
๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ. Lina langsung melukai bibir bawahnya dengan taring kiri, memanggil sosok perempuan yang menjadi tangan kanan.
Sedikit emosi kesal Lina pahami dari wajah pucat sosok wanita. Walaupun muka datar nan tak peduli ditampakkan olehnya, makhluk yang meniru wujud perempuan itu juga tak kalah dalam mengabaikan. Setelah darah yang tersisa pada mulut ditelan, ia mengutarakan keinginannya pada perempuan itu.
"Tolong bawa aku ke rumah Ilfra. Aku ingin mencari sesuatu di rumahnya."
Sosok perempuan masih menerapkan sikap diam. Lina hampir mengulang permohonan jika makhluk menyerupai wanita berusia 20-an itu tak menjawab.
"๐ ๐ข."
"Tunggu." Lina bergegas pergi ke kamar dan mengambil dua bendaโhandphone miliknya dan tas pinggang Ilfra. Ia pun kembali ke ruang tamu menemui sosok perempuan, menunjukkan anggukan sebagai tanda telah bersiap.
Kain hitam bermotif batik langsung menyelimuti kedua perempuan itu, membuat latar ruang tamu yang cerah ditinggal dalam sepi. Keduanya kini ada di kamar Ilfra yang minim pencahayaan, mendapati suasana ruang layaknya tempat menyiksa pernapasan.
๐๐ฉ๐ฉ, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต๐ช. ๐๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ด๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด.
Lina menekan saklar lampu agar cahaya tercipta di ruang kamar. Setelah itu, tas pinggang Ilfra yang berisi buku dan handphone diletakkan di kasur.
"Aku akan mencari buku diary Ilfra. Mungkin bisa kutemukan sesuatu yang dapat menjadi petunjuk keberadaannya." Lina memandang ke bawah, menemukan tumpukan buku di meja panjang berukuran kecil. Ia segera mencari buku diary Ilfra di sana, dilanjutkan mengungkap pertanyaan yang memicu obrolan singkat.
"Omong-omong, kau benar-benar tidak bisa merasakan keberadaan Ilfra?"
"๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช."
Lina dibuat tertegun dengan mimik wajah yang menunjukkan secuil penyesalan. Ketidaksenangan menjadikan sosok perempuan melihat buku di meja belajar. Ekspresi acuh tak acuh diberikannya pada aura ungu di buku itu. Saat mata merahnya kembali menyaksikan Lina, ia melirik sekejap jam dinding di atas pintu.
**
"Pukul sepuluh tepat. Tak kusangka jam tanganku masih menyala meski dalam wujud roh," kata lelaki berambut hitam kemerahan dengan tawa kecil sesudahnya.
Viera menyuarakan rasa tak nyaman dengan berdecak, "meski aku sudah tak menyambungkan pikiran denganmu, bisa tidak jangan nyeletuk saat orang lain bicara, Kari Ayam Bakar!"
"Namaku Aoi Hikari โฆ kenapa jadi kari ayam terus, sih!"
"Urusai, Aho!" caci Viera si perempuan berkacamata yang jika diartikan caciannya bermakna 'berisik, dungu!'.
"Sudahlah, jangan sampai membuat Ilfra terbangun. Aura kematian terasa akan mendatangiku jika dia bangun."
__ADS_1
Shiori ikut bicara dalam obrolan dua murid SMA itu, meskipun dirinya juga bagian dari keduanya. Bedanya, ia adalah kematian yang hidup, sementara kedua orang yang masih beradu mulut itu adalah makhluk bernyawa.
"Haah. Jadi, apa ini alasanmu tidak menyamar menjadi murid selama seminggu di SMA Yaishi?" Viera kembali meletakkan cangkir tehnya di meja saat tersadar akan wujudnya; hanya nyawa yang menyerupai tubuh asli dengan saturasi setengah.
"Tubuhku kan ada di rumah, kenapa kau menghidangkan teh?" imbuh Viera sebagai pertanyaan nomor dua.
Shiori mengekspresikan wajah polos, meskipun yang dilihat kedua tamunya adalah raut pengharap kematian. "Dalam pengetahuanku, sajikan hidangan meskipun hanya secangkir air ketika ada tamu."
Kesunyian seketika lewat selama dua detik. Shiori lekas menjawab pertanyaan pertama Viera, mengembalikan suasana obrolan penghapus sepi.
"Ah, aku juga tidak berangkat ke sekolah bukan karena Ilfra. Hanya bosan saja yang menjadi alasan ketidakhadiranku."
Gadis berkulit pucat itu beranjak dari sofa setelah mengambil kembali cangkir teh kedua tamunya. Tanpa sepatah kata yang diucapkan saat pergi ke ruang dapur, Viera terlihat memahami tindakan teman makhluknya tersebut.
"Bolehkah aku bicara sekarang?"
"Itu kau sudah bicara," cakap Viera dengan rasa kesal yang ditekankan dalam tatapan. "Omong-omong, kita masih bisa mengatur diri untuk menyentuh benda maupun tidak. Kau pasti ingin bilang begitu, bukan?"
"Haโhahaha." ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ๐ฅ๐ถ๐จ๐ข. ๐๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ช๐ฆ๐ณ๐ข ๐๐ฌ๐ช๐ญ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ.
"Hah? ke mana?" tanya Viera yang terfokuskan pada buku di meja. Ia langsung melihat ke arah Hikari pergi setelah lima menit berlalu. ๐๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข, ๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐บ๐ข๐ฎ!
