
Anila dingin bertiup kencang bersama langit yang menggelap sempurna. Tangisan yang awalnya ingin menyentuh tanah malah membasahi punggung sang sahabat. Kesedihan terus Ilfra keluarkan, sedangkan Lina mencoba menenangkan dengan memberi pelukan.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข โฆ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐บ๐ข ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐ช๐ต๐ถ โฆ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฌ๐ถ? ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข โฆ.
"Kau memang monster, Ilfra. Namun, bukan itu yang kuinginkan setelah kau mengetahuinya."
"๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข โฆ! ๐๐ฑ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช?"
Aura kesunyian semakin melekat walau kesedihan tengah berusaha dihabiskan. Lina memilih diam karena pertanyaan yang Ilfra katakan memanglah benar. ๐๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ช๐ต๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐จ๐ข๐ช ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฉ ๐ข๐ธ๐ข๐ญ, ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข.
Pupil mata gadis berambut putih melebar saat rasa pusing tiba-tiba muncul. Kedua tangan yang memeluk langsung beralih menutup mulut, menahan cairan merah yang hampir dimuntahkan.
๐๐ฌ๐ฉ, ๐ต๐ถ๐ฃ๐ถ๐ฉ๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ถ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ถ๐ณ๐ฏ๐ข. Cairan kehidupan terpaksa Lina telan bersama rasa sakit. Pelukan ia akhiri saat Ilfra memilih mengakhirinya. Saat pandangan keduanya saling bertemu, tampak raut terkejut dari gadis berambut pink.
"Tak perlu khawatir, Ilfra. Hanya sedikit yang keluar dari mulutku." Ilfra menunduk, sementara Lina mengalihkan mata pada langit yang penuh bintang.
"Sebaiknya kita pulang ke rumah masing-masing sekarang," tutur Lina sambil menepuk pelan pundak Ilfra. Senyum tipis ia berikan sebelum melangkah pergi, meninggalkan gadis yang masih menyisakan rasa duka.
Gadis itu segera menghapus sisa kesedihan di luar, tetapi membiarkan tangisan di hati tetap berkobar. Jarinya bergerak bingung antara mengepal atau melemas. Sesaat, penglihatan ditutupnya dengan tangan. Lalu, ia memperlihatkan iris merah mudanya ke arah langit malam pembawa tenang.
๐ ๐ข, ๐ด๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ.
***
03.50 Rabu, 11 Januari. Itulah yang tertera di layar handphone setelah Ilfra mengaktifkannya. Ia membuka notifikasi catatan di sana dan membacanya.
๐๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ญ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข: ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐๐ญ๐ง๐บ๐ฏ๐ข ๐๐ท๐บ๐ญ๐ช๐ฏ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ถ๐ฉ ๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ข๐ณ๐ช.
Embusan udara ia keluarkan dari mulut, menciptakan keterkejutan saat suaranya menyengat sekujur tubuh. ๐๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ถ๐ด๐ข๐ฏ ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข๐ด๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฉ?
Penglihatannya terbelalak sebentar saat melihat warna bak berlian kaca di layar handphone. Meskipun ia telah mematikan dan meletakkan handphone di laci meja, warna pembawa kegelisahan itu tetap ada di pandangan. Aura tenang dikumpulkannya bersama udara dingin, lalu dialirkan pada seluruh tubuh yang bergetar.
๐๐ข๐ณ๐ฏ๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฌ๐ข๐ค๐ข โฆ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ฏ๐บ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ต๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ถ๐ข '๐ฌ๐ข๐ฏ? ๐๐ต๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐จ๐ข? ๐๐ฉ๐ฉ, ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ญ๐ช๐ด ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ต๐ข๐ฏ.
__ADS_1
Ilfra memejamkan sebelah matanya, membiarkan warna aneh di hadapan berkilauan bagai langit malam. Satu kata ingin diucapkannya, tetapi terhenti saat ia ingat untuk tetap membisu.
๐๐ช๐ฆ๐ต๐ข, batinnya dengan iris mata yang bercahaya dalam redupnya ruang kamar. Warna yang dianggapnya sebagai tanda kutukan sudah lenyap, digantikan oleh kehadiran kata-kata indah.
"๐๐ข๐ต๐ช๐ญ๐ข๐ฉ!"
"๐๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฑ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฅ๐ถ๐ฏ๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ช!"
"๐๐ข๐ด๐ข๐ณ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ!"
"๐๐ข๐ต๐ช๐ญ๐ข๐ฉ! ๐๐ข๐ต๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ, ๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ!"
"๐๐ถ๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ช๐ญ ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข!"
"๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช๐ฎ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ญ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ซ๐ข!"
"๐๐ข๐ต๐ช๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ข๐ฎ๐ฑ๐ข๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ญ๐ข๐จ๐ช! ๐๐ข๐ฎ๐ช ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฎ๐ถ!"
Kedua tangan bersatu menyembunyikan wajah. Ketakutan yang diungkapkan dengan rasa gemetar sudah sulit ia hilangkan. Namun, buku tulis di atas meja tiba-tiba terbuka dan menampakkan cahaya biru. Perhatiannya tentu tertarik walau masih diiringi prasangka buruk.
'๐๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ช๐ด๐ช ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ฅ๐ช๐ฑ๐ฆ๐จ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ช.'
Tangan kanan perlahan turun ke meja, mengambil pulpen dan menulis kalimat di bawah baris tulisan bertinta biru. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ค๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ญ๐ถ๐ฑ๐ข ