
๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต. ๐๐ข๐ข๐ง, ๐๐ช๐ฏ๐ข. Tulis Ilfra pada buku yang biasa digunakannya untuk berkomunikasi.
Lina terdiam sejenak melihat Ilfra yang terus menundukkan pandangan. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ซ๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฅ๐ถ๐ฅ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ต ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ. ๐๐ฑ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ต๐ณ๐ฐ๐ญ, ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข?
๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฏ๐ต๐ช, batin Lina sembari beranjak dari sofa.
"Aku ambil minuman dulu." Ilfra mengangguk dengan penglihatan yang masih menatap lantai. Pikirannya kembali menciptakan penyesalan.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐๐ช๐ฏ๐ข? ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฏ๐จ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ด๐ต๐ช๐ณ๐ข๐ฉ๐ข๐ต ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข.
๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ.
"Kau bukan monster. Jangan berpikir seperti itu, Ilfra." Gadis bermata pink itu segera mengarahkan perhatiannya pada sang sahabat.
Terlihat dua gelas berisi minuman berwarna merah diletakkan Lina di meja. Selepas mengambil posisi duduk, gadis bermata biru itu kembali berkata.
"Minumlah, akan kujelaskan maksud pertanyaanku."
Ilfra mengangguk dan segera mengambil minuman di depannya. Sesaat, ia sedikit ragu akibat mencium bau dari minuman itu. Lina yang menyadarinya sedikit membuang napas.
"Kau menginginkannya bukan? Karena itu kau merasa bahwa aku adalah ancaman?" Ilfra semakin tertegun ketika matanya seakan dipaksa untuk menatap Lina.
Tatapan Lina yang biasanya terlihat datar kini tampak dingin dan tajam. Ia segera menghilangkan penolakan dalam diri dan meminum cairan berwarna merah itu.
๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐๐ช๐ฏ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ด ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ซ๐ข โฆ ๐ถ๐ฌ๐ฉ. Bunyi gelas yang diletakkan Ilfra terdengar cukup keras. ๐๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ '๐ช๐ต๐ถ'.
Ilfra kembali mengarahkan matanya pada sang sahabat. Dengan ekspresi yang menahan emosi negatif, ia mulai mendeskripsikan gadis di hadapannya itu. ๐๐ช๐ฏ๐ข โฆ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ด๐ฑ๐ณ๐ฆ๐ด๐ช ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถโ ๐ฆ๐ฉ?
Lina tersenyum tipis melihat ekspresi Ilfra yang terkejut. "Sepertinya ingatanmu sudah mulai kembali."
Gadis berambut pink itu segera mengambil buku dan pulpen di meja. Tanpa butuh waktu lama, ia segera menulis pertanyaan akibat gambaran peristiwa di kepalanya.
๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช?
Kini, gadis berambut putih panjang yang terbelalak. Tatapan tajam yang diarahkan padanya sedikit menciptakan kewaspadaan. Perlahan, ketenangan mulai berkumpul dalam diri dan menggerakkannya untuk bicara.
__ADS_1
"Akan kujelaskan saat makan malam nanti," jawab Lina sambil meninggalkan Ilfra di ruang tamu bersama ketidakpercayaan.
๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช. Ilfra membatin sambil mengepalkan kedua tangan dan menunduk.
**
Langit malam tampak sedikit membiru akibat kilauan bintang. Meski bulan sedang tidak terlihat, senyum tipis tetap disimpulkan Ilfra. Ia membiarkan cahaya malam masuk ke ruang kamar yang ditempatinya.
๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฅ๐ช ๐ณ๐ถ๐ฎ๐ข๐ฉ ๐๐ช๐ฏ๐ข. ๐๐ข๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ. ๐๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฅ๐ช๐ข๐ค๐ข๐ฌ-๐ข๐ค๐ข๐ฌ.
Ilfra mengeluarkan udara dari mulutnya, menyebabkan proses kondensasi tercipta. ๐๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ, ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถโ
"๐๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ฏ๐ถ๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ."
Gadis yang dilanda kekacauan pikiran itu menghentikan niatnya untuk bicara. Ia hampir membuka mulutnya akibat mendengar bisikan itu. ๐๐ฆ๐ณ๐จ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ โฆ ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ โฆ.
Tiba-tiba, rasa kesedihan langsung dikeluarkan. Dirinya sudah mencoba duduk tenang di atas kasur, tetapi malah menderita karena kacaunya emosi. Pengendalian emosinya seakan hilang saat kemunculan sekilas ingatan.
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ช๐ด? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช ๐ฅ๐ช๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข โฆ. ๐๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ-๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ค๐ถ๐ญ ๐ช๐ฏ๐ช โฆ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข! ๐๐ฌ๐ถ โฆ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข.
