Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 6: Kutukan


__ADS_3

"Pelankan kecepatannya."


Mulai terasa laju mobil beralih pada kecepatan normal akibat perintah Lina. Pandangan mata Ilfra lekas menatap Lina yang mulai menguap.


"Maaf, karena memaksamu datang ke rumahku," kata Lina sembari memandang pantulan dirinya pada mata pink Ilfra.


Ilfra sedikit melebarkan mata sebelum menulis jawaban seperti biasa. ๐˜ ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ขโ€” ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ.


Ilfra segera menghapus tulisan tersebut. Penglihatan Lina terus fokus memandang Ilfra dengan raut datar, sebelum rasa kantuk datang dan memaksa tangannya menutup mulut. Ilfra pun menunjukkan tulisan tepat saat gadis yang tampak malas itu selesai menguap.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. Ilfra menutup mata sembari menunjukkan senyum manisnya. Ia pura-pura tak peduli setelah tahu kalau Lina menatapnya dengan tatapan malas.


๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ, ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ.


"Oh, sudah sampai." Ilfra memperlihatkan matanya dengan perasaan tak percaya. Tangannya segera mengambil handphone di tas sambil meletakkan buku dan pulpen.


๐˜Œ๐˜ฉ? ๐˜—๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ? ๐˜‹๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฉ '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ?


Ia membuka pintu mobil dan keluar setelah Lina, tetapi pikirannya masih terfokus pada waktu yang ditempuh. Namun, ia juga melirik dan mendengar sedikit perbincangan Lina dengan sang sopir.


"Sampaikan pada ayah dan ibu, jangan khawatir. Sahabatku akan menginap di rumah."


๐˜ˆโ€“๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?


Ilfra melihat kepergian mobil sedan berwarna hitam, lalu beralih membalas tatapan sang sahabat. Lina kembali menguap dan segera menutup mulutnya dengan satu tangan. Ilfra hanya bisa tersenyum sambil memikirkan tentang sahabatnya itu.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜Œ๐˜ฉ, ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฎ โ€ฆ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช โ€ฆ.


"Ilfra."


Ia sedikit melebarkan mata, tetapi langsung mengangguk untuk menjawab. Indra penglihatannya melihat Lina membuka pagar rumah yang sedikit diselimuti salju. Setelah terbuka, kakinya melangkah masuk mengikuti Lina dari belakang, tetapi terhenti saat melihat sebuah pohon di pojok kanan teras, tepat di sampingnya. ๐˜—๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ โ€ฆ.


Angin kencang menerpa dengan membawa butiran-butiran salju yang sebelumnya pergi. Matanya terpejam beberapa saat, lalu terbuka dan beralih memandang sosok Lina yang baru saja membuka pintu rumah.

__ADS_1


"Aku pulang," ucap Lina dengan suara yang melirih di akhir sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Ilfra sedikit memiringkan kepalanya sebelum kembali melangkah, kemudian berhenti di depan lantai keramik teras.


"Letakkan sepatunya di dalam saja." Ilfra hanya mengangguk sembari fokus melepas ikatan tali sepatu. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช? ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ณ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ?


**


๐˜œ๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ณ? Ilfra bangun dan memandang sekeliling. ๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช? ๐˜›๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ โ€ฆ.


Ilfra mencoba melihat peristiwa yang diingat pikirannya sambil melihat sekeliling. Namun, suara nyanyian dari luar kamar membuatnya mengalihkan rasa fokus. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ โ€ฆ ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข?


Suara pintu yang dibuka masih belum mengalahkan suara menenangkan itu. Namun, pandangannya langsung diperluas ketika menjauh dari ruang kamar. Meski suara nyanyian berhenti sejenak, alunan dari tuts piano yang ditekan sedikit membuatnya berpikir untuk diam.


๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข.


Segera Ilfra hentikan langkahnya ketika sampai di sebuah ruang tamu. Terdapat gadis berambut putih panjang di sana. Gadis dengan nama panggilan Lina itu tampak memainkan piano sambil bernyanyi.


Suara lembut dan menenangkan terus dilantunkan Lina dalam ruangan yang minim cahaya. Sembari membuat mata melihat bayang-bayang otaknya sendiri, kedua tangannya terus menari di atas tuts piano. Ketika iris bagai langit malamnya terlihat, suasana sekitar terasa tenang seperti musik yang dibawakan.


"Ah, Ilfra." Terlihat mata biru gelap Lina yang sedikit bersinar karena minimnya cahaya. Ilfra sedikit melebarkan mata sebelum mendekati gadis bermata biru itu.


"Apa kau ingat aku?" Pertanyaan yang Lina lontarkan seketika membuat Ilfra terbelalak.


Ilfra hampir membuka mulutnya dan menjawab: ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. Namun, ia segera menghentikan niatnya dan mengganti cara menjawab dengan mengangguk.


"Syukurlah. Sepertinya tidak terjadi," ujar Lina dengan suara yang melirih pada tiga kata terakhir.


๐˜Œ๐˜ฉ? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช?


"Kupikir kau hilang ingatan karena pingsan tadi." Masih terasa nada khawatir dari ucapan Lina, meski ekspresinya tetap datar. "Ah, menyala."


Ruangan yang minim cahaya seketika terang akibat perkataan Lina. Ilfra memandang sekeliling karena keterkejutan, kemudian kembali pada sahabatnya. Ia hanya bisa diam sembari menatap mata biru Lina.


"๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข?" Pertanyaan dengan suara lembut menggaung Ilfra keluarkan, menciptakan suasana yang hening di seluruh ruangan.

__ADS_1


Ia terus menatap tajam netra biru Lina, mengharapkan jawaban yang tampak disembunyikan darinya. Namun, gadis berambut putih itu mulai menguap, seolah-olah tidak peduli dengan pertanyaannya.


"๐˜‘๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข." Ilfra menekan dan menambah volume suaranya yang langsung menggaung di otak Lina. Tatapannya mulai mengunci pandangan Lina yang mencoba menghindar. Perlahan, Lina membuka mulutnya dan mengembuskan napas pendek yang diikuti batuk darah.


"๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ขโ€”"


Suara benturan Lina dengan lantai terdengar keras. Ilfra hanya bisa terdiam bersama penglihatan yang terkejut. Tubuhnya terasa membatu melihat Lina yang kehilangan kesadaran, apalagi saat tubuh sahabatnya itu mengeluarkan darah.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข โ€ฆ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ?


Hawa dingin tiba-tiba datang menyelimuti Ilfra. Jiwa yang terasa mati membuatnya tak bisa mengolah kata untuk diungkapkan. Matanya terus memandang darah yang keluar dari tubuh Lina, meskipun otak telah menyuruhnya berhenti. Hingga rasa takut datang dan mendudukkan dirinya di lantai dengan belenggu bergetar.


๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข? ๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข. ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข! ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข!


Suara detak jantung yang menggema dalam tubuhnya terasa kuat. Dengan pikiran dan hati yang tak bisa selaras, ia mulai beranjak mendekati sang sahabat. Raut wajahnya tampak menyimpulkan senyum seringai, tetapi mata menunjukkan kekosongan yang amat dalam.


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏโ€”


"Kau benar-benar tidak ingat, ya, Ilfra," lirih Lina dengan mulut yang kembali mengeluarkan cairan merah.


Seketika, penglihatan Ilfra kehilangan kekosongan yang dianggapnya abadi. Lina mencoba bangkit dengan tubuh yang berhenti mengeluarkan darah. Namun, Ilfra segera mengambil posisi duduk dan menghentikan Lina yang mencoba berdiri.


"๐˜”๐˜ขโ€“๐˜ฎ๐˜ข๐˜ข๐˜งโ€”"


"Sudah, ya, nanti aku tambah terluka mendengar suaramuโ€”ukh."


Lina kembali merasakan sakit dan terpaksa membuang cairan kehidupannya. Namun, ia baru menyadari benih kesedihan Ilfra setelah benih itu jatuh ke lantai, lalu bercampur dengan darahnya yang menggenang.


๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ โ€ฆ. Lina menggigit bibir bawahnya sebelum mengusap air mata Ilfra. "Tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu."


Perkataan lembut dan lirih dari Lina hanya bisa ditanggapi dengan anggukan oleh Ilfra. Air mata sudah bisa Ilfra hentikan, tetapi tidak dengan pandangannya yang menghindari penglihatan Lina.


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข! ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ.

__ADS_1


__ADS_2