GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
mengutuk diri


__ADS_3

bukan hanya  sekedar memutus harapan, ia juga menguburnya dalam-dalam. hidup seolah tak memberinya pilihan lagi. apa mungkin itu hanyalah bentuk luapan emosianal saja? atau tidak, itu merupakan kehendak sang pembuat takdir sendiri. 


terkadang ucapan itu merupakan sebuah do'a. mesti tak langsung terwujud, tanpa di sadari, suatu saat nanti pasti terjadi. maka dari itu, sesulit apa pun keadaan yang di hadapi, tetap tenang, menahan diri, jangan sesumbar apalagi mengutuk, entah di tujukan untuk orang lain, maupun diri sendiri.


...


huh. aku menghela nafas sesaat. menatap cermin, untuk bertanya? "cerita apa lagi, yang akan aku temui di hari ini?''.


 ceritanya di awali pagi, yang mengharuskanku datang ke rumah leni. "ibunya menunggu!" kata dia. 


baru tadi malam aku memintanya untuk pulang, setelah pagi tiba, leni mengabariku sudah sampai di rumah. 


berhubung aku tak punya lagi kendaraan, aku meminjam motor om iwan pada tante lisa. tante lisa tidak merasa keberatan, dengan motornya yang hendak aku pinjam. hanya saja muncul rasa terheran dalam benaknya, perihal dimana motorku berada. tak tunggu lama lagi ia langsung menanyakan.  "motor kamu kemana nu?" 


orang tua ku tidak mengajari untuk berbohong, jadi aku katakan saja yang sebenarnya kalau motor itu sudah di jual. 


"di jual?" ucapnya tak percaya.


"iya di jual." jawabku mempertegas.


"kenapa bisa sampai di jual?"


"mec. ehem. danu bingung harus bagai mana lagi tan! danu juga merasa bersalah pada ayah, karena tidak meminta ijin dahulu menjual motornya. tapi yang danu lakukan semuanya demi meera."


"bukan kah hubungan kalian sudah ber akhir? lantas untuk apa uang dari penjualan motor itu di gunakan?" 


"ini bukan tentang hubungan sepasang kekasih, tapi tentang kemanusiaan. ibunya tengah terbaring sekarat di rumah sakit, keadaannya sangat menghawatirkan, harus segera di oprasi dan membutuhkan biaya sebesar 50 juta, satu-satunya yang bisa danu berikan untuk mereka hanyalah motor itu, danu menjualnya dengan harga 8 juta, masih kurang banyak. sekarang danu akan datang kerumah leni, untuk meminta bantuan pada orang tuanya, ibunya leni kan seorang sekbid pelayanan medis di kabupaten pandeglang, danu berharap ia bisa memberikan jalannya."


"ya sudah. sekarang kamu cepat berangkat!" seru tante lisa sambil meyerahkan kunci motornya padaku.


tiba di rumah leni. kehadiranku tengah di tunggu oleh ibunya. leni sudah mengabari terlebih dahulu. di atas sofa aku hanya berdua duduk bersama ibunya, aku memanggilnya dengan sebutan tante. sebelum masuk ke topik pembicaraan, ibunya leni sempat menceritakan kepulangan leni secara tiba-tiba. menurut cerita yg aku dengar darinya, malam itu juga leni langsung pulang ke pandeglang. 


ternyata, setelah menutup telpon dariku, leni langsung menghubungi beni, mereka sepakat akan pulang ke pandeglang besok pagi. namun yang terjadi, malam itu mereka berdua tak bisa melanjutkan tidurnya, hingga memutuskan berangkat pada saat itu juga. hingga tiba di pandeglang waktu pagi. mereka kini sedang tertidur.


"leni sudah mengabari terlebih dahulu, perihal tujuan kamu ingin menemui tante. kata leni ini penting! namun dia tak membicarakan hal penting apa yang akan kamu ungkapkan pada tante."


"memangnya ada apa nu?" tanya ibunya leni.


