Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 3: Berkunjung


__ADS_3

Suasana tengah malam yang disinari lampu jalanan masih tidak seterang cahaya bulan. Namun, kesunyian yang dimilikinya hampir menandingi ruang hampa di angkasa.


Terlihat seorang gadis remaja melangkah pada jalanan yang sepi. Sembari menggenggam setangkai bunga, kakinya telah menaiki lima anak tangga. Terlihat banyak pohon berbunga putih di tempatnya berada. Ujung matanya tak lagi melihat jalan raya atau bangunan rumah. Hanya memandang sekilas batu nisan yang berdampingan, juga tanah penuh rerumputan di sekitar.


Sang gadis berhenti di depan sebuah batu nisan bertuliskan dua nama orang. Tanpa menghiraukan kesunyian yang menyelimuti, tangannya meletakkan setangkai bunga di atas batu nisan penuh lumut itu. Selepas memandang lama, mata merah mudanya mulai terlihat sayu karena senyum tipis yang disimpulkan. ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ.


๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜‹๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ช โ€ฆ. ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง.


Anila malam pembawa rasa dingin membelai rambut pink pendek gadis itu. Matanya mulai terlihat seperti kaca basah yang retak. Perasaannya bergetar ketika mulut mencoba untuk bicara, tetapi memilih untuk mengulum senyum.


๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง โ€ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ โ€ฆ.


Ujung mata sang gadis mengeluarkan bulir bening yang mengekspresikan perasaannyaโ€”sedih dan tak bisa berkata sedikit pun di depan makam kedua orang tuanya. Setelah diusap air mata yang dianggapnya melemahkan hati, ia bangkit dari posisi jongkok.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ, ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


Ilfra Alfyna Avylin, ia tengah berjalan meninggalkan batu nisan tempat kedua orang tuanya dimakamkan. Dengan perasaan sedih yang tak cukup diutarakan oleh air mata, ia tiba-tiba melebarkan mata penuh kaget. Matanya menangkap sosok aneh berwarna hitam menyerupai serigala di depannya. Pandangan sosok itu menatap tajam netra merah mudanya, menciptakan rasa gemetar selain kesedihan.


Sosok itu menggertak dengan suara geraman dan taring tajam. Tampak diam dan hanya berani menunjukkan mata merah menyala di depan gerbang merah yang disebut Tori. Namun, ketakutan Ilfra menjadi hilang karena itu. Tak ada tanda tanya karena merasa kenal dengan sosok di hadapannya. Mulutnya terbuka kecil dan mengeluarkan udara dingin yang menjadi asap. "๐˜’๐˜ช๐˜ฎ๐˜ชโ€”"


"Ilfra?"


Seketika, sosok bagai siluet di hadapan Ilfra menghilang. Ia langsung menoleh ke belakang demi melihat siapa yang memanggil. Tampak di kejauhan seorang gadis remaja berambut panjang berwarna putih. Mata biru gadis itu terlihat sama seperti langit tengah malam saat iniโ€”menyinarkan cahaya gelap dan kilaunya bintang.


๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข?


Ilfra berbalik dan melangkah mendekati si gadis bermata malam. Semakin yakin dirinya bahwa gadis itu adalah Shifera Ilina Symphony. Ekspresi wajah yang tak terlalu ceria dari gadis itu terlihat jelas. Buku tulis dan pulpen langsung ia ambil dari tas selempang berwarna hitam di pinggang.


"Apa yang kau lakukan di sini tengah malam?" Lina melontarkan pertanyaan setelah melihat jelas gadis di depannya adalah Ilfra. Namun, pertanyaan yang hampir sama juga ditulis Ilfra pada buku.

__ADS_1


๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?


Keduanya sama-sama terkejut, tetapi segera menyimpulkan senyum sebagai jawaban awal. Ilfra segera menulis jawaban di buku, sementara Lina menunggu dengan senyuman yang masih hidup.


๐˜‰๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ. ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข?


"Sedang mencari inspirasi." Lina mengalihkan pandangannya ke langit yang tak menampakkan banyak bintang. Ia berpura-pura tak peduli bahwa Ilfra tengah terkejut mendengar jawabannya. "Aku selalu bangun di waktu malam, seperti saat ini. Langit malam dan suasana kota yang sunyi, aku tak bisa meninggalkan kenyamanan ini."


