GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
alunan melody


__ADS_3

Hari-hari kian berganti, hanya ada satu yang masih bertahan, yaitu namanya, yang kini melekat dalam ingatan. setiap hari, selalu saja ada cara untuk mengukir cerita bersamanya, bagaimana pun bentuk alasannya.


Hubunganku dan meera terjalin tanpa status, aku tak tahu dia menganggap seperti apa? yang jelas tidak ada keraguan lagi dalam hatiku untuk berkata "aku mencintainya!"


kadang, ia suka menegaskan, katanya: "yang kamu inginkan, sebuah pengakuan atau pembuktian semata?"


aku menginginkan keduanya, agar jelas dan bisa di akui, kalau aku dan meera adalah sepasang kekasih yang di pertemukan oleh garis takdir itu sendiri.


katanya: "isi hati itu tak harus selalu di utarakan, cukup pahami dan nikmati. hal itu sudah cukup untuk mewakili dalamnya prasaan. aku menyukai semua hal tentangnya, kecuali tentang kepergian.


setiap hari perjumpaan, aku selalu berharap bisa mendengar sebuah kata pengakuan darinya, kalau dia juga mencintaiku.


aku dan meera sudah membuat janji, akan saling bertemu di taman kota, tepat pukul 15 wib. Atau jam 3 sore. taman kota alun-alun pandeglang, bagaikan saksi bisu dua insan saling menatap penuh cumbu dan rayu. itu mengapa tempat itu banyak tertulis dalam kenanganku bersama meera.


waktu yang di janjikan telah tiba. kakiku menapaki taman itu, bunga-bunga seakan tersenyum menyapa, rumput mengabarkan pujaan hatiku belum datang, bangku tamu seperti memberi kode, agar aku duduk di atasnya untuk menunggu.


setengah jam waktu sudah berlalu, kesendirianku duduk di bangku tersebut. burung-burung mengabarkan "sabar, sebentar lagi dia akan datang."


Hampir terlambat satu jam, pada akhirnya dia pun datang, menampakan wajah cengar cengir layaknya tak bersalah.


"Hi.. " Sapa lembutnya menggoda. ketahuilah itu adalah caranya untuk menutupi kesalahan. "Udah lama..?" Tanya ia kemudian. aku menghelakan nafas, lalu menengok jam, untuk menghitung berapa lama keterlambatannya datang ke tempat itu.


"ma'af yah. tadi ada urusan dulu di sekolah." ucap alasannya. aku tengah di mabuk asmara, apa yang dia buat dan lakukan akan selalu benar di mataku.


"Aku heran deh sama kamu! tiap hari, selalu mengajak untuk bertemu, jangan-jangan... kamu kangen trus yah. Hihihi. " ucap meera becanda.


"Asal kamu tahu! Aku tengah menciptakan sebuah rekor, bagi diriku sendiri. dimana sepanjang hidupku selalu terisi dengan lembutnya senyumanmu. Selain itu, ada hal yang ingin aku dengar, yang sebelumnya tak pernah aku dengar."


"Apa itu?" Tanya meera.


"dimana kedudukanku berada dalam hatimu?" jawabku. aku berharap hari itu akan menjadi sejarah baru.


"jika bukan karena hati yang mengikat, mana mungkin hari ini aku berada di hadapanmu. apakah belum juga cukup untuk meyakinkanmu, dimana aku selalu mengikuti setiap ajakkanmu, menyimak sertiap kata yang kamu ucapkan, dan selalu tersenyum agar kamu memahami, kalau itu sebuah kebahagiaan. apakah harus selalu dengan kata, baru kamu memahaminya?" ujar meera lebar.


"Aku tak pernah tahu, apa yang terselip di balik awan hitam itu. mungkinkah sebuah pelangi yang akan menciptakan senyuman, atau badai yang nantinya membuat tangisan!"


bukan aku tak memahaminya, apa lagi sampai tak percaya. aku hanya ingin mendengar sebuah pengakuan darinya iyah mau pun tidak. biar tinta hitam itu mengabadikannya bersama kertas putih, dimana detik itu, hari itu, di tempat itu. sesuatu yang belum pernah aku dengar, pada akhirnya mampu ku dengar, sebuah kata indah, yang melebihi indahnya intan dan berlian.


"Kamu tak usah tanyakan lagi! Jika sudah saatnya, kamu akan mendengar itu." Ucap meera menjanjikan.