"menurut danu ini penting. tapi gak tau menurut tante. ini soal nyawa! sejak beberapa hari, ibunya meera terbaring sekarat di rumah sakit. dokter yang menangani menyarankan agar segera di lakukan oprasi, namun harus menyiapkan biaya terlebih dahulu, nominalnya sebesar 50 juta. bagi mereka, uang sebanyak itu dari mana bisa mendapatkannya, apalagi dalam waktu singkat. yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah pasrah, menunggu nyawa menjemputnya. sekarang danu ingin bertanya, apakah tidak ada cara lain, selain mengumpulkan uang sebanyak itu, agar bisa di lakukan oprasi?"


"apakah pengobatannya menggunakan kartu BPJS, atau sutar SKTM[surat keterangan tidak mampu]?"


"katanya tidak. mereka lewat jalur umum."


"kenapa tidak tanya-tanya dahulu, sebelum bertindak!"


ibunya leni menyarankan untuk membuat surat SKTM saja. aku tak mengerti bagaimana prosedurnya. lantas ia kembali menjelaskan, harus mendatangi RT setempat, kemudian kekelurahan, untuk membuat surat pengantar yang akan di bawa ke kecamatan. setelah itu buat surat rujukan di puskesmas tempat meera tinggal, setela surat rujukannya di dapat, nanti akan di bantu proses oleh ibunya leni. 


waktu menjelang siang, aku berangkat kembali menuju rumah sakit sari asih serang, menggunakan mobil bersama leni dan juga beni. 


"emang benar nu, lo dan meera sedang ada masalah?" tanya leni dalam perjalanan. di dalam mobil itu sendiri, beni yang menyetir, leni duduk di sampingnya, sementara aku di belakang mereka.


"kenyataannya seperti itu." jawabku atas pertanyaan leni tadi.


"kenapa?"


"semua kejadian berawal dari malam tahun baru."


"apakah meera tidak menyetujui lo pergi dengan kita?"


"bukan itu. lo tahu sendiri kan, gw dan si ilham sepupuan?"


"lantas?"


"meera juga dan istrinya si ilham sepupuan. menurut pendapat mereka, jika hubunganku dan meera berlanjut sampai pernikahan, itu pamali. karena di antara kami ber empat akan ada yang saling mengalahkan. alasan seperti itulah yang membuat meera mundur."


"jika seseorang sudah kuat berpegang teguh pada keyakinannya, maka sulit untuk di patahkan. lantas lo memilih untuk menyerah nu?"


"gw bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta, apalagi mengubah rasa. gw juga bukan termasuk orang yang mudah menyerah, jadi gw akan tetap bertahan, dan trus berusaha, sampai perasaan gw terhadap meera hilang."


"heem. berarti lo akan tetap berharap." 

__ADS_1


ya, aku akan tetap berharap. bahkan harapan itu sampai membunuhku sekalipu. aku tidak mau hidup dalam sandiwara, berpura pura cinta, padahal hati menolak. aku memilih hidup dalam kejujuran, walau setiap saat penderitaan menghampiri.


tiba di rumah sakit. aku sudah tak menemukan lagi siapa-siapa di ruang tunggu. jadi memutuskan masuk keruangan dimana ibunya meera di rawat. di dalam ruangan itu, hanya tinggal meera dan ayahnya saja, yang menemani ibunya.


meera terkaget melihat kedatangan leni. ia segera menghampiri untuk memeluknya. dalam pelukan itu leni menasehati. "yang sabar ya ra!" dalam isak tangis, meera mengucapkan rasa terimakasih pada leni.


ayahnya memberi tahu, kalau ilham dan risma sudah pulang. kepulangan mereka ke rumah tak lain hanya untuk mengambil baju ganti. 


aku mengajak ayah meera untuk berbicara, namun tidak ingin di bicarakan di dalam, aku mengajaknya ke ruang tunggu, ia mengikutinya, di ikuti oleh beni dari belakang.


