Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 5: Mobil


__ADS_3

๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜š๐˜”๐˜ˆ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ, ๐˜บ๐˜ข? Sembari memandang keluar jendela kelas, rambut merah muda Ilfra tersibak angin dingin yang menyejukkan. Indra pendengaran masih mengetahui suasana kelas yang masih sepiโ€”hanya ada dirinya sendiri.


๐˜‘๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.


Pikiran dicobanya untuk melihat lebih jelas waktu sebelum ia bisa duduk di bangku, tepatnya pada gadis yang memberi rasa penasaran tanpa sadar. ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ด, ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ต๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜Œ๐˜ฌ๐˜ด๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ, ๐˜“๐˜ช๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ โ€ฆ.


"Selamat pagi, Ilfra. Kau datang awal seperti biasa, ya." Ia segera menoleh mendengar namanya dipanggil. Terlihat gadis berambut putih bagai salju menghampirinya. Ilfraโ€”gadis yang melamun dengan pandangan mata berkilauโ€”lekas mengambil buku dan pulpen, kemudian menulis kalimat untuk diperlihatkan. ๐˜—๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข, ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข.


**


Mentari yang suci masih bersinar meski awan putih menyelimuti bumi. Hingga pukul tujuh tepat, bunyi bel masuk berupa melodi unik terdengar, membuat murid-murid segera memasuki kelasnya masing-masing.


Waktu pelajaran pertama dimulai, lalu berakhir sekitar pukul sembilan tepat. Beberapa murid beranjak pergi menuju kantin, menghasilkan suasana kelas yang sepi. Namun, masih tersisa sedikit murid yang tak berminat untuk keluar. ๐˜–๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ.


Tangan kanan Ilfra bergerak mengambil kotak makan di dalam tas. Setelah diletakkan di meja, ia membukanya sehingga terlihat makanan yang tersusun rapi dan cantik. Nasi isi sosis digulung telor dadar dan daun kol iris tipis sebagai lalapan, juga saus tomat beserta kecap asin untuk tambahan rasa. Ia memandangnya dengan rasa lapar yang mulai bergejolak.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ!


๐˜Œ๐˜ถ๐˜ฎ. ๐˜™๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ. Ia menampilkan raut senang setelah satu suap makanan telah dikuyah, tanpa memedulikan dua tiga murid melihatnya makan. Sampai sahabat sebangkunya datang membawa mi cup instan di tangan.


"Kau makan dengan lahap, ya. Makananmu pasti enak, aku jadi iri."


Ilfra melirik ke arah Lina yang baru saja duduk di sebelahnya, kemudian memakan mi instan dengan santai. Ia menelan makanannya sebelum mengambil buku dan pulpen di dalam tas, kemudian menunjukkan tulisan yang ditulis dengan tinta hitam.


" 'Ini hanya makanan biasa. Kau juga bisa membuatnya, Lina.' Kurasa kau benar," ujar Lina membaca tulisannya dengan suara yang bisa didengar murid-murid lain. Meski terkejut karena tulisannya dibaca, Ilfra hanya bisa tersenyum dan kembali melanjutkan makan. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ? ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?


**

__ADS_1


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ-๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜–๐˜ฉ, ๐˜ช๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ด. ๐˜๐˜ข๐˜ข๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Ilfra terpaksa duduk diam di kelas sembari melihat ke luar jendela. Butiran putih turun membawa banyak teman dengan kecepatan tinggi. Terdengar seperti hujan biasa, tetapi suaranya tak bisa dijelaskan karena angin yang menyamarkan.


"Bagaimana kalau kau ikut denganku?" Ilfra berbalik memandang sahabatnya yang selalu menunjukkan ekspresi biasaโ€”datar dan hampir tak berekspresi. Segera tangannya menulis dua kata di kertas dan memperlihatkan pada Lina, sang sahabat. ๐˜’๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข?


Semua pandangan seketika tertuju pada Lina yang beranjak dari bangku. Ilfra langsung mengikuti Lina yang telah berjalan keluar kelas. Pandangan murid-murid lain yang fokus padanya tak diacuhkan.


๐˜Œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ-๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ.


Tanpa menggendong tas atau menggenggam buku di tangan, ia dan Lina melangkah melewati koridor yang sepi. Meski terlihat pintu kelas yang terbuka dan beberapa murid di dalam, tak sedikit pun matanya melirik ke sana. Baginya, lebih menarik hujan salju yang perlahan mereda dan membawa ketenangan.


๐˜Œ๐˜ฉ?


Ilfra berhenti ketika melihat Lina berbelok dan masuk ke dalam toilet. Sedikit terkejut, tetapi pikiran tak bisa memaksa mulut untuk mengatakannya. Selang beberapa menit, ia dapat melihat sosok Lina yang keluar dengan ekspresi sama, lalu berdiam di dekat pintu toilet.


Ia tersadar gadis berambut putih panjang itu membalas tatapan matanya yang mengisyaratkan tanda tanya. Tampilan datar terlihat dari mata biru bak langit malam sang sahabat. Tak lama setelahnya, ia mulai dikejutkan ketika satu pertanyaan diutarakan gadis yang dipanggil Lina. Rasa kosong dalam dirinya segera tergantikan dengan keanehan.


**


๐˜Œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช โ€ฆ.


Ilfra telah mengganti sepatu putih yang biasa dipakai untuk berpijak pada lantai sekolah. Netra pinknya melihat ke arah gerbang sekolah yang tampak kecil di kejauhan. Meskipun, tujuannya melihat ke sana adalah mengecek hujan salju yang telah berhenti sempurna.


Terlihat beberapa murid melewatinya dan telah melangkah keluar dari gedung sekolah. Seusai lorong tempatnya berdiri sepi dan tak dilewati murid-murid lain, ia mengarahkan matanya ke belakang.


"Ayo." Lina berjalan melewati Ilfra setelah saling menatap sejenak. Ilfra pun mengikuti tanpa berpikir panjang, sembari menggendong tas pink dan memandang tas hitam Lina.

__ADS_1


๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข.


Setelah sampai di gerbang sekolah, Ilfra berhenti tepat di belakang Lina yang tampak menoleh ke kananโ€”memandang jalanan. Benda niskala terus memberi sengatan dingin, tetapi tidak ada tanda-tanda peduli dari Ilfra dan Lina, sampai sebuah mobil sedan hitam datang.


๐˜”โ€“๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ?


Pintu depan mobil terbuka, tetapi Ilfra tak dapat melihat sosok yang menjadi pengendali mobil. Lina melirik ke arahnya sebelum masuk ke dalam mobil dan menempati kursi depan. Ia yang tersadar akan isyarat Lina segera membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalam. Ia masih merasakan dingin ketika duduk di kursi belakang mobil.


Tak menunggu lama, mobil segera bergerak dengan kecepatan sedang. Rasa nyaman dapat dirasakan, tetapi kebingungan juga menyelimuti pikirannya. Namun, ia tak bisa berkata-kata atau bahkan menghilangkan pemikiran:


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข โ€ฆ.


"Ah, kau tidak nyaman dengan bau mobil?"


Ilfra tersadarkan dari keheningan pikiran berkat pertanyaan yang Lina berikan. Segera ia meletakkan tas di kursi mobil dan mengambil peralatan menulisโ€”buku dan pulpenโ€”lalu menulis sebuah kalimat. ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?


"Tolong berhenti sebentar." Matanya terbelalak heran mendengar suara lembut dan rendah itu berkata dengan nada dingin. Sang pengemudi segera menghentikan mobil tanpa menjawab atau bertanya.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข โ€ฆ.


Ilfra tak sempat menyelesaikan kata batinnya sebab suara pintu mobil yang dibuka dan ditutup. Tak lama, ia dapat melihat pintu belakang yang dibuka dari luar. ๐˜Œ๐˜ฉ?


"Baiklah, cepat jalan," perintah Lina dengan nada yang lebih halus setelah selesai berpindah tempat dudukโ€”dari kursi depan ke kursi belakang tempat Ilfra duduk. Ilfra segera menambahkan tulisan pada buku dan menunjukkannya.


๐˜‰๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜Š-๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜›๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฌ?


Mobil kembali bergerak dan Lina menampilkan senyum tipis setelah membaca dalam diam. Ilfra sedikit memiringkan kepala karena tak ada sepatah kata yang dikeluarkan. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?

__ADS_1


"Aku malas kalau harus menoleh untuk membaca jawabanmu, lebih baik turun dan pindah tempat duduk saja."


๐˜›โ€“๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ. Ilfra tersenyum menanggapi perkataan Lina. Tangannya baru saja menarikan pulpen untuk menulis, tetapi pandangan melihat sekilas warna merah melintas di luar jendela pintu mobil. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?


__ADS_2