
Masih di tanggal 25 Januari, tetapi pada pukul 09.05 pagi. Hawa dingin dan bentuk kondensasi yang tadinya diabaikan semakin pekat. Lina tertangkap jelas tengah mempermainkan asap hasil embusan napas. Sambil berbaring tanpa ada kegiatan lain, ia pun membuat otaknya bekerja.
๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฉ ๐ธ๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ช๐ฏ๐ง๐ฐ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ช๐บ๐ข๐ฏ๐ขโ๐ด๐ช๐ด๐ธ๐ช ๐๐๐ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ช๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ณ๐ช๐ฏ. ๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ๐จ๐ข ๐๐ญ๐บ๐ด๐ต๐ช๐ฆ๐ณ๐บ๐ฏ. ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ฌ๐ถ. ๐๐ฑ๐ข ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฌ๐ถ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ถ? ๐๐ถ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ช๐บ๐ข. ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฆ๐จ๐ข๐ณ๐ข ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ, ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ธ๐ช๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฉ.
Gadis itu meninggalkan kasur yang digunakannya akibat bosan. Tangan, otak, dan mata saling terhubung untuk mencari buku atlas yang menyimpan peta dunia beserta negara. Ketika ditemukan buku yang dicari, ia lekas membuka dan memeriksa peta negaranya.
๐๐ฉ, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐๐ฆ๐ช๐ด๐ฉ๐ขโ๐๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฆ๐จ๐ข๐ณ๐ขโ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ถ. ๐๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ, ๐บ๐ข? ๐๐ข๐ข๐ฉ. Lina menutup buku atlas dan meletakkannya di tempatnya semula; lemari buku. Setelah kembali menjadi malas di atas kasur, ia bergumam. "Aku kabur ke sini tahun kapan, ya? Tahun saat wabah kah?"
Pendengaran yang terusik dengan suara dari luar membuat mata mengekspresikan penasaran. ๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฉ๐ถ๐ซ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ญ๐ซ๐ถ? ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐บ๐ข. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ด ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ค๐ฆ๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข.
**
"Hujannya malah makin lebat rupanya," ungkap gadis yang tengah menyaksikan jatuhnya rombongan bulir salju. Tangannya menarik tirai jendela dan membuat kain bermotif batik bunga itu menutup kaca transparan.
Mata emasnya diarahkan pada sang kakakโgadis berambut putih yang tengah fokus menulis. "Apa yang kau tulis, Kak Liya?"
Liya berdecak kesal sebelum melihat sang adik. Ia cukup muak melihat gaya berpakaian gadis itu. "Kau bilang sulit menjalani kenormalan, lalu apaa maksudnya baju sekolah dililitkan lengannya di pinggang, Ryn?"
Ryn sedikit mengekspresikan ketakutan akibat perkataan Liya yang terbakar amarah. "Haโhanya fashion di zaman ini, kok. Memangnya kenapa kalau aku mencoba normal?"
"Haah, bukan masalah sebenarnya. Kesanku cukup buruk dengan percobaanmu yang tak lihat waktu."-Liya mengubah nada bicara dan frekuensi suara-"Seharusnya kau pakai syal dan sweater sekarang! Kau malah mengenakan pakaian yang tidak cocok dengan musim dingin!"
๐๐ข๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ, ๐๐ช๐บ๐ข? Ryn menyimpan keterkejutannya untuk mencegah masalah besar. "Baiklah, baiik. Aku yang salah, jadi jangan marah, ya, hehehe."
Lonceng rumah berbunyi pertanda adanya orang yang bertamu. Hal tersebut mengabulkan harapan Ryn yang ingin melenyapkan kekesalan Liya.
"Mungkin itu teman gadis monster yang aku undang. Akan kutemui dia, kau cepat pakai syal dan lepaskan pakaian sekolah itu." Sang kakak lekas keluar dari ruang kerja dan meninggalkan si adik yang bergeming.
"Padahal aku suka dengan ini โฆ," lirih Ryn dengan napas panjang yang dibuang setelahnya. ๐๐ฉ ๐ช๐บ๐ข, ๐๐ช๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ธ๐ข๐ฃ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช. ๐๐ถ๐ฉ. ๐๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ญ๐ข๐ฉ.
__ADS_1
Lonceng terus dibunyikan oleh tamu, sedangkan Liya semakin bergegas menuju pintu. Ia menyembunyikan kekesalan akibat ketidaksabaran si tamu. Ketika pintu rumah dibuka, gadis bertelinga panjang itu dibuat terkejut oleh tamunya yang langsung masuk tanpa salam kata. Rasa sakit dikeluarkan Liya saat lelaki berambut kuning itu menabraknya, lalu berakhir membuat diri terjatuh ditindih lawan jenis.
"Apa-apaan kau, Bocah!"
"Ukhh, dingin tauโ" Penjelasan singkat lelaki itu langsung terpotong akibat bersin yang tak bisa ditahan, ditambah batuk kecil karena dorongan kasar tuan rumah.
"Siapa suruh bertamu tanpa bilang-bilang โฆ!" Liya memperlihatkan senyum penahan amarah, dilanjutkan dengan membantu tamunya untuk berdiri. "Bersihkan saljunya dan cepat hangatkan diri."
"Hah?"
