Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 19: Kejutan Buruk


__ADS_3

Masih di tanggal 25 Januari, tetapi pada pukul 09.05 pagi. Hawa dingin dan bentuk kondensasi yang tadinya diabaikan semakin pekat. Lina tertangkap jelas tengah mempermainkan asap hasil embusan napas. Sambil berbaring tanpa ada kegiatan lain, ia pun membuat otaknya bekerja.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ง๐˜ฐ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜“๐˜ช๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ขโ€”๐˜ด๐˜ช๐˜ด๐˜ธ๐˜ช ๐˜š๐˜”๐˜ˆ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฆ๐˜ณ๐˜บ๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ? ๐˜’๐˜ถ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜บ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜•๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ธ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ.


Gadis itu meninggalkan kasur yang digunakannya akibat bosan. Tangan, otak, dan mata saling terhubung untuk mencari buku atlas yang menyimpan peta dunia beserta negara. Ketika ditemukan buku yang dicari, ia lekas membuka dan memeriksa peta negaranya.


๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜๐˜ฆ๐˜ช๐˜ด๐˜ฉ๐˜ขโ€”๐˜๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜•๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ๐˜ขโ€”๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ. ๐˜๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ, ๐˜บ๐˜ข? ๐˜๐˜ข๐˜ข๐˜ฉ. Lina menutup buku atlas dan meletakkannya di tempatnya semula; lemari buku. Setelah kembali menjadi malas di atas kasur, ia bergumam. "Aku kabur ke sini tahun kapan, ya? Tahun saat wabah kah?"


Pendengaran yang terusik dengan suara dari luar membuat mata mengekspresikan penasaran. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ซ๐˜ถ? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜บ๐˜ข. ๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


**


"Hujannya malah makin lebat rupanya," ungkap gadis yang tengah menyaksikan jatuhnya rombongan bulir salju. Tangannya menarik tirai jendela dan membuat kain bermotif batik bunga itu menutup kaca transparan.


Mata emasnya diarahkan pada sang kakakโ€”gadis berambut putih yang tengah fokus menulis. "Apa yang kau tulis, Kak Liya?"


Liya berdecak kesal sebelum melihat sang adik. Ia cukup muak melihat gaya berpakaian gadis itu. "Kau bilang sulit menjalani kenormalan, lalu apaa maksudnya baju sekolah dililitkan lengannya di pinggang, Ryn?"


Ryn sedikit mengekspresikan ketakutan akibat perkataan Liya yang terbakar amarah. "Haโ€“hanya fashion di zaman ini, kok. Memangnya kenapa kalau aku mencoba normal?"


"Haah, bukan masalah sebenarnya. Kesanku cukup buruk dengan percobaanmu yang tak lihat waktu."-Liya mengubah nada bicara dan frekuensi suara-"Seharusnya kau pakai syal dan sweater sekarang! Kau malah mengenakan pakaian yang tidak cocok dengan musim dingin!"


๐˜“๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜“๐˜ช๐˜บ๐˜ข? Ryn menyimpan keterkejutannya untuk mencegah masalah besar. "Baiklah, baiik. Aku yang salah, jadi jangan marah, ya, hehehe."


Lonceng rumah berbunyi pertanda adanya orang yang bertamu. Hal tersebut mengabulkan harapan Ryn yang ingin melenyapkan kekesalan Liya.


"Mungkin itu teman gadis monster yang aku undang. Akan kutemui dia, kau cepat pakai syal dan lepaskan pakaian sekolah itu." Sang kakak lekas keluar dari ruang kerja dan meninggalkan si adik yang bergeming.


"Padahal aku suka dengan ini โ€ฆ," lirih Ryn dengan napas panjang yang dibuang setelahnya. ๐˜–๐˜ฉ ๐˜ช๐˜บ๐˜ข, ๐˜“๐˜ช๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช. ๐˜๐˜ถ๐˜ฉ. ๐˜‰๐˜ช๐˜ข๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.

__ADS_1


Lonceng terus dibunyikan oleh tamu, sedangkan Liya semakin bergegas menuju pintu. Ia menyembunyikan kekesalan akibat ketidaksabaran si tamu. Ketika pintu rumah dibuka, gadis bertelinga panjang itu dibuat terkejut oleh tamunya yang langsung masuk tanpa salam kata. Rasa sakit dikeluarkan Liya saat lelaki berambut kuning itu menabraknya, lalu berakhir membuat diri terjatuh ditindih lawan jenis.


"Apa-apaan kau, Bocah!"


"Ukhh, dingin tauโ€”" Penjelasan singkat lelaki itu langsung terpotong akibat bersin yang tak bisa ditahan, ditambah batuk kecil karena dorongan kasar tuan rumah.


"Siapa suruh bertamu tanpa bilang-bilang โ€ฆ!" Liya memperlihatkan senyum penahan amarah, dilanjutkan dengan membantu tamunya untuk berdiri. "Bersihkan saljunya dan cepat hangatkan diri."


