
๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ชโฆ ๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ฆ๐ต๐ณ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ต๐ข๐ฑ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช๐ฑ๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ธ๐ข๐ด๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข, ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฌ๐ข๐จ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ.
"Hah, terserahmu sajalah, Wanita tua," sindir Rena sambil berbalik dan berjalan menjauh. Liyana menyimpulkan senyum tipis bersama ekspresi mengancam yang tersembunyi, sementara Ilfra menggeleng beberapa kali.
"Ah, aku pergi dulu, ya. Maaf kalau kau merasa tidak nyaman tadi, bye."
Selepas memperlihatkan raut hangat, Liyana pun pergi menyusul Rena bersama ekspresi dingin. Ilfra semakin tertegun dan rasa takjubnya menjadi berbinar-binar. Meskipun begitu, ia kembali menggeleng beberapa kali karena perasaan tersebut.
๐๐ฉ๐ฉ, ๐ด๐ช๐ง๐ข๐ต ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ค๐ถ๐ญ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ. ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ณ๐ช๐ฌ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ขโ ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ!
Ilfra segera melangkahkan kakinya menuju tempat tujuanโSekolah Menengah Pertama Shikuro. Ia menyudahi pandangan dan pikiran yang terfokus pada Liyana, juga mulai memikirkan Rena. ๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข โฆ.
Di sisi lain, Liyana menghentikan langkah dan melirik ke arah Ilfra. Ia memandang gadis berambut pink itu sejenak sebelum mendengar langkah kaki lain mendekati diri.
"Oy, Wanita tua!" panggil Rena tepat di telinga Liyana yang tampak runcing.
Mata merah bak darah itu langsung diarahkan pada sang pemanggil. Namun, raut dingin mengancamnya dibalas dengan seringai. Ia pun membuang napas bersama tangan yang menarik telinga lawan bicara.
"Kau cari mati, ya, dengan gadis SMP? Sadar diri, Femboy!" hina Liyana dengan suara yang melebihi ketegasan Rena.
Rasa sakit dari telinga yang memerah tak diacuhkan lelaki pirang itu. Ia malah memegang pergelangan tangan Liyana yang memutar telinganya, lalu menghilangkan raut mengejek di wajah.
"Ada apa dengan gadis itu, Liyana Alystierynโ"
"Kurang Alyn, Bocah Sialan!" potong gadis berambut putih panjang tersebut dengan tangan yang melepas pegangan Rena. Helaan napas dikeluarkan dan ekspresi wajah kembali diubah.
"Kita bicarakan di lain tempat," lirih Liyana dengan nada dingin yang menyengat pendengaran Rena.
**
Seorang gadis yang masih baru menginjak masa remaja memasuki kawasan persekolahan. Suasana kesepian terasa sangat saat ia berjalan di lorong sekolah. Ia sempat berhenti sejenak dan memandang ruang kelasnya yang tak kalah sunyi.
๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฑ๐ข๐จ๐ช? Gadis itu memiringkan kepala sambil terpejam, melihat kegelapan yang ada dalam mata.
๐๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐บ๐ช๐ข๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ข๐ฅ๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ข๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฎ๐ถ๐ณ๐ช๐ฅ ๐๐๐ ๐ช๐ต๐ถ. Mulutnya perlahan dibuka dan meniup sedikit udara dingin di ruangan.
"๐๐ฉ๐ช๐ฏ๐ฆโฆ,"-netra merah muda gadis tersebut terbuka-"๐๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ."
__ADS_1
Detakan dalam diri seketika menggelegar ke seluruh tubuh saat indra penglihatan telah digunakan. Pemikirannya membeku setelah menganggap belenggu merasakan hawa aneh. Gadis itu akhirnya terduduk setelah meyakini ketidakpercayaannya.
