
Langit menampilkan warna asli, pertanda waktu senja telah berakhir. Bunga api langsung dibuat mekar di angkasa, menghasilkan suara riuh yang menyenangkan orang-orang. Semuanya menyimpulkan senyum gembira, tanpa ada rasa sunyi di kota bernama Shikuro ini.
"Perayaan Kepercayaan โฆ. Apa semua yang matiโ"
"๐ ๐ข, ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ. ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ช๐ฌ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข๐ฎ๐ถ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ช๐ฏ๐ช," potong Ilfra sebelum berbalik dan berniat pergi, tetapi terhenti oleh kata-kata Yi.
"Aku hidup โฆ lagi? Aku hidup, aku hidup โฆ." Ilfra menoleh dan memandang Yi yang menangis bahagia.
"Tโterima kasih โฆ," lirih Yi sambil menundukkan pandangan. "Meski hanya malam ini, aku ingin bertemu dengan orang tuaku. Tak apa, meski mereka tak kenal aku. Hiks."
Ilfra mengambil buku dan pulpen dari tas pinggangnya, lalu menulis sebuah kalimat di sana. Ia berjalan mendekati Yi dan menunjukkan tulisan itu. Yi memperlihatkan raut heran dan bingung sesaat, kemudian diganti dengan anggukan.
"Baiklah, aku akan menemuinya nanti."
Senyuman Ilfra simpulkan dan langkah kembali dilakukan untuk mencapai tujuan: keluar dari lingkungan sekolah. Namun, mulutnya kembali berucap saat teringat perkataan siswi di belakang.
"๐๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ, ๐บ๐ข, ๐๐ณ๐ช๐ฎ๐ช๐บ๐ข ๐ ๐ช. ๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ."
**
๐๐ถ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข ๐ค๐ถ๐ฌ๐ถ๐ฑ ๐ณ๐ข๐ฎ๐ข๐ช. ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข. ๐๐ข๐ข๐ฉ, ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ, ๐บ๐ข?
Seorang gadis berambut putih menghela napas, lalu memilih untuk menikmati keramaian di sekitar. Kilau dan bunyi kembang api, suara musik pertunjukan tari, pasar malam beserta permainannya, serta rombongan penganut kepercayaan yang sedang menuju kuil besar di kota Shikuro.
Pandangannya beralih ke arah bunga api yang menyala di langit, menghiasi bunyi riang alat musik pukul. ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ, ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ-๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ญ๐ช. ๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ข๐ฅ๐ข ๐ข๐ญ๐ข๐ด๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ?
๐๐ฆ๐ณ๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ ๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข๐ข๐ฏ. ๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ธ๐ข๐ฌ๐ต๐ถ ๐ฌ๐ฉ๐ถ๐ด๐ถ๐ด ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ฐ๐ข ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ถ๐ต๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ด๐ข ๐ช๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ-๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ข๐ถ๐ณ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ข๐บ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช ๐ช๐ฏ๐ช. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ด๐ข๐ซ๐ข.
__ADS_1
๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ฎ ๐ด๐ฆ๐จ๐ช๐ฏ๐ช. Shifera Ilina Symphonyโsi gadis berambut putih dengan hoodie hitamโkembali membatin seusai melihat jam di handphonenya: 07.44 PM, Minggu 22 Januari. Ia lekas pergi dari tempatnya memandang bunga api, juga kerumunan orang-orang di pasar malam yang hanya ada di malam ini. Meski saat hampir mencapai lokasi sepi, pundaknya tiba-tiba ditepuk pelan.
"Eh? Ah, maafkan saya. Saya pikir kamu orang yang saya cari," ungkap seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah berwarna hitam. Lina menampilkan tanda tanya dari tatapan mata birunya, tetapi gadis di depannya malah kebingungan.
"Hah, siapa yang kau cari?"
"Arimiya Yi ," jawab gadis itu sebelum menyimpulkan senyum tipis.
Lina sedikit melebarkan pupil mata bersama pikiran yang menampilkan informasi dari nama tersebut. Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, juga rasa tak percaya akan apa yang didengar.
"Kalau begitu, saya pergi, ya. Sekali lagi saya minta maaf karena mengganggumu."
"Tunggu."
Lengan gadis berambut hitam kecoklatan itu langsung digenggam Lina, dilanjutkan oleh angin sejuk dan bunyi kembang api. Netranya sedikit melebar karena rasa dingin dari tangan Lina, menyebabkan pandangan menoleh ke belakang.
"Maaf, saya tidak paham apa yang kamu katakan. Saya sedang mencari teman saya yang bernamaโ"
"Kau itu Arimiya Yi. Ketua kelas yang tak bisa diajak bercanda โฆ." Terdengar jelas perkataan Lina yang semakin melirih, menyebabkan perasaan tak nyaman muncul.
"Maaf, ya. Saya harus pergi," tutur gadis tersebut sambil melepas genggaman Lina dan melangkah pergi ditelan kerumunan. Lina menetapkan pandangannya ke bawah, bersama pikiran yang mengalirkan ketidakpercayaan.
๐๐ฑ๐ข โฆ ๐ ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ? ๐๐ข๐ฑ๐ช, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข? Lina menggigit bibirnya saat perasaan tak senang tercipta. ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ด๐ถ๐ญ๐ช๐ต ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ข๐ฉ๐ข๐ฎ๐ช?
**
Malam sudah mempertunjukkan perasaan dinginnya. Embusan yang tenang disertai ramainya ledakan bunga api. Tampak gadis berambut pink tengah melangkah memasuki pemakaman, lalu berhenti di depan batu nisan kedua orang tuanya. Selepas diusap batu berwarna kelabu kebiruan itu, setangkai bunga putih ia letakkan dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
๐๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ข๐บ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ช๐ฃ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ด๐ข๐ฏ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฉ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ ๐ฌ๐ฆ๐ฃ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช. Ilfra Alfyna Avylinโgadis dengan penampilan yang didominasi warna pinkโbergeming beberapa saat karena ketenangan yang diberikan anila, meski suara ramai di pusat kota masih bisa didengarnya.
Ia beranjak dan memandangi bintang-bintang di langit, kemudian kembali ke batu nisan kedua orang tuanya. ๐๐ข๐ข๐ง ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข-๐ญ๐ข๐ฎ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช, ๐๐บ๐ข๐ฉ, ๐๐ฃ๐ถ. ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข.
Ilfra pun berjalan pergi dari pemakaman, tetapi terhenti saat merasakan sesuatu di belakang. Hawa dingin dan gelap yang lebih pekat dari malam beserta anila. Ia berusaha tak acuh dengan melanjutkan perjalanan, tetapi sebuah kalimat seketika diperdengarkan ke telinganya yang normal.
"Jadi memang kau, pengendali makhluk-makhluk hitam itu? Sungguh tak disangka โฆ."
Rasa ingin tahu tercipta, tetapi ketidakpedulian tetap mendorong Ilfra untuk pergi. Namun, kakinya terdiam di tempat dan terasa tak mau bergerak, menyebabkan mulutnya yang ingin berkata untuk menghilangkan sosok di belakang.
"Jika kau ingin bicara, maka akan kuputus lehermu sekarang juga. Jangan berpikir untuk memanggil bawahanmu yang hampir semuanya menjadi manusia malam ini."
Seorang perempuan, itulah yang Ilfra sadari dari suara tajam yang kini melekat di gendang telinga. Sebilah besi yang siap memenggal dari depan leher membuat Ilfra tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa bergeming sambil bernapas normal, membiarkan keinginan perempuan pemegang pisau terkabul.
"Hah. Aku semakin tak yakin denganmu yang menuruti keinginan ini," bisik perempuan dengan rambut hitam pekat yang sedikit terlihat oleh ujung mata Ilfra.
Sedikit rasa sakit tercipta saat pisau menyayat kulit leher, menyebabkan darah merah kehitaman Ilfra mengalir keluar dari jalurnya. Angin malam serta kembang api yang kembali berkilau di langit seketika mengisi keheningan, membawa rasa terkejut bagi perempuan berambut hitam.
๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ต๐ถ๐ญ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ธ๐ข๐ด๐ช. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ถ ๐ซ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด.
"๐๐ข๐ฌ๐ข๐ฌ ๐๐ข๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ต ๐๐ช๐ต๐ข๐ฎ," lirih Ilfra setelah mengalirkan ungkapan batinnya ke otak lawan bicara. Tangannya lekas mengambil alih pisau di depan leher, membuangnya sehingga diri dapat pergi dari situasi penjebakan.
Perempuan berambut hitam panjang itu terlihat tertegun dan kaku bak membeku. Penglihatan terbelalak melihat kepergian Ilfra yang benar-benar tak mengacuhkannya. Meski ia ingin menghentikan gadis yang lebih muda darinya itu, tubuhnya tetap tak mendukung keinginan.
๐๐ช๐ข๐ญ. ๐๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฅ๐ช? batin perempuan itu dengan napas dan detak jantung tak teratur. Belenggunya yang terasa dimatikan sesaat sungguh mengganggu otak untuk berpikir. Karena sosok Ilfra yang sudah pergi jauh dan tak terlihat oleh pandangan, helaan napas dikeluarkannya secara pasrah.
"Sialan. Sepertinya memang harus bertemu secara normal? Hm. Gadis itu benar-benar sulit dimengerti."
__ADS_1