"Kalau kau kembali haus, aku sudah meletakkannya di laci meja. Semoga kau bisa menerimanya, Ilfra," tutur Lina memilih untuk membiarkan Ilfra sendiri di kamarnya. Awalnya yang ingin masuk ke sana berakhir pergi menjauhi.
๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช โฆ. Lina menghentikan langkahnya dan kembali melihat ke arah pintu kamar. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ต๐ถ๐ด๐ข๐ฏ.
"๐๐ช๐ฏ๐ข." Keterkejutan langsung menghampiri Lina sebelum dirinya sempat berbalik.
Terlihat pintu kamar dibuka dan menampakkan sosok Ilfra di sana. Ekspresi serius dengan mulut yang menyisakan bekas darah ditampilkan gadis pink itu.
"๐๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฎ๐ถ," ucap Ilfra dengan suara yang sengaja dilirihkan, tetapi masih terdengar jelas di pikiran pendengarnyaโLina.
๐๐ค๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. Lina menyimpulkan senyum tipis sebelum mengangguk. "Kita ke ruang tamu dulu."
Setelah sampai di ruang tamu, Ilfra dan Lina saling duduk berhadapan. Keduanya saling bertatapan sejenak sebelum Lina memulai pembicaraan.
"Ini buku dan pulpenmu. Maaf karena aku mengambil dan melihat isinya tanpa sepengetahuanmu. " Melihat ekspresi datar Lina sedikit menenangkan Ilfra yang merasa kekurangan darah. Penglihatannya sedikit melirik buku dan pulpen di meja, lalu kembali pada mata biru Lina yang berkilau.
__ADS_1
"Aku tidak menambah atau melakukan apa-apa selain melihatnya. Kau bisa mengambil darahku jika ada yang berubah di sana," lanjut Linaโgadis bak air yang mengalirโdengan nada yang serius. Ilfra hampir membuka pikiran negatifnya karena sikap sang sahabat yang berubah-ubah.
Segera ia ambil pulpen dan buku agar menghasilkan sebuah tulisan bernada pertanyaan. Lalu, ia menunjukkan dengan membuat buku menutup setengah wajahnya. Hanya menyisakan sepasang mata pinknya yang menatap tajam kawan bicara.
๐๐ฑ๐ข ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ด๐ถ๐ฅ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช, ๐๐ช๐ฏ๐ข?
๐๐ฑ๐ข โฆ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ฐ๐ฃ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ฏ ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ?
Penglihatan Lina meluas saat pertanyaan tambahan tertulis sendiri di buku komunikasi. Namun, ia memilih untuk menjawab pertanyaan si gadis berambut pink, menahan rasa penasarannya akan keanehan itu.
"Kurang lebih seperti itu, walau sebenarnya โฆ aku ingin kau mengingat satu hal di masa lalu."
๐๐ข๐ต๐ถ ๐ฉ๐ข๐ญ? Batin Ilfra kembali tertulis di buku dengan tinta berwarna biru, menambah rasa penasaran yang dipendam Lina.
Helaan napas dikeluarkan secara perlahan oleh Lina. "Apa kau benar-benar mengurung diri selama dua minggu, Ilfra?"
Suasana hening menyapa cukup lama seusai Lina mengajukan pertanyaan. Satu kata singkat Ilfra gumamkan sebagai pengakhiran, disebabkan batin yang tidak mau tertulis di buku.
"๐ ๐ข." ๐๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐๐ช๐ฏ๐ข. Sembari memejamkan mata, Ilfra meletakkan bukunya di meja, bersanding dengan pulpen yang sudah menjadi sejuk.
Tidak ada komentar dari Lina, sedangkan Ilfra memilih untuk kembali diam. Sikap tak acuh ia berikan pada efek suara Ilfra yang mengacak pikiran. Sebelum mengambil keputusan untuk pergi, ia kembali berucap.
"Bisakah kau mengajariku memasak? Aku belum masak makan malam."
**
๐๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ, ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ญ๐ช๐ด ๐ฅ๐ช๐ข๐ณ๐บ ๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฐ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ข๐ด๐ช, ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ๐ข๐ฑ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข โฆ.
Ilfra memperlihatkan netranya pada buku yang memunculkan isi batin. Sesaat, ia memejamkan mata sebelum memandang ke arah gadis bermata biru.
"Ada apa, Ilfra?" Lina bertanya dengan pandangan yang tetap fokus menatap layar handphone. Tak luput juga jari tangannya yang menekan dan menggeser layar secara cepat, menghasilkan ekspresi memaklumi di wajah Ilfra.
"๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข." Sikap diam langsung melekat pada diri Lina saat suara menggaung Ilfra memasuki otaknya. Ia lekas mengarahkan matanya pada sang penghasil suara, menatap dan memperhatikan raut yang ditampilkan.
"Ilfra. Apa kau โฆ."
__ADS_1