Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 11: Gadis Gelap


__ADS_3

"๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข โ€ฆ."


Suara berat nan gaung tiba-tiba mengalir ke pendengaran orang-orang di sebuah kota. Rasa panik yang tak bisa diungkapkan menjadi emosi utama para warga. Beberapa di antaranya sudah batuk darah, sementara sisanya mencoba meredam takut dan ketidaktahuan.


"๐˜’๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ โ€ฆ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข!"


๐˜ˆ๐˜ฉ. Ilfra membatin saat kekosongan dari lamunannya membuahkan ingatan aneh. Pemandangan kota di malam hari yang dipenuhi ketakutan warga, juga suara menggaung yang menjadi pemicunya.


๐˜›๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช โ€ฆ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ง ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ช๐˜ฑ๐˜ต๐˜ข? ๐˜œ๐˜ฉ๐˜ฉ.


Gadis itu masih berusaha melepas emosi kesal dan marah yang tidak diketahui alasannya. Tangan yang memegang kepala mulai turun, sedangkan pandangan dinaikkan ke atas. ๐˜๐˜ข๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข-๐˜ต๐˜ช๐˜ฃ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ? ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.


Lampu merah jalan berganti warna menjadi biru dan gadis itu pun berjalan kembali. Meski otak masih menyimpan pemandangan langit pagi bercampur malam, pikirannya memilih untuk dibuat kosong. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ซ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ.


**


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ข๐˜ต ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข.


Lapangan sekolah telah dilewati dan Ilfra berhenti di lorong awal gedung sekolah. Seusai mengganti sepatunya, ia kembali berjalan dan menaiki tangga menuju lantai dua. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜Œ๐˜ฉ?


Ilfra melebarkan mata saat mendapati seorang siswi di kelasnya. Tampak siswi itu tengah menyapu ruang kelas yang sepi. "Ah, hai, Ilfra! Tak kusangka kita bertemu lagi," sapa siswi itu saat menyadari kehadiran Ilfra.


Rasa ragu segera Ilfra hilangkan sehingga kakinya melangkah memasuki ruang kelas. Setelah meletakkan tas di bangkunya, ia pun duduk dan membiarkan siswi itu menyelesaikan kegiatan menyapu.


"Akhirnya selesai!" Netra dengan warna hitam pekat milik siswi itu menatap Ilfra yang memperhatikan sedari tadi. Siswi itu langsung berjalan mendekati Ilfra dan duduk di sebelahnya.


"Apa kau ingat aku, Ilfra Alfyna Avylin?"


Jarum jam yang bergerak terdengar nyaring bunyinya. Ruang kelas yang kesepian dan anila dingin dari ventilasi, semuanya sangat terasa kehadirannya. Ilfra cukup tertegun meski penglihatan siswi bermata hitam itu tak menatapnya. Dirinya yang hampir terpancing untuk berkata segera memilih menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Haha, kau jarang bersosialisasi, sih, ya. Tak apa, deh."-Siswi itu menjulurkan tangannya pada Ilfra-"Yi. Arimiya Yi. Aku mantan ketua kelas ini."


Udara musim dingin yang semakin menyengat kembali menyapu kehangatan diri. Rasa bergeming menjadi-jadi, tetapi Ilfra lekas melenyapkannya dengan menerima jabatan tangan Arimiya Yi.


Sesaat, matanya melebar sembari melepas jabatan tangan yang terasa dingin. Setelah mengambil buku dan pulpen, ia langsung menulis kalimat di sana. ๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜บ๐˜ข ๐˜ ๐˜ช.


Tampak raut heran di wajah Yi saat melihat senyuman Ilfra. Namun, Yi lekas membalas dengan senyuman yang sama, lalu ditambah satu ucapan menusuk. "Pikiranmu benar-benar kosong, ya, Ilfra? Sampai tak peka terhadap ucapanku."


Kelima jari Yi tiba-tiba mencengkeram leher Ilfra dengan kuat. Rasa terkejut dan tak percaya tentu muncul, tetapi Ilfra berusaha menahannya agar tak menghasilkan kata-kata. Ia dapat merasakan tatapan tajam Yi yang mengintimidasi, menelaah dan mencoba menguak isi pikiran tenangnya.


"Seharusnya kau sudah ingat tentang kejadian di semester satu, bukan? Musuhmu Lina pasti sudah membuatmu ingat hal traumatis itu. Namun, sepertinya kau belum ingat dengan jelas siapa murid kedua korban suaramu, ya โ€ฆ?"


Yi semakin mengeratkan cengkeraman, sedangkan Ilfra mencoba untuk tak mengeluarkan sedikit pun suara. "Tampaknya kau sudah melupakan ketua kelasmu ini, Ilfra!"


"๐˜‹๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ," lirih Ilfra membuat Yi benar-benar terdiam, baik tubuh maupun ucapan.


