Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 20: Kesadaran


__ADS_3

๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. Lina langsung melukai bibir bawahnya dengan taring kiri, memanggil sosok perempuan yang menjadi tangan kanan.


Sedikit emosi kesal Lina pahami dari wajah pucat sosok wanita. Walaupun muka datar nan tak peduli ditampakkan olehnya, makhluk yang meniru wujud perempuan itu juga tak kalah dalam mengabaikan. Setelah darah yang tersisa pada mulut ditelan, ia mengutarakan keinginannya pada perempuan itu.


"Tolong bawa aku ke rumah Ilfra. Aku ingin mencari sesuatu di rumahnya."


Sosok perempuan masih menerapkan sikap diam. Lina hampir mengulang permohonan jika makhluk menyerupai wanita berusia 20-an itu tak menjawab.


"๐˜ ๐˜ข."


"Tunggu." Lina bergegas pergi ke kamar dan mengambil dua bendaโ€”handphone miliknya dan tas pinggang Ilfra. Ia pun kembali ke ruang tamu menemui sosok perempuan, menunjukkan anggukan sebagai tanda telah bersiap.


Kain hitam bermotif batik langsung menyelimuti kedua perempuan itu, membuat latar ruang tamu yang cerah ditinggal dalam sepi. Keduanya kini ada di kamar Ilfra yang minim pencahayaan, mendapati suasana ruang layaknya tempat menyiksa pernapasan.


๐˜œ๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด.


Lina menekan saklar lampu agar cahaya tercipta di ruang kamar. Setelah itu, tas pinggang Ilfra yang berisi buku dan handphone diletakkan di kasur.


"Aku akan mencari buku diary Ilfra. Mungkin bisa kutemukan sesuatu yang dapat menjadi petunjuk keberadaannya." Lina memandang ke bawah, menemukan tumpukan buku di meja panjang berukuran kecil. Ia segera mencari buku diary Ilfra di sana, dilanjutkan mengungkap pertanyaan yang memicu obrolan singkat.


"Omong-omong, kau benar-benar tidak bisa merasakan keberadaan Ilfra?"


"๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช."


Lina dibuat tertegun dengan mimik wajah yang menunjukkan secuil penyesalan. Ketidaksenangan menjadikan sosok perempuan melihat buku di meja belajar. Ekspresi acuh tak acuh diberikannya pada aura ungu di buku itu. Saat mata merahnya kembali menyaksikan Lina, ia melirik sekejap jam dinding di atas pintu.


**


"Pukul sepuluh tepat. Tak kusangka jam tanganku masih menyala meski dalam wujud roh," kata lelaki berambut hitam kemerahan dengan tawa kecil sesudahnya.


Viera menyuarakan rasa tak nyaman dengan berdecak, "meski aku sudah tak menyambungkan pikiran denganmu, bisa tidak jangan nyeletuk saat orang lain bicara, Kari Ayam Bakar!"


"Namaku Aoi Hikari โ€ฆ kenapa jadi kari ayam terus, sih!"


"Urusai, Aho!" caci Viera si perempuan berkacamata yang jika diartikan caciannya bermakna 'berisik, dungu!'.


"Sudahlah, jangan sampai membuat Ilfra terbangun. Aura kematian terasa akan mendatangiku jika dia bangun."

__ADS_1


Shiori ikut bicara dalam obrolan dua murid SMA itu, meskipun dirinya juga bagian dari keduanya. Bedanya, ia adalah kematian yang hidup, sementara kedua orang yang masih beradu mulut itu adalah makhluk bernyawa.


"Haah. Jadi, apa ini alasanmu tidak menyamar menjadi murid selama seminggu di SMA Yaishi?" Viera kembali meletakkan cangkir tehnya di meja saat tersadar akan wujudnya; hanya nyawa yang menyerupai tubuh asli dengan saturasi setengah.


"Tubuhku kan ada di rumah, kenapa kau menghidangkan teh?" imbuh Viera sebagai pertanyaan nomor dua.


Shiori mengekspresikan wajah polos, meskipun yang dilihat kedua tamunya adalah raut pengharap kematian. "Dalam pengetahuanku, sajikan hidangan meskipun hanya secangkir air ketika ada tamu."


Kesunyian seketika lewat selama dua detik. Shiori lekas menjawab pertanyaan pertama Viera, mengembalikan suasana obrolan penghapus sepi.


"Ah, aku juga tidak berangkat ke sekolah bukan karena Ilfra. Hanya bosan saja yang menjadi alasan ketidakhadiranku."


Gadis berkulit pucat itu beranjak dari sofa setelah mengambil kembali cangkir teh kedua tamunya. Tanpa sepatah kata yang diucapkan saat pergi ke ruang dapur, Viera terlihat memahami tindakan teman makhluknya tersebut.