"mohom maaf sebelumnya pak! mau sampai kapan kita hanya terdiam sambil berharap ibunya meera bisa di oprasi? sementara tidak ada usaha yang dapat kita lakukan." ungkapku.


"lantas, harus bagaimana lagi?" tanyanya bingung.


"jika bapak tidak keberatan, danu akan membantu membuatkan surat keterangan tidak mampuh. mudah-mudahan dengan adanya surat itu, ibunya meera dapat di oprasi."


"caranya?"


"biar danu yang urus, sekarang bapak siapkan saja foto copy kk serta ktpnya!"


ayahnya meera menyiapkan apa yang aku minta, sehingga mengharuskanku segera berangkat, untuk memenuhi segala persyaratannya.


aku berangkat saat itu juga ke kampung halaman meera, di temani oleh beni. sudah mengabari ilham terlebih dahulu, untuk ikut membantu memudahkan mencari alamat yang akan di tuju.


"jika gw boleh tahu, alasan apa yang lo buat, hingga rela melakukan semua ini untuk meera? sory, apa lo ingin menarik simpati darinya? secara kan hubungan kalian sudah berakhir." tanya beni dalam mobil saat perjalanan.


"jika mencintainya saja tak punya alasan, lantas kenapa harus beralasan? harus lo tahu, ini bukan cara menarik simpati, namun gw sedang memaknai definisi dari cinta. jika memang dia sudah tak cinta, tak perlu membencinya. jika harus, itu bukan cinta, melainkan nafsu ingin memilikinya."


"lo memang beda nu. itu satu alasan orang-orang menyukai lo. setiap hari gw selalu berpikir, bagaimana caranya agar bisa mengimbangi lo, saat gw coba lo udah jauh, saat gw kejar lo sudah berada satu tingkat lebih tinggi dari gw."


"lo tahu kenapa ben?"


"he em."


"kenapa meera memutuskan hubungan, di saat gw sedang cinta cintanya? menurut gw, itu merupakan cara dari tuhan, sebagai pembelajaran untuk gw."


"ya gw memahaminya, bagaimana menderitanya devi, bagaimana merananya leni ."


tiba di kampung halaman meera, ilham dan risma sudah menunggu kedatangan kami, mereka menyambut di halama rumah meera. tak tunggu nanti, aku mengajaknya segera memenuhi semua persyaratan, supaya ibunya meera bisa cepat di oprasi.


risma sebagai penunjuk jalan, mengantar ke rumah pak RT. setiba di rumah pak RT, sayang menurut istrinya pak rt tengah berada di sawah. jika harus menunggunya pulang bisa sampai sore. dengan berat hati, aku harus meminta agar pak RT bisa di susul. karena situasi mendesak, ibu RT dengan senang hati, pergi menyusulnya. 


satu jam kami habiskan waktu, demi menunggu kepulangan pak rt dari sawah. aku ajukan apa yang jadi permintaan kami terhadap pak rt. dengan meminta surat pengantar ke desa, bukan hanya memberikan surat pengantar, namun pak rt juga ikut membantu kami secara total untuk membuat surat keterangan tidak mampu. 


bersama pak RT, kami berangkat menuju balai desa. entah kenapa, hari itu banyak sekali drama yang terjadi. kantor desa yang di datangai sudah kosong, alias tidak ada petugasnya yang berjaga. lantas pak RT menyarankan agar mendatangi salah satu kadernya saja, kebetulan ia tahu. 


kami di bawa ke salah satu rumah kader desa tersebut, pak langsung bertindak, menanyakan tugas orang-orang di balai desa. "kenapa jam segitu kantor desa sudah kosong?" ke peminpinan pak rt patut di apresiasi. pak rt pun menuntuk agar di buatkan surat pengantar secepat mungkin. 


aku tak mau, kejadian di desa terulang di kecamatan. "pak RT, punya nomer petugas kecamatan tidak?" tanyaku mengantisipasi. 


pak RT menggelengkan kepala. "jangankan nomernya, hp saja bapak gk punya." jawab pak RT.


