
Tampak seorang gadis tengah berada di sebuah kamar. Tak terlalu terang, tetapi dominan gelap. Suasana ruangan yang terasa lembab nan buruk untuk diri. Gadis dengan warna mata bak ruby itu tetap menyamankan diri di sana, menggerakkan tangan untuk menulis catatan harian.
๐๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ 27 ๐๐จ๐ถ๐ด๐ต๐ถ๐ด, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ซ๐ข๐ธ๐ข๐ฃ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ข๐ง ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ช๐ฏ๐ขโ๐ด๐ช๐ด๐ธ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ช๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ณ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ต๐ถ๐ณ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ข๐ฌ๐ถ โฆ.
๐๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐๐ช๐ฏ๐ข, ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฅ๐ช๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ๐ช ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ณ๐ช๐ฅ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ถ๐ณ๐ถ-๐จ๐ถ๐ณ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ.
Tarian pulpen yang dilakukan gadis itu dihentikan oleh perasaan. Air jernih yang mengalir melalui pipi kirinya menjadi jeda untuk menulis kalimat terakhir.
๐๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ โฆ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ช๐ฃ๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข.
Waktu berlalu dua hari, maka sekarang tanggal 29 Agustus. Gadis dengan baju sweater dan celana pendek terbangun dalam kondisi terkejut. Menyadari diri yang tertidur di meja belajar akibat bersedih, ia lekas mempersiapkan diri untuk sekolah. Ingatan tentang gagalnya meminta maaf ia singkirkan, demi tetap fokus untuk tidak menyandang status murid terlambat.
Langkah cepat ia lakukan, meskipun napas sudah terengah-engah ketika bersiap-siap di rumah. Setelah sampai di depan gerbang sekolah, alangkah terkejutnya gadis itu. ๐๐ฑ๐ข โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ต?
Ia lekas membuka tasnya dan mengambil handphone dari sana. Saat dinyalakan, ia kembali dibuat terkejut. Pandangan pun diarahkan menuju ufuk timur, mendapati cahaya mentari yang baru setengah menunjukkan diri. ๐โ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฑ๐ข๐จ๐ช?
Sebuah keberuntungan bagi gadis itu saat mengetahui gerbang sekolah yang tidak digembok. Ia memilih masuk dan merapikan penampilannya yang agak berantakan di kelas. Sampai pukul 05.45 berganti menjadi 6.45 AM.
Kondisi kelas yang ditempati gadis berambut pink itu mulai dijauhi rasa sepi. Emosinya juga semakin positif saat siswi yang ditunggu telah tiba. ๐โ๐ช๐ต๐ถ ๐๐ช๐ฏ๐ข. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฎ๐ข๐ข๐ง ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
"Huh, andai ada yang mau tukar tempat denganku," gumam siswi bernama Lina saat duduk di sebelah Ilfraโsi gadis berambut pink yang dilirik takut oleh banyak murid.
Netra pink Ilfra yang tampak mati bagi siswa-siswi semakin terasa kekosongannya. Ucapan Lina adalah penyebab dari emosi positifnya yang menghilang, digantikan perasaan negatif pembawa kebisingan otak.
๐๐ฉ๐ฉ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข ๐ฎ๐ข๐ข๐ง, ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข.
๐ ๐ข, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ต ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ข๐ฏ๐ข๐ฌ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
๐๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฉ?
๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช?
๐๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ.
__ADS_1
๐๐บ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ!
๐๐ฆ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฃ๐ฐ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ.
๐๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ.
๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข, ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช.
๐๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ.
๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ญ-๐ฉ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข.
๐ ๐ข, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช.
๐๐ข๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ!
๐๐ข๐ต๐ช!
๐๐บ๐ข๐ธ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ณ ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข, ๐ช๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฎ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฅ๐ช๐ข.
๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ถ๐ช ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ด, ๐ญ๐ฉ๐ฐ, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐ฏ๐ข๐ญ.
๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ โฆ!
Shifera Ilina Symphony, itulah yang tertulis di papan nama siswi sebelah Ilfra. Siswi itu melirik gadis yang dibuatnya gila pikiran. Senyum jahat tidak ia ciptakan layaknya antagonis, hanya memandang dingin siswi yang menyembunyikan wajah di atas meja itu.
๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐๐ญ๐ง๐บ๐ฏ๐ข ๐๐ท๐บ๐ญ๐ช๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐จ๐ข๐ฏ๐ต๐ช ๐ฏ๐บ๐ข๐ธ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด. Lina beralih fokus mendengar musik buatan sendiri, menghilangkan sekilas ingatan tentang Ilfra yang memberitahu nasib ketua kelas. Walaupun begitu, apa yang diharapkannya ternyata terkabul.
๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐บ๐ข? Bersama air mata yang tak bisa dicurahkan, Ilfra telah menghilangkan pemikirannya tentang hari esok.
****
Bulan September menyapa untuk mengganti Agustus yang lelah bekerja. Tanggal 22 pukul 09.59 tepatnya, Lina benar-benar yakin atas tindak-tanduk Ilfra akhir-akhir ini. Gadis yang dikenal banyak orang sebagai 'siswi mati' itu telah berhenti mengusik diri. Bahkan, hawa keberadaanya telah terhapus sempurna oleh cahaya murid-murid pasif.
๐๐ฑ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช?
__ADS_1
๐๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ข๐ฌ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ข๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฉ?
๐๐ฏ๐ช โฆ ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ.
Siswi berambut putih bagai salju yang menjadi es biru itu beranjak dari bangku, menggenggam erat tangan Ilfra dan memaksanya untuk pergi keluar. Ia tak mengucapkan sepatah kata sebagai perintah, sedangkan siswi yang dipaksa itu juga tak menunjukkan rasa keterpaksaan. Hanya keheranan siswa-siswi di kelas yang benar-benar menjadi kejelasan.
"Mereka mau ke mana?"
"Sebentar lagi bel masuk juga."
"Sudahlah, biarkan saja."
"Bukannya Lina dan siswi itu bertengkar, ya?"
"Memangnya mereka berteman?"
"Hah? Mereka 'kan selalu terlihat bersama, bukan?"
Suara obrolan siswa-siswi itu pun telah terhapuskan oleh jarak. Bunyi bel masuk terdengar, tetapi Lina mengabaikannya. Ia masih berjalan sambil menggandeng Ilfra yang mencoba menyesuaikan langkah. Saat berpapasan dengan guru pengajar, ia tak lupa memberi salam menggunakan anggukan.
"Baru kali ini aku melihat Ilfra akrab dengan murid lain. Syukurlah," ucap guru wanita itu dengan suara yang hanya bisa didengar telinganya sendiri.
Toilet perempuan menjadi tempat tujuan Lina mengajak Ilfra bolos jam pelajaran kedua. Ia langsung memojokkan gadis itu di salah satu toilet, lalu keluar sejenak untuk memasang tanda 'toilet sedang dibersihkan'. Penglihatan Ilfra tampak kosong saat Lina menatapnya dengan tajam, menambah rasa kesal yang tercipta tiba-tiba.
"Hah, apa kau menyesal?"-Lina mendekatkan mulutnya di telinga Ilfra dan meninggikan volume suara-"Apa kau benar-benar menyesal!"
Jari jemari tangan kanan Lina gunakan untuk menarik kerah gadis bermata merah muda. Mimik muka yang menampakkan kekesalan sudah diterapkannya dengan sempurna. Tak ada lagi wajah datar atau sikap dingin yang ditunjukan untuk Ilfra.
"Kau seharusnya sudah sadar bahwa nyawa orang tidak setara dengan permohonan maaf! Aku benar-benar tak peduli dengan penjelasanmu, kena kutukan atau apalah itu!"
Suara dilirihkan, tetapi ketegasan ditingkatkan. Gadis bermata biru mulai menekankan intimidasi yang dilakukan, menghiraukan pandangan kosong dari Ilfra.
"Walau ketua kelas kita tak begitu penting bagiku, kamu tetap saja melakukan hal keji. Apa kamu tidak tahu? Atau tidak diajarkan? Apa itu yang namanya perbuatan keji dan jahat?
Ooh, aku paham, paham. Kamu hanya tau berbuat baik, bukan? Makanya kamu mencoba mengulang hubungan kita dengan berbuat baik meski secuil. Sungguh naif dan menjijikkan."
Kedua tangan langsung digunakannya untuk mencekik leher siswi yang sangat-sangat dibenci. Ia merasa tak puas saat tak ada darah atau rintihan sakit yang dibunyikan Ilfra. Apalagi saat menyadari bibir bawah gadis yang dipojokkan di toilet duduk itu tengah dikunci dengan gigitan.
"Kau benar-benar tidak ingin bicara, ya? Ah, iya โฆ suaramu 'kan penyebab semua ini!"
__ADS_1
"๐๐ฌ๐ฉ!"