
๐๐ขโ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ต๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ถ? Ilfra berusaha mempertahankan rasa tenangnya, walau diiringi kemunculan sikap waspada. Penyebabnya adalah aura hitam di sekitar sosok gadis di hadapan. Aura tersebut terlihat jelas dan memancarkan hawa dingin.
Tak ada senyuman di wajah gadis berseragam sekolah itu. Dirinya kembali memandang ke langit, memperhatikan dedaunan pohon yang terlihat gelap seperti awan. Tubuhnya pun merasakan anila yang membawa bunga salju, memperburuk suasana emosi dan ekspresi yang diciptakan.
"Haah, mengapa harus ada salju di hutan yang hitam ini?"
"๐๐ฆ๐ช." Ilfra memanggil gadis berkulit pucat itu dengan harapan balasan pandangan. Namun, gadis tersebut tak menoleh dan malah berpindah tempat ke samping kirinya.
"Namaku โฆ Shiori. Siapa namamu?" tanya Shioriโsi gadis misteriusโtepat di indra pendengaran Ilfra.
Iris merah muda Ilfra seketika bercahaya, menciptakan insting perlawanan yang ditunjukkan oleh tangan kanan. Gadis berambut hitam sebahu itu langsung menghilang, berganti tempat ke dahan pohon yang cukup tinggi.
"Padahal aku hanya bertanya, lho."-Shiori mengubah tatapan tajamnya menjadi datar-"Mengapa kau menyerang? Apakah karena emosi takut?"
Angin kencang seketika menyapa saat Ilfra menyadari lokasi Shiori. Penglihatan belum diarahkannya pada sosok yang dianggap bahaya, hingga sosok itu kembali berkata.
"Ataukah โฆ insting monster?"
๐๐ฉ๐ช๐ฏ๐ฆ! batin Ilfra sembari fokus menatap kegelapan mata Shiori. Gejolak emosi segera terwujud dalam diri gadis yang duduk di dahan pohon itu. Seusai menutup sebelah mata, ia lekas turun dan menghampiri Ilfra.
"Baiklah, aku menyerah โฆ!" cakap Shiori sambil menghentikan langkahnya. Meskipun kedua tangannya diangkat, ia malah menunjukkan senyum seringai.
"Pertarungan hanya menghasilkan kematian bagiku."
Lagi-lagi udara berlalu lintas di kekosongan pembicaraan Ilfra dan Shiori, menjadikan ekspresi wajah yang saling mewaspadai satu sama lain. Perlahan, Shiori kembali berekspresi datar, sedangkan Ilfra segera memendekkan kukunya yang memanjang. Terlihat jelas matanya yang kembali normal dan tak bercahaya selepas terkejut.
๐๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ โฆ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ? ๐๐ฅ๐ข ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ถ๐ณ๐ช๐จ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช '๐ฌ๐ข๐ฏ โฆ. ๐๐ณ๐จ๐ฉ, ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ค๐ข๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช.
Hawa dingin ikut berlalu saat anila telah menetapkan untuk terus berlayar. Shiori tidak nyaman saat rambut hitamnya diacak-acak benda niskala itu. "Cuaca menjengkelkan," gerutunya dengan mata memandang ke langit.
"Akan lebih baik jika kita berteman." Rasa terkejut kembali menyerang Ilfra saat mendengar gumaman lawan bicara.
__ADS_1
"Lagipula, jikalau kau tidak mau, hujan salju akan memaksa kita berada di atap yang sama di malam ini," lanjut Shiori sembari melihat daun pohon yang gugur karena dingin.
Ilfra bergeming sejenak, lalu tersenyum dan berucap, "๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฎ๐ถ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฃ๐ข๐จ๐ถ๐ด, ๐บ๐ข, ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ด๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข." ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐จ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ช.
Ilfra memperpendek jarak antara dirinya dengan Shiori. Ia kembali tersenyum, tetapi kini sebagai salam dan sapaan. "๐๐ข๐ฎ๐ข๐ฌ๐ถ ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข. ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ถ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ข๐ฎ๐ข๐ข๐ฏ." ๐ ๐ข, ๐ด๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ญ. ๐๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ต๐ข๐ด ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข.
"Hee โฆ." Shiori sedikit mengekspresikan rasa senang meski sekejap. "Kalau begitu โฆ."
๐๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ต๐ข๐ด? Gadis bermata hitam pekat itu mengulurkan tangannya di saat yang sama. "Perkenalkan kembali, namaku Shiori. Aku adalah sosok belenggu tanpa jiwa, si kematian yang hidup di sekeliling makhluk bernyawa."
***
๐๐ข๐ฃ๐ถ, 25 ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช, ๐ฑ๐ช๐ฉ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ช๐ด๐ธ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ซ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ, ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฑ ๐ญ๐ช๐ฃ๐ถ๐ณ ๐ต๐ช๐ฃ๐ข-๐ต๐ช๐ฃ๐ข. ๐๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐จ๐ถ๐ด, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช.
๐๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐๐ฉ๐ช๐ง๐ฆ๐ณ๐ข ๐๐ญ๐ช๐ฏ๐ข ๐๐บ๐ฎ๐ฑ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐บ, ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฎ๐ถ: ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐๐ญ๐ง๐บ๐ฏ๐ข ๐๐ท๐บ๐ญ๐ช๐ฏ.
Gadis berseragam sekolah berwarna putih itu langsung berbaring di kasur. Ia membiarkan handphone sahabatnya tergenggam tangan kanan, juga pandangan yang diarahkan ke langit-langit kamar. Senyuman kecil diekspresikannya sejenak saat menyadari keunikan ruang kamar: menggambarkan langit malam tanpa bintang, tampak gelap dan membawa ketenangan, juga melawan waktu siang serta sang mentari.
Lina, gadis dengan rambut putih sedari lahir mengambil posisi duduk, menatap pantulan diri pada cermin di sebelah pintu. Ia terfokuskan pada penglihatan yang tampak berbeda. Warna biru pada irisnya berubah menjadi putih, kemudian hitam, lalu berakhir kembali ke warna asal. Setelah berkedip dan menutup wajah dengan kedua tangan, ia kembali melihat benda pemantul cahaya.
"๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ๐ฌ๐ถ, ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข?" Sosok perempuan yang tampak berusia 20-an muncul menghalangi cermin. Ia merapikan poni rambutnya sehingga kedua mata dapat terlihat, juga melihat mulut gadis remaja di hadapan yang basah oleh darah. ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ.
Gadis remaja itu mengelap darahnya dengan jari, membuat cairan tersebut terserap ke kulit. Dengan pandangan yang terus membalas tatapan wanita di hadapan, Lina mengakhirinya melalui embusan napas. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ช ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช, ๐บ๐ข?
"Apakah kau mengenal siswi SMA berambut putih panjang dan bermata merah?" Ia bertanya dengan menundukkan kepala, menjadikan fokusnya pada tangan kanan penyerap darah. ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏโ
"๐๐ข๐ฉ? ๐๐ช๐ด๐ธ๐ช ๐๐๐?" Wanita berpakaian jubah hitam itu menjawab dengan pertanyaan. Nada suaranya menyalurkan ekspresi ketidakpercayaan. "๐๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฎ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ช๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฑ๐ข๐จ๐ช ๐ช๐ต๐ถ? ๐ ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ข๐ซ๐ข."
๐๐ถ๐ฉ? ๐๐ฑ๐ขโ
"๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ณ๐ถ๐ต๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ช๐ด๐ธ๐ช ๐๐๐, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ฌ๐ถ โฆ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ โฆ!" Sosok perempuan mengepalkan tangan dengan erat, menghasilkan kobaran aura hitam dari tempatnya berpijak.
__ADS_1
Lina berusaha menahan rasa penasaran setelah batinnya terpotong. Ia segera beranjak mendekati sosok perempuan, tetapi kakinya langsung terhenti saat mencapai jarak kobaran aura.
๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ต๐ฆ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต. ๐๐ฏ๐ช โฆ ๐ฉ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ถ๐ณ๐ข ๐ฉ๐ช๐ต๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ด๐ช ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐ชโ
"๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ, ๐ฅ๐ช๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ๐ฎ๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ญ!" Suara gaung yang memekakkan telinga Lina itu menjadi-jadi saat volumenya bertambah.
Lina selaku pemanggil seketika menutup kedua telinga dan berteriak kesakitan. Ia hampir terduduk di lantai jika si wanita yang menjadi penyebab tak menangkapnya.
"Ukh โฆ."
"Mโmaafkan aku โฆ," lirih sosok perempuan dengan suara yang sudah dijadikan normal: tak bergaung maupun memekakkan telinga. Ia menampilkan ekspresi bersalah yang menyembunyikan ketakutan, juga rasa kesal pada dirinya di detik-detik lalu.
๐๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ถ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ด๐ญ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ต๐ถ๐ญ๐ช.
Ketika rasa sakit pada pendengaran telah berkurang, Lina lekas berdiri dan mengambil langkah mundur. Kemudian, ia mendudukkan diri pada kasurnya yang empuk. Sosok perempuan tentu membantunya agar bisa merasakan kenyamanan itu, sebelum berakhir mengarahkan pandangan ke lantai.
"Untuk sementara, lebih baik kau kendalikan emosi daripada suara," pinta Lina sembari menurunkan tangan kirinya ke kasur, sedangkan tangan kanan berpindah memegang kepala. ๐๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ฌ๐ช๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ถ๐ด๐ช๐ฏ๐จ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ฌ๐ด๐ข.
"Bโbaiklah. Sekali lagi, aku minta maaf, Nona Lina."
"Jangan panggil aku nona. Panggil saja manusia seperti biasa." Lina sedikit meninggikan suara akibat pusing yang mengganggu emosi. ๐๐ฉ๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
Suasana senyap yang tercipta selama satu menit langsung diakhiri. Lina memilih mengungkapkan keinginannya, tanpa mempertanyakan maksud jawaban tak membantu si wanita. "Aku akan menemui siswi SMA yang kau anggap pembunuh itu. Sepertinya, Kota Shikuro ini memang sudah menjadi bagian warna hitam dari awal."
Sosok perempuan tak menjawab atau membalas dengan pergerakan. Ia tetap menundukkan kepala hingga Lina meniup udara pagi yang cukup dingin. ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฉ๐ถ๐ซ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ญ๐ซ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ.
"Bisakah kau menjadi bayanganku? Tak peduli jika ternyata perempuan itu yang memilih datang ke sini? Yah, itu pun kalau dia memang mau. Aku malas mendatangi alamatnya."
Mata merah yang tadinya tampak tajam, kini terasa takut dan kehilangan ketegasannya. Namun, aura minus itu langsung berubah menjadi hawa kepercayaan diri.
"๐ ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ ๐ธ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ด๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ถ๐ซ๐ถ๐ฅ๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏโ"
__ADS_1
"Tapi kau harus mengatakannya dengan jelas, tentang siapa perempuan itu, Wanita Bayangan."