
๐๐ถ๐ข ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ณ ๐ฑ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฑ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ถ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ซ๐ข๐ฎ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ง๐ถ๐ฏ๐จ๐ด๐ช, ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ถ๐ซ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ญ๐ซ๐ถ.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ฐ๐ณ๐ต๐ข๐ต๐ช๐ฐ๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ฑ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐๐ฉ๐ช๐ฐ๐ณ๐ชโ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ. ๐๐ธ๐ข๐ญ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ต๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ข๐ฎ๐ช๐ต๐ข๐ฏ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ. ๐ ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ขโ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ช๐ธ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ.
"Sayang sekali. Apa kau yakin ingin mencoba sihir aneh itu? Bukannya itu hasil mencuri dari bawahan sendiri?"
๐๐ฉ๐ฉ, ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ? Ilfra menajamkan penglihatan seusai memakai jaketnya yang masih kotor akan darah. "๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฎ๐ถ."
๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ-๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ. ๐ ๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข๐ฌ๐ถ.
Senyum seringai diperlihatkan, tetapi Shiori mengalihkan perhatian ke arah angin berembusโlebih tepatnya ke arah pintu rumah. Ilfra menutup buku Shiori yang telah diisi ungkapan batinnya, lalu mengikuti arah pandangan Shiori.
"Lagipula, aku hanya tangan kanan roh suci dan belenggu merah," gumam gadis mayat itu sebelum pintu diketuk sekali dan didorong pihak luar, menampakkan dua manusia berpakaian sekolah sebagai pelaku.
Derasnya badai salju juga terlihat sebagai latar dua orang itu, hingga akhirnya pintu tersebut ditutup. Tanda tanya pun tercipta mengingat sulitnya keluar saat ada badai. Namun, aura gelap yang muncul sekilas telah menghilangkan rasa penasaran.
๐๐ฉ๐ฉ, ๐ฅ๐ข๐ด๐ข๐ณ ๐จ๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ฎ๐ข๐บ๐ข๐ต ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ช ๐๐ฉ๐ช๐ฐ๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ช๐ฉ? ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข.
Ilfra masih terkejut meski dengan mimik wajah normal. Namun, ia memilih diam untuk langkah aman, mengingat akan berbahaya jika tiba-tiba menggunakan kekuatan. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ.
Mata merah muda gadis itu pun menunjukkan keterkejutan yang disamarkan. ๐โ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐ช๐ต๐ถ โฆ.
"Hai, Kak Shiori. Maaf karena datang tanpaโ"
"Eeehh!" Satu pukulan keras langsung ditujukan pada lelaki berambut hitam kemerahan. Perempuan berkacamata di sebelah lelaki itulah yang melakukannya.
"Bisakah kau tak terkejut melihatโ eh?" Perempuan itu terdiam setelah ucapannya terpotong dua kali. Namun, kali ini sesuai dengan kehendak sendiri, akibat melihat gadis berambut merah muda di kiri belakang Shiori.
"๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข, ๐บ๐ข?" gumam Ilfra tanpa sadar ketika tahu dua orang di sana melihatnya.
**
"Entahlah, sepertinya memang sulit jika harus mengikuti kenormalan."
Sebuah jam berdiri menampilkan jarum panjang di angka tujuh, sementara jarum pendek menunjuk angka dua. Di ruangan yang tampak didominasi benda dari kayu, terdapat dua sosok gadis remaja di sana. Salah satunya tengah duduk di kursi dengan meja berisi buku di hadapan. Lalu, satunya lagi tengah berdiri menghadap gadis yang duduk itu.
"Haah, setidaknya jangan lakukan tugasmu sendirian, Kak," tutur gadis berambut putih panjang sebagai permohonan. Terlihat jelas dari netra merah dan senyum sedihnya yang kalah oleh mayoritas ekspresi dingin.
Gadis berambut hitam panjang tersenyum tipis, kemudian berdiri dan mengelus rambut putih kawan bicara. "Hei, kau 'kan yang jadi kakak sekarang. Aku ini adikmu, lho, Kak Liya."
