Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 12: Upacara Perayaan


__ADS_3

Langit menampilkan warna asli, pertanda waktu senja telah berakhir. Bunga api langsung dibuat mekar di angkasa, menghasilkan suara riuh yang menyenangkan orang-orang. Semuanya menyimpulkan senyum gembira, tanpa ada rasa sunyi di kota bernama Shikuro ini.


"Perayaan Kepercayaan โ€ฆ. Apa semua yang matiโ€”"


"๐˜ ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช," potong Ilfra sebelum berbalik dan berniat pergi, tetapi terhenti oleh kata-kata Yi.


"Aku hidup โ€ฆ lagi? Aku hidup, aku hidup โ€ฆ." Ilfra menoleh dan memandang Yi yang menangis bahagia.


"Tโ€“terima kasih โ€ฆ," lirih Yi sambil menundukkan pandangan. "Meski hanya malam ini, aku ingin bertemu dengan orang tuaku. Tak apa, meski mereka tak kenal aku. Hiks."


Ilfra mengambil buku dan pulpen dari tas pinggangnya, lalu menulis sebuah kalimat di sana. Ia berjalan mendekati Yi dan menunjukkan tulisan itu. Yi memperlihatkan raut heran dan bingung sesaat, kemudian diganti dengan anggukan.


"Baiklah, aku akan menemuinya nanti."


Senyuman Ilfra simpulkan dan langkah kembali dilakukan untuk mencapai tujuan: keluar dari lingkungan sekolah. Namun, mulutnya kembali berucap saat teringat perkataan siswi di belakang.


"๐˜›๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ˆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ช๐˜บ๐˜ข ๐˜ ๐˜ช. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ."


**


๐˜š๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ค๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข๐˜ช. ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข. ๐˜๐˜ข๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜บ๐˜ข?


Seorang gadis berambut putih menghela napas, lalu memilih untuk menikmati keramaian di sekitar. Kilau dan bunyi kembang api, suara musik pertunjukan tari, pasar malam beserta permainannya, serta rombongan penganut kepercayaan yang sedang menuju kuil besar di kota Shikuro.


Pandangannya beralih ke arah bunga api yang menyala di langit, menghiasi bunyi riang alat musik pukul. ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ, ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ?


๐˜—๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช ๐˜ธ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ด ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ต๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ถ๐˜ณ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. ๐˜๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข.

__ADS_1


๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. Shifera Ilina Symphonyโ€”si gadis berambut putih dengan hoodie hitamโ€”kembali membatin seusai melihat jam di handphonenya: 07.44 PM, Minggu 22 Januari. Ia lekas pergi dari tempatnya memandang bunga api, juga kerumunan orang-orang di pasar malam yang hanya ada di malam ini. Meski saat hampir mencapai lokasi sepi, pundaknya tiba-tiba ditepuk pelan.


"Eh? Ah, maafkan saya. Saya pikir kamu orang yang saya cari," ungkap seorang gadis yang mengenakan seragam sekolah berwarna hitam. Lina menampilkan tanda tanya dari tatapan mata birunya, tetapi gadis di depannya malah kebingungan.


"Hah, siapa yang kau cari?"


"Arimiya Yi ," jawab gadis itu sebelum menyimpulkan senyum tipis.


Lina sedikit melebarkan pupil mata bersama pikiran yang menampilkan informasi dari nama tersebut. Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, juga rasa tak percaya akan apa yang didengar.


"Kalau begitu, saya pergi, ya. Sekali lagi saya minta maaf karena mengganggumu."


"Tunggu."


Lengan gadis berambut hitam kecoklatan itu langsung digenggam Lina, dilanjutkan oleh angin sejuk dan bunyi kembang api. Netranya sedikit melebar karena rasa dingin dari tangan Lina, menyebabkan pandangan menoleh ke belakang.


"Maaf, saya tidak paham apa yang kamu katakan. Saya sedang mencari teman saya yang bernamaโ€”"


"Kau itu Arimiya Yi. Ketua kelas yang tak bisa diajak bercanda โ€ฆ." Terdengar jelas perkataan Lina yang semakin melirih, menyebabkan perasaan tak nyaman muncul.


