
Sebuah buku tulis tampak terbuka di atas meja, bersama pulpen bertinta biru yang dibiarkan menindihnya. Benda dari kertas itu tidak disentuh dan tetap didiamkan tanpa dipandang sedikit pun. Gadis remaja selaku pemilik meniup udara secara perlahan, diiringi perasaannya yang menciptakan pemikiran.
๐๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช. ๐๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ข๐ด ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ค๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ. ๐๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ข๐ด๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฑ๐ข๐จ๐ช ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข, ๐ด๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฃ๐ข๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ.
๐๐ฅ๐ข๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ถ๐ฅ๐ณ๐ข, ๐ด๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ธ๐ถ๐ซ๐ถ๐ฅ ๐ค๐ข๐ช๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ต๐ถ๐ฑ๐ช ๐ญ๐ถ๐ข๐ด ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฑ๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐จ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ด๐ข๐ฉ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ต๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ค๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ธ๐ข๐ณ๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ต๐ช๐ฉ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ.
๐๐ช ๐ด๐ฆ๐จ๐ข๐ญ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ณ๐ถ, ๐ข๐ฏ๐ช๐ญ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช๐ข๐ด๐ข ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ช๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฎ๐ถ๐ต๐ช. ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐บ๐ช ๐ด๐ฆ๐ณ๐ถ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ข๐ฏโ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ต๐ข๐ฑโ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ด๐ช๐ฌ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐ฌ๐ฉ๐ข๐ด ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ. ๐๐ข ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ, ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ, ๐ฎ๐ข๐ถ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ถ๐ฎ๐ข๐ฏ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ.
๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐จ๐ข๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ข๐ฏ๐ช๐ญ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ธ๐ถ๐ซ๐ถ๐ฅ ๐ต๐ณ๐ข๐ฏ๐ด๐ฑ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ณ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐ง๐ฐ๐ต๐ฐ๐ด๐ช๐ฏ๐ต๐ฆ๐ด๐ช๐ด ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ. ๐๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ด๐ต๐ณ๐ช๐ฃ๐ถ๐ต๐ฐ๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐จ๐ถ๐ด ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ.
๐๐ข๐ต๐ข๐ฉ๐ข๐ณ๐ช, ๐ฅ๐ฆ๐ณ๐ถ ๐ฐ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ข๐ถ๐ต๐ข๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฑ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ข๐ถ๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ซ๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ญ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ถ๐ด๐ช๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ถ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ ๐ณ๐ช๐ท๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ช๐ธ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช.
Gadis itu mulai mengembuskan napas setelah membiarkan batinnya berekspresi. Ia memekarkan penglihatannya yang terjerumus kegelapan, demi memandang pulpen biru di atas buku. Rasa tak nyaman membuatnya menyingkirkan alat tulis itu. Saat diri sudah termenung cukup lama, ia pun memilih mengakhiri batin puitisnya.
Setelah beranjak dari kursi, ia menghampiri tempat tidurnya yang terasa dingin, lalu berbaring dan segera memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, keajaiban terjadi pada buku tulisnya. Huruf demi huruf mulai muncul dengan tinta biru keunguan, kemudian saling merangkai kata menjadi kalimat, hingga berakhir membentuk lima paragraf.
Pada lembar buku itu, tertulis kata-kata yang sama seperti ungkapan batinnya. Identitas matahari, deru ombak di lautan, suara menenangkan dari sekelompok pohon, dan keberadaan udara. Semua hal itu tertulis tanpa sepengetahuannya.
Meski kegelapan lebih mendominasi, ventilasi udara menjadi tempat sang bulan menyalurkan kilauannya. Begitu juga dengan angin sejuk yang memberi ketenangan bagi si gadis. Sampai dirinya tertidur melupakan waktu yang biasa dijadikan patokan.
****
Cahaya hangat mulai membangunkan seorang gadis secara perlahan. Rasa kantuk yang masih menyelimuti membuat rasa malas gadis itu semakin tumbuh. Namun, ia segera mengambil posisi duduk, berkedip beberapa kali, kemudian mengibaskan tangan di depan matanya.
Selepas menghirup dan mengembuskan udara secara lembut, senyuman ia ukir di bibirnya yang tipis. Ia terdiam sejenak dengan raut senang, sebelum otaknya memberikan sebuah ingatan.
Netra merah muda gadis itu melihat ke arah timur, tepatnya pada sebuah meja belajar dari kayu. Ada sebuah buku tulis yang tertutup di sana, juga satu pulpen berwarna biru keunguan. Karena rasa penasaran, ia segera menyingkirkan selimutnya dan beranjak dari tempat tidur.
__ADS_1
Rasa dingin memenuhi tubuh saat ia menduduki kursi belajarnya. Tanpa pemikiran buruk, tangannya lekas membuka buku tulis di hadapannya. Beberapa halaman terlihat kosong dan tak tertulis apa pun, membuatnya membolak-balik lembar buku itu dengan cepat. Hingga akhirnya ia menemukan halaman buku yang memiliki tulisan berwarna biru.
Penglihatannya memandang seksama kata-kata yang tertulis di sana, sementara otak mengolah dan mengartikannya. Namun, rasa terkejut langsung terkumpul karena mengenal kata-kata di buku itu.
"๐๐ช๐ฆ๐ต๐ข," gumam gadis itu dengan suara yang tidak terdengar oleh telinga.
