Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 17: Dua Misteri


__ADS_3

๐˜‰๐˜ขโ€“๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ถ? Ilfra berusaha mempertahankan rasa tenangnya, walau diiringi kemunculan sikap waspada. Penyebabnya adalah aura hitam di sekitar sosok gadis di hadapan. Aura tersebut terlihat jelas dan memancarkan hawa dingin.


Tak ada senyuman di wajah gadis berseragam sekolah itu. Dirinya kembali memandang ke langit, memperhatikan dedaunan pohon yang terlihat gelap seperti awan. Tubuhnya pun merasakan anila yang membawa bunga salju, memperburuk suasana emosi dan ekspresi yang diciptakan.


"Haah, mengapa harus ada salju di hutan yang hitam ini?"


"๐˜๐˜ฆ๐˜ช." Ilfra memanggil gadis berkulit pucat itu dengan harapan balasan pandangan. Namun, gadis tersebut tak menoleh dan malah berpindah tempat ke samping kirinya.


"Namaku โ€ฆ Shiori. Siapa namamu?" tanya Shioriโ€”si gadis misteriusโ€”tepat di indra pendengaran Ilfra.


Iris merah muda Ilfra seketika bercahaya, menciptakan insting perlawanan yang ditunjukkan oleh tangan kanan. Gadis berambut hitam sebahu itu langsung menghilang, berganti tempat ke dahan pohon yang cukup tinggi.


"Padahal aku hanya bertanya, lho."-Shiori mengubah tatapan tajamnya menjadi datar-"Mengapa kau menyerang? Apakah karena emosi takut?"


Angin kencang seketika menyapa saat Ilfra menyadari lokasi Shiori. Penglihatan belum diarahkannya pada sosok yang dianggap bahaya, hingga sosok itu kembali berkata.


"Ataukah โ€ฆ insting monster?"


๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ! batin Ilfra sembari fokus menatap kegelapan mata Shiori. Gejolak emosi segera terwujud dalam diri gadis yang duduk di dahan pohon itu. Seusai menutup sebelah mata, ia lekas turun dan menghampiri Ilfra.


"Baiklah, aku menyerah โ€ฆ!" cakap Shiori sambil menghentikan langkahnya. Meskipun kedua tangannya diangkat, ia malah menunjukkan senyum seringai.


"Pertarungan hanya menghasilkan kematian bagiku."


Lagi-lagi udara berlalu lintas di kekosongan pembicaraan Ilfra dan Shiori, menjadikan ekspresi wajah yang saling mewaspadai satu sama lain. Perlahan, Shiori kembali berekspresi datar, sedangkan Ilfra segera memendekkan kukunya yang memanjang. Terlihat jelas matanya yang kembali normal dan tak bercahaya selepas terkejut.


๐˜’๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ? ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ โ€ฆ. ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ฉ, ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ค๐˜ข๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.


Hawa dingin ikut berlalu saat anila telah menetapkan untuk terus berlayar. Shiori tidak nyaman saat rambut hitamnya diacak-acak benda niskala itu. "Cuaca menjengkelkan," gerutunya dengan mata memandang ke langit.


"Akan lebih baik jika kita berteman." Rasa terkejut kembali menyerang Ilfra saat mendengar gumaman lawan bicara.

__ADS_1


"Lagipula, jikalau kau tidak mau, hujan salju akan memaksa kita berada di atap yang sama di malam ini," lanjut Shiori sembari melihat daun pohon yang gugur karena dingin.


Ilfra bergeming sejenak, lalu tersenyum dan berucap, "๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด, ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข." ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜จ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช.


Ilfra memperpendek jarak antara dirinya dengan Shiori. Ia kembali tersenyum, tetapi kini sebagai salam dan sapaan. "๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ." ๐˜ ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ. ๐˜›๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


"Hee โ€ฆ." Shiori sedikit mengekspresikan rasa senang meski sekejap. "Kalau begitu โ€ฆ."


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ด? Gadis bermata hitam pekat itu mengulurkan tangannya di saat yang sama. "Perkenalkan kembali, namaku Shiori. Aku adalah sosok belenggu tanpa jiwa, si kematian yang hidup di sekeliling makhluk bernyawa."


***


๐˜™๐˜ข๐˜ฃ๐˜ถ, 25 ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


๐˜–๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ง๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜š๐˜บ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ, ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ถ: ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ง๐˜บ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ท๐˜บ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ.


Gadis berseragam sekolah berwarna putih itu langsung berbaring di kasur. Ia membiarkan handphone sahabatnya tergenggam tangan kanan, juga pandangan yang diarahkan ke langit-langit kamar. Senyuman kecil diekspresikannya sejenak saat menyadari keunikan ruang kamar: menggambarkan langit malam tanpa bintang, tampak gelap dan membawa ketenangan, juga melawan waktu siang serta sang mentari.