Ruang kelas yang awalnya sepi menjadi ramai dengan siswa-siswi. Namun, siswa-siswi tersebut sudah tergeletak tanpa nyawa di lantai. Di antara kemarik putih dan baju putih siswa-siswi, ada cairan merah berbau amis yang menggenang.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ช๐ฏ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌโ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ! ๐โ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต '๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ช๐ญ๐ถ๐ด๐ช? ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฎ๐ข๐ซ๐ช๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐จ๐ช? ๐๐ถ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ถ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ!
"๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช, ๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณโ"
"๐๐ข๐ข๐ข๐ข!"
Teriakan menggaung disuarakan gadis tersebut atas ketakutannya, menyebabkan kenyataan yang dilihat berganti. Siswa-siswi yang tergeletak bersimbah darah tiba-tiba menunjukkan wujud aslinyaโmakhluk hitam bak bayangan peniru manusia. Lalu, bentuk udara tanpa warna adalah wujud terakhir dari makhluk-makhluk tersebut.
๐๐ฆ๐ณ๐จ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช! ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ช! ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ!
Jendela kelas seketika terbuka dengan sendirinya, mendatangkan angin kencang pemecah tangisan. Ia menyuarakan kesedihannya dengan menutupi wajah, menyebabkan ketidaktahuan kondisi kelas sudah kembali sepi. Hingga embusan napas musim dingin perlahan melirih dan memanggil sikap pengakhiran tangis beserta takutnya.
Gadis itu segera berpindah tempat duduk, dari lantai ke kursinya yang ada di sebelah jendela. Air mata kembali diusap bersama napas yang diatur agar tenang. Handphone yang selalu dibawanya pun diambil, demi mengecek betapa rajinnya diri.
๐๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ. ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฑ๐ข๐จ๐ช, ๐บ๐ข? ๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ-๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข. ๐๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ ๐ต๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต, ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฑ๐ข๐จ๐ช.
Anila dingin berembus untuk kesekian kalinya dengan melodi yang cukup besar, tetapi tenang dan melembutkan. Rambut merah muda pendek gadis itu seakan-akan dibelai karenanya. Bersama senyuman yang dilakukan untuk melenyapkan kejadian sebelumnya, gadis bernama Ilfra Alfyna Avylin memilih meletakkan kepala di atas meja.
ย โขโขโข
๐๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ถ๐ณ๐ถ๐ง ๐ฅ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ค๐ช๐ฑ๐ต๐ข. ๐๐ช๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ช๐ด๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ, ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช๐ด๐ช๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ฎ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ข๐ด๐ช๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ.
๐๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ช๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ, pikir anak perempuan yang akan mendapati usia tujuh tahun besok. Ia menyipitkan mata dan menepuk pelan kepalanya dengan jari telunjuk, berharap jawaban akan muncul setelahnya.
"Uhh, aku tidak paham sama sekali." Anak kecil itu segera beranjak dari tempatnya duduk, lalu berlari keluar kamar mencari bantuan. "Ayah, Ayah. Aku ingin minta tolong."
๐๐ฉ? ๐๐บ๐ข๐ฉ? Penglihatan anak itu sedikit melebar. Kakinya memilih menetap dan menjadikan diri bergeming di ruang tamu.
"Kok sepi? Ayah ke mana?" Anak itu menoleh ke arah lain sebelum kembali melangkah. "Ibu? Apa ibu di rumah?"
Sunyi dan sepi, hanya itu yang dilihatnya di ruang dapur. ๐๐ช๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฃ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ด๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ฃ๐ถ ๐ฌ๐ฆ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข?
Suara bel tiba-tiba terdengar, sedikit mengejutkan dan memberi rasa senang beserta tenang di saat yang sama. Anak perempuan itu lekas berlari menuju pintu keluar masuk rumah, mengharapkan dua sosok yang dicarinya ada di sana.
__ADS_1
"Ayah, Ibu! Akuโ" Netra berwarna pink anak itu kembali terbuka lebar, tetapi dengan alasan yang berbeda. Pintu keluar masuk rumah yang dihalangi seorang gadis remaja adalah alasannya.
