
"Pelankan kecepatannya."
Mulai terasa laju mobil beralih pada kecepatan normal akibat perintah Lina. Pandangan mata Ilfra lekas menatap Lina yang mulai menguap.
"Maaf, karena memaksamu datang ke rumahku," kata Lina sembari memandang pantulan dirinya pada mata pink Ilfra.
Ilfra sedikit melebarkan mata sebelum menulis jawaban seperti biasa. ๐ ๐ข๐ฉ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ขโ ๐ข๐ฉ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ.
Ilfra segera menghapus tulisan tersebut. Penglihatan Lina terus fokus memandang Ilfra dengan raut datar, sebelum rasa kantuk datang dan memaksa tangannya menutup mulut. Ilfra pun menunjukkan tulisan tepat saat gadis yang tampak malas itu selesai menguap.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฑ๐ข. Ilfra menutup mata sembari menunjukkan senyum manisnya. Ia pura-pura tak peduli setelah tahu kalau Lina menatapnya dengan tatapan malas.
๐๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ, ๐๐ช๐ฏ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ฆ๐ฅ๐ข. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฅ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ.
"Oh, sudah sampai." Ilfra memperlihatkan matanya dengan perasaan tak percaya. Tangannya segera mengambil handphone di tas sambil meletakkan buku dan pulpen.
๐๐ฉ? ๐๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ต ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ? ๐๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ณ ๐ฑ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ '๐ฌ๐ข๐ฏ?
Ia membuka pintu mobil dan keluar setelah Lina, tetapi pikirannya masih terfokus pada waktu yang ditempuh. Namun, ia juga melirik dan mendengar sedikit perbincangan Lina dengan sang sopir.
"Sampaikan pada ayah dan ibu, jangan khawatir. Sahabatku akan menginap di rumah."
๐โ๐ข๐ฑ๐ข?
Ilfra melihat kepergian mobil sedan berwarna hitam, lalu beralih membalas tatapan sang sahabat. Lina kembali menguap dan segera menutup mulutnya dengan satu tangan. Ilfra hanya bisa tersenyum sambil memikirkan tentang sahabatnya itu.
๐๐ฑ๐ข ๐๐ช๐ฏ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ฉ, ๐ฆ๐ฎ๐ฎ โฆ ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ญ๐ข๐จ๐ช โฆ.
"Ilfra."
Ia sedikit melebarkan mata, tetapi langsung mengangguk untuk menjawab. Indra penglihatannya melihat Lina membuka pagar rumah yang sedikit diselimuti salju. Setelah terbuka, kakinya melangkah masuk mengikuti Lina dari belakang, tetapi terhenti saat melihat sebuah pohon di pojok kanan teras, tepat di sampingnya. ๐๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ โฆ.
Angin kencang menerpa dengan membawa butiran-butiran salju yang sebelumnya pergi. Matanya terpejam beberapa saat, lalu terbuka dan beralih memandang sosok Lina yang baru saja membuka pintu rumah.
__ADS_1
"Aku pulang," ucap Lina dengan suara yang melirih di akhir sembari melangkah masuk ke dalam rumah. Ilfra sedikit memiringkan kepalanya sebelum kembali melangkah, kemudian berhenti di depan lantai keramik teras.
"Letakkan sepatunya di dalam saja." Ilfra hanya mengangguk sembari fokus melepas ikatan tali sepatu. ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ถ๐ซ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช. ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐๐ช๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช? ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ณ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ?
**
๐๐ฉ๐ฉ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ? Ilfra bangun dan memandang sekeliling. ๐๐ฉ, ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช? ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ โฆ.
Ilfra mencoba melihat peristiwa yang diingat pikirannya sambil melihat sekeliling. Namun, suara nyanyian dari luar kamar membuatnya mengalihkan rasa fokus. ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ต๐ถ โฆ ๐๐ช๐ฏ๐ข?
Suara pintu yang dibuka masih belum mengalahkan suara menenangkan itu. Namun, pandangannya langsung diperluas ketika menjauh dari ruang kamar. Meski suara nyanyian berhenti sejenak, alunan dari tuts piano yang ditekan sedikit membuatnya berpikir untuk diam.
๐๐ช๐ฏ๐ข.
Segera Ilfra hentikan langkahnya ketika sampai di sebuah ruang tamu. Terdapat gadis berambut putih panjang di sana. Gadis dengan nama panggilan Lina itu tampak memainkan piano sambil bernyanyi.
Suara lembut dan menenangkan terus dilantunkan Lina dalam ruangan yang minim cahaya. Sembari membuat mata melihat bayang-bayang otaknya sendiri, kedua tangannya terus menari di atas tuts piano. Ketika iris bagai langit malamnya terlihat, suasana sekitar terasa tenang seperti musik yang dibawakan.
"Ah, Ilfra." Terlihat mata biru gelap Lina yang sedikit bersinar karena minimnya cahaya. Ilfra sedikit melebarkan mata sebelum mendekati gadis bermata biru itu.
"Apa kau ingat aku?" Pertanyaan yang Lina lontarkan seketika membuat Ilfra terbelalak.
Ilfra hampir membuka mulutnya dan menjawab: ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต. Namun, ia segera menghentikan niatnya dan mengganti cara menjawab dengan mengangguk.
"Syukurlah. Sepertinya tidak terjadi," ujar Lina dengan suara yang melirih pada tiga kata terakhir.
๐๐ฉ? ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช?
"Kupikir kau hilang ingatan karena pingsan tadi." Masih terasa nada khawatir dari ucapan Lina, meski ekspresinya tetap datar. "Ah, menyala."
Ruangan yang minim cahaya seketika terang akibat perkataan Lina. Ilfra memandang sekeliling karena keterkejutan, kemudian kembali pada sahabatnya. Ia hanya bisa diam sembari menatap mata biru Lina.
"๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐๐ช๐ฏ๐ข?" Pertanyaan dengan suara lembut menggaung Ilfra keluarkan, menciptakan suasana yang hening di seluruh ruangan.
__ADS_1
Ia terus menatap tajam netra biru Lina, mengharapkan jawaban yang tampak disembunyikan darinya. Namun, gadis berambut putih itu mulai menguap, seolah-olah tidak peduli dengan pertanyaannya.
"๐๐ข๐ธ๐ข๐ฃ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ, ๐๐ช๐ฏ๐ข." Ilfra menekan dan menambah volume suaranya yang langsung menggaung di otak Lina. Tatapannya mulai mengunci pandangan Lina yang mencoba menghindar. Perlahan, Lina membuka mulutnya dan mengembuskan napas pendek yang diikuti batuk darah.
"๐๐ช๐ฏ๐ขโ"
Suara benturan Lina dengan lantai terdengar keras. Ilfra hanya bisa terdiam bersama penglihatan yang terkejut. Tubuhnya terasa membatu melihat Lina yang kehilangan kesadaran, apalagi saat tubuh sahabatnya itu mengeluarkan darah.
๐๐ฑ๐ข โฆ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ?
Hawa dingin tiba-tiba datang menyelimuti Ilfra. Jiwa yang terasa mati membuatnya tak bisa mengolah kata untuk diungkapkan. Matanya terus memandang darah yang keluar dari tubuh Lina, meskipun otak telah menyuruhnya berhenti. Hingga rasa takut datang dan mendudukkan dirinya di lantai dengan belenggu bergetar.
๐๐ข๐ฉ๐ข. ๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข? ๐๐ข๐ฉ๐ข, ๐ฉ๐ข๐ฉ๐ข๐ฉ๐ข. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข! ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข!
Suara detak jantung yang menggema dalam tubuhnya terasa kuat. Dengan pikiran dan hati yang tak bisa selaras, ia mulai beranjak mendekati sang sahabat. Raut wajahnya tampak menyimpulkan senyum seringai, tetapi mata menunjukkan kekosongan yang amat dalam.
๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏโ
"Kau benar-benar tidak ingat, ya, Ilfra," lirih Lina dengan mulut yang kembali mengeluarkan cairan merah.
Seketika, penglihatan Ilfra kehilangan kekosongan yang dianggapnya abadi. Lina mencoba bangkit dengan tubuh yang berhenti mengeluarkan darah. Namun, Ilfra segera mengambil posisi duduk dan menghentikan Lina yang mencoba berdiri.
"๐๐ขโ๐ฎ๐ข๐ข๐งโ"
"Sudah, ya, nanti aku tambah terluka mendengar suaramuโukh."
Lina kembali merasakan sakit dan terpaksa membuang cairan kehidupannya. Namun, ia baru menyadari benih kesedihan Ilfra setelah benih itu jatuh ke lantai, lalu bercampur dengan darahnya yang menggenang.
๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข, ๐ฌ๐ข๐ถ โฆ. Lina menggigit bibir bawahnya sebelum mengusap air mata Ilfra. "Tenang saja, aku tidak akan mati semudah itu."
Perkataan lembut dan lirih dari Lina hanya bisa ditanggapi dengan anggukan oleh Ilfra. Air mata sudah bisa Ilfra hentikan, tetapi tidak dengan pandangannya yang menghindari penglihatan Lina.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข! ๐๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ โฆ.
__ADS_1