
dua hari sebelum tahun baru itu tiba. aku sempat ijin kepada meera, akan berangkat menuju pulau umang bersama teman-temanku. keadaan masih baik, komunikasi tetap stabil. aku leni serta 8 teman lainnya berangkat ke pulau umang, kami menyewa sebuah vila untuk tinggal selama beberapa.
aku tidak menceritakan apa yang terjadi selama berada di pulau itu. yang aku sayangkan jaringan telepon sangat lah buruk, sehingga aku tak bisa berkomunikasi dengan meera.
secara resmi tahun telah berganti, berjuta kembang api menandainya. cerita baru akan segera di mulai, warna-warna akan berdatangan untuk di lewati, entah akan menyukainya atau tidak.
satu minggu waktu sudah terlalui tanpa dirinya, aku sudah rindu, akan membuat cerita apa lagi dengannya untuk mengisi tahun yang baru itu.
sesampainya kembali ke kota pandeglang, aku menghubungi meera, untuk menanyakan kabar, serta berada di mana dia saat itu. ketika aku melihat bbmnya, nomorku sudah terblokir. aku menghubungi lewat panggilan suara, gak taunya nomor itu sudah tak aktip lagi. ada apa? apa yang terjadi. aku masih berpikir positif, barangkali meera mengganti nomor ponselnya, dan belum sempat mengabariku.
aku mendatangi tempatnya mengajar, berharap bisa bertemu. sesampainya di tempat itu, aku tak langsung bisa bertemu dengan meera, melainkan bertemu dengan dian. dia langsung aku tanya: "meera sudah balik kesini belom?" dian menjawab untuk memberitahukan bahwasanya meera belum datang kembali ke asrama. dian juga menambahkan kalau meera masih berada di rumahnya. mau tidak mau, aku harus datang kerumahnya untuk sekalian menjemput. sebelum pergi dari hadapan dian, aku sempat tukeran nomor hanpone dengannya, untuk memeprmudah menanyakan tentang meera jika di butuhkan.
aku putuskan berangkat menuju rumah meera. tiba di depan rumahnya, bising dari suara motorku sudah terdengar, meera mengintip dari balik jendela kamarnya. ia menyadari kedatanganku. namun meera memilih untuk bersembunyi, dan menyuruh ayahnya untuk menemuiku.
aku mulai mengetuk rumahnya sekalian memberi salam. rumah terdengar sepi, hanya ada suara ayahnya yang menjawab salam dariku. ayahnya membuka pintu, menemukan diriku. "eh da~nu!"
aku memberinya senyum ramah sambil bertanya kabar darinya. ia pun menjawab dengar kabar baik. aneh, aku tak di persilahkan masuk olehnya, aku langsung menanyakan pada intinya saja: "meeranya ada gk pa?" tanyaku. sedikit ragu akan menjawabnya. "me mera sudah berangkat tadi pagi!" jawab ayahnya membuatku berpikir, masa aku meera perselisihan jalan? jika benar tadi pagi dia berangkat, seharusnya ia sudah sampai saat aku mendatangi tempatnya mengajar.
"oh. meeranya sudah berangkat yah?" tanyaku mempertegas. "iyah." jawab ayahnya.
dengan kehampaan aku undur diri dari rumah itu, mereka sudah tak ramah lagi padaku. meera yang menyuruh ayahnya untuk berbohong, untuk menghindari pertemuan denganku. kenapa harus begitu cepat menghentikan ceritanya, bahkan awal tahun baru itu pun tak mengijinkan lagi untuk melihat senyumnya kembali.
waktu memasuki sore. aku termenung menyaksikan matahari terbenam, menunggu rembulan hadir menunjukkan cahayanya.
aku menghubungi dian, menanyakan kedatangan meera. dian menjawab kalau meera belum juga balik ke asrama. jawaban itu semakin membuatku bingung, aku yakin, diantara dian dan ayahnya meera, pasti ada yang berbohong.
malam dengan jiwa yang meronta, aku datang ke rumah beni. sesampai di sana sudah ada leni tengah bermain laptop, sementara beni sendiri tengah memetik senar gitar, sambil nyanyi aam eem.
"napa lo? muka layu kaya gitu?" tanya beni melihat kondisiku yang murung.
"bukannya seharusnya lo senang, karena tadi siang udah bertemu ayangnya kan?" timpal leni.