Anak tersebut sedikit tertegun sebelum menyuarakan rasa penasarannya. "Kakak siapa?"
Tidak ada jawaban meski terlihat jelas bibir gadis remaja itu sedikit terbuka sesaat. Namun, anak dengan rambut pink pendek itu kembali bertanya. "Kakak siapa? Kakak mirip sepertiku."
Tangan gadis remaja itu mulai mengepal, begitu juga dengan bibir bawahnya yang digigit kuat. Meski perkataan anak tersebut benar, bukan itu yang membuat gadis bermata pink terdiam paksa.
"Kakak kok diam saja? Ada apa?" Anak kecil tersebut mulai berjalan mendekat dengan wajah polos yang terus diperlihatkan. Gadis remaja itu tampak ketakutan, hingga pintu rumah yang terbuka mengalihkan fokusnya.
"Eh, Ayah, Ibu!" Anak kecil itu langsung berlari melewati sang gadis dan memeluk kaki kedua orang tuanya.
"Wah, Ilfra mencari ayah dan ibu, ya?" Sang ayah bertanya sembari berjongkok dan mengelus rambut anaknya.
"Ayah dan ibu pergi jalan-jalan tadi, sambil membagikan kue ke tetangga. Maaf, ya, karena tidak bilang ke Ilfra tadi," sambung sang ibu dengan senyum indah yang ditampilkan.
"Em. Tidak apa-apa, kok. Tapi lain kali, ajak aku juga, ya, hehe." Ilfraโanak kecil berambut pink pendekโtersenyum lebar dengan mata yang dipejamkan. Ia gembira bisa bersama kedua orang tuanya, melupakan sosok gadis remaja yang masih berdiri melihatnya.
"Ah! Kakakโ" Rasa terkejut kembali hinggap dalam diri Ilfra saat menoleh ke belakang. "Kok tidak ada?"
"Hem? Ilfra cari apa? Apa ada tamu?"
"Ah, tadi ada kakak perempuan berdiri di sini. Apa ayah tidak melihatnya?"
"Ibu tidak melihatnya. Ayah juga tidak 'kan?" Sang ayah mengangguk menyetujui perkataan ibu dari anak satu-satunya itu.
"Tadi ada kok! Sungguh, kakak ituโ" Ilfra lagi-lagi dikejutkan dengan kehadiran gadis remaja yang mirip sepertinya. Namun, emosi takut muncul dalam dirinya saat melihat benda tajam di tangan gadis itu.
"๐๐ข๐ข๐ง," lirih gadis itu seraya mengayunkan pisau secara horizontal ke leher orang tua Ilfra.
ย โขโขโข
Keterkejutan langsung menyerang bak peluru menembus tubuh dan jiwa. Belenggu yang memilih beristirahat menjadi terbangun ketika otak menampilkan mimpi. Napas tak beraturan, juga pikiran yang seakan berseteru dengan otak bagian mimpi dan ingatan. Ilfra hanya bisa berusaha untuk kembali tenang atas semua itu, entah untuk keberapa kalinya.
๐๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ต๐ข๐ฅ๐ช? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ โฆ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ช๐ฎ๐ฑ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ฌ๐ถ '๐ฌ๐ข๐ฏ โฆ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ถ๐ข๐ฌ๐ถ. Air mata yang ingin menetes segera diusap, dilanjutkan oleh gelengan kepala sebanyak dua kali.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข. ๐๐ข๐ณ๐ช๐ฌ ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข๐ด โฆ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ, ๐ข๐บ๐ฐ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ฏ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฑ๐ณ๐ช๐ฃ๐ข๐ฅ๐ช!
__ADS_1
Sekali lagi, Ilfra merasakan kenikmatan dari napas alam. Pikiran yang dicoba untuk santai segera terwujudkan. Meski tiba-tiba, muncul sekilas bayang-bayang ingatan tentang gadis berambut putih dan laki-laki pirang.
๐๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข โฆ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐๐ ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ, ๐บ๐ข?