
๐๐ฉ๐ฉ. Viera segera menunduk dan menyentuh kepalanya dengan tangan kanan. ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ถ๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ค๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ.
"Ah, maafkan aku. Kau bisa mengakhiri sambungan pikirannya denganku sekarang, Viera," saran Hikari saat menyadari rasa pusing yang melanda temannya.
"Oke."
Kacamata dilepaskan, begitu juga dengan lensa mata warna hijau di kedua mata. Sepuluh detik lekas berlalu dan lensa mata kembali Viera pasang sebelum kacamata.
๐๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช. ๐๐ข๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฆ๐ง๐ฆ๐ฌ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ฏ๐จ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ต๐ช๐ง๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ.
Dua menit berselang, Shiori datang membawa nampan berisi tiga cangkir teh. Ia duduk di sofa yang letaknya berhadapan dengan Viera dan Hikari. Setelah meminum teh miliknya sendiri, ia memulai pembicaraan.
"Baiklah. Pertama-tama dan yang paling utama, aku meminta maaf karena memaksa kalian mengubah agendaโ"
"Tidak, kok, tidak. Aku malah senang karena sebetulnya akan mengira hari ini menjadi hari terbosan. Orang tuaku sedang di luar kota dan sekolah juga diliburkan." Viera sedikit menampilkan rasa jijik mendengar nada bicara Hikari yang tiba-tiba berubah menjadi super ceria.
"Baik. Kalau begitu, dimulai dari topik pembicaraanโ"
"Bicaramu tak perlu seformal itu, Shiori. Sebenarnya 'kan, aku juga yang meminta untuk bertemu denganmu hari ini."
๐๐บ๐ข. ๐๐ธ๐ข๐ญ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช โฆ.
Viera lekas melanjutkan perkataannya yang tertunda, "bisakah kau menjelaskan tentang siapa gadis itu? Hikari bilang bahwa mungkin โฆ."-Viera melirik tajam Hikari yang terlihat jelas memalingkan muka darinya-"gadis itu sama dengan gadis yang tiba-tiba muncul di kuil."
"Ya, dengan senang hati akan kujelaskan." Shiori mengganti raut formalnya dengan ekspresi santai dan senyum singkat. "Namanya Ilfra. Ilfra Alfyna Avylin."
โขโขโข
"Hei, hei, Viera. Aku menemukan benda antik ini di ruangan sebelah." Hikari tiba-tiba saja muncul dan memotong Viera yang tengah merenungi ingatan. Siswi bermata hijau daun itu langsung beranjak dari sofa, menunjukkan sorot mata tajam pada Hikari dan merebut benda di tangan si lelaki.
"Huh? Memangnya apa yang antik dari cincin batu akik ini?"
"Cincinnya itu dari tulang manusia, sementara batunya adalah bola mata manusia yang diperkecil dan dikeraskan," timbrung Shiori yang baru keluar dari ruang dapur.
Rasa mual langsung bergejolak dalam tubuh Viera, diakibatkan penjelasan makhluk yang dikenalnya menyamar sebagai murid SMA. Hikari terlihat membeku dengan ekspresi tak percaya, tetapi Shiori malah tertawa kecil setelah sampai di tempat kedua remaja itu.
"Hanya bercanda kok. Itu hanya cincin batu akik biasa." Shiori menyeringai sembari mengambil cincin miliknya. Ia menggenggam perhiasan tersebut dan membuatnya menghilang; kembali ke tempatnya semula. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข โฆ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ข๐ต๐ถ ๐ข๐ฌ๐ช๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข.
Viera menelan ludah setelah menyadari kekuatan membaca pikirannya yang telah aktif. ๐๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ฉ๐ช๐ฐ๐ณ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ.
"Eh, apa yang terjadi denganku?" Hikari dikejutkan dengan dirinya yang semakin terlihat tembus pandang. Viera juga dihadiahi ketidakberuntungan itu.
__ADS_1
"Ah, tampaknya kekuatanku mulai berkurang. Kalian berdua cepat kembali lagi ke tubuh masing-masing, atauโ"
"๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ!" teriak Ilfra yang entah terbangun atau mengigau.
"Shiโ" Viera seketika menghilang dari ruang tengah bersama Hikari. Shiori tentu menyuarakan kekesalannya dengan berdecik, memperkuat raut muram pembawa kematiannya. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ข๐ฑ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข.
Shiori bergegas menuju kamar tempat Ilfra dibaringkan. Pintu kayu berwarna hitam dari kamar itu didorongnya dengan cepat, tetapi tak bisa untuk terbuka karena hal aneh.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐ค๐ช.
Satu tangan diarahkannya menembus ke dalam pintu, tetapi diri tiba-tiba terdorong jatuh. Ekspresinya yang hampir sama dan mirip-mirip kini menunjukkan ciri khas masing-masing. Tangannya yang putus dan terjebak di dalam kamar adalah penyebab mimik seringai diterapkan.
"Begitukah โฆ?"
Gadis yang menyatakan dirinya 'kematian yang hidup' itu bangun, menetapkan sikap berdiri dengan pandangan lurus ke pintu. Senyum manis yang memperlihatkan gigi tajam ia tampakkan. Mata gelap yang tak bisa dijadikan cermin itu mengubah warnanya serupa darah. Ujung rambut hitam panjang sepunggungnya tertarik ke atas, menambah kesan suram nan seram gadis tersebut.