"Maaf, ya. Saya harus pergi," tutur gadis tersebut sambil melepas genggaman Lina dan melangkah pergi ditelan kerumunan. Lina menetapkan pandangannya ke bawah, bersama pikiran yang mengalirkan ketidakpercayaan.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ? ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ? ๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? Lina menggigit bibirnya saat perasaan tak senang tercipta. ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ช?


**


Malam sudah mempertunjukkan perasaan dinginnya. Embusan yang tenang disertai ramainya ledakan bunga api. Tampak gadis berambut pink tengah melangkah memasuki pemakaman, lalu berhenti di depan batu nisan kedua orang tuanya. Selepas diusap batu berwarna kelabu kebiruan itu, setangkai bunga putih ia letakkan dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช. Ilfra Alfyna Avylinโ€”gadis dengan penampilan yang didominasi warna pinkโ€”bergeming beberapa saat karena ketenangan yang diberikan anila, meski suara ramai di pusat kota masih bisa didengarnya.


Ia beranjak dan memandangi bintang-bintang di langit, kemudian kembali ke batu nisan kedua orang tuanya. ๐˜”๐˜ข๐˜ข๐˜ง ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข-๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ˆ๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜๐˜ฃ๐˜ถ. ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข.


Ilfra pun berjalan pergi dari pemakaman, tetapi terhenti saat merasakan sesuatu di belakang. Hawa dingin dan gelap yang lebih pekat dari malam beserta anila. Ia berusaha tak acuh dengan melanjutkan perjalanan, tetapi sebuah kalimat seketika diperdengarkan ke telinganya yang normal.


"Jadi memang kau, pengendali makhluk-makhluk hitam itu? Sungguh tak disangka โ€ฆ."


Rasa ingin tahu tercipta, tetapi ketidakpedulian tetap mendorong Ilfra untuk pergi. Namun, kakinya terdiam di tempat dan terasa tak mau bergerak, menyebabkan mulutnya yang ingin berkata untuk menghilangkan sosok di belakang.


"Jika kau ingin bicara, maka akan kuputus lehermu sekarang juga. Jangan berpikir untuk memanggil bawahanmu yang hampir semuanya menjadi manusia malam ini."


Seorang perempuan, itulah yang Ilfra sadari dari suara tajam yang kini melekat di gendang telinga. Sebilah besi yang siap memenggal dari depan leher membuat Ilfra tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa bergeming sambil bernapas normal, membiarkan keinginan perempuan pemegang pisau terkabul.


"Hah. Aku semakin tak yakin denganmu yang menuruti keinginan ini," bisik perempuan dengan rambut hitam pekat yang sedikit terlihat oleh ujung mata Ilfra.


Sedikit rasa sakit tercipta saat pisau menyayat kulit leher, menyebabkan darah merah kehitaman Ilfra mengalir keluar dari jalurnya. Angin malam serta kembang api yang kembali berkilau di langit seketika mengisi keheningan, membawa rasa terkejut bagi perempuan berambut hitam.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช๐˜จ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ด๐˜ช. ๐˜•๐˜ข๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ซ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด.


"๐˜’๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜™๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ," lirih Ilfra setelah mengalirkan ungkapan batinnya ke otak lawan bicara. Tangannya lekas mengambil alih pisau di depan leher, membuangnya sehingga diri dapat pergi dari situasi penjebakan.


Perempuan berambut hitam panjang itu terlihat tertegun dan kaku bak membeku. Penglihatan terbelalak melihat kepergian Ilfra yang benar-benar tak mengacuhkannya. Meski ia ingin menghentikan gadis yang lebih muda darinya itu, tubuhnya tetap tak mendukung keinginan.


๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ญ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฅ๐˜ช? batin perempuan itu dengan napas dan detak jantung tak teratur. Belenggunya yang terasa dimatikan sesaat sungguh mengganggu otak untuk berpikir. Karena sosok Ilfra yang sudah pergi jauh dan tak terlihat oleh pandangan, helaan napas dikeluarkannya secara pasrah.


"Sialan. Sepertinya memang harus bertemu secara normal? Hm. Gadis itu benar-benar sulit dimengerti."

__ADS_1


__ADS_2