Ilfra terdiam sejenak dan kembali menulis kalimat. Lina melirik mata pink Ilfra yang fokus membantu tangan menulis. Setelah selesai, Lina membaca dalam diam tulisan yang ditunjukkan Ilfra. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ค๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ.


Senyum tipis menghias wajah manis Ilfra, mendatangkan udara malam yang berembus dengan tenang. Lina pun ikut tersenyum sebelum membalikkan badan.


"Jangan sungkan-sungkan berkomunikasi denganku, ya, Ilfra. Meski hanya menggunakan tulisan."


Lina segera pergi meninggalkan Ilfra yang masih mengulas senyuman. Sosoknya yang pergi melewati cahaya lampu jalan terlihat menyatu dengan kegelapan. Sambil memejamkan mata sejenak, Ilfra mulai memberanikan diri untuk mengucapkan kata.


"๐˜ ๐˜ข, ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข." Ilfra membuka penglihatannya yang sedikit berkaca. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ.


Waktu tengah malam masih terasa kental. Jalanan berupa paving blok Ilfra pijak tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Hingga rasa basah sedikit ia rasakan ketika sepatunya melangkah di jalan aspal.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ?


Ilfra mengarahkan pandangannya ke segala arah. Lampu jalan yang menyalakan warna biru, juga lampu bercahaya putih dari rumah dan toko kecil. Hanya ada satu pohon di pertigaan tempatnya berhenti.


๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช โ€ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Helaan napas disuarakan Ilfra dengan lembut, sementara mata ia pejamkan bersama tangan yang diangkat. Cahaya biru dari lampu ia halangi, tanpa memikirkan desis angin yang menyibak rambut pinknya.


"๐˜ ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช." Ilfra berkata setelah merasakan bunga salju yang menyentuh jarinya.

__ADS_1


Rambut pendeknya yang tak menyentuh pundak dibelai lembut oleh napas dingin. Matanya semakin terpejam saat sengatan dingin tiba-tiba datang.


๐˜ˆโ€“๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? Ia terkejut selepas memilih membuka penglihatan.


Bongkahan es bening bagaikan kaca tampak jelas di hadapannya. Meskipun mata berkedip beberapa kali karena tak percaya, terdapat sosok hitam aneh menyerupai manusia di dalamnya.


Ilfra mulai gemetar ketakutan karena ribuan mata pada sosok itu. Retakan pun tercipta pada bongkahan es yang membekukan sosok hitam tersebut. Mata pink Ilfra langsung bersinar terang, sementara mulutnya mengucapkan satu kata tanpa pikir panjang.


"๐˜›๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ!"


Tiba-tiba, suasana terasa hampa tanpa bunyi lirih dari udara. Kesunyian malam yang hanya dirasakan olehnya semakin menjadi setelah kata itu diucapkan. Retakan yang hampir membebaskan sosok di dalam bongkahan es telah berhenti. Namun, napas sesak langsung dimulai dan membuatnya terduduk di jalanan.


"๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข, ๐˜”๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข!"


"๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข!"


"๐˜”๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข."


"๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข."


"๐˜”๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ."


"๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข!"


"๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ป๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ!" Dua kata yang diucapkan Ilfra dengan suara lembut menggaung telah mendatangkan petaka. Sapuan angin berkecepatan tinggi langsung datang menghancurkan bongkahan es, membuat sosok yang pantas disebut monster terbebas. Namun, sosok yang memiliki ribuan mata berwarna merah itu terdiam ketika tubuh Ilfra disinari cahaya.


"๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ! ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ! ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ!"


Hawa dingin tiba-tiba berkumpul di kedua pundak Ilfra. Sangat terasa dua telapak tangan menyentuh dan menyalurkan perasaan itu padanya. Matanya yang masih memandang jalanan aspal terbelalak dengan diam setelah mulut berkata banyak. Pemikiran otaknya menerka tentang suara menggaung sosok di belakang, lalu menambah ketakutan akan ucapan yang mungkin akan keluar.

__ADS_1


"๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข!"


__ADS_2