"Bolehkah aku bicara sekarang?"


"Itu kau sudah bicara," cakap Viera dengan rasa kesal yang ditekankan dalam tatapan. "Omong-omong, kita masih bisa mengatur diri untuk menyentuh benda maupun tidak. Kau pasti ingin bilang begitu, bukan?"


"Haโ€“hahaha." ๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜๐˜ช๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ.


"Hah? ke mana?" tanya Viera yang terfokuskan pada buku di meja. Ia langsung melihat ke arah Hikari pergi setelah lima menit berlalu. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜’๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ!


**


๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? Lina mempertanyakan ketidaktahuannya dalam diam. Tangannya tetap bergerak mencari buku diary Ilfra di tumpukan buku pelajaran. Sosok perempuan yang memilih diam dan tak ikut campur pun mengambil keputusan baru.


"๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข."


"Aku tahu. Aku sedang mencari buku pelajaran sejarahnya. Catatannya lebih lengkap dariku."


๐˜๐˜ถ๐˜ฉ? ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ. ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜บ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ?


"Ketemu." Lina segera menggoyangkan halaman buku yang dicarinya. Ia membaca cepat tulisan pada tiap lembar yang menurutnya cocok dengan keinginan. Namun, ia juga mengerti dengan jelas apa yang dibaca.


"Kota Shikuro. Ibukota dari." ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜—๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜Œ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณโ€”๐˜’๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ช, ๐˜š๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช, ๐˜–๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜’๐˜ช๐˜ฆ๐˜ต๐˜ขโ€”๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช.


๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ถ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช, ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ตโ€”๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ, ๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ข, ๐˜‰๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. "Dikenal juga dengan sebutan."

__ADS_1


'๐˜’๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜Ž๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ', '๐˜—๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜’๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ', '๐˜ž๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜‰๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ', ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ. " 'Ekor Kaibutsu'," gumam gadis itu sebelum menutup buku dan meletakkannya ke tempat semula.


"Kenapa tidak ada catatan mitos yang orang-orang katakan mengenai makhluk dan monster?" Lina bertanya pada sosok perempuan yang sangat menghayati sikap tak acuh.


"๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด-๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข."


Gadis bermata biru meniup udara dalam diri dengan emosi pasrah. ๐˜š๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข. ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต '๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ'.


**


"Terserah kau, Kari Ayam. Kalau kena petaka di situ bukan salahku, lho," ujar gadis yang tetap memilih untuk duduk meski sendirian. Penglihatannya tertarik pada buku di meja. Setelah dibuka dan didapati halaman yang kosong, pulpen diambilnya dari dalam saku baju.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ง๐˜บ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ท๐˜บ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ. ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ. ๐˜‹๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช.


Viera Akilaโ€”siswi yang diketahui bersekolah di SMA Yaishiโ€”berhenti menulis pada buku yang ada di meja. Raut wajahnya tetap menampilkan ketenangan, berbanding terbalik dengan pikiran yang berpikir keras.


๐˜ ๐˜ข๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ ๐˜ข๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Asap tipis keluar sebagai bentuk embusan napasnya. Rambut pendek sedagu berwarna hitam keabu-abuan ia usap, bersamaan dengan otak yang menayangkan ingatan pada pukul 7.34 AM.


โ€ขโ€ขโ€ข


"Kalian berdua." Viera dan Hikari langsung mengalihkan fokus pada Shiori yang telah membopong tubuh Ilfra. "Aku akan membaringkan gadis ini di kamar, kalian silakan duduk di sini."


Anggukan dilakukan kedua remaja yang tampak jelas berada di tingkat menengah atas. Logo di saku baju keduanya adalah sebab identitas pendidikan diketahui. Si perempuan duduk di sofa ruang tengahโ€”letaknya searah dengan pintu rumah. Sementara si laki-laki tetap berdiri dan melempar mata ke segala benda di sekitar.


"Hei, Kari. Duduk di sini. Jangan pura-pura tak paham etika kau," perintah Viera saat menyadari tingkah kekanak-kanakan yang dibuat sang teman.


๐˜œ๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.


"Aku bisa mendengar keluhan menjijikkanmu itu. Cepat duduk!"


Hikari mengakhiri aspirasi tak pentingnya dengan meniup udara. Ia duduk di sebelah Viera sambil melirik sekilas mata gadis di sampingnya itu. ๐˜›๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜บ๐˜ข, ๐˜๐˜ช๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข. ๐˜–๐˜ฉ, ๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ โ€ฆ.


Viera mengikuti mata Hikari yang memandang kanan belakangnya, tepat pada pintu kamar tempat Ilfra diistirahatkan sementara.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข, batin Hikari yang langsung terdengar oleh pikiran kosong Viera.

__ADS_1


__ADS_2