


   "e~h... ada tamu ternyata!" ucap pemilik rumah dengan kehadiran kami. 


lantas aku lemparkan senyuman, sambil menjawab." kami numpang berteduh!" 


pemilik rumah tersebut adalah seorang nenek tua renta. dia juga sangat ramah sampai mempersilahkan aku dan meera untuk berteduh di dalam rumahnya saja. 


    "ka lebet bae yeh!" suruhnya pakai bahasa sunda.


lantas aku jawab. "nuhun nek, biar kami di sini saja!" 


Si nenek melirik ke arah meera,  tengah murung takut akan suara petir. kemudian meminta kami kembali untuk berteduh di dalam rumahnya saja.


Aku berbisik dan bertanya pada meera, "bagaimana ra?"


 anggukan kepalanya meng iyahkan.


   "tidak merepotkan nantinya, jika kami berteduh di dalam?" tanya basa basiku.


Nenek itu tertawa, sambil berjalan ia menjawab. "hah, anggap saja rumah sendiri!" dan membuka pintunya lebar-lebar.


sesampainya di dalam rumah, si nenek menghamparkan tikar untuk di jadikan alas yang nantinya kami duduki.


Ia juga menjamu dengan teh hangat, serta menyajikan makanan dari umbi-umbian.  Sungguh baik nenek tersebut.


melihat Keadaan meera yang mulai kembali tenang, di sampingnya aku duduk, dan juga si nenek duduk di muka ikut menemani.


mengisi waktu menunggu hujan reda, sekedar mengawali perbincangan lantas si nenek bertanya siapa namaku? aku pun menjawab "danu" 


pandangannya berpaling lantas menunjuk meera dengan kedipan mata, bertanya siapa namanya? meera pun memperkenalkan diri. "meera" jawabnya. 


tak hanya bertanya tentang nama, si nenek yang belum ku tahu namanya itu, juga bertanya dari mana kami berdua berasal? aku dan meera pun menjawab alamat kami masing-masing bergantian. 


setelah itu, si nenek lanjut bertanya? kenapa aku dan meera bisa terjebak hujan di rumahnya! dengan panjang dan lebar meera mulai menceritakan kronologinya kepada si nenek. 


sudah beberapa menit aku berada di dalam rumah tersebut. tapi aku tidak melihat dan menemui siapa pun yang tinggal di rumah tersebut, kecuali si nenek itu. lantas dengan rasa penasaran aku tanyakan hal itu padanya. "nenek di sini tinggal sama siapa? kok saya tidak melihat siapa siapa lagi selain nenek?" 


sebelum menjawab, si nenek terhening sesaat. menunjukkan wajah sedih dan cemas. hal itu menjadikanku tak enak hati padanya. 


tak lama setelah terhening, si nenek pun akhirnya menjawab. "nenek tinggal berdua! sama si kakek. ini juga nenek lagi cemas, menghawatirkan si kakek yang masih di kebun, mana hujan deras di tampah petir lagi!" 


setelah mendengar jawaban darinya, aku baru paham, sedari tadi wajahnya yang mencemaskan sesuatu, ternyata si nenek tengah memikirkan nasib si kakek yang masih berada di dalam hutan, sedang berkebun sejak tadi pagi.


    "cuman berdua saja nek?" tanya meera memotong sambil mengacungkan dua jarinya.


si nenek tersenyum kecil, lantas mengangguk anggukan kepala beberapa kali. "huh.."  menghela napas dan menekuk wajahnya. 


    "sebenarnya, nenek punya 12 orang anak! " ujar pengakuannya. mendengar jumlah yang tak sedikit, membuatku terteguk. sementara meera hanya mendesah kecil, lalu berbisik di telingaku. "dua belas nu...!" tanpa bisa di tahan aku dan meera  menertawakannya. 


   "maaf nek! kami tak bermaksud menertawakan nenek!" ucapku meminta maaf.


    "tidak apa apa! memang kalau jaman sekarang, paling banyak punya anak itu antara 4-5 orang, beda sama jaman dulu, paling sedikit punya 9 orang anak. padahal anak itu sebuah anugerah pemberian dari tuhan."


   "betul juga nek! kebanyakan jaman sekarang itu mengikuti program KB, jadi punya anak itu di batasi. ehh ketika ada orang yang susah buat memiliki keturunan mereka rela mengadopsi anak orang lain!" ujar meera menambahkan. 


    "jumlah anak 12 itu tak sedikit nek? jika boleh tahu sekarang mereka pada ke mana?" tanyaku.


   "mereka sudah menentukan nasibnya masing-masing! "jika di pikir-pikir, 12 orang anak itu memang bukan jumlah yang sedikit, jika sampai kumpul lengkap dengan anak dan cucu, bisa penuh rumah ini, bisa jadi mereka tidur layaknya ikan pindang di dalam panci. hehehe" ucapan si nenek berandai-andai. 


    "anak nenek tuh di antaranya 8 laki-laki dan 4 perempuan. dua anak laki-laki meninggal saat lahiran, satu anak laki-laki lagi meninggal jatuh dari pohon kelapa saat usianya belasan tahun." 


    "inalilahi." potongku. "jadi sekarang anak-anak nenek yang tersisa tinggal 9 orang?"  


    "Mereka menentukan nasibnya masing-masing!" jawab si nenek dengan pembelaannya.