"saya punya." ujar kader desa mengakui. 


"tolong pak hubungi! bilang kami butuh surat rujukan."


sang kader lantas menghubunginya, ia mengungkapkan sesuai dengan perintahku. 


setelah selesai bercakap lewat telpon, kader desa pun menyuruh kami untuk mendatangi alamat yang sudah di tulisnya. kebetulan pak RT tahu, kami pun segera berangkat.


singkat kata, surat rujukan dari puskesmas carita sudah di dapat, tinggal di serahkan ke pada ibunya leni di RSUD berkah pandeglang. 


"nih tan, semua persyaratan yang di butuhkan sudah danu kumpulkan." ucapku pada ibunya leni sambil menyerahkan berkas padanya di rumah sakit berkah pandeglang.


"tante akan bantu prosesnya. paling lambat jam sepuluh ibunya meera bisa di oprasi." jawab ibunya leni menjanjikan.


semua persyaratan sudah di serahkan, tinggal menunggu. aku, beni, ilhan, dan risma  kembali ke rumah sakit sari asih serang, namun keberangkatan kali ini bertambah satu anggota, tak lain adalah pak RT. "bagaimana pun juga, ibunya meera adalah warga saya, jadi saya harus membantunya samapai tuntas." begitulah ucap alasan pak rt ikut bersama kami ke serang. 


di tengah perjalanan, sekitar pukul 9 malam, kami berhenti sejenak untuk makan. baru menyuap beberapa makanan ke mulut, leni menelponku. lalu aku jawab: "ada apa?"


"masih dimana kalian, kok jam segini belum balik juga?" tanya leni. 

__ADS_1


"kami dalam perjalanan, saat ini sedang makan dulu."


"pokoknya kalian harus cepat datang kemari!" seru leni heboh, mendesak agar segera, sesuatu yang menghawatirkan sepertinya terjadi. 


aku jawab "iya." iya kami akan segera berangka. nafsu makanku menghilang, aku merasa cemas, aku biarkan sisa makanan yang masih setengahnya. 


rencana oprasi ibunya akan di lakukan pukul 10 pagi. namun takdir berkehendak lain, tuhan telah memanggilnya terlebih dahulu. isak tangis pecah tepat pukul 01 dini hari, ibunya meera menghembuskan nafas terakhirnya. meera menangis brutal sejadi jadinya. 


pengheningan cipta turut di tunjukkan wajah wajah prihatin yang melihat. turut merasakan duka, leni ikut meneteskan air mata. risma memeluk meera, menenangkan. 


cucuran air mata membasahi wajahnya yang merona, wajah yang sempat menghiasi dengan senyuman, itu mulai layu. tergerus dalam duka yang mendalam.


air matanya, adalah air mataku. kesedihannya, adalah kesedihanku juga. sekujur tubuhku mulai terlulai, kakiku gemetar, aku tak bisa berbuat apa-apa lagi.


luapan emosinya keluar, begitu berontak ia mengutuk dirinya sendiri. "kenapa ibu tinggalkan meera?" tanya kekecewaanya. "katanya ibu ingin sekali melihat meera bisa menikah. lantas kenapa ibu pergi terlalu cepat, sebelum harapan itu terwujud."


"berhubung ibu sudah tiada, meera putuskan untuk tidak menikah dengan siapapun. karena untuk apa lagi bu, ibu sudah meninggal."


aku tak percaya, dengan emosianalnya, meera bisa mengungkapkan kata kata yang tak sepatutnya terucap. ketika kesedihan melanda seseorang, entah kenapa orang tersebut mendadak sempit pemikiran. begitu dengan sebaliknya.


adakalanya, aku teringat ucapan kakek di kampung domba dulu. kata dia: "kamu tak akan mampu merebut cinta dari rabnya. meera mempunyai perjalanan yang panjang, jika ia sampai, ia memiliki kedudukan yang mulia di sisinya." 


jika di maknai arti sumpah yang di ucapkan oleh meera, itu merupakan awal dalam perjalanan panjangnya kelak. jika ada kesempatan, aku akan menulis perjalanannya menuju ma'rifat. dengan judul "wanita yang di uji."