"Cepat sana, Rena El Arfenza!" tegas Liya sambil menutup pintu rumah dengan keras.
"Nah, gitu dong, Liyana Si Nenek Tua," lirih Renaโsi lelaki dengan jaket tebal berwarna biru gelapโsebagai pencairan suasana, tetapi dibalas oleh Liya dengan gigitan kuat pada leher.
Rintihan kecil ia suarakan, mengabaikan perubahan yang perlahan terasa pada tubuhnya. Rasa hangat dan terhindar dari hawa beku, itulah yang diterima dari gigitan si perempuan. Saat gigitan diselesaikan, ia dapat melihat dua taring tajam si rekan yang membawa aura licik. Darah yang tersisa di bibir gadis remaja bermata merah telah membangkitkan sedikit ketakutannya.
๐๐ช๐บ๐ข๐ฏ๐ข ๐๐ญ๐บ๐ฏ ๐๐ญ๐บ๐ด๐ต๐ช๐ฆ๐ณ๐บ๐ฏโ
Setelah kesunyian berlalu satu menit, Rena memberanikan diri untuk membuka mulut. "Ya, aku memang manusia, kok."
"Terserahlah. Silakan masuk ke ruang tamu dan duduk. Aku akan membersihkan sisa salju ini."
"Biar kubanโ" Liyana menjentikkan jari sehingga benda putih yang ada di ruangan lenyap seketika. Rena semakin dibuat diam, apalagi saat perempuan itu berkata.
"Apa susah untuk memikirkan dirimu sendiri? Sudah tahu kau itu manusia."
Keheningan didapatkan dengan penuh oleh Rena seusai Liyana melangkah masuk menuju ruang lain. Ia hanya tersenyum sejenak untuk menanggapi, juga melangkah menyusul sosok yang dijadikan tujuan.
๐ ๐ข๐ฉ โฆ. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฎ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐จ๐ข๐ฎ๐ฆ; ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐จ, ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ต๐ข๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ, ๐บ๐ข? ๐๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ.
__ADS_1
Di waktu yang sama saat Liyana membukakan pintu untuk tamu, Ryn telah berada di sebuah kamar. Ia menggantungkan seragam sekolah di stand hanger, memandang diri pada cermin di lemari, dan berakhir memilih pakaian yang menurutnya cocok untuk musim dingin.
Dua menit hampir digunakan Ryn untuk merenungi pilihannya dalam mengenakan pakaian. Hingga isi lemari pakaian mulai sedikit, ia akhirnya mendapatkan yang sesuai. Setelan sweater dengan celana panjang hitam bermotif api putih, itulah yang jadi pakaiannya sekarang.
๐๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข โฆ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ซ๐ถ๐จ๐ข๐ข ๐๐ช๐บ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ช๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ข๐จ๐ถ๐ด ๐ณ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
Ryn melihat ke ranjangnya yang bertumpuk banyak pakaian. ๐โ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฑ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฉ? ๐โ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ. ๐๐ข๐ฉ๐ข.
Telpon rumah di dekat pintu kamar berdering, memaksa Ryn untuk berhenti sejenak membereskan kekacauan. "Halo? Dengan Ryn Evylen Alystieryn di sini."
**
["Ini ibu, Nak Lina. Bagaimana kabarmu? Berita terbaru mengatakan bahwa di sana tengah terjadi badai salju. Ibu sedikit khawatir."]
๐๐ฉ, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต, batin Lina dengan penyesalan sebab mengangkat panggilan telepon dari sang ibu. "Badainya tidak mengganggu, kok, Bu. Hanya terus mengamuk saja."
"Entah sampai kapan," imbuh Lina selepas mengheningkan pembicaraan selama dua detik.
["Begitu, ya. Omong-omong, bagaimana sekolahmu? Kamu baikโ"]
"Sekolah tidak punya perasaan, Bu. Sudah, ya. Aku baik-baik saja di sini. Aku akan pulang jika memang sudah ingin."
Opsi berbentuk lingkaran merah dengan ikon telepon ditekan, menyebabkan berakhirnya komunikasi jarak jauh. Lina membiarkan kesepian melandanya cukup lama, membuat handphone di genggaman lekas diletakkan di atas kasur. Ia pun keluar dari kamar menuju dapur, mengambil satu mi cup instan di lemari untuk dijadikan penenang.
Sofa di ruang tamu diduduki, mi cup instan pun dinikmati. Lina membiarkan pikirannya kosong saat menyantapnya. Hingga saat makanan kesukaannya habis, ia menjalankan otak dengan perasaan.
๐๐ฃ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ญ๐ฑ๐ฐ๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ. Lina mengembuskan napasnya yang menjadi asap putih tipis. ๐๐ข๐จ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข, ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข โฆ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข.
๐๐ช๐ด๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข, ๐ต๐ข๐ฑ๐ชโ ๐ข๐ฌ๐ฉ! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ช๐ต! ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ! ๐๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ข๐ฑ๐ข ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ข๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ข๐ฏ๐ช๐ต๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ข๐ถ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ต๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ฑ๐ฐ๐ณ๐ต๐ข๐ด๐ช.
__ADS_1
"Ah, teleportasi." Lina menggumam dengan penglihatan mata birunya yang menampilkan harapan.