"Hah?"


"Cepat sana, Rena El Arfenza!" tegas Liya sambil menutup pintu rumah dengan keras.


"Nah, gitu dong, Liyana Si Nenek Tua," lirih Renaโ€”si lelaki dengan jaket tebal berwarna biru gelapโ€”sebagai pencairan suasana, tetapi dibalas oleh Liya dengan gigitan kuat pada leher.


Rintihan kecil ia suarakan, mengabaikan perubahan yang perlahan terasa pada tubuhnya. Rasa hangat dan terhindar dari hawa beku, itulah yang diterima dari gigitan si perempuan. Saat gigitan diselesaikan, ia dapat melihat dua taring tajam si rekan yang membawa aura licik. Darah yang tersisa di bibir gadis remaja bermata merah telah membangkitkan sedikit ketakutannya.


๐˜“๐˜ช๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜บ๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜บ๐˜ด๐˜ต๐˜ช๐˜ฆ๐˜ณ๐˜บ๐˜ฏโ€”


Setelah kesunyian berlalu satu menit, Rena memberanikan diri untuk membuka mulut. "Ya, aku memang manusia, kok."


"Terserahlah. Silakan masuk ke ruang tamu dan duduk. Aku akan membersihkan sisa salju ini."


"Biar kubanโ€”" Liyana menjentikkan jari sehingga benda putih yang ada di ruangan lenyap seketika. Rena semakin dibuat diam, apalagi saat perempuan itu berkata.


"Apa susah untuk memikirkan dirimu sendiri? Sudah tahu kau itu manusia."


Keheningan didapatkan dengan penuh oleh Rena seusai Liyana melangkah masuk menuju ruang lain. Ia hanya tersenyum sejenak untuk menanggapi, juga melangkah menyusul sosok yang dijadikan tujuan.


๐˜ ๐˜ข๐˜ฉ โ€ฆ. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฆ; ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜–๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ-๐˜ฐ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜บ๐˜ข? ๐˜›๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ.

__ADS_1


Di waktu yang sama saat Liyana membukakan pintu untuk tamu, Ryn telah berada di sebuah kamar. Ia menggantungkan seragam sekolah di stand hanger, memandang diri pada cermin di lemari, dan berakhir memilih pakaian yang menurutnya cocok untuk musim dingin.


Dua menit hampir digunakan Ryn untuk merenungi pilihannya dalam mengenakan pakaian. Hingga isi lemari pakaian mulai sedikit, ia akhirnya mendapatkan yang sesuai. Setelan sweater dengan celana panjang hitam bermotif api putih, itulah yang jadi pakaiannya sekarang.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ช. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ข ๐˜“๐˜ช๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Ryn melihat ke ranjangnya yang bertumpuk banyak pakaian. ๐˜ˆโ€“๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ? ๐˜‰โ€“๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ. ๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข.


Telpon rumah di dekat pintu kamar berdering, memaksa Ryn untuk berhenti sejenak membereskan kekacauan. "Halo? Dengan Ryn Evylen Alystieryn di sini."


**


["Ini ibu, Nak Lina. Bagaimana kabarmu? Berita terbaru mengatakan bahwa di sana tengah terjadi badai salju. Ibu sedikit khawatir."]


๐˜–๐˜ฉ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต, batin Lina dengan penyesalan sebab mengangkat panggilan telepon dari sang ibu. "Badainya tidak mengganggu, kok, Bu. Hanya terus mengamuk saja."


"Entah sampai kapan," imbuh Lina selepas mengheningkan pembicaraan selama dua detik.


["Begitu, ya. Omong-omong, bagaimana sekolahmu? Kamu baikโ€”"]


"Sekolah tidak punya perasaan, Bu. Sudah, ya. Aku baik-baik saja di sini. Aku akan pulang jika memang sudah ingin."


Opsi berbentuk lingkaran merah dengan ikon telepon ditekan, menyebabkan berakhirnya komunikasi jarak jauh. Lina membiarkan kesepian melandanya cukup lama, membuat handphone di genggaman lekas diletakkan di atas kasur. Ia pun keluar dari kamar menuju dapur, mengambil satu mi cup instan di lemari untuk dijadikan penenang.


Sofa di ruang tamu diduduki, mi cup instan pun dinikmati. Lina membiarkan pikirannya kosong saat menyantapnya. Hingga saat makanan kesukaannya habis, ia menjalankan otak dengan perasaan.


๐˜๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ โ€ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. Lina mengembuskan napasnya yang menjadi asap putih tipis. ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข.


๐˜‰๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ชโ€” ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ! ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ต! ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ! ๐˜›๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ž๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ด๐˜ช.

__ADS_1


"Ah, teleportasi." Lina menggumam dengan penglihatan mata birunya yang menampilkan harapan.


__ADS_2