---o0o---


jika bisa menolak, aku akan menolak hari itu terjadi. jika tak bisa, setidaknya hapus dalam ingatan. kenapa begitu? karena hari itu adalah hari hujannya air mata. hari yang mengantar prosesi pemakamannya berlangsung. 


mungkinkah itu yang di maksud dengan takdir? datang tanpa di sadarai, pergi pun tanpa harus pamit. 


kain putih yang lembut, terbalut di tubuhnya yang kaku. meera berusaha membisikan kata di telinga yang tak mampu mendengarnya lagi. "engkau tinggalkan aku di rumah tua ini. gubuk yang menyimpan banyak cerita tak terlupakan, tempat ibu dan ayah mencurahkan lelah, kini berdiri sepi penghuni. maafkan meera bu, jika tak bisa memenuhi segala harapan yang ibu minta. meera tidak akan menikah dengan siapapun bu, karena percuma ibu tak akan bisa hidup lagi untuk menyaksikan. meski dengan danu sekalipun, yang ibu tahu meera sangat mencintainya." ucap kekecewaannya secara frontal.


aku memejamkan mata berkali kali, tak ku ingin lihat kenyataan pahit itu. bukan hanya menyaksikan kenyataan meera saja, melainkan kenyataanku juga. aku juga berusaha untuk menutup telinga, agar tak mendengar jeritnya dalam tangisan.


foto yang berdebu, hanya jadi kenangan bagi dinding yang bisu. dimana lagi nantinya, ia bisa mencurahkah rasa kelu dan kesahnya? aku meragu. siapakah orangnya yang akan membantunya tuk berdiri? aku tak tahu.  bisakah ia menghadapi dunia yang kejam akan cacian sementara tanganku tak mampu meraihnya lagi, candaanku tak membuatnya tersenyum dan kataku sudah tak mampu meyakinkannya lagi. "aku ada untukmu."


taburan bungan di atas tanah merah, di tandai batu nisan. suara tangisan mengiring begitu merobek jala telinga. aku hanya bisa bersandar di bawah pohon beringin tua. ilham datang menghampiri, dengan membawa suara lemahnya. "nu." menyebut namaku. ia melihatku tak berdaya, sebuah luka tanpa bercak begitu mengiris diulu hati. 


beni dan leni yang ikut mengantar prosesi pemakamannya berlangsung, turut prihatin dengan keadaan. "sabar bro!" ujar beni sambil mengelus pundakku. dari rumah sakit sampai ke pemakaman, leni tetap setia berada di samping meera. sekuat tenaga, sebisa mungkin leni menangan agar meera tidak terbuai dalam kesedihan.


aku ingin tinggalkan hari itu, aku mengajak si ilham agar di bawa ke rumah istrinya, karena sungguh aku tak sanggup jika selalu di perlihatkan dengan tangisannya. ilham pun membawaku, tapi tidak dengan beni. aku menyuruh beni untuk menemani leni sampai acara pemakamannya selesai, jika hendak pulang, jemput aku di rumah istrinya si ilham. 


di dalam rumah risma, aku meminta selembar kertas putih lengkap dengan pulpennya pada ilham. ilham mengambilnya untukku. selembar kertas itu akan aku tulis sebuah kata untuk meera, sebelum perpisahan benar-benar terjadi.


