
๐๐ฉ, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐ด๐ฆ๐ด๐ช ๐ฅ๐ฐ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ, ๐บ๐ข? Ilfra sedikit menyimpulkan senyum sebelum melangkah mundur, bersembunyi agar tak dilihat orang-orang di kuil. Meskipun mereka tak mungkin menoleh kecuali anak kecil yang belum paham betul aturannya.
Gadis berbaju dan rok panjang hitam itu memandang di luar kuil, tepatnya di belakang gerbang Tori berwarna merah. Beruntung sekali karena tidak ada selain dirinya yang melihat sesi doa dan pemberian persembahanโhal yang wajib dilakukan di malam Upacara Perayaan.
๐๐ฉ! Ilfra segera bersembunyi dan tak memunculkan wajahnya ke arah orang-orang itu. Seorang anak kecil yang tiba-tiba menoleh ke belakang adalah penyebabnya. Di sela-sela keterkejutan, Ilfra berpikir untuk pergi atau tetap di sini. Namun, saat orang-orang tersebut mulai beranjak pergi, ia memantapkan niat untuk menjauh.
"Semoga persembahan kita semua disukai dewa."
"Iya, permohonan kita semua juga."
"Yang paling penting, semuanya tetap diberi perlindungan dan berkah."
"Ya!"
Beberapa menit berlalu dan orang-orang itu telah kembali ke rumah masing-masing. Tidak dengan Ilfra yang kembali ke kuil setelah pergi bersembunyi ke pemakaman. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช-๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ช๐ฏ๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข '๐ฌ๐ข๐ฏ?
Suasana dingin berembus dalam bentuk butiran salju yang sudah menghilang beberapa hari. Seorang gadis dengan rambut pink pendek terlihat tak peduli. Ia hanya fokus melangkah dan tak mengalihkan pandangan ke hal selain persembahan. Kuil besar dari kayu dengan warna cokelat yang alami, ia telah menginjakkan kakinya pada lantai kayu bangunan itu.
๐๐ฎ๐ฎ, ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช. ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ด๐ข๐ฅ๐ข๐ณ?
Gadis itu memandang seksama apa yang ada di kuil. Beberapa kendi tua yang disusun di pinggir ruangan, juga pelita menggantung dan menempel pada dinding. Di ujung depan pintu, ada meja yang diletakan bunga beserta persembahan. Lalu, dua patung kecil dan satu patung besar berbentuk serigala berekor tujuh.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฑ๐ฆ๐ด๐ช๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ถ๐ด๐ถ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฏ๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ถ.
Bau harum dan sedikit menyengat tak dipedulikan, tetapi persembahan yang tampak menggiurkan mulai dilihat lama oleh Ilfra. ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ. ๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข '๐ฌ๐ข๐ฏ?
Seusai mengambil dan memakan salah satu makanan persembahan, rasa enak yang mengalir di mulutnya membuat tangan kembali mengambil persembahan. Ia hampir memakan semua persembahan hingga seseorang menepuk pundaknya.
"๐๐ฆ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ฃ๐ถ๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ."
"๐๐ฆ๐ฎ?" Ilfra menoleh sembari menelan makanan yang ada di mulutnya, lalu mencermati sosok perempuan berpakaian kimono hitam.
__ADS_1
"๐๐ข๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข," lirih perempuan itu sebelum duduk dan mengusap pipi gadis di hadapannya. Ia memandangi wajah dengan ekspresi polos dan lugu itu, menelaah raut asli yang disembunyikan.
"๐๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ช, ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ-๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ โฆ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ชโ"
"๐๐ฐ๐ถ ๐ช๐ช. ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ด๐ข๐ซ๐ข?" Ilfra berucap dengan nada rendah dan menyingkirkan tangan perempuan itu dari pipinya. Aliran bening seketika keluar dari ujung mata, memberikan keterkejutan bagi si perempuan kimono hitam.
Ia menyimpulkan senyuman; mengunci mulut agar tidak mengungkap kata. Walau akhirnya, satu kalimat ia utarakan demi memperjelas keinginan singkatnya. "๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ-๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ฌ๐ถ ๐ช๐ต๐ถ โฆ."
๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช โฆ! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฆ๐ด๐ข๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฌ๐ถ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ข๐ถ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ-๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ, ๐ต๐ช๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ค๐ฆ๐ณ๐ฐ๐ฃ๐ฐ๐ฉ๐ฌ๐ถ, ๐ฎ๐ข๐ถ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ-๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฆ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช๐ข๐ฏ, ๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ, ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ต๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ต๐ถ๐ซ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ธ๐ข๐ณ๐จ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ, ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด โฆ ๐ข๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฃ๐ถ๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช?
๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ธ๐ข! ๐๐ฌ๐ถ, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ! ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ข๐ด ๐ด๐ถ๐ณ๐ข๐ต ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ด๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข?
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข?
Perempuan berambut hitam panjang itu hanya bergeming melihat tangisan sunyi Ilfra. Tidak ada rasa yang ingin disalurkannya untuk mengakhiri kesedihan itu. Ia tahu bahwa melakukan hal selain diam bisa saja membawa petaka. Namun, ia juga tak tahu tentang perasaan yang dirasakan gadis manusia di depannya.
"๐๐ฆ๐ช โฆ." Netra hitam kemerahan milik perempuan itu sedikit melebar, mengganti tatapan kosong untuk si gadis menjadi pandangan normal. Ia melihat jelas air mata yang berlimpah telah dibuang, begitu pun ekspresi sedih dan layu.
"๐๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ถ๐ค๐ข๐ฑ ๐ฑ๐ข๐ณ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข-๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ถ๐ต ๐ช๐ต๐ถ."
Terdiam beberapa saat, Ilfra pun segera bangun dan melirik ke patung besar di depan meja berisi persembahan. Si perempuan juga berdiri dan mengikuti fokus Ilfra. Patung dengan bentuk serigala berekor tujuh, keduanya sama-sama memperhatikan patung itu hingga si perempuan menyeletuk.
"๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ."
Ilfra tersenyum tipis karena tersindir ungkapan perempuan kimono hitam. Ia menoleh ke arah si perempuan dengan mata terpejam. Setelah dibukanya dengan sedikit kilauan yang terpancar, satu kata ikut ia keluarkan sebagai penyadaran.
"๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ."
***
06.54, 24 Januari. Ada suasana baru yang tak biasa terjadi di salah satu ruang kelas sembilan. Ramai, banyak murid yang mengobrol dan bercanda di kelas, serta wajah ceria penuh kesenangan. Meski tidak semua mengalaminya, tetapi aura sunyi yang selalu melekat kini telah hilang. Mengundang beberapa tanda tanya di pikiran seorang siswi.
__ADS_1
Siswi berambut putih panjang itu tampak diam, tak peduli dan seolah-olah tidak mengetahui keriuhan kelasnya. Namun, pendengarannya tetap menikmati pembicaraan siswa-siswi. Sambil mendengarkan musik dengan headset bluetooth, pikirannya mulai kabur mengingat hal lain.
๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ? ๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ. ๐๐ฑ๐ข ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข?
Siswi yang biasa dipanggil Lina itu menoleh ke arah pintu kelas, mencari sosok siswi yang biasanya datang paling awal. ๐๐ฑ๐ข ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ต?
Melodi bel masuk berbunyi dan murid-murid langsung duduk di bangkunya masing-masing, kecuali yang memang sudah duduk di bangku sendiri sedari tadi. Siswi yang mendengar musik itu tentu menyimpan handphone dan headsetnya. Sembari menunggu guru pengajar datang, suasana ramai kembali tercipta setelah senyap sesaat.
๐๐ข๐ด๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ถ๐ฏ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ช๐ฏ๐ช, batin Lina untuk suasana kelas yang mengganggu prinsip sunyinya.
Pintu kelas dibuka dan sosok guru yang ditunggu akhirnya masuk ke kelas. Semua lekas sepi dan duduk rapi, menunggu aba-aba guru untuk memulai doa. Sesudah berdoa dan mengucap salam pagi, guru tersebut lanjut untuk mengecek kehadiran murid-murid. Murid yang dipanggil namanya tentu menjawab 'hadir', terkecuali yang tidak hadir di ruang kelas.
"Ilfra Alfyna." Tampak raut bingung di wajah guru itu saat melihat ke arah bangku Ilfra. Hanya ada Lina selaku teman sebangku Ilfra.
"Ilfra tidak berangkat?" tanya guru tersebut pada semua murid di kelas. Tidak ada yang menyaut hingga Lina menggeleng dan menjawab.
"Sepertinya tidak."
"Apakah ada keterangannya?"
"Tidak ada, Bu," jawab Lina dilanjut anggukan paham oleh sang guru, juga bisikan-bisikan murid yang membicarakan temannya.
"Baru kali ini siswi itu tidak berangkat."
"Iya, aku juga tidak menyangka."
"Wah, pertanda bagus sih ini mah."
"Jangan begitu, hahaha."
Lina menggigit bibirnya akibat perkataan yang tak mengenakan itu. Guru terlihat tak mendengar maupun memedulikan pembicaraan lirih muridnya, seolah-olah menganggap suasana kelas yang tak biasanya ramai adalah biasa.
__ADS_1
๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ณ๐ข๐ฎ๐ข๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข? ๐๐ข๐ฉ, ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ณ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช.