
"๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข โฆ."
Suara berat nan gaung tiba-tiba mengalir ke pendengaran orang-orang di sebuah kota. Rasa panik yang tak bisa diungkapkan menjadi emosi utama para warga. Beberapa di antaranya sudah batuk darah, sementara sisanya mencoba meredam takut dan ketidaktahuan.
"๐๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ โฆ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ด๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ๐ฏ๐บ๐ข!"
๐๐ฉ. Ilfra membatin saat kekosongan dari lamunannya membuahkan ingatan aneh. Pemandangan kota di malam hari yang dipenuhi ketakutan warga, juga suara menggaung yang menjadi pemicunya.
๐๐ข๐ฅ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ? ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ข๐ด๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช โฆ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ด๐ช ๐ฏ๐ฆ๐จ๐ข๐ต๐ช๐ง ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ค๐ช๐ฑ๐ต๐ข? ๐๐ฉ๐ฉ.
Gadis itu masih berusaha melepas emosi kesal dan marah yang tidak diketahui alasannya. Tangan yang memegang kepala mulai turun, sedangkan pandangan dinaikkan ke atas. ๐๐ข๐ข๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ต๐ช๐ฃ๐ข-๐ต๐ช๐ฃ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ? ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข.
Lampu merah jalan berganti warna menjadi biru dan gadis itu pun berjalan kembali. Meski otak masih menyimpan pemandangan langit pagi bercampur malam, pikirannya memilih untuk dibuat kosong. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข๐ฎ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ฐ๐ญ๐ฆ๐ฉ.
**
๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช '๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐ ๐ข, ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต. ๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ถ๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ญ๐ช๐ด ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ต๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ถ๐ฏ ๐ฑ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ต๐ช๐จ๐ข.
Lapangan sekolah telah dilewati dan Ilfra berhenti di lorong awal gedung sekolah. Seusai mengganti sepatunya, ia kembali berjalan dan menaiki tangga menuju lantai dua. ๐๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ช ๐ด๐ฆ๐ต๐ช๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฉ?
Ilfra melebarkan mata saat mendapati seorang siswi di kelasnya. Tampak siswi itu tengah menyapu ruang kelas yang sepi. "Ah, hai, Ilfra! Tak kusangka kita bertemu lagi," sapa siswi itu saat menyadari kehadiran Ilfra.
Rasa ragu segera Ilfra hilangkan sehingga kakinya melangkah memasuki ruang kelas. Setelah meletakkan tas di bangkunya, ia pun duduk dan membiarkan siswi itu menyelesaikan kegiatan menyapu.
"Akhirnya selesai!" Netra dengan warna hitam pekat milik siswi itu menatap Ilfra yang memperhatikan sedari tadi. Siswi itu langsung berjalan mendekati Ilfra dan duduk di sebelahnya.
"Apa kau ingat aku, Ilfra Alfyna Avylin?"
Jarum jam yang bergerak terdengar nyaring bunyinya. Ruang kelas yang kesepian dan anila dingin dari ventilasi, semuanya sangat terasa kehadirannya. Ilfra cukup tertegun meski penglihatan siswi bermata hitam itu tak menatapnya. Dirinya yang hampir terpancing untuk berkata segera memilih menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Haha, kau jarang bersosialisasi, sih, ya. Tak apa, deh."-Siswi itu menjulurkan tangannya pada Ilfra-"Yi. Arimiya Yi. Aku mantan ketua kelas ini."
Udara musim dingin yang semakin menyengat kembali menyapu kehangatan diri. Rasa bergeming menjadi-jadi, tetapi Ilfra lekas melenyapkannya dengan menerima jabatan tangan Arimiya Yi.
Sesaat, matanya melebar sembari melepas jabatan tangan yang terasa dingin. Setelah mengambil buku dan pulpen, ia langsung menulis kalimat di sana. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ญ, ๐บ๐ข, ๐๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐บ๐ข ๐ ๐ช.
Tampak raut heran di wajah Yi saat melihat senyuman Ilfra. Namun, Yi lekas membalas dengan senyuman yang sama, lalu ditambah satu ucapan menusuk. "Pikiranmu benar-benar kosong, ya, Ilfra? Sampai tak peka terhadap ucapanku."
Kelima jari Yi tiba-tiba mencengkeram leher Ilfra dengan kuat. Rasa terkejut dan tak percaya tentu muncul, tetapi Ilfra berusaha menahannya agar tak menghasilkan kata-kata. Ia dapat merasakan tatapan tajam Yi yang mengintimidasi, menelaah dan mencoba menguak isi pikiran tenangnya.
"Seharusnya kau sudah ingat tentang kejadian di semester satu, bukan? Musuhmu Lina pasti sudah membuatmu ingat hal traumatis itu. Namun, sepertinya kau belum ingat dengan jelas siapa murid kedua korban suaramu, ya โฆ?"
Yi semakin mengeratkan cengkeraman, sedangkan Ilfra mencoba untuk tak mengeluarkan sedikit pun suara. "Tampaknya kau sudah melupakan ketua kelasmu ini, Ilfra!"
"๐๐ช๐ข๐ฎ๐ญ๐ข๐ฉ," lirih Ilfra membuat Yi benar-benar terdiam, baik tubuh maupun ucapan.
Ia tetap membiarkan tangan Yi mencengkeramnya, tetapi memaksakan mata siswi itu menatap netranya yang bersinar. "๐๐ข๐ฅ๐ช, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ณ ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐๐ช ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด?"
Seketika, sosok Yi diselimuti asap hitam yang berkobar bagai api. Tangannya pun mengeluarkan sebuah sabit besar berwarna hitam. Sembari tersenyum menyeringai, ia mengarahkan bilah sabit itu ke leher Ilfra.
"Terima rasa sakit ini dan pergilah selamanya โฆ!" teriaknya sambil mengayunkan sabit ke belakang, lalu diarahkan dengan cepat ke leher gadis berambut merah muda.
Cairan merah bercampur hitam segera menyebar akibat leher yang tertusuk bilah senjata gelap. Rasa sakit tak disuarakan Ilfra meski mulutnya ikut mengeluarkan darah. Ia tetap diam, membiarkan cairan kehidupannya terus keluar seperti pancuran. Sampai akhirnya cairan itu berhenti, ia tersenyum menyeringai.
"๐๐ข๐ฌ๐ข. ๐๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐บ๐ข ๐ ๐ช ๐ฃ๐ข๐ข๐ข๐ฌ๐ข."
Raut kesal dan tubuh yang semakin diselimuti aura negatif terlihat jelas pada siswi bernama Yi. Tangan kiri siswi itu lekas mengeluarkan pasak yang terbakar api hitam, demi meluapkan rasa amarahnya pada Ilfra. Namun, belum sempat ia melaksanakannya, ruang kelas tiba-tiba dipenuhi makhluk-makhluk hitam menyerupai manusia.
"๐๐ข๐ธ๐ข ๐๐ช ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ด ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ช ๐ข๐ต๐ข๐ฑ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ ๐ด๐ฐ๐ณ๐ฆ." Perintah bersuara lirih Ilfra segera dituruti para makhluk hitam.
__ADS_1
Arimiya mencoba melepaskan diri saat rantai hitam melilit tangan dan tubuhnya. Namun, usahanya sia-sia sehingga mulut mengungkapkan perkataan kesal.
"Tepati janjimu itu, Monster!" tegas Yi sebelum dirinya ditelan kegelapan bersama para makhluk hitam. Ilfra membuat raut datar sehingga darah serta lukanya menghilang. Tanpa mencoba mengucap satu kata, ia membuka mulutnya dan mengembuskan napas.
๐๐ข๐จ๐ช-๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข.
***
๐๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ต๐ถ๐ซ๐ถ๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ด๐ข๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ณ๐ช ๐๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ถ, ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ถ๐ข ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช. ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฏ๐บ๐ข ๐๐ช ๐๐ข๐ฅ๐ช๐ดโ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐บ๐ข ๐ ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ณ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐ ๐ข, ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฃ๐ข๐ณ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต๐ช ๐ซ๐ข๐ฏ๐ซ๐ช.
Selepas mengikat tali sepatu, Ilfra beranjak dan keluar dari rumah. Ia berjalan hingga sampai ke jalan yang biasa ia lalui menuju sekolah. Sesaat, ia terbelalak mendengar suara kembang api yang cukup keras, tetapi terdiam saat tahu penyebabnya.
๐๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ช๐ฏ๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ณ๐ข๐ฎ๐ข๐ช ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ, ๐บ๐ข.
Lingkungan sekolah telah dilewati, begitu juga dengan gedung sekolah lantai satu. Setelah membuka paksa pintu menuju lantai atap, Ilfra melangkah dengan hati-hati pada tangga yang sudah tidak kokoh. ๐๐ฏ๐ต๐ถ๐ฏ๐จ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐จ๐ข.
Anila dingin disertai butiran salju tipis langsung menyambut kedatangan Ilfra di lantai atap sekolah. Ia memandang sekelilingnya yang hampir kosongโhanya diisi tumpukan salju. Embusan napas dikeluarkan untuk mengecek turunnya suhu, dilanjutkan ucapan lirih yang menggaung.
"๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐บ๐ข ๐ ๐ช."
Asap hitam tiba-tiba datang di antara udara, berkumpul dan membentuk sosok yang diminta. Arimiya Yi, siswi berambut hitam kecoklatan itu telah berada di depan Ilfra. Netra hitamnya menatap tajam dan dilanjut perkataan menusuk penuh kejujuran.
"Harus satu minggu lebih, kah, untuk menepati janjimu itu, Monster!" Yi mencoba mengeluarkan sabit, tetapi terkejut karena tangannya tak bisa menciptakan benda tajam itu.
Dengan mata yang semakin melebar tak percaya, Yi meraba-raba tubuhnya sendiri. "Aโapa โฆ apaan ini? Bagaimana bisa tubuhku menjadi normal dan tak tembus?"
Pandangan Yi kembali diarahkan pada Ilfra dan mendapatkan senyuman setipis kertas. Kilauan merah bercampur biru tiba-tiba tercipta di langit, diikuti suara ledakannya yang tak asing.
"Kโkau โฆ."
__ADS_1
"๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ซ๐ข๐ธ๐ข๐ฃ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐บ๐ข ๐ ๐ช?" tanya Ilfra di tengah-tengah kekosongan ucapan Yiโsiswi mati yang kembali mendapat raga.