Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 4.5: Hanya Mimpi


__ADS_3

๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ชโ€ฆ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜•๐˜ฆ๐˜ต๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ.


"Hah, terserahmu sajalah, Wanita tua," sindir Rena sambil berbalik dan berjalan menjauh. Liyana menyimpulkan senyum tipis bersama ekspresi mengancam yang tersembunyi, sementara Ilfra menggeleng beberapa kali.


"Ah, aku pergi dulu, ya. Maaf kalau kau merasa tidak nyaman tadi, bye."


Selepas memperlihatkan raut hangat, Liyana pun pergi menyusul Rena bersama ekspresi dingin. Ilfra semakin tertegun dan rasa takjubnya menjadi berbinar-binar. Meskipun begitu, ia kembali menggeleng beberapa kali karena perasaan tersebut.


๐˜œ๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ง๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ขโ€” ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ!


Ilfra segera melangkahkan kakinya menuju tempat tujuanโ€”Sekolah Menengah Pertama Shikuro. Ia menyudahi pandangan dan pikiran yang terfokus pada Liyana, juga mulai memikirkan Rena. ๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข โ€ฆ.


Di sisi lain, Liyana menghentikan langkah dan melirik ke arah Ilfra. Ia memandang gadis berambut pink itu sejenak sebelum mendengar langkah kaki lain mendekati diri.


"Oy, Wanita tua!" panggil Rena tepat di telinga Liyana yang tampak runcing.


Mata merah bak darah itu langsung diarahkan pada sang pemanggil. Namun, raut dingin mengancamnya dibalas dengan seringai. Ia pun membuang napas bersama tangan yang menarik telinga lawan bicara.


"Kau cari mati, ya, dengan gadis SMP? Sadar diri, Femboy!" hina Liyana dengan suara yang melebihi ketegasan Rena.


Rasa sakit dari telinga yang memerah tak diacuhkan lelaki pirang itu. Ia malah memegang pergelangan tangan Liyana yang memutar telinganya, lalu menghilangkan raut mengejek di wajah.


"Ada apa dengan gadis itu, Liyana Alystierynโ€”"


"Kurang Alyn, Bocah Sialan!" potong gadis berambut putih panjang tersebut dengan tangan yang melepas pegangan Rena. Helaan napas dikeluarkan dan ekspresi wajah kembali diubah.


"Kita bicarakan di lain tempat," lirih Liyana dengan nada dingin yang menyengat pendengaran Rena.


**


Seorang gadis yang masih baru menginjak masa remaja memasuki kawasan persekolahan. Suasana kesepian terasa sangat saat ia berjalan di lorong sekolah. Ia sempat berhenti sejenak dan memandang ruang kelasnya yang tak kalah sunyi.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช? Gadis itu memiringkan kepala sambil terpejam, melihat kegelapan yang ada dalam mata.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฅ ๐˜š๐˜”๐˜ˆ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. Mulutnya perlahan dibuka dan meniup sedikit udara dingin di ruangan.


"๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆโ€ฆ,"-netra merah muda gadis tersebut terbuka-"๐˜”๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜™๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ."

__ADS_1


Detakan dalam diri seketika menggelegar ke seluruh tubuh saat indra penglihatan telah digunakan. Pemikirannya membeku setelah menganggap belenggu merasakan hawa aneh. Gadis itu akhirnya terduduk setelah meyakini ketidakpercayaannya.


Ruang kelas yang awalnya sepi menjadi ramai dengan siswa-siswi. Namun, siswa-siswi tersebut sudah tergeletak tanpa nyawa di lantai. Di antara kemarik putih dan baju putih siswa-siswi, ada cairan merah berbau amis yang menggenang.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌโ€” ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ! ๐˜ˆโ€“๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ช๐˜ญ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช? ๐˜’๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ!


"๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜”๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณโ€”"


"๐˜ˆ๐˜ข๐˜ข๐˜ข๐˜ข!"


Teriakan menggaung disuarakan gadis tersebut atas ketakutannya, menyebabkan kenyataan yang dilihat berganti. Siswa-siswi yang tergeletak bersimbah darah tiba-tiba menunjukkan wujud aslinyaโ€”makhluk hitam bak bayangan peniru manusia. Lalu, bentuk udara tanpa warna adalah wujud terakhir dari makhluk-makhluk tersebut.


๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ!


Jendela kelas seketika terbuka dengan sendirinya, mendatangkan angin kencang pemecah tangisan. Ia menyuarakan kesedihannya dengan menutupi wajah, menyebabkan ketidaktahuan kondisi kelas sudah kembali sepi. Hingga embusan napas musim dingin perlahan melirih dan memanggil sikap pengakhiran tangis beserta takutnya.


Gadis itu segera berpindah tempat duduk, dari lantai ke kursinya yang ada di sebelah jendela. Air mata kembali diusap bersama napas yang diatur agar tenang. Handphone yang selalu dibawanya pun diambil, demi mengecek betapa rajinnya diri.


๐˜—๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช, ๐˜บ๐˜ข? ๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ-๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜จ๐˜ช.


Anila dingin berembus untuk kesekian kalinya dengan melodi yang cukup besar, tetapi tenang dan melembutkan. Rambut merah muda pendek gadis itu seakan-akan dibelai karenanya. Bersama senyuman yang dilakukan untuk melenyapkan kejadian sebelumnya, gadis bernama Ilfra Alfyna Avylin memilih meletakkan kepala di atas meja.