Dia selalu membuatku penasaran, setiap kali aku tanyakan hal itu, sebisa mungkin dia mengulurnya. Padahal tinggal jawab iya atau tidak. Jika iya dia mencintaiku, maka aku sangat bahagia. Jika tidak, emm.. Jangan salahkan aku jika terus memaksanya, paling aku sedikit merogok kocek untuk bernegosiasi dengan dukun pelet.


Ponsel yang berada di dalam saku celanaku tiba-tiba berbunyi, menandakan panggilan masuk. Saat aku tengok, itu sebuah nomor baru, aku pun mengabaikannya. Melihat apa yang aku lakukan, membuatnya bertanya: "kenapa gak di angkat? Siapa sangka itu dari mantanmu!" ujarnya sedikit mengejek.


harus aku akui, kalau aku tak pernah punya mantan. dan gak mau punya mantan.


"ups... Aku lupa." ia menutup mulut meralat kata-katanya dengan sindiran. "kamu kan gak pernah punya pacar, jadi gk mungkin punya mantan dong." Sambung meera mengejek.


seolah ada sesuatu yang penting akan di bicarakan, meski tak tahu dari siapa panggilan itu masuk Secara terus menerus ponselku berdering. mendengar hal itu menjadikannya risi, meera menyeru agar aku mengangkat telpon itu dahulu. "dari tadi panggilan itu masuk, angkat lah... Siapa tau itu penting!" Dia pun menambahkan agar jadi orang jangan sombong.


Pada akhirnya aku putuskan untuk menjawab panggilan masuk tersebut. "Halo!" Sapaku mengawali.


"Gila..." jawab si penelpon itu teriak. "Lama banget lo angkat telpon gw." sambungnya. mendengar suaranya penelpon tersebut adalah seorang perempuan, dan sudah tak asing lagi di dengar. dalam hati sudah bisa menebak, kalau itu pasti leni. leni adalah sahabat dekatku, hari itu dia baru pulang dari bandung, sengaja datang ke rumah om iwan berniat menemuiku. sejak beberapa minggu terakhir, aku putus kontak dengannya, hanya untuk satu alasan. yaitu agar dia terbiasa dengan ketidak hadiran diriku dalam hidupnya. aku berteman dengannya sejak masa SMP selama aku berada di sampingnya, dia tak pernah punya kekasih. entah apa alasannya aku tak pernah tahu.


hari itu leni kembali mendapatkan nomorku, tante lisa yang membocorkannya.


"dimana loe.?" tanya ia bernada keras, itu adalah khasnya ketika berbicara denganku.


aku menjawab "di alun-alun."


"pangkalan?" sambung tanyanya.


"bukan, di taman kotanya." sebelum menutup panggilan, leni berencana akan menyusulku. dia juga mengingatkan agar aku tak boleh pergi ke mana-mana mau pun bergerak sebelum ia tiba. sedikit sadis kedengarannya.


Leni, adalah seorang anak yang berasal dari golongan bangsawan, ayahnya seorang pejabat, sudah 2 periode menjabat sebagai sekretaris daerah di kabupaten pandeglang. Hal itulah yang sering aku manfaatkan tiap kali terkena tilang polisi. tinggal telpon bokapnya perkara hilang. Itulah untungnya bergaul dengan orang kaya.

__ADS_1


meera yang sempat aku campakkan, hanya berdiam diri menyimak saat obrolan bersama leni itu berlangsung. setelah usai ia pun berani bertanya: "yang barusan itu... pasti leni yah?" tanya mengira. ungkapan pertanyaannya sempat membuatku berpikir sejenak. "darimana meera tahu nama leni?" ucap kalbuku sendiri karena aku belum sempat menceritakan padanya.


"kok gk di jawab?" tanya meera melihatku terdiam.


"kamu tahu dari mana, kalo yang tadi itu leni?" jawab tanyaku heran.


"dari delisa." jawab meera jujur. ooh barulah aku mengerti, pantes saja ia bisa menebaknya. sebenarnya sosok leni pasti akan aku perkenalkan padanya, setelah mereka saling bertemu. adikku delisa yang sudah memberitahukan lebih dulu padanya, hanya beberapa cerita yang di ungkap delisa pada meera tentang hubungan persahabatanku dengan leni.


"aku tak mengerti, kenapa delisa menyuruhku untuk mengenal leni! memangnya kenapa?" tanya meera atas saran delisa waktu itu.


"aku saranka jangan!"


"alasannya?"