"kita punya keinginan, tapi takdir memberikan kenyataan.  matahari tidak pernah memilih siapa yang harus ia sinari, semua orang memiliki hak yang sama, asalkan orang itu mau keluar untuk menjemputnya. jika tuhan menciptakan malam untuk menggantikan siang, kamu harus yakin ia menciptakan kebahagiaan untuk menggantikan kesedihan. jangan biarkan kesedihan mengambil harimu. tuhan tidak pernah membiarkan hambanya terlarut dalam kesedihan, pasti ada rencana indah untuk membayar semua air mata itu. simpan semua cerita dalam do'a, biar allah yang mengubahnya menjadi bahagia.'"


jika kamu membaca tulisan ini, aku harap senyumanmu telah kembali. aku bukan saja kehilangan dirimu, namun aku juga telah kehilangan senyumanmu, dan itu merupakan musibah bagiku. 


   25 januari 2012.                                                                       danu. seseorang yang pernah di buat jatuh cinta.


begitulah bunyi tulisan yang aku buat untuk meera. aku mulai melipatnya, lalu di titipkan pada si ilham. "ham. nanti lo kasihkan ini pada meera! tapi jangan sekarang. nanti, setelah keadaannya tenag."


ilham menerimanya, lalu menjawab: "iyah nanti gw kasih ke meera. ngomong-ngomong apa isinya nih?" tanya ia kepo.


"udah kasih aja!" 


leni dan beni menyusul, mengajak segera pulang.  sebelum berangkat pulang, mereka mengajak untuk berpamitan kepada semua keluarganya meera, terutama pada meera sendiri. aku kata "tidak." biar mereka saja yang berpamitan, aku akan menunggu di mobil. 


hari aku harus pamit, bukan sekedar pamit dari hadapannya, melainkan pamit dalam kehidupannya. aku akan berjalan, di atas jalan yang belum tahu arahnya akan kemana.  aku akan selalu ingat, bahkan mengingatnya. tentang hari yang menjadi sinar dalam pertemuan. dimana pada tanggal 11 bulan 11 tahun 2011, aku menemukannya. ia membuat jiwaku terasa aneh. setelah pertemuan aku di buat ragu, namun ia datang kembali bersama keajaiban. aku mulai memiliki rasa, aku juga ingin ia merasakan hal yang sama, hingga mengharuskanku berupaya, untuk membuatnya jatuh cinta.


Ia aku sebut sebagai wanita dibawah rembulan, sebab malam itu telah di nanti oleh kerinduan, ia tengah terduduk termenung di atas bangku halte, rembulan yang bersinar di atasnya memberi sebuah isyarat, ia menunggu kekasihnya.


Aku tidak datang bersama setangkai mawar, untuk melambangkan cinta dan kasih sayang. Aku juga tidak membawakan cokelat untuknya, sebagai wujud perhatian dan komitmen, namun aku datang bersama bintang-bintang yang akan menemaninya bersinar.


Kampung domba menghiasi bagian dalam cerita, cerita tentang hari yang panjang, dimana aku mendadak terkapar. Ia hadirkan pelukan hangat, sebagai bentuk kepeduliannya, aku membalasnya lewat sebuah alunan melody.


Ia tahu segala hal tentangku, lewat suara leni. Hingga puncak dari sebuah rasa itu terwujud, aku mencintainya, ia pun mencintaiku. Kami menjadi dua insan yang saling melengkapi.


Kenyataan tak selalu di pihak baik, problema akan terjadi dalam setiap kehidupan, aku masih sempat melihatnya tersenyum, sebelum senyuman itu sirna. Aku tetap berjuang, berharap harapannya hidup.


Ia lebih memilih mengutuk dirinya, ketimbang mempertahankan. Hingga hari mengharuskanku untuk pamit. Entah mengharuskan pergi untuk selamanya, atau hanya sekedar menunggu waktu istirahat. Yang jelas, aku harus mengalahkan waktu, atau tidak waktu yang akan mengalahkanku.

__ADS_1


25 januari 2012. Di tandai sebagai hari yang berduka, sekaligus menjadi hari terakhir aku bisa melihat meera.


__ADS_2