Ia tetap membiarkan tangan Yi mencengkeramnya, tetapi memaksakan mata siswi itu menatap netranya yang bersinar. "๐˜‘๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜š๐˜ช ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด?"


Seketika, sosok Yi diselimuti asap hitam yang berkobar bagai api. Tangannya pun mengeluarkan sebuah sabit besar berwarna hitam. Sembari tersenyum menyeringai, ia mengarahkan bilah sabit itu ke leher Ilfra.


"Terima rasa sakit ini dan pergilah selamanya โ€ฆ!" teriaknya sambil mengayunkan sabit ke belakang, lalu diarahkan dengan cepat ke leher gadis berambut merah muda.


Cairan merah bercampur hitam segera menyebar akibat leher yang tertusuk bilah senjata gelap. Rasa sakit tak disuarakan Ilfra meski mulutnya ikut mengeluarkan darah. Ia tetap diam, membiarkan cairan kehidupannya terus keluar seperti pancuran. Sampai akhirnya cairan itu berhenti, ia tersenyum menyeringai.


"๐˜‰๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜บ๐˜ข ๐˜ ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ข๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข."


Raut kesal dan tubuh yang semakin diselimuti aura negatif terlihat jelas pada siswi bernama Yi. Tangan kiri siswi itu lekas mengeluarkan pasak yang terbakar api hitam, demi meluapkan rasa amarahnya pada Ilfra. Namun, belum sempat ia melaksanakannya, ruang kelas tiba-tiba dipenuhi makhluk-makhluk hitam menyerupai manusia.


"๐˜‰๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜š๐˜ช ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฆ." Perintah bersuara lirih Ilfra segera dituruti para makhluk hitam.

__ADS_1


Arimiya mencoba melepaskan diri saat rantai hitam melilit tangan dan tubuhnya. Namun, usahanya sia-sia sehingga mulut mengungkapkan perkataan kesal.


"Tepati janjimu itu, Monster!" tegas Yi sebelum dirinya ditelan kegelapan bersama para makhluk hitam. Ilfra membuat raut datar sehingga darah serta lukanya menghilang. Tanpa mencoba mengucap satu kata, ia membuka mulutnya dan mengembuskan napas.


๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข.


***


๐˜—๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ. ๐˜๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜”๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ, ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ข ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜š๐˜ช ๐˜Ž๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช๐˜ดโ€” ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜บ๐˜ข ๐˜ ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜ ๐˜ข, ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ช.


Selepas mengikat tali sepatu, Ilfra beranjak dan keluar dari rumah. Ia berjalan hingga sampai ke jalan yang biasa ia lalui menuju sekolah. Sesaat, ia terbelalak mendengar suara kembang api yang cukup keras, tetapi terdiam saat tahu penyebabnya.


๐˜”๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜บ๐˜ข.


Lingkungan sekolah telah dilewati, begitu juga dengan gedung sekolah lantai satu. Setelah membuka paksa pintu menuju lantai atap, Ilfra melangkah dengan hati-hati pada tangga yang sudah tidak kokoh. ๐˜œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜จ๐˜ข.


Anila dingin disertai butiran salju tipis langsung menyambut kedatangan Ilfra di lantai atap sekolah. Ia memandang sekelilingnya yang hampir kosongโ€”hanya diisi tumpukan salju. Embusan napas dikeluarkan untuk mengecek turunnya suhu, dilanjutkan ucapan lirih yang menggaung.


"๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜บ๐˜ข ๐˜ ๐˜ช."


Asap hitam tiba-tiba datang di antara udara, berkumpul dan membentuk sosok yang diminta. Arimiya Yi, siswi berambut hitam kecoklatan itu telah berada di depan Ilfra. Netra hitamnya menatap tajam dan dilanjut perkataan menusuk penuh kejujuran.


"Harus satu minggu lebih, kah, untuk menepati janjimu itu, Monster!" Yi mencoba mengeluarkan sabit, tetapi terkejut karena tangannya tak bisa menciptakan benda tajam itu.


Dengan mata yang semakin melebar tak percaya, Yi meraba-raba tubuhnya sendiri. "Aโ€“apa โ€ฆ apaan ini? Bagaimana bisa tubuhku menjadi normal dan tak tembus?"


Pandangan Yi kembali diarahkan pada Ilfra dan mendapatkan senyuman setipis kertas. Kilauan merah bercampur biru tiba-tiba tercipta di langit, diikuti suara ledakannya yang tak asing.


"Kโ€“kau โ€ฆ."

__ADS_1


"๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜บ๐˜ข ๐˜ ๐˜ช?" tanya Ilfra di tengah-tengah kekosongan ucapan Yiโ€”siswi mati yang kembali mendapat raga.


__ADS_2