"orangnya cerewet."


meera sedikit bergumam, bibirnya yang tipis menghadirkan sebuah senyuman sinis, menanggapi alasanku dengan sepele. "jangan pernah menghardik seseorang, apalagi seseorang itu pernah berjasa dalam hidupmu!" ujar meera menasehati.


aku tidak bisa menampik tudingan itu, sedikit menjelaskan tentang leni yang pernah berjasa dalam masa-masa sekolah dulu.


"kadang, aku suka malu pada tuhan. dia tak menciptakanku terlahir dari rahim orang kaya. namun nasib mengelilingiku pada orang itu. aku hanyalah anak dari seorang buruh pabrik, harus berteman dengan leni, beni, devi dan yang lain yang notabenya para anak pejabat. hidup seolah mengajarkanku tentang kesetaraan tak ada lagi perbedaan status mau pun kedudukan. jika semua manusia berprinsif seperti itu, maka tak ada lagi si miskin dan si kaya, si penindas dan yang di tindas, hidup akan berjalan sejajar dunia terasa damai.


aku merasakan sangat di hargai dan di hormati, mereka sangat peduli denganku. dikala orang tuaku tak bisa membelikanku sebuah telepon genggam, secara cuma-cuma leni memberikan ponselnya padaku, meski terbilang bekasnya, setidaknya aku memiliki. di saat anak-anak SMA datang ke sekolah menggunakan speda motornya masing-masing, secara bergantian leni, beni dan devi, rela menjemput dan mengantarku demi bisa merasakan hal yang sama dengan anak yang lain." tutur sedikit ceritaku tentang sahabat-sahabatku.


"apa alasan mereka melakukan itu padamu?" tanya meera.


"aku tak begitu mengerti, jika kamu nanti bertemu dengan mereka, tanyakanlah alasan itu pada orangnya langsung. tapi leni pernah sedikit memberitahukan alasanya tentang perlakuannya terhadapku. katanya: dia tak menganggapku seperti teman biasa lagi, lebih ke saudara. dia anak ke dua dari tiga bersaudara, ketiganya berjenis kelamin perempuan, dia juga pernah berkata: "ingin merasakan punya saudara laki-laki." mungkin itu alasan kenapa dia memperlakukanku demikian. leni adalah orang yang mengajariku membawa speda motor, dia juga yang mengajari menyetir mobil. belum punya motor, tapi aku sudah bisa mengendarainya, tidak punya mobil, tapi aku bisa mengemudikannya. itulah untungnya bergaul dengan orang kaya."


andai saja leni tak keburu datang menemuiku di alun-alun, mungkin cerita tentangnya akan sangat panjang aku ceritakan pada meera. pertama kali melihat keberadaaku leni memasang wajah cengar cengir sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"tutup telinga! orangnya datang." bisikku di telinga meera.


berdiri di hadapaku, gayanya petangtang petengteng menulakkan kedua tangannya di atas pinggang. "oh... jadi begini alasannya. lo menghilang, gk pernah ada kabar, trus nomor lo ganti juga. udah lupa lo sama gw?" ucap leni di depanku dan meera nyerocos.


"begini nih ra... orang yang lupa minum obat. kelihatannya aja sehat, padahal dalamnya sakit. datang-datang bukan asalammualakum ke apa kek."


"lo harus kenalin nih, dia adalah meera. tadinya, gw tak pernah berpikir akan jadi pacarnya, tapi seiring berjalannya waktu, di tambah dia yang selalu memaksa, maka aku pun jadi mau." jawabku. mendengar jawabanku yang di lontarkan pada leni membuat wajah meera memerah dan sedikit tak terima. "apaan sih! orang kamu tuh yang maksa terus." jawab meera mengelak.


"tenang... aku percara sama kamu." timpal leni sambil mengelus pundak meera hingga duduk di tengah antara aku dan meera. "kalau boleh tahu, nama kamu siapa?" sambung tanya leni terhadap meera. meera mengulurkan tangan sambil menyebut namanya: "meera." leni meraihnya lalu memperkenalkan diri. "aku leni."


"kamu dalam keadaan tersadar kan. hingga bersedian untuk jadi pacarnya?" tanya leni guyon. meera menanggapinya dengan menertawakan ''hehehe."


"takutnya, kamu itu lagi tak sadarkan diri, trus mau maunya jadi pacar dia, nanti pas udah sadar baru nyesel loh." tambah ucap leni.