"Ih, iya deh, Ryn. Terserah kau saja." Liyaโgadis berambut putihโlekas menjauh dan duduk di sofa yang ada di ruangan. Sedangkan Ryn sebagai adik baik duduk kembali di kursi yang jelas lebih tinggi dibanding sofa.
Ryn mengarahkan mata emasnya pada jendela kaca yang tak bisa dibuka. Tampak garis-garis putih yang cepat dan lebat, menandakan sulitnya untuk beraktivitas di luar.
"Kira-kira kapan hujan saljunya berhenti?"
"Saat gadis monster itu kembali ke kota ini?"
Ketenangan seketika menjadi suasana di ruangan yang cukup antik ini. Ryn segera beranjak sembari mengambil salah satu buku di meja kerja, mendatangi Liya dan duduk di sebelahnya. Ia meletakkan bukunya di meja panjang, lalu membuka dan memperlihatkan halaman yang ingin dibahas. Pada halaman itu terdapat foto gadis SMP berambut pink, lalu tulisan yang mengungkapkan sedikit identitas si gadis.
๐๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ต๐ข๐ด ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข
__ADS_1
๐๐ข๐ฎ๐ข: ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐๐ญ๐ง๐บ๐ฏ๐ข ๐๐ท๐บ๐ญ๐ช๐ฏ
๐๐ฆ๐ฏ๐ช๐ด ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ช๐ฏ: ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ
๐๐ฎ๐ถ๐ณ: ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ณ 14 ๐ข๐ต๐ข๐ถ 15 ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ
๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ: ๐๐๐ ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ
๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ด: โ จ ๐
๐๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ต๐ข๐ด ๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ข:
๐๐ข๐ฎ๐ข: ????
๐๐ฏ๐ต๐ช๐ต๐ข๐ด: ๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ-๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ฉ๐ช๐ต๐ข๐ฎ
๐๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ: ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐จ๐ข๐ถ๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ๐ช ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ค๐ข๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ด๐ต๐ฆ๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข ๐ฐ๐ณ๐จ๐ข๐ฏ-๐ฐ๐ณ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ
๐๐ฎ๐ถ๐ณ: ????
"Apa semua informasi ini kakakโ ehm, kau yang cari?"
Ryn menyimpulkan senyum lebar dan bersiap menerangkan dengan senang, "tentu saja tidak. Untuk informasi manusianya, Rena yang mencari. Kalau aku yang mendapat informasi rahasia itu saat bertemuโ"
"Hah? Kau menemuinya?" Liya sedikit menaikkan frekuensi suaranya.
**
๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ? ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฑ๐ถ๐ฏ? Ia menatap tajam mata hitam lelaki yang membantunya, sambil menyalurkan ungkapan kekesalan ke pikiran si lelaki.
Lelaki itu sedikit terbelalak sebelum menunjukkan raut ketidaktahuan. ๐โ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐จ๐ข๐ถ๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช ๐ฆ๐ง๐ฆ๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ? ๐๐ฆ๐ฉ๐ฆ.
Gadis berkacamata memalingkan muka sembari meluapkan napas pendek. Mata hijaunya kembali melihat gadis berambut pink demi mendapat sambungan pikiran. Namun, ia malah dibuat tertegun seusai membaca batin Ilfra.
๐๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ด๐ช๐ฏ๐จ.
๐๐ถ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐บ๐ข, ๐บ๐ข?
๐๐ข๐ข, ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ช๐ด๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ.
๐๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐จ๐ฆ๐ณ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐จ๐ฆ๐จ๐ข๐ฃ๐ข๐ฉ.
๐๐ฐ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข๐ด ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฏ๐จ!
๐๐บ๐ฐ, ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ, ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ข๐ข๐ฏ๐จ.
๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ?
๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ?
__ADS_1
๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ. ๐๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ, ๐ฌ๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ!
๐๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ โฆ?
๐๐ฑ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถโ
"Diam! Tolong kau diamlah overthinking begitu! Aargh!"
"Hโheiโ Viera, tenanglah!"
Vieraโgadis berkacamataโmenutup kedua telinga dengan mata terpejam, terus berteriak dan menaikkan pelepasan kekacauan. Si lelaki berambut hitam mencoba menenangkan, tetapi dibuat bergeming oleh telepati yang Ilfra lakukan.
๐๐ข๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช-๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ถ๐ช๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข, ๐บ๐ข? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ฏ๐จ๐ฎ๐ถ? ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ข๐บ๐ข๐ต ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ?
"Heeh, aku tidak dianggap nih? Jahat sekali," cakap Shiori yang sedari tadi tak tahu apa-apa tentang isi obrolan pikiran. Ia melirik netra Ilfra yang tampak berkilau dan menyunggingkan senyum tanpa sepengetahuan gadis itu.
๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฏ๐ข๐ณ, ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต. "Lagipula โฆ."
Ilfra dibuat kaget oleh Shiori yang tiba-tiba muncul di hadapan, juga menarik kerah baju putihnya. "Kenapa kau panik seperti itu? Mereka hanya roh saja sekarang. Santai saja โฆ," sambung Shiori mengukir ekspresi mengejek yang ditambahi aura sedih.
๐๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ!
Ilfra langsung menyingkirkan tangan berkulit pucat gadis mayat, kemudian mendorongnya agar jarak tak lagi dekat. Pikiran tak teratur mulai memaksanya melukai kepala, mencoba menciptakan kejadian yang sama seperti di kuil kemarin. Namun, sesuatu tak berwujud tiba-tiba menghampiri jiwa dalam belenggu.
Detak jantung yang berdegup kencang satu kali membuatnya terdiam, mengaburkan penglihatan dan berakhir terjatuh di tubuh Shiori. Tak sempat baginya membatin satu huruf, apalagi memikirkan dengan tenang tindakannya yang tak terkabul.
"Hei, Viera โฆ! Apa kau sudah baikan? Aku buat Ilfra pingsan untuk sementara," tutur Shiori dengan frekuensi yang lebih tinggi dan cerah; tidak mengejek nan dingin seperti saat bicara pada Ilfra.
Viera yang sudah terlepas dari kekacauan pikiran mulai berdiri dengan tegak. Ia membalas tatapan dan lambaian tangan Shiori dengan anggukan. "Ya, terima kasih."
"Tak masalah โฆ!"
๐๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ-๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ, celetuk lelaki di samping Viera sambil menembuskan tangan pada pintu di belakang.
Viera menoleh dan sedikit mendongak demi memandang wajah orang di samping, kemudian memberikan senyuman yang tersirat kejahatan.
"Oh, begitu, ya, Kari Ayam!" tanyanya bersama tangan yang memukul lelaki itu hingga meringkuk kesakitan.
**
"Haha, iya-iya! Maaf karena tak memberitahukan kepadamu, Kak Liyaa!" teriak Ryn meminta pengampunan dari hukuman pukulan ringan yang dihadiahkan Liya.
Liya kembali ke posisi awal dan membiarkan adiknya itu mendapatkan posisi duduk. Ia menonton foto siswi SMP di buku dengan cermat, mendapatkan informasi yang tak penting.
"Rena pernah bekerja sambilan menjadi penguntit kah? Foto yang diambilnya cukup memperlihatkan wajah target."
"Kenapa kau memikirkannya?" komentar Ryn terhadap tebakan yang tidak terpikirkan di otaknya. Ia ikut melihat ke buku di atas meja, memikirkan tentang informasi yang didapat Rena dan dirinya.
๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฅ๐ฆ๐ต๐ข๐ช๐ญ, ๐ฅ๐ฆ๐ฉ. ๐๐ช๐ด๐ข ๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ข๐ฎ. Ryn menutup setengah wajahnya. "Kalau kuingat lagi โฆ."
"Hem?"
__ADS_1
"Sepertinya ada sesuatu yang lain dengan suara cewek ini," lirih Ryn sebelum mengambil pulpen di meja kerja. Ia pun menambahkan keterangan kecil di ujung lembar buku: ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ฐ๐ฎ๐ฑ๐ฐ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ช๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ต๐ข๐ด๐ฏ๐บ๐ข.