Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 21: Masa Kelam


__ADS_3

๐˜œ๐˜ฉ๐˜ฉ. Viera segera menunduk dan menyentuh kepalanya dengan tangan kanan. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ค๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ.


"Ah, maafkan aku. Kau bisa mengakhiri sambungan pikirannya denganku sekarang, Viera," saran Hikari saat menyadari rasa pusing yang melanda temannya.


"Oke."


Kacamata dilepaskan, begitu juga dengan lensa mata warna hijau di kedua mata. Sepuluh detik lekas berlalu dan lensa mata kembali Viera pasang sebelum kacamata.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช. ๐˜๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ง๐˜ฆ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ช๐˜ง๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.


Dua menit berselang, Shiori datang membawa nampan berisi tiga cangkir teh. Ia duduk di sofa yang letaknya berhadapan dengan Viera dan Hikari. Setelah meminum teh miliknya sendiri, ia memulai pembicaraan.


"Baiklah. Pertama-tama dan yang paling utama, aku meminta maaf karena memaksa kalian mengubah agendaโ€”"


"Tidak, kok, tidak. Aku malah senang karena sebetulnya akan mengira hari ini menjadi hari terbosan. Orang tuaku sedang di luar kota dan sekolah juga diliburkan." Viera sedikit menampilkan rasa jijik mendengar nada bicara Hikari yang tiba-tiba berubah menjadi super ceria.


"Baik. Kalau begitu, dimulai dari topik pembicaraanโ€”"


"Bicaramu tak perlu seformal itu, Shiori. Sebenarnya 'kan, aku juga yang meminta untuk bertemu denganmu hari ini."


๐˜๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช โ€ฆ.


Viera lekas melanjutkan perkataannya yang tertunda, "bisakah kau menjelaskan tentang siapa gadis itu? Hikari bilang bahwa mungkin โ€ฆ."-Viera melirik tajam Hikari yang terlihat jelas memalingkan muka darinya-"gadis itu sama dengan gadis yang tiba-tiba muncul di kuil."


"Ya, dengan senang hati akan kujelaskan." Shiori mengganti raut formalnya dengan ekspresi santai dan senyum singkat. "Namanya Ilfra. Ilfra Alfyna Avylin."


โ€ขโ€ขโ€ข


"Hei, hei, Viera. Aku menemukan benda antik ini di ruangan sebelah." Hikari tiba-tiba saja muncul dan memotong Viera yang tengah merenungi ingatan. Siswi bermata hijau daun itu langsung beranjak dari sofa, menunjukkan sorot mata tajam pada Hikari dan merebut benda di tangan si lelaki.


"Huh? Memangnya apa yang antik dari cincin batu akik ini?"


"Cincinnya itu dari tulang manusia, sementara batunya adalah bola mata manusia yang diperkecil dan dikeraskan," timbrung Shiori yang baru keluar dari ruang dapur.


Rasa mual langsung bergejolak dalam tubuh Viera, diakibatkan penjelasan makhluk yang dikenalnya menyamar sebagai murid SMA. Hikari terlihat membeku dengan ekspresi tak percaya, tetapi Shiori malah tertawa kecil setelah sampai di tempat kedua remaja itu.


"Hanya bercanda kok. Itu hanya cincin batu akik biasa." Shiori menyeringai sembari mengambil cincin miliknya. Ia menggenggam perhiasan tersebut dan membuatnya menghilang; kembali ke tempatnya semula. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข.


Viera menelan ludah setelah menyadari kekuatan membaca pikirannya yang telah aktif. ๐˜Š๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ.


"Eh, apa yang terjadi denganku?" Hikari dikejutkan dengan dirinya yang semakin terlihat tembus pandang. Viera juga dihadiahi ketidakberuntungan itu.

__ADS_1


"Ah, tampaknya kekuatanku mulai berkurang. Kalian berdua cepat kembali lagi ke tubuh masing-masing, atauโ€”"


"๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ!" teriak Ilfra yang entah terbangun atau mengigau.


"Shiโ€”" Viera seketika menghilang dari ruang tengah bersama Hikari. Shiori tentu menyuarakan kekesalannya dengan berdecik, memperkuat raut muram pembawa kematiannya. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข.


Shiori bergegas menuju kamar tempat Ilfra dibaringkan. Pintu kayu berwarna hitam dari kamar itu didorongnya dengan cepat, tetapi tak bisa untuk terbuka karena hal aneh.


๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช.


Satu tangan diarahkannya menembus ke dalam pintu, tetapi diri tiba-tiba terdorong jatuh. Ekspresinya yang hampir sama dan mirip-mirip kini menunjukkan ciri khas masing-masing. Tangannya yang putus dan terjebak di dalam kamar adalah penyebab mimik seringai diterapkan.