    "ada yg tinggal dengan mertuanya, ada pula yg tinggal di rumahnya sendiri!" lanjut ucapannya.


   "Tapi, apakah mereka sering mengunjungi nenek?"


Nenek tak menjawab, melainkan senyum dalam sedihnya. Si nenek mengajak kami nostalgia dalam kenangannya, sewaktu anak-anaknya masih satu atap. Katanya "tak ada yang memberatkan dirinya meskipun terdapat banyak anak, jika yang satu makan, yang lain harus makan. tak ada perbedaan di antara mereka, semua kasih sayangnya di bagi rata." kata-kata si nenek yang paling menyentuhku ialah "bahwa di masa tuanya, yang ia harapkan dari anak-anaknya, bukan hanya sekedar uang ataupun makanan, nenek itu menginginkan kebersamaan, yang ia rindu saat semua anaknya masih satu atap, ada tangis dalam haru, ada tawa dalam suka" kata nenek itu dalam rindunya kepada anak-anaknya.


Aku dibuat diam dalam ceritanya. Meera terlihat bengong dalam suasana. 


suara ketukan pintu dan ucap salam terdengar dari luar. si nenek lantas tergugah kemudian berjalan untuk membukanya. tak lain itu adalah suaminya yang baru pulang dari ladang dengan keadaan basah kuyup dan badan yang sedikit menggigil. 


  "e-h ada tamu ternyata?" ucap si kakek saat melihat kehadiran kami. aku dan meera segera berdiri untuk memberikan penghormatan dengan cara menyalaminya. aku yang menarik tangannya untuk menyalami, kemudian si kakek sedikit menahan dan berkata "tangan kakek kotor dan basah!" lantas aku jawab "gak papa!" si kakek menyuruh kami untuk duduk dan menikmati hidangan yang ada, dia juga permisi akan mengganti bajunya dahulu.


si kakek yang sudah berganti baju, kemudian datang sembari menenteng gelas besar yang berisi teh hangat, dia pun duduk di hadapan. 


    "kalau boleh kakek tahu, kalian abis dari mana?"


    "kami habis dari kampung domba! terus kehujanan dan berteduh di sini." jawabku.


di sela waktu bersama, mendadak si nenek meminta ijin akan ke dapur, katanya "akan mengolah makanan yang bisa di olah!" melihat hal seperti itu menjadikan meera ingin membantunya. dia pun meminta ijin. "boleh meera bantuin nek?"  si nenek mengangguk "ayo" katanya mengajak.


   "kalian berasal dari mana?" tanya si kakek kembali terhadapku. aku menjawab kalau aku berasal dari menes. "beuh" si kakek mendengung panjang. orang tua jaman dulu pasti paham dengan sejarah panjang daerah menes yang kuat akan nilai agamanya.


  "orok menesmah pasti pinter ngaji!" celetuk si kakek memujinya. aku langsung tersipu dengan mengendurkan pandangan. 


   "katanya sih begitu kek! tapi kenyataannya tidak. "memang banyak orang menes yang pandai mengaji, tapi tidak sedikit yang tak bisa, termasuk saya!" 


    "akh kamu bisa aja!" "yang tadi itu istri kamu?" tanya kakek terhadap sosok meera. 


aku sampai tergugu mendengarnya, dalam hati mengaminkan, lantas menjawab "bukan." lalu aku memberitahukan bahwa kami di pertemukan beberapa hari yang lalu. 


entah serius atau hanya pengingat semata, kata kata si kakek selalu terngiang dalam ingatanku sampai saat ini. itu kenapa aku menulisnya dalam kisah ini, yang jelas kata katanya berkaitan dengan waktu yang akan datang di masa depan.


kakek itu berkata dengan bahasa siloka. "terkadang kita hanya di pertemukan, tapi tidak untuk di persatukan! entah itu untuk belajar atau mengajarkan, entah untuk sesaat atau selamanya, entah menjadi bagian terpenting atau sekedarnya. "tuhan tidak menjanjikan langit itu selalu biru, mentari selalu bersinar dan bunga selalu mekar. tapi ketahuilah dia selalu memberi pelangi di setiap badai, tawa di setiap air mata, berkah di setiap cobaan, dan jawaban di setiap doa!" 


aku tak bisa menjawab apa-apa selain keheningan dan ke tidak mengertian maksudnya. si kakek kembali menambahkan yang semakin membuatku tak mengerti. 


   "kamu jangan mengambil cinta dari rabbnya! sungguh kamu tidak akan mampu." "jika kamu di takdirkan untuk bersamanya, jagalah dia! jika tidak bersama, maka kamu tetap harus menjaganya! wanita itu {meera} masih memiliki perjalanan yang panjang, jika dia sampai maka dia akan punya kedudukan yang mulia."


aku yakin, siapa pun orangnya, jika mendengar perkataan seperti itu dia pun tidak akan mengerti. apalagi aku bukanlah orang yang pandai dalam menafsirkan bahasa seperti itu. aku menganggapnya itu sebuah ramalan yang belum jelas kebenarannya. jadi aku tetap menikmati apa yang bisa aku nikmati. 

__ADS_1


hari di rumah tersebut di tutup dengan shalat magrib berjamaah dan makan malam bersama.


__ADS_2