Lina, gadis dengan rambut putih sedari lahir mengambil posisi duduk, menatap pantulan diri pada cermin di sebelah pintu. Ia terfokuskan pada penglihatan yang tampak berbeda. Warna biru pada irisnya berubah menjadi putih, kemudian hitam, lalu berakhir kembali ke warna asal. Setelah berkedip dan menutup wajah dengan kedua tangan, ia kembali melihat benda pemantul cahaya.


"๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข?" Sosok perempuan yang tampak berusia 20-an muncul menghalangi cermin. Ia merapikan poni rambutnya sehingga kedua mata dapat terlihat, juga melihat mulut gadis remaja di hadapan yang basah oleh darah. ๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ.


Gadis remaja itu mengelap darahnya dengan jari, membuat cairan tersebut terserap ke kulit. Dengan pandangan yang terus membalas tatapan wanita di hadapan, Lina mengakhirinya melalui embusan napas. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช, ๐˜บ๐˜ข?


"Apakah kau mengenal siswi SMA berambut putih panjang dan bermata merah?" Ia bertanya dengan menundukkan kepala, menjadikan fokusnya pada tangan kanan penyerap darah. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏโ€”


"๐˜๐˜ข๐˜ฉ? ๐˜š๐˜ช๐˜ด๐˜ธ๐˜ช ๐˜š๐˜”๐˜ˆ?" Wanita berpakaian jubah hitam itu menjawab dengan pertanyaan. Nada suaranya menyalurkan ekspresi ketidakpercayaan. "๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? ๐˜ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข."


๐˜๐˜ถ๐˜ฉ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ขโ€”


"๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ธ๐˜ช ๐˜š๐˜”๐˜ˆ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ โ€ฆ!" Sosok perempuan mengepalkan tangan dengan erat, menghasilkan kobaran aura hitam dari tempatnya berpijak.

__ADS_1


Lina berusaha menahan rasa penasaran setelah batinnya terpotong. Ia segera beranjak mendekati sosok perempuan, tetapi kakinya langsung terhenti saat mencapai jarak kobaran aura.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜›๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช โ€ฆ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ชโ€”


"๐˜—๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ!" Suara gaung yang memekakkan telinga Lina itu menjadi-jadi saat volumenya bertambah.


Lina selaku pemanggil seketika menutup kedua telinga dan berteriak kesakitan. Ia hampir terduduk di lantai jika si wanita yang menjadi penyebab tak menangkapnya.


"Ukh โ€ฆ."


"Mโ€“maafkan aku โ€ฆ," lirih sosok perempuan dengan suara yang sudah dijadikan normal: tak bergaung maupun memekakkan telinga. Ia menampilkan ekspresi bersalah yang menyembunyikan ketakutan, juga rasa kesal pada dirinya di detik-detik lalu.


๐˜”๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜š๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ด๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช.


Ketika rasa sakit pada pendengaran telah berkurang, Lina lekas berdiri dan mengambil langkah mundur. Kemudian, ia mendudukkan diri pada kasurnya yang empuk. Sosok perempuan tentu membantunya agar bisa merasakan kenyamanan itu, sebelum berakhir mengarahkan pandangan ke lantai.


"Untuk sementara, lebih baik kau kendalikan emosi daripada suara," pinta Lina sembari menurunkan tangan kirinya ke kasur, sedangkan tangan kanan berpindah memegang kepala. ๐˜™๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ด๐˜ข.


"Bโ€“baiklah. Sekali lagi, aku minta maaf, Nona Lina."


"Jangan panggil aku nona. Panggil saja manusia seperti biasa." Lina sedikit meninggikan suara akibat pusing yang mengganggu emosi. ๐˜œ๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


Suasana senyap yang tercipta selama satu menit langsung diakhiri. Lina memilih mengungkapkan keinginannya, tanpa mempertanyakan maksud jawaban tak membantu si wanita. "Aku akan menemui siswi SMA yang kau anggap pembunuh itu. Sepertinya, Kota Shikuro ini memang sudah menjadi bagian warna hitam dari awal."


Sosok perempuan tak menjawab atau membalas dengan pergerakan. Ia tetap menundukkan kepala hingga Lina meniup udara pagi yang cukup dingin. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ.


"Bisakah kau menjadi bayanganku? Tak peduli jika ternyata perempuan itu yang memilih datang ke sini? Yah, itu pun kalau dia memang mau. Aku malas mendatangi alamatnya."


Mata merah yang tadinya tampak tajam, kini terasa takut dan kehilangan ketegasannya. Namun, aura minus itu langsung berubah menjadi hawa kepercayaan diri.


"๐˜ ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏโ€”"

__ADS_1


"Tapi kau harus mengatakannya dengan jelas, tentang siapa perempuan itu, Wanita Bayangan."


__ADS_2