**
๐๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช? Lina mempertanyakan ketidaktahuannya dalam diam. Tangannya tetap bergerak mencari buku diary Ilfra di tumpukan buku pelajaran. Sosok perempuan yang memilih diam dan tak ikut campur pun mengambil keputusan baru.
"๐๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ซ๐ข."
"Aku tahu. Aku sedang mencari buku pelajaran sejarahnya. Catatannya lebih lengkap dariku."
๐๐ถ๐ฉ? ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ. ๐๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ข๐ณ๐บ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ?
"Ketemu." Lina segera menggoyangkan halaman buku yang dicarinya. Ia membaca cepat tulisan pada tiap lembar yang menurutnya cocok dengan keinginan. Namun, ia juga mengerti dengan jelas apa yang dibaca.
"Kota Shikuro. Ibukota dari." ๐๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐๐ถ๐ญ๐ข๐ถ ๐๐ฌ๐ฐ๐ณโ๐๐ช๐ณ๐ข๐ช, ๐๐ถ๐ฎ๐ช, ๐๐ฏ๐ฏ๐ข, ๐๐ช๐ฆ๐ต๐ขโ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ ๐ฌ๐ฆ ๐ธ๐ช๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ด๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐บ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ฌ๐ข ๐ด๐ถ๐ฏ๐บ๐ช.
๐๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข ๐ถ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ, ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐จ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ตโ๐๐ณ๐ธ๐ข๐ฉ, ๐๐ช๐ต๐ข๐ฎ, ๐๐ข๐ต๐ข, ๐๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ. "Dikenal juga dengan sebutan."
__ADS_1
'๐๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ', '๐๐ถ๐ญ๐ข๐ถ ๐๐ถ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ', '๐๐ช๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐๐ถ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ', ๐ฅ๐ข๐ฏ. " 'Ekor Kaibutsu'," gumam gadis itu sebelum menutup buku dan meletakkannya ke tempat semula.
"Kenapa tidak ada catatan mitos yang orang-orang katakan mengenai makhluk dan monster?" Lina bertanya pada sosok perempuan yang sangat menghayati sikap tak acuh.
"๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ต๐ฐ๐ด-๐ฎ๐ช๐ต๐ฐ๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ฅ๐ช๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ๐ช ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ญ๐ช๐ด ๐ฎ๐ช๐ต๐ฐ๐ด ๐ต๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ข๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข."
Gadis bermata biru meniup udara dalam diri dengan emosi pasrah. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ถ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข๐ช ๐ธ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฌ๐ถ๐ข๐ฌ๐ถ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฌ๐ช๐ฃ๐ข๐ต '๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ต๐ถ'.
**
"Terserah kau, Kari Ayam. Kalau kena petaka di situ bukan salahku, lho," ujar gadis yang tetap memilih untuk duduk meski sendirian. Penglihatannya tertarik pada buku di meja. Setelah dibuka dan didapati halaman yang kosong, pulpen diambilnya dari dalam saku baju.
๐๐ฆ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฉ๐ช๐ฐ๐ณ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ช ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐๐ญ๐ง๐บ๐ฏ๐ข ๐๐ท๐บ๐ญ๐ช๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ญ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ. ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฑ๐ช๐ฏ๐จ๐ด๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ. ๐๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐๐ฉ๐ช๐ฐ๐ณ๐ช.
Viera Akilaโsiswi yang diketahui bersekolah di SMA Yaishiโberhenti menulis pada buku yang ada di meja. Raut wajahnya tetap menampilkan ketenangan, berbanding terbalik dengan pikiran yang berpikir keras.
๐ ๐ข๐ช๐ด๐ฉ๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ถ. ๐๐ฉ๐ช๐ฐ๐ณ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ ๐ข๐ช๐ด๐ฉ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ธ๐ช๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข.
Asap tipis keluar sebagai bentuk embusan napasnya. Rambut pendek sedagu berwarna hitam keabu-abuan ia usap, bersamaan dengan otak yang menayangkan ingatan pada pukul 7.34 AM.
โขโขโข
"Kalian berdua." Viera dan Hikari langsung mengalihkan fokus pada Shiori yang telah membopong tubuh Ilfra. "Aku akan membaringkan gadis ini di kamar, kalian silakan duduk di sini."
Anggukan dilakukan kedua remaja yang tampak jelas berada di tingkat menengah atas. Logo di saku baju keduanya adalah sebab identitas pendidikan diketahui. Si perempuan duduk di sofa ruang tengahโletaknya searah dengan pintu rumah. Sementara si laki-laki tetap berdiri dan melempar mata ke segala benda di sekitar.
"Hei, Kari. Duduk di sini. Jangan pura-pura tak paham etika kau," perintah Viera saat menyadari tingkah kekanak-kanakan yang dibuat sang teman.
๐๐ฉ๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ.
"Aku bisa mendengar keluhan menjijikkanmu itu. Cepat duduk!"
Hikari mengakhiri aspirasi tak pentingnya dengan meniup udara. Ia duduk di sebelah Viera sambil melirik sekilas mata gadis di sampingnya itu. ๐๐ข๐ต๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ข๐ซ๐ข๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข, ๐บ๐ข, ๐๐ช๐ฆ๐ณ๐ข. ๐๐ฉ, ๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ โฆ.
Viera mengikuti mata Hikari yang memandang kanan belakangnya, tepat pada pintu kamar tempat Ilfra diistirahatkan sementara.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข, batin Hikari yang langsung terdengar oleh pikiran kosong Viera.
__ADS_1