"gw gak sempat bertemu dengannya!" jawabku.
"pantesan." ucap beni.
"kok bisa nu?" tanya leni.
"gw juga bingung. tadi gw datengin ke sekolah tempatnya mengajar, gw ketemu dian, kata dia meera belum balik, masih di rumahnya, trus gw samperin kerumahnya, disana bertemu ayahnya dan bilang kalau meera sudah berangkat ke asrama. gw bingung siapa yang benar di antara jawaban mereka itu." tuturku dengan apa yang terjadi pada hari itu.
"sebelum itu, tak ada masalahkan?" tanya leni kembali.
"terakhir gw bertemu meera waktu di pangkalan itu. lo denger sendiri kan dia mengijinkanku pergi ke pulau umang bersama kalian? bahkan sebelum berangkat gw juga meminta ijin kembali padanya, masih sempat mengirimkan kata-kata gombal untuknya."
"gw penasaran nu, pengen lihat lo seperti apa, jika sedang patah hati!" ucap guyon si beni.
leni menanggapi: "gila lo."
"iyah tuh, pacar lo aneh banget." jawabku.
"bukan gitu, selama gw berteman dengan lo, gw belum pernah liat lo jatuh cinta, apalagi patah hati, nah sekarang, gw udah liat lo jatuh cinta. luar biasa, lo udah kaya sang pujangga aja. tinggal nunggu lo buat patah hati, akan sehancur apa."
"jangan berpikiran kaya gitu lah, harusnya kita do'akan agar hubungan danu dan meera bisa langgeng sampai tutup usia nanti. gw bisa melihat danu jatuh cinta aja merupakan sebuah anugerah, dan anugerahnya itu meera sendiri." jawab leni kembali menanggapi ucapan yang di lontarkan oleh beni.
"gw juga manusia biasa, bisa terluka. gw juga punya hak untuk mencintai dan dicintai, hanya saja, gw sedikit terlambat menunggu giliran untuk mencintainya."
tidak ada seorangpun di dunia ini, yang mengharapkan dirinya hancur, apalagi menghancurkan. jika ada yang menghancurkan ketahuilah dia bukan manusia, melainkan iblis yang menyamar sebagai manusia.
beberapa hari terus berlalu dari tahun yang baru itu. belum sekali pun aku bisa bertemu meera, jangankan melihat senyumnya, menyapa pun aku tak mampuh. pukul 8 malam, aku lagi nongkrong di pangkalan. penanda bbm masuk berbunyi, aku membukanya, menemukan pesan dari dian, kalau saat itu dia tengah bersama meera di sebuah tempat fotocopian. tak tunggu lama aku segera meluncur.
sesuai dengan tempat yang di tunjukkan oleh dian, aku bisa melihat meera, aku urungkan niat untuk langsung menemuinya, memilih mengendap sambil memperhatikan dari kejauhan, menunggu momen agar bisa berbicara empat mata dengannya. meera dan dian yang sudah selesai di tempat fotocopian, segera meninggalkan untuk menuju toko buku. di depan sebuah toko buku itulah aku menghadangnya untuk memperlihatkan diri.
"da~nu" tuturnya mengayun, seakan tak percaya melihat kehadiranku, raut wajahnya sangat tercengang, sebuah pertemuan yang sangat di sesali baginya.
"hai." seperti biasa aku layangkan sapaan padanya, seolah tak terjadi apa-apa. dia tak membalas, bahkan tak sedikitpun tersenyum, melainkan hanya tertunduk sesegera mungkin menjauh dariku. aku menahan lengannya, agar langkahnya terhenti.
"bisa kamu jelaskan, apa yang terjadi?" tanyaku padanya. dia hanya terdiam dengan seribu bahasa.
"kesalahan apa yang telah aku lakukan, hingga membuatmu menghindar seperti ini?" tanyaku kembali. meera tetap terdiam dengan rasa bingungnya.
__ADS_1
dian yang bersamanya, memahami situasi tersebut, hingga ia memutuskan untuk pergi meninggalkan aku dan meera. di depan toko buku tersebut, aku dan meera jadi tontonan bagi orang-orang yang melintas, meera sadar, genggaman tanganku terhadapnya tak akan mungkin aku lepaskan begitu saja, sebelum dapat penjelasan darinya. "kita bicara di sana{samping toko}" ucap meera mengajak. aku mengikutinya.