"tuh kan ra... bener kan apa kata ku, kalau dia itu cerewett.." potongku. meera di buat cengar cengir melihat ulah dariku dan leni.


"diam lo.. sekarang lo udah ngerasa jadi laki-laki yang normal?" ucap leni.


"apa hubungannya?" jawabku.


"buktinya, sekarang lo udah bisa mencintai seorang perempuan."


leni leni. bukan hanya dia, hampir setiap orang yang mengenalku berprasangka demi kian, menurut mereka aku tak memiliki hasrat untuk menyukai lawan jenis, kata formalnya seperti banci gitu. itu karena mereka tak mengerti dan memahami, kriteria seperti apa yang aku sukai.


setelah cukup dengan candanya, leni mengakui kalau dia merasa bahagia, karena akhirnya aku mampu jatuh cinta juga, dan meera satu-satunya perempuan yang mengubah itu. demikianpun dengan meera, sangat merasa senang karna bisa bertemu dengan seseorang yang sangat dekat denganku. beberapa kata pujian sering mereka lontarkan untuk saling memuji.


hari itu, suasana sangat lengkap. aku punya leni, seseorang yang sangat mengerti aku. aku juga punya meera, seseorang yang bisa mengisi ruangan yang kosong hingga terdengar ceria. saat itu seolah kesempurnaan telah aku dapatkan, hingga tak ada lagi sebuah kekurangan yang terasakan.


hari makin sore, leni membeberkan rencananya, dia akan mengajakku pergi ke serang untuk menemaninya ke sebuah caffe milik tantenya yang baru di buka. rencananya ia akan menulis sebuah artikel untuk merekomendasikan caffe tersebut pinta tantenya. aku bersedia menemaninya, asalkan di traktir makan dan minum, selain itu meera juga harus ikut. leni merasa tak keberatan atas permintaan itu, katanya "biasa juga kamu makan aku yang bayarin." dia juga malah sangat senang jika meera bisa ikut bersama, sekalian jalan-jalan.


perjalanan menuju serang. suasana di dalam mobil. leni menyuruhku mengemudikan, sementara ia dan meera duduk di jok belakangku. awal pertemuan di alun-alun aku lupa menanyakan kabar beni, setelah ingat aku menanyakannya pada leni. "len..."


"hem." gumam leni menyahut.


"pacar lo... gimana kabarnya? kok gk ikut pulang bareng?" tanyaku. leni mendadak terheran, dia pikir aku tak mengetahuinya.

__ADS_1


"pacar..! hemm siapa maksudnya?" jawab leni pura-pura.


"jangan berpikir kalau gw ini gk tahu! selama dua tahun kalin bersama di bandung, aku tahu segalanya, jangankan untuk hal yang besar, hal yang kecil pun aku tahu."


"maksud lo beni?" tanya leni mempertegas.


"iyah."


"kok lo bisa tahu? pasti beni udah menceritakannya yah?"


"asal lo tahu len, saat pertama kali kalian pergi kulian ke bandung, aku sudah menitipkan pesan padanya, agar beni senantiasa menjaga lo, menghiburlo, dan mengisi hati yang masih kosong. karena gw tahu, dari jaman SMA dulu, sebenarnya beni sudah menyukai lo, tapi dia sadar, selama gw masih berada di dekat lo, dia tidak akan mampu merebutnya. aku baru tersadar, kita tak bisa hidup saling bergantung satu sama lain dalam sebuah harapan, itu mengapa gw tak bersama kalian di bandung, untuk memberi kesempatan agar lo terbiasa dengannya, cepat atau lampat rasa itu akan tumbuh karena terbiasa."


"oh... jadi selama ini, kalian menyembunyikan itu dariku? awas kalian, aku akan buat perhitungan."


"dia lebih pantas bagi lo. karena gw pantasnya sama meera. hehehe." canda di dalam mobil itu masih terbayang, setelah semua berlalu, leni sering mengungkitnya : "baru kemarin kita merasakan hidup penuh canda dan tawa, kenapa roda nasib begitu cepat berputar, hingga mengubah menjadi tangis."


--o0o--


sehabis magrib, kami sampai di tempat yang di tuju. yaitu caffe sudi mampir namanya, terletak di kota serang. mungkin leni sudah memberi kabar tantenya lebih dulu, hingga kami tiba, tantenya sudah menyambut kedatangan itu. suasana di caffe itu sangat rami oleh pengunjung terlebih bagi kaum milenial. di tempat itu juga telah di sediakan sebuah live music. setelah menyadari leni langsung antusias. "nanti kita bawakan lagu nu." maksudnya ngajak bernyanyi.


kami duduk di satu meja, nuansa tempatnya di buat romantis, sangat cocok bagi sepasang kekasih. untungnya aku datang bersama meera, jadi tak terlalu makan hati saat melihat pengunjung lain. leni menyuruh aku dan meera memilih minuman serta makanan yang tersedia di dalam buku menunya. aku dan meera menentukan pilihan masing-masing, leni pun langsung memesannya, sambil menunggu pesanan datang, leni berkata: "tunggu bentar yah." dia ada urusan dengan tantenya.


tinggalah aku adan meera berduaan. "yang lama aja sekalian len." doaku dalam hati.


"kamu tahu ra? inilah untungnya bergaul dengan orang kaya."


"dasar. tukang manfaatin orang lain." celetuk meera mencibir.


tak berapa lama pesanan pun datang, leni pun kembali, kami bertiga menikmatinya.


"udah lama banget nih gk nyanyi bareng!" ujar leni. "ayo ra, kita nyanyi! biar danu yang mengiringi musiknya." sambung leni mengajak. meera tersenyum, kemudian menggelengkan kepala. "aku gk bisa nyanyi, suaranya ancur." jawab meera beralasan.


"gk papa lah, kita kan buka penyanyi. ini tuh hanya untuk hiburan saja biar modnya dapet." balas leni memaksa. meera kekeh menolaknya dan menyuruh agar aku saja dan leni yang naik.


"hah payah... ayo nu kita naik!" lanjut leni sambil menarik tanganku.


di malam itu, aku berkolaborasi dengan leni menyanyikan sebuah lagu memandangmu milik ikke nurjanah, sebuah lagu yang di tentukan oleh leni. sebelum memulai nyanyiannya, leni sempat mempersembahkan lagu itu untuk persahabatan kami.


setelah usai menyanyikan lagu memandangmu berduet dengan leni, kini aku ingin bernyanyi sendiri sambil memainkan gitar, leni memahaminya lantas mundur. aku berniat akan menyanyikan sebuah lagu yang berjudul mencintaimu sampai mati, milik band utopia. kebetulan sekali lagu itu tengah booming di tahun tersebut.


sebelum bernyanyi aku sematkan kata-kata. "ok semuanya, sebelum saya bernyanyi, ijinkan terlebih dahulu untuk berkata: tentang memaknai sebuah pertemuan." semua hadirin bersorak riuh. "setiap kejadian dalam hidup, bukanlah suatu kebetulan semata, ada garis yang sudah pasti akan terjadinya. pertemuan adalah sebuah misteri, siapa pun akan mengalaminya, entah itu bertemu dengan orang asing, atau yang tak asing lagi. bertemu dengan yang di inginkan, atau yang tak di inginkan, tak pernah peduli, walau pun sebenarnya kita lebih memilih bertemu ia daripada dia. sang pemilik takdir telah memiliki alasan atas terjadinya pertemuan itu, bahkan mungkin masih ada seseorang yang masih di simpan untuk di pertemukan dengan kita suatu saat nanti. kalau pun ada perpisahan, itu pun atas nama takdirnya sendiri. perpisahan tak harus selalu di warnai dengan penyesalan, karena selalu ada alasan di balik sebuah pertemuan, bersyukurlah bagi mereka yang telah menemukan alasan itu." tutur perkataan yang ku maksud itu. leni adalah orang pertama yang memberikan tepuk tangannya, di ikuti oleh meera dan semua yang berada di tempat itu riuh bertepuk tangan mengapresiasi.


"aku akan menyanyikan sebuah lagu, yang berjudul mencintaimu sampai mati. lagu ini aku persembahkan untuk seorang wanita yang tengah duduk di bangku itu{meera}"


aku mulai memetik senar gitarnya, mebuat nada lagu tersebut menjadi akustik.


"dalam sepi"


"engkau datang"


"beri ku kekuatan tuk bertahan."


"kau percaya aku ada"


"kau yang aku inginkan selamanya"


reff "kau adalah hatiku."


"kau belahan jiwaku"


"seperti 'tu ku mencintaimu sampai mati"


"di hidupku yang tak sempurna"


"kau adalah hal terindah yang ku punya"

__ADS_1


lirik lagu itu bisa mewakili, betapa hebatnya pertemuan aku dan meera.


__ADS_2