
Suasana tengah malam yang disinari lampu jalanan masih tidak seterang cahaya bulan. Namun, kesunyian yang dimilikinya hampir menandingi ruang hampa di angkasa.
Terlihat seorang gadis remaja melangkah pada jalanan yang sepi. Sembari menggenggam setangkai bunga, kakinya telah menaiki lima anak tangga. Terlihat banyak pohon berbunga putih di tempatnya berada. Ujung matanya tak lagi melihat jalan raya atau bangunan rumah. Hanya memandang sekilas batu nisan yang berdampingan, juga tanah penuh rerumputan di sekitar.
Sang gadis berhenti di depan sebuah batu nisan bertuliskan dua nama orang. Tanpa menghiraukan kesunyian yang menyelimuti, tangannya meletakkan setangkai bunga di atas batu nisan penuh lumut itu. Selepas memandang lama, mata merah mudanya mulai terlihat sayu karena senyum tipis yang disimpulkan. ๐๐ข๐ข๐ง ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ, ๐๐บ๐ข๐ฉ, ๐๐ฃ๐ถ.
๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฏ๐จ. ๐๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ด๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ. ๐๐ข๐ฉ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐ช ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ช โฆ. ๐๐ข๐ข๐ง.
Anila malam pembawa rasa dingin membelai rambut pink pendek gadis itu. Matanya mulai terlihat seperti kaca basah yang retak. Perasaannya bergetar ketika mulut mencoba untuk bicara, tetapi memilih untuk mengulum senyum.
๐๐ข๐ข๐ง โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐บ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฃ๐ถ. ๐๐ข๐ข๐ง. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐๐ฃ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ. ๐๐บ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ช๐ฌ๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ด๐ข ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ. ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ โฆ.
Ujung mata sang gadis mengeluarkan bulir bening yang mengekspresikan perasaannyaโsedih dan tak bisa berkata sedikit pun di depan makam kedua orang tuanya. Setelah diusap air mata yang dianggapnya melemahkan hati, ia bangkit dari posisi jongkok.
๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฏ, ๐๐ฃ๐ถ, ๐๐บ๐ข๐ฉ. ๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ด๐ข๐ญ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฌ๐ถ.
Ilfra Alfyna Avylin, ia tengah berjalan meninggalkan batu nisan tempat kedua orang tuanya dimakamkan. Dengan perasaan sedih yang tak cukup diutarakan oleh air mata, ia tiba-tiba melebarkan mata penuh kaget. Matanya menangkap sosok aneh berwarna hitam menyerupai serigala di depannya. Pandangan sosok itu menatap tajam netra merah mudanya, menciptakan rasa gemetar selain kesedihan.
Sosok itu menggertak dengan suara geraman dan taring tajam. Tampak diam dan hanya berani menunjukkan mata merah menyala di depan gerbang merah yang disebut Tori. Namun, ketakutan Ilfra menjadi hilang karena itu. Tak ada tanda tanya karena merasa kenal dengan sosok di hadapannya. Mulutnya terbuka kecil dan mengeluarkan udara dingin yang menjadi asap. "๐๐ช๐ฎ๐ชโ"
"Ilfra?"
Seketika, sosok bagai siluet di hadapan Ilfra menghilang. Ia langsung menoleh ke belakang demi melihat siapa yang memanggil. Tampak di kejauhan seorang gadis remaja berambut panjang berwarna putih. Mata biru gadis itu terlihat sama seperti langit tengah malam saat iniโmenyinarkan cahaya gelap dan kilaunya bintang.
๐๐ช๐ฏ๐ข?
Ilfra berbalik dan melangkah mendekati si gadis bermata malam. Semakin yakin dirinya bahwa gadis itu adalah Shifera Ilina Symphony. Ekspresi wajah yang tak terlalu ceria dari gadis itu terlihat jelas. Buku tulis dan pulpen langsung ia ambil dari tas selempang berwarna hitam di pinggang.
"Apa yang kau lakukan di sini tengah malam?" Lina melontarkan pertanyaan setelah melihat jelas gadis di depannya adalah Ilfra. Namun, pertanyaan yang hampir sama juga ditulis Ilfra pada buku.
__ADS_1
๐๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช?
Keduanya sama-sama terkejut, tetapi segera menyimpulkan senyum sebagai jawaban awal. Ilfra segera menulis jawaban di buku, sementara Lina menunggu dengan senyuman yang masih hidup.
๐๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฎ. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐๐ช๐ฏ๐ข?
"Sedang mencari inspirasi." Lina mengalihkan pandangannya ke langit yang tak menampakkan banyak bintang. Ia berpura-pura tak peduli bahwa Ilfra tengah terkejut mendengar jawabannya. "Aku selalu bangun di waktu malam, seperti saat ini. Langit malam dan suasana kota yang sunyi, aku tak bisa meninggalkan kenyamanan ini."