"jika kita bisa mengenal, maka harus sanggup melupakan. jika kita pernah tertawa, jangan lupakan tangisan." ucapnya tak membuatku mengerti.
"jangan permainkan aku dengan kata-kata itu! cukup katakan apa yang terjadi!"
"kejadiannya menimpaku, namun sayang harus melibatkanmu. tak semua alasannya harus kamu tahu, cukup berhenti dan mulai lupakan semua tentang kita."
"jika tidak melibatkanku, aku tidak akan memaksa untuk bertanya apa alasnya! namun kamu bilang ini melibatkanku, jadi aku harus tahu apa yang terjadi."
aku bukan anak kecil, mau pun orang bodoh, yang begitusaja menuruti perintahnya tanpa bertanya kenapa? setiap orang pasti akan berpikir, kenapa kemaren baik-baik saja, ko hari ini berubah. tanpa sedikit tahu penyebabnya.
"bagaimana mungkin ra, aku tidak bertanya ada apa? mendadak kamu memintaku untuk berhenti dan melupakanmu?"
meera tetap terdiam, seolah ingin menangis bahkan menjerit. ia memintaku untuk melepaskan tangannya. lalu aku bilang: "tak semudah itu ra. untuk melepaskan, apa yang sudah mengikat."
"kita pasti bisa, berjalan sendiri-sendiri. seolah tak pernah terjadi apa-apa diantara kita sebelumnya."
semakin dalam ucapannya, semakin membuatku tak mengerti. keputusannya meminta berpisah, tidak di sertai dengan alasan yang kuat.
"apa yang kamu bicarakan? semudah itu kah membalikan keadaan? selama ini kita sudah melewati hari yang indah, bahkan kata-katamu kemaren yang bilang mencintaiku, masih hangat dan terngiang dalam ingatan, lantas kamu anggap apa?"
"anggap saja semua itu mimpi bagi kita. dan kini kita sudah terbangun, merasakan kenyataan yang sesungguhnya."
aku menghelakan napas dalam-dalam, dengan ketidak percayaan tentang kenyataan, bahwa kejadian kemarin itu hanyalah di anggap mimpi. sekujur tubuhku mulai melemah, pegangan tanganku yang semula erat, kini terlepas membiarkannya pergi begitu saja tanpa ada lagi kata yang bisa aku ucapkan.
--o0o---
hari-hariku di liputi dengan rasa tak percaya. baru kemarin aku menemukan titik, tapi sekarang berubah tanya. aku tak bisa lagi bercerita tentang rembulan itu, karena sinarnya sudah meredup.
malam menyelimuti, sudah tak ada lagi kabar yang bisa aku dengar darinya. aku hanya bisa terduduk lesu tak berdaya di pangkalan. tak tahu pada siapa aku harus mengadu tentang itu. leni dan beni sudah berangkat ke bandung, apakah pada petikan melodi, aku bisa menceritakan keluh kesah ku itu? atau pada kertas yang kosong, yang kemudian aku menjawabnya sendiri.
di tengah perlamunanku yang dalam, muncul panggilan masuk dari dian. walaupun malas, namun aku tetap menerimanya. lewat panggilan itu, dian bertanya tentang keberadaanku. lalu aku jawab, kalau aku tengah berada di pangkalan badak kulon. setelah mengetahui keberadaanku, dian berencana akan mendatanginya, dia bilang ada hal yang ingin di bicarakan denganku, mengenai meera. jika bicara tentang meera, aku mempersilahkannya.
setelah menemuiku di pangkalan, dian mulai menceritakan tentang meera. menurut dian, belakangan hari ini meera bersikap aneh, sering menjauh bahkan melamun sendiri. dian juga tidak tahu, masalah apa yang tengah menimpa meera. yang lebih parah meera juga menjauhinya.
aku jawab: "jangankan kamu, gw aja gk tahu!" aku juga menambahkan, kalau sebelum tahun baru, hubunganku dengan meera sangat baik-baik saja. dian mulai meraba dengan pemikirannya, hingga muncul satu pemikiran darinya: "jika sebelum itu hubungan kalian baik-baik saja, berarti masalahnya timbul saat meera berada di rumahnya."
ada benarnya juga, apa yang di perkirakannya. ia juga menyuruhku untuk mencari tahu sebab alasnya menjadi seperti itu.
aku mulai berpikir, terlintas dalam benak dengan sosok ilham, aku merasa yakin, selama libur akhir tahun dia berada di rumah istrinya. bukan tak mungkin malam tahun baru itu ia berkumpul bersama keluarganya meera.
aku menghubungi ilham, dia pun mengangkatnya. aku tanya dimana? ilham menjawab sudah kembali ke tanggerang. ilham bekerja di tanggerang satu pabrik dengan ayahku.