"Terbukalah."
Suara keras dan tarikan gravitasi pembawa udara dingin muncul dari ruang kamar tempat Ilfra berada. Pintu tersebut telah terbuka atas kehendak Shiori, tetapi diri yang tertarik masuk ke dalam sana bukanlah atas kemauannya.
๐๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฌ. Shiori terdiam melihat pintu kamar yang tertutup rapat, membuatnya tak bisa keluar dari ruang kamar penuh kabut hitam.
๐๐ถ๐จ๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต. Helaan napas yang memunculkan asap putih tipis dikeluarkannya. Setelah mengambil dan memasang tangan kanannya yang terputus, ia langsung berada di samping Ilfra dengan tangan kiri menebas ujung tangan-tangan hitam.
"Tenangkan dirimu, Ilfra. Walaupun aku tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini," bisiknya di telinga Ilfra yang menyalurkan hawa dingin.
"๐๐ฌ๐ฉ๐ฉ โฆ ๐ฎ๐ข๐ข๐ง, ๐๐ช๐ฏ๐ข โฆ."
**
Pukul 10.14 tanggal 25 Januari. Lina tengah duduk di meja belajar Ilfra, memahami catatan harian sang sahabat yang dijadikan bacaan.
๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐ฎ๐ช๐ต๐ฐ๐ด ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ, ๐๐ฆ๐ข๐ฅ๐ฆ๐ณ.
๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐จ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ช๐ญ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ข. ๐๐ถ๐ซ๐ถ๐ฅ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฑ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐ณ๐ช๐จ๐ข๐ญ๐ข, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ถ๐ฎ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ถ๐ซ๐ถ๐ฉ. ๐๐ถ๐ญ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ญ๐ถ๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ต๐ข๐ซ๐ข๐ฎ, ๐ญ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ถ๐ฌ๐ช ๐ซ๐ช๐ธ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ.
๐๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ช๐ด ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ.
โ-
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฏ๐ซ๐ถ๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช.
__ADS_1
-โ
"Ternyata hanya segitu yang ditulisnya." Lina bergumam sembari membalikkan lembar buku untuk membaca tulisan berikutnya.
๐๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ถ๐ฏ๐ซ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฎ ๐ช๐ฃ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐บ๐ข๐ฉ. ๐๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ข. ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฃ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต-๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฃ๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ช๐ญ ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ.
๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฌ๐ฆ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐๐ช๐ฏ๐ข. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐จ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช.
โ-
๐๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข.
-โ
Suara batuk terdengar dari kanan belakang Lina, tempat di mana sosok perempuan berdiri dalam tenang. Mata birunya lekas menyaksikan mulut perempuan itu. Ada darah hitam yang mengalir keluar dari sana.
"Hei, kau kenapaโ"
"๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข."
Perempuan itu segera berbalik dan membuat diri membelakangi si gadis. Ia langsung membungkuk dan menutup mulut demi menahan darah. Sementara Lina tetap duduk dan berusaha untuk tidak melihatnya.
๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ. ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ?
Lina kembali fokus pada buku dan tidak menyadari perubahan yang terjadi pada sosok perempuan. Sosok yang dipanggilnya 'Wanita Bayangan' itu mengalami pergantian warna rambutโdari hitam ke merah muda membara. Mata merahnya juga berubah menjadi hitam, sementara telinga yang tertutup rambut berpindah tempat di atas kepala; menyerupai telinga serigala berwarna hitam.
Tangan pucat yang kini berkuku tajam bergerak mencekik leher Lina dengan sendirinya, kemudian melempar gadis itu hingga terjatuh menabrak pintu kamar. Kesadarannya serasa diambil alih oleh sosok lain, mengubah pikiran tak acuhnya menjadi haus mangsa.
"๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข โฆ!"
Lina mengabaikan rasa sakit di tubuh selepas mendengar suara gaung si wanita yang menyiksa telinga. Ia mencoba bangun agar tak mendapat luka yang memunculkan darah. Namun, gerakan tangan yang cepat dari sosok perempuan telah membuatnya terkunci di ujung jurang.
๐๐ฌ๐ฉ๐ฉ! ๐๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฏ. ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข ๐ธ๐ข๐ณ๐ฏ๐ข ๐ณ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ขโ ๐ข๐ฌ๐ฌ๐ฉ!
Sebisa mungkin Lina menggigit bibir bawahnya agar tidak ada suara yang dikeluarkan. Ketenangan ikut diusahakan untuk tetap ada, supaya solusi dapat segera ditemukan.
"๐๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐ฎ๐ข๐ต๐ช โฆ!"
"Akh! Lโlepasโkanโ argh!" Akhirnya Lina ikut mengeluarkan cairan kehidupannya seperti sosok perempuan. Bedanya, ia tak berubah dan menjadi hilang kendali. Malahan, sosok perempuan tiba-tiba saja melepaskan cengkeraman.
"๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ช๐ด๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฎ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ฌ๐ถ, ๐๐ฉ๐ช๐ง๐ฆ๐ณ๐ข ๐๐ญ๐ช๐ฏ๐ข ๐๐บ๐ฎ๐ฑ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐บ?" Perkataan lirih wanita yang menyerupai siluman hewan itu telah memunculkan tiga hal: tanda tanya, rasa heran, serta ingatan lama.
__ADS_1