Ilfra terdiam sejenak dan kembali menulis kalimat. Lina melirik mata pink Ilfra yang fokus membantu tangan menulis. Setelah selesai, Lina membaca dalam diam tulisan yang ditunjukkan Ilfra. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ถ๐ค๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ.
Senyum tipis menghias wajah manis Ilfra, mendatangkan udara malam yang berembus dengan tenang. Lina pun ikut tersenyum sebelum membalikkan badan.
"Jangan sungkan-sungkan berkomunikasi denganku, ya, Ilfra. Meski hanya menggunakan tulisan."
Lina segera pergi meninggalkan Ilfra yang masih mengulas senyuman. Sosoknya yang pergi melewati cahaya lampu jalan terlihat menyatu dengan kegelapan. Sambil memejamkan mata sejenak, Ilfra mulai memberanikan diri untuk mengucapkan kata.
"๐ ๐ข, ๐๐ช๐ฏ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข." Ilfra membuka penglihatannya yang sedikit berkaca. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ช๐ฌ๐ถ.
Waktu tengah malam masih terasa kental. Jalanan berupa paving blok Ilfra pijak tanpa meninggalkan jejak yang jelas. Hingga rasa basah sedikit ia rasakan ketika sepatunya melangkah di jalan aspal.
๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ต๐ข๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฃ๐ข๐ด๐ข๐ฉ?
Ilfra mengarahkan pandangannya ke segala arah. Lampu jalan yang menyalakan warna biru, juga lampu bercahaya putih dari rumah dan toko kecil. Hanya ada satu pohon di pertigaan tempatnya berhenti.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ซ๐ถ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช.
Helaan napas disuarakan Ilfra dengan lembut, sementara mata ia pejamkan bersama tangan yang diangkat. Cahaya biru dari lampu ia halangi, tanpa memikirkan desis angin yang menyibak rambut pinknya.
"๐ ๐ถ๐ฌ๐ช." Ilfra berkata setelah merasakan bunga salju yang menyentuh jarinya.
__ADS_1
Rambut pendeknya yang tak menyentuh pundak dibelai lembut oleh napas dingin. Matanya semakin terpejam saat sengatan dingin tiba-tiba datang.
๐โ๐ข๐ฑ๐ข โฆ ๐ช๐ฏ๐ช? Ia terkejut selepas memilih membuka penglihatan.
Bongkahan es bening bagaikan kaca tampak jelas di hadapannya. Meskipun mata berkedip beberapa kali karena tak percaya, terdapat sosok hitam aneh menyerupai manusia di dalamnya.
Ilfra mulai gemetar ketakutan karena ribuan mata pada sosok itu. Retakan pun tercipta pada bongkahan es yang membekukan sosok hitam tersebut. Mata pink Ilfra langsung bersinar terang, sementara mulutnya mengucapkan satu kata tanpa pikir panjang.
"๐๐ฐ๐ฎ๐ข๐ณ๐ถ!"
Tiba-tiba, suasana terasa hampa tanpa bunyi lirih dari udara. Kesunyian malam yang hanya dirasakan olehnya semakin menjadi setelah kata itu diucapkan. Retakan yang hampir membebaskan sosok di dalam bongkahan es telah berhenti. Namun, napas sesak langsung dimulai dan membuatnya terduduk di jalanan.
"๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข, ๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข!"
"๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข!"
"๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข."
"๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข."
"๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ."
"๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข!"
"๐๐ฉ๐ช๐ป๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ช ๐ด๐ฉ๐ช๐ต๐ฆ!" Dua kata yang diucapkan Ilfra dengan suara lembut menggaung telah mendatangkan petaka. Sapuan angin berkecepatan tinggi langsung datang menghancurkan bongkahan es, membuat sosok yang pantas disebut monster terbebas. Namun, sosok yang memiliki ribuan mata berwarna merah itu terdiam ketika tubuh Ilfra disinari cahaya.
"๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ๐ถ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ด๐ช ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ช๐ฏ๐ช! ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฌ๐ถ! ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ! ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ! ๐๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ!"
Hawa dingin tiba-tiba berkumpul di kedua pundak Ilfra. Sangat terasa dua telapak tangan menyentuh dan menyalurkan perasaan itu padanya. Matanya yang masih memandang jalanan aspal terbelalak dengan diam setelah mulut berkata banyak. Pemikiran otaknya menerka tentang suara menggaung sosok di belakang, lalu menambah ketakutan akan ucapan yang mungkin akan keluar.
__ADS_1
"๐๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ, ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข!"