"belum juga ketemu, lo udah balik aja!" ucapku.
"basi lo. eh tumben-tumbenan nih nelpon gw?" jawab ilham.
"enggak. gw lagi kangen aja sama lo. semenjak lo udah menikah, kita jadi jarang ketemu."
"malam tahun baru kemaren gw tungguin. gw kira lo bakal datang kerumah meera, nyatanya malah pergi sama teman-teman lo."
perlahan ilham membuka obrolannya tentang malam tahun baruan itu. aku terus memancingnya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. aku yakin tak mungkin ada yang di tutup-tutupi darinya. ilham orangnya sangat terbuka denganku.
"rencananya gitu sih ham. malam tahun baruan kemaren gw bakal merayakannya di rumah meera. lo tau sendiri kan jika si leni dan beni sudah mengajak, gw gak bisa menolaknya. trus malam tahun baruan lo gimana?" sambung tanyaku.
"kita bakar-bakar lah, bakar jagung sama bakar ikan." jawab ilham.
"wah asik tuh! sama siapa aja lo?"
"sama istri dan keluarganya. meera juga ikut loh."
"gw boleh tahu satu hal gak?" tanyaku.
"apa?" jawab ilham.
"apa yang terjadi disana, hingga setelah itu meera menghindar bahkan menjauhi gw?"
"ceritanya begitu panjang nu. sulit jika di jelaskan lewat telpon. lebih baik minggu depan lo kesini, nanti gw ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."
__ADS_1
benar, telah terjadi sesuatu di malam tahun baruan itu. jika tanpa alasan tidak mungkin meera meninggalkanku begitu saja. dengan kata sepakat, minggu depan aku mengunjungi ilham di tanggerang, dia berjanji akan menceritakannya. hingga telpon itu di tutup dian membenarkan dugaannya. "tuh kan benar nu?" aku menganggukkan kepala.
dian, aku tak menyangka. niatan baiknya akan berbuah petaka.
"tadi kesini di antar siapa?" tanyaku pada dian, yang belum sempat di tanyakan, karena pokus membahas meera. aku menghargainya.
"naik ojek." jawab dian. aku merasa tak enak hati, dia sudah bela-belain berusaha menemuiku hanya untuk kabar dari meera. saat itu niatannya masih tulus, ingin membantu memperbaiki hubunganku dengan meera.
"jika tahu kamu ada di sini, apakah pacar kamu gak akan marah?" tanyaku. pertanyaanku membuatnya tergugu. "pacar? tenang aja, gw gak punya pacar tahu!"
"lantas yang kemarin itu siapa?"
"itu cuman teman." jawabnya.
dian membawaku plash back, menceritakan pertemanannya bersama meera.
menurut dia, aku cukup beruntung sebagai satu-satunya lelaki yang bisa meluluhkan hati meera. dia tak tahu, bahwa meera juga adalah satu-satunya perempuan yang bisa membuatku jatuh cinta.
"gw kenal meera sewaktu di kampus. meera merupakan sosok yang pendiam, tekun dalam belajar, serta pokus pada tujuan. meera pernah berkata: "setidaknya jika aku berhasil, bisa membuat kedua orang tuaku bangga. karena jika di tuntut harus membayar semua pengorbanan yang sudah di berikan orang tua kepadanya, dia tidak akan pernah sanggup.
menurut meera juga, tujuan orang tuanya menyekolahkan dia hingga sarjana bukan sekedar gengsi belaka, namun supaya berguna bagi dirnya juga orang lain. perlu lo tahu nu! tak sedikit lelaki di kampus yang mendekatinya, namun mereka gagal, karena komitmen meera sangat kuat. sebelum dia berhasil, dia tak mau pacaran terlebih dahulu. jika dia sudah sampai pada tujuannya, serta ada lelaki yang mencintainya meera lebih memilih menikah, ketimbang pacaran tak berujung." tutur cerita dian tentang komitmen meera.
"apakah meera pernah menuntut itu pada lo?" tanya dian, mengenai tuntutan untuk menikah.
"iyah" aku membenarkan, karena kenyataannya memang seperti itu. "yang lebih menuntut bukan meera, melainkan ibunya." tambah ucapanku.
"kenapa?"
"memang lo gak tahu, kalau ibunya meera tengah sakit keras?"
"gw tahu, bahkan dulu gw sering mengantar meera menjenguk ibunya di rumah sakit. maksudnya, kenapa ibunya yang lebih menuntut lo?"
"ibunya merasa umurnya tidak akan lama lagi. permintaan terakhirnya dia ingin menyaksikan meera menikah, sebelum pergi untuk selamanya."
"lantas, bagaimana lo menanggapinya."
"untuk saat ini, gw merasa belum sepenuhnya siap. gw meminta pada meera untuk di berikan waktu."
"apa mungkin karena hal itu meera menjauhi lo?"
"gw tidak tahu secara pasti. yang jelas, diamnya seorang perempuan, lebih seram ketimbang berada di medan pertempuran.
sakit itu terasa, ketika dia diam tanpa sepatah kata apapun dengan alasannya.
malam akan larut, demi membalas kebaikannya, aku mengantar kembali dian ke tempat asalnya. entah kenapa? dian menjadi orang yang rajin mendatangi pangkalan badak kulon, lebih tepatnya untuk menemuiku. aku rasa tidak masalah, karena tidak akan mengubah rasa.
kehadiran dian bukan lagi membahas tentang meera, alasanya ia ingin berteman akrab denganku. aku sering mengajaknya bermain gitar, bernyanyi, bahkan membaca buku. tak hanya denganku, di pangkalan juga dian mulai akrab dengan yang lain, dia sudah selayaknya bagian dari anggota di gank itu.
pernah di suatu hari, aku mengantarnya pulang terlalu larut malam. membuat pintu gerbangnya di tutup, hal yang serupa yang pernah aku alami bersama meera. bedanya, kali itu aku dan dian berbarengan dengan seorang lelaki yang hendak masuk. lelaki itu merupakan seorang pengajar juga, dian mengenalinya, lelaki itu bernama revi. revi dan dian saling bertanya jawab "abis dari mana?" mereka pun memberikan jawabannya masing-masing.
aku meninggalkan tempat itu, urusan bisa masuk dan tidanya aku tak perduli. aku tak tahu, kalau revi adalah seseorang yang menyukai meera dari dulu. ia juga merupakan keponakan pemilik yayasan itu sendiri. dengan mudahnya revi melewati penjagaan pak sekuriti. ia juga membantu dian agar masuk bersamanya.
saat itulah revi bertanya pada dian, siapa lelaki yang bersamanya? yang di maksud aku. dian menceritakan, kalau aku adalah danu, kekasihnya meera.
"jika dia kekasihnya meera, lantas kenapa bersamamu?" tanya revi curiga.
"em... aku membantunya! karena saat ini mereka tengah ada masalah."
"kamu bilang membantunya? justru gw melihat kamu menyukainya."
"aku. menyukainya? ya engga lah. dia tuh pacar sahabatku sendiri." pungkas dian.
secara perlahan revi mulai mencari tahu, apa penyebab hubunganku dan meera tak harmonis lagi. dengan lugunya dian menceritakan, apa yang pernah aku ceritakan padanya. terutama hal yang menjadi permintaan ibunya meera. revi menganggap itu kesempatan emasnya untuk mendapatkan meera selamanya.
secara garis keras, revi akan menggunakan cara apapun untuk mendapatkan meera. terutama ia ingin menghancurkan hubunganku dengan meera terlebih dahulu, dian akan menjadi senjatanya. revi terus menerus menghasut dian, untuk membantunya menghancurkan hubunganku dan meera. dian juga menyadari kalau revi menyukai meera dari dulu.
secara ajaib, belum genap seminggu. ucapan revi tentang dian yang menyukaiku mulai terpikir dan di sadari olehnya {dian} hasutan itulah yang menjadikan dian ingin memiliki aku. timbulah kesepakatan antara dian dan revi yang akan bekerja sama, revi mendapatkan meera, sementara dian mendapatkanku. itulah yang aku maksud berbuah petaka.
hati memang sulit untuk di tebak. detik ini berkata "iyah" semenit kemudian akan berubah menjadi "tidak."aku belum siap untuk patah hati, belum terlatih akan hal itu.
__ADS_1