ย โ€ขโ€ขโ€ข


๐˜’๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ง ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข. ๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ช๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ.


๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, pikir anak perempuan yang akan mendapati usia tujuh tahun besok. Ia menyipitkan mata dan menepuk pelan kepalanya dengan jari telunjuk, berharap jawaban akan muncul setelahnya.


"Uhh, aku tidak paham sama sekali." Anak kecil itu segera beranjak dari tempatnya duduk, lalu berlari keluar kamar mencari bantuan. "Ayah, Ayah. Aku ingin minta tolong."


๐˜Œ๐˜ฉ? ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ? Penglihatan anak itu sedikit melebar. Kakinya memilih menetap dan menjadikan diri bergeming di ruang tamu.


"Kok sepi? Ayah ke mana?" Anak itu menoleh ke arah lain sebelum kembali melangkah. "Ibu? Apa ibu di rumah?"


Sunyi dan sepi, hanya itu yang dilihatnya di ruang dapur. ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข?


Suara bel tiba-tiba terdengar, sedikit mengejutkan dan memberi rasa senang beserta tenang di saat yang sama. Anak perempuan itu lekas berlari menuju pintu keluar masuk rumah, mengharapkan dua sosok yang dicarinya ada di sana.

__ADS_1


"Ayah, Ibu! Akuโ€”" Netra berwarna pink anak itu kembali terbuka lebar, tetapi dengan alasan yang berbeda. Pintu keluar masuk rumah yang dihalangi seorang gadis remaja adalah alasannya.


Anak tersebut sedikit tertegun sebelum menyuarakan rasa penasarannya. "Kakak siapa?"


Tidak ada jawaban meski terlihat jelas bibir gadis remaja itu sedikit terbuka sesaat. Namun, anak dengan rambut pink pendek itu kembali bertanya. "Kakak siapa? Kakak mirip sepertiku."


Tangan gadis remaja itu mulai mengepal, begitu juga dengan bibir bawahnya yang digigit kuat. Meski perkataan anak tersebut benar, bukan itu yang membuat gadis bermata pink terdiam paksa.


"Kakak kok diam saja? Ada apa?" Anak kecil tersebut mulai berjalan mendekat dengan wajah polos yang terus diperlihatkan. Gadis remaja itu tampak ketakutan, hingga pintu rumah yang terbuka mengalihkan fokusnya.


"Eh, Ayah, Ibu!" Anak kecil itu langsung berlari melewati sang gadis dan memeluk kaki kedua orang tuanya.


"Wah, Ilfra mencari ayah dan ibu, ya?" Sang ayah bertanya sembari berjongkok dan mengelus rambut anaknya.


"Ayah dan ibu pergi jalan-jalan tadi, sambil membagikan kue ke tetangga. Maaf, ya, karena tidak bilang ke Ilfra tadi," sambung sang ibu dengan senyum indah yang ditampilkan.


"Em. Tidak apa-apa, kok. Tapi lain kali, ajak aku juga, ya, hehe." Ilfraโ€”anak kecil berambut pink pendekโ€”tersenyum lebar dengan mata yang dipejamkan. Ia gembira bisa bersama kedua orang tuanya, melupakan sosok gadis remaja yang masih berdiri melihatnya.


"Ah! Kakakโ€”" Rasa terkejut kembali hinggap dalam diri Ilfra saat menoleh ke belakang. "Kok tidak ada?"


"Hem? Ilfra cari apa? Apa ada tamu?"


"Ah, tadi ada kakak perempuan berdiri di sini. Apa ayah tidak melihatnya?"


"Ibu tidak melihatnya. Ayah juga tidak 'kan?" Sang ayah mengangguk menyetujui perkataan ibu dari anak satu-satunya itu.


"Tadi ada kok! Sungguh, kakak ituโ€”" Ilfra lagi-lagi dikejutkan dengan kehadiran gadis remaja yang mirip sepertinya. Namun, emosi takut muncul dalam dirinya saat melihat benda tajam di tangan gadis itu.


"๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง," lirih gadis itu seraya mengayunkan pisau secara horizontal ke leher orang tua Ilfra.


ย โ€ขโ€ขโ€ข


Keterkejutan langsung menyerang bak peluru menembus tubuh dan jiwa. Belenggu yang memilih beristirahat menjadi terbangun ketika otak menampilkan mimpi. Napas tak beraturan, juga pikiran yang seakan berseteru dengan otak bagian mimpi dan ingatan. Ilfra hanya bisa berusaha untuk kembali tenang atas semua itu, entah untuk keberapa kalinya.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ โ€ฆ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. Air mata yang ingin menetes segera diusap, dilanjutkan oleh gelengan kepala sebanyak dua kali.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข. ๐˜›๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด โ€ฆ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜—๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ข๐˜บ๐˜ฐ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฑ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช!

__ADS_1


Sekali lagi, Ilfra merasakan kenikmatan dari napas alam. Pikiran yang dicoba untuk santai segera terwujudkan. Meski tiba-tiba, muncul sekilas bayang-bayang ingatan tentang gadis berambut putih dan laki-laki pirang.


๐˜”๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜š๐˜”๐˜ˆ ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ, ๐˜บ๐˜ข?


__ADS_2