Tulisan yang tertulis di buku itu seketika menghilang bagai debu. Meski rasa takut mulai menghantui pikirannya, perasaan lega dan tenang sudah ia terima. Ia lekas menutup buku tersebut dan menghela napas, lalu melihat suasana kamar yang sedikit gelap.
Gadis berkulit putih itu membuat senyuman, kemudian beranjak dari tempatnya duduk dan membuka tirai jendela. Matanya terpejam beberapa saat karena silau. Setelah beradaptasi, ia memberanikan diri untuk memandang cahaya mentari.
"๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ค๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐บ๐ข," lirihnya sebelum berbalik memandang kamarnya yang berantakan.
Gadis tersebut segera merapikan kamarnya, dari tempat tidur dan buku-buku yang berserakan. Tak butuh waktu lama untuknya membereskan kekacauan ini. Namun, suara melodi yang cukup singkat berhasil menghentikannya membersihkan kamar.
Netra pink bak berliannya memandang ke arah cermin panjang di sampingnya. Ia terdiam sesaat melihat pantulan dirinya sendiri. Ia mulai menyentuh pantulannya di cermin, tepat pada rambut pendek berwarna pinknya. ๐๐ฏ๐ช โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ?
Melodi singkat kembali membisik pendengaran, membuatnya segera menoleh ke asal suara. Ia melangkah menuju nakas dan mengambil handphone dari sana. Selepas menyalakannya, ia melihat dan membaca dalam diam: ๐ฑ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ 05.50, ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ 2 ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช.
**
Kehangatan yang diantar dengan cahaya penerang telah sampai. Sapuan angin dengan bunyi halus tak kalah semangat menyalurkan kesejukan. Namun, hal itu sedikit mengguncang dedaunan pohon yang ditanam di pinggir jalan. Meski tidak berpengaruh bagi rumah-rumah kecil dan bangunan lain.
๐๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช.
Gadis remaja bermata merah muda membatin tentang kota tempatnya tinggal, sembari meletakkan sapu di pojok ruangan berdinding putih. Ia berjalan beberapa langkah pada lantai keramik putih, kemudian duduk di bangku yang diduduki tas merah muda.
Udara yang senantiasa membelai rambut pinknya kini membisik pendengaran. Pandangannya sampai melirik ke sekeliling. Tidak ada siapa pun di ruangan kelas kecuali dirinya.
__ADS_1
๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฐ๐ด๐ข๐ฏ.
Sepasang mata gadis itu mulai memandang awan putih penghias langit, kemudian beralih pada siswa-siswi yang berjalan memasuki sekolah.
๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ค๐ช๐ญ. Ekspresi gadis berkulit putih itu terlihat datar, sudah terlanjur mati bosan memandang keluar jendela kelasnya yang berada di lantai dua.
"Sendirian lagi, ya, Ilfra?" Pertanyaan dengan suara rendah nan lembut tiba-tiba terdengar, menghentikan lamunan Ilfra Alfyna Avylinโgadis yang dilanda bosan abadi.
Rasa kaget segera Ilfra asingkan, kemudian tangan kanannya langsung meraih pulpen yang didiamkan di atas meja. Ia pun menulis kalimat pada halaman buku yang kosong, lalu ditunjukkannya pada sang pelontar pertanyaan. Tertulis di kertas buku itu: ๐ ๐ข. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฎ๐ถ, ๐๐ช๐ฏ๐ข.
"Begitu, ya," ucap Shifera Ilina Symphonyโgadis yang mengawali pembicaraanโsembari duduk di sebelah Ilfra.
Gadis itu mulai mengenakan headset bluetooth sambil memandang handphone, tanpa memedulikan Ilfra yang memerhatikannya dengan senyuman.
๐๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ถ๐ด๐ช๐ฌ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ? ๐๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข. Tulis Ilfra di buku yang menjadi alat komunikasinya.
"Ah, baiklah." Lina langsung tanggap dan memberikan satu headset bluetoothnya.
Suara musik menenangkan memasuki pendengaran Ilfra setelah mengenakannya. Ia menikmati alunan nada yang damai itu, sampai suara nyanyian menjadi pusat perhatiannya.
๐๐ฉ? ๐๐ช๐ฏ๐ข โฆ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฏ๐บ๐ช? Seketika, netra pink Ilfra tampak memantulkan cahaya. Perasaan senang dalam dirinya menggerakkan jari untuk memutar pulpen.
๐๐ถ๐ด๐ช๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐บ๐ข๐ฏ๐บ๐ช๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ถ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฏ๐บ๐ช.
"Sudah, ya." Ilfra terbelalak dan langsung menatap mata Lina saat musik tak lagi terdengar. "๐๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข."
Ilfra tertegun setelah mendengar kata bergaung itu, tak percaya dan hanya bisa terdiam bersama ketakutan. Penglihatannya pun menjadi lebih gelap dan sedikit bergelombang, hampir mirip layar televisi yang terkena gangguan.
__ADS_1
๐๐ฉ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข โฆ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ, ๐๐ช๐ฏ๐ข? ๐โ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ '๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ช, ๐๐ช๐ฏ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ต๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ถ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ. ๐๐ฆ๐ช, ๐๐ช๐ฏ๐ข, ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ!
"Ilfra, sadarlah!"