GADIS DIBAWAH REMBULAN

GADIS DIBAWAH REMBULAN
wanita di bawah rembulan


__ADS_3

hari di penghujung pekan, tepatnya di malam minggu. sudahku nantikan sejak beberapa hari. karena malam itu ada sebuah kencan, dan itu kencan pertamaku. 


meera, menentukan tempatnya. bukan di mall maupun bioskop yaitu di alun-alun Pandeglang. karena di pandeglang sangat minim tempat bermain, tak ada bioskop apalagi mall. dia hanya menentukan tempat tapi tidak dengan waktunya, jam berapa dia akan bertemu. 


tak mau membuatnya menunggu, dengan kata lain, mending aku yang menunggunya. jadi aku putuskan lebih awal menuju alun-alun. 


di malam yang spesial, bersama orang spesial. aku ingin tampil prima dan energik. saat memilih pakaian di dalam lemari, aku sangat bingung untuk menentukannya. bukan karena terlalu banyak pilihan, namun ke tidak adaannya.  setelah berpikir sejenak, aku mengambil satu, merasa itu adalah yang paling bagus dan baru. 


 sebuah baju kemeja, dengan motif kotak-kotak. bergaris hitam dan merah warna kotaknya. jika di pikir-pikir, sebuah baju yang serupa, dengan baju yang pernah di pakai pak jokowi, saat blusukan waktu menjabat sebagai gubernur jakarta. baju itu pun pemberian dari leni, dua tahun yang lalu.


agar tidak terlihat mencolok, aku menutupinya dengan sebuah jaket jeans berwarna abu-abu tua. sebuah jaket  pemberian dari devi waktu liburan di bandung. 


di bagian alas, aku memakai sepatu yang bermerk vans. di dominasi warna putih, dan beberapa garis hitam di sampingnya. sepatu itu pemberian dari si beni. karena sepatunya terlalu banyak, jadi dia memberikannya untukku.


jangan katakan kalau aku ini orang miskin! aku hanya memanfaatkan apa yang masih bisa di pakai. itulah untungnya bergaul dengan orang kaya.


pukul 19:00 WIB. aku tiba di alun-alun Pandeglang. suasana tampak masih sepi, hanya beberapa pedagang asongan yang berlalu lalang. mungkin dalam pikiran mereka berkata: "tampil banget tuh orang!" itu hanya perasaanku saja, dari cara mereka memandangku. sambil menunggu kedatangannya, aku duduk di salah satu bangku, membuka dan membaca buku novel, cinta suci Zahrana pesanan meera. 


beberapa bab buku novel sudah aku lewati, hampir satu jam aku duduk menunggunya, melum merasakan tanda-tanda kedatangannya. 


dua orang laki-laki bergandengan tangan dengan pasangannya masing-masing. tanpa sengaja datang ke arahku. "da~nu.." sapa salah satu dari mereka sambil menunjuk wajah. mereka berdua adalah jery dan dion. teman SMA dulu. dalam hati menyayangkan, kenapa harus bertemu mereka. 


  "hi..." aku balas sapaan mereka dengan lambaian tangan. hingga pada akhirnya mereka ikut menemaniku duduk.


  "komandan kita nih, waktu SMA!" ucap si dion. "masih jomblo. lo, nu?" sambung sindirnya. sial memang sial, si dion tidak tahu tempat jika melayangkan cibiran. 


   "di Pandeglang. belum ada satu pun wanita yang mampu membuat gw jatuh cinta!" jawabku pada mereka sekalian menyombonginya.


  "songong banget loh! awas nanti jadi pejakah kolot!" timpal jery. 

__ADS_1


  "sebenarnya gw ragu sama lo nu!" ucap jery.


  "ragu kenapa?" jawabku penasaran.


  "lo tuh, suka gk sih, sama perempuan?" tanya jeri kembali "apa jangan-jangan, lo sukanya sama sesama jenis lagi!" sambung ejeknya.


  "anjir lo! lo kira gw gk normal gituh?"


  "bukan gitu! gw cuman gk ngerti aja dengan prinsip hidup lo dalam bidang percintaan!" "jika gw jadi eloh, udah pasti gw pacarin semua anak-anak cewek di sma dulu."


  "iya bener jer! betapa paling gw sayangin, begitu begonya si danu ini, sampai membiarkan si devi yang secara terang-terang suka sama dia!" ucap dion menanggapi jery.  "secara~ siapa sih yang gk suka sama devi? udah cantik, pintar, tajir lagi." tambah dion.


satu hal yang paling aku gk suka dari seseorang, ialah suka ikut campur dalam urusan orang lain. mereka berbicara soal prinsip, terkadang mereka berprinsip hanya menggunakan logika, tidak melibatkan hati. padahal hati itu lembut, tidak berucap kasar dan bohong. dalam organ tubuh manusia adalah hati yang paling mampu bertindak jujur.


kehadiran mereka cukup mengganggu, aku pamit meninggalkannya, dengan alasan akan menemui seseorang. 


langkah demi langkah laun aku jajaki, pandangan tak henti-hentinya mencari, kerap tertunduk lusuh. dalam angan berkata: "mungkinkah meera tak datang ke tempat ini?" tempat yang akan menjadi angker, bagi orang yang datang tanpa berpasangan. 


waktu sudah berada di pukul 22:00 wib. aku tak kunjung bertemu meera. asaku kian memudar, aku rasa malam itu bukan malamku. aku duduk di trotoar jalan, punggungku bersandar ke tiang listrik, tak henti-hentinya telapak tanganku mengelus kepala, kadang juga meraba jidatku sendiri.


 entah suatu kebetulan, atau memang skenario tuhan. secara tiba-tiba, dina melintas di hadapanku, bersama lelaki yang menggandeng tangannya. dia yang melihat, lantas datang menghampiriku dengan sedikit colekannya.  "hi kamu! danu.. kan?" ucapnya cepat sambil menunjuk.  aku yang mendengar sangat terkejut "e~h kamu?" ingatan meraba-raba, seperti mengenalinya.  "ngapain di sini?" tanyanya heran. "aku mencari meera!"


  "la~h... dari tadi meera juga mencari-cari kamu!" 


   "sekarang dia di mana?" tanyaku semangat.


  "tadi mah, di halte bus!" jawab dina memberitahukan. 


mendengar meera yang tengah menunggu, membuat bulu kudukku berdiri. kaki yang tadinya lemah kini mendadak bangkit untuk segera menemui wanitaku.

__ADS_1


 malam itu telah di nanti oleh kerinduan, seorang gadis tengah duduk termenung di bangku halte. aku melihat tangannya menopang dagu. rembulan yang bersinar di atasnya memberi sebuah isyarat, gadis itu menunggu kekasihnya. 


tatapannya kosong, meskipun kendaraan di hadapannya berlalu lalang. pendengarannya sunyi walaupun berada di tengah keramaian. aku datang menghampirinya dari belakang. 


   "aku datang tidak bersama setangkai mawar, sebagai filosofi lambang cinta dan kasih sayang. aku juga tidak membawakanmu coklat, sebagai bentuk perhatian dan komitmen. aku tidak datang sendirian, tapi aku datang bersama bintang-bintang, yang akan menemani rembulan bersinar."


perlahan dia menoleh, menghelakan napas sesaat, menjawab dengan laun  "kata-kata itu, pasti kutipan dari buku yah?"


aku menghampirinya dan duduk di samping. matanya berbinar, senyumnya melebar. kebahagiaan terbesarku adalah melihatnya tersenyum. dan senyumannya dia tunjukkan di hadapanku. "aku sudah mempersiapkan kata-kata itu, waktu masih duduk di bangku dasar."


  "waw... bohong banget!" jawab meera. 


  "udah lama di sini?" tanyaku.


  "semenjak belanda belum masuk ke indonesia!"


  "sudah jatuh cinta belum padaku?"


  "stop! jangan pernah tanyakan hal itu lagi!"


  "jangan pernah larang, untuk embun hinggap di atas daun!"


  "emang kenapa?" tanyanya.


  "dia akan hancur dan lebur."


  "bisa aja nih, sapujangga."


aku pandang wajahnya dengan tajam, memperhatikannya dengan teliti. meera mempersiapkan malam itu dengan maksimal. ada bekas goresan gincu di bibirnya, warnanya merah muda agak tipis. di pipinya memakai blush on yang terlihat sedikit memerah. 

__ADS_1


__ADS_2