"Begitukah โ€ฆ?"


Gadis yang menyatakan dirinya 'kematian yang hidup' itu bangun, menetapkan sikap berdiri dengan pandangan lurus ke pintu. Senyum manis yang memperlihatkan gigi tajam ia tampakkan. Mata gelap yang tak bisa dijadikan cermin itu mengubah warnanya serupa darah. Ujung rambut hitam panjang sepunggungnya tertarik ke atas, menambah kesan suram nan seram gadis tersebut.


"Terbukalah."


Suara keras dan tarikan gravitasi pembawa udara dingin muncul dari ruang kamar tempat Ilfra berada. Pintu tersebut telah terbuka atas kehendak Shiori, tetapi diri yang tertarik masuk ke dalam sana bukanlah atas kemauannya.


๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฌ. Shiori terdiam melihat pintu kamar yang tertutup rapat, membuatnya tak bisa keluar dari ruang kamar penuh kabut hitam.


๐˜‹๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต. Helaan napas yang memunculkan asap putih tipis dikeluarkannya. Setelah mengambil dan memasang tangan kanannya yang terputus, ia langsung berada di samping Ilfra dengan tangan kiri menebas ujung tangan-tangan hitam.


"Tenangkan dirimu, Ilfra. Walaupun aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini," bisiknya di telinga Ilfra yang menyalurkan hawa dingin.


"๐˜œ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ฉ โ€ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜ง, ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข โ€ฆ."


**


Pukul 10.14 tanggal 25 Januari. Lina tengah duduk di meja belajar Ilfra, memahami catatan harian sang sahabat yang dijadikan bacaan.


๐˜”๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ฐ๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ, ๐˜™๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ณ.


๐˜”๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ข. ๐˜ž๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ, ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ช๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ.


๐˜‹๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ.


โ-


๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.

__ADS_1


-โž


"Ternyata hanya segitu yang ditulisnya." Lina bergumam sembari membalikkan lembar buku untuk membaca tulisan berikutnya.


๐˜›๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜‹๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜š๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต-๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ.


๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


โ-


๐˜๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข.


-โž


Suara batuk terdengar dari kanan belakang Lina, tempat di mana sosok perempuan berdiri dalam tenang. Mata birunya lekas menyaksikan mulut perempuan itu. Ada darah hitam yang mengalir keluar dari sana.


"Hei, kau kenapaโ€”"


"๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข."


Perempuan itu segera berbalik dan membuat diri membelakangi si gadis. Ia langsung membungkuk dan menutup mulut demi menahan darah. Sementara Lina tetap duduk dan berusaha untuk tidak melihatnya.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ?


Lina kembali fokus pada buku dan tidak menyadari perubahan yang terjadi pada sosok perempuan. Sosok yang dipanggilnya 'Wanita Bayangan' itu mengalami pergantian warna rambutโ€”dari hitam ke merah muda membara. Mata merahnya juga berubah menjadi hitam, sementara telinga yang tertutup rambut berpindah tempat di atas kepala; menyerupai telinga serigala berwarna hitam.


Tangan pucat yang kini berkuku tajam bergerak mencekik leher Lina dengan sendirinya, kemudian melempar gadis itu hingga terjatuh menabrak pintu kamar. Kesadarannya serasa diambil alih oleh sosok lain, mengubah pikiran tak acuhnya menjadi haus mangsa.


"๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข โ€ฆ!"


Lina mengabaikan rasa sakit di tubuh selepas mendengar suara gaung si wanita yang menyiksa telinga. Ia mencoba bangun agar tak mendapat luka yang memunculkan darah. Namun, gerakan tangan yang cepat dari sosok perempuan telah membuatnya terkunci di ujung jurang.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ฉ! ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ขโ€” ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ฉ!


Sebisa mungkin Lina menggigit bibir bawahnya agar tidak ada suara yang dikeluarkan. Ketenangan ikut diusahakan untuk tetap ada, supaya solusi dapat segera ditemukan.


"๐˜”๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช โ€ฆ!"


"Akh! Lโ€“lepasโ€“kanโ€” argh!" Akhirnya Lina ikut mengeluarkan cairan kehidupannya seperti sosok perempuan. Bedanya, ia tak berubah dan menjadi hilang kendali. Malahan, sosok perempuan tiba-tiba saja melepaskan cengkeraman.


"๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ง๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข ๐˜๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜š๐˜บ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜บ?" Perkataan lirih wanita yang menyerupai siluman hewan itu telah memunculkan tiga hal: tanda tanya, rasa heran, serta ingatan lama.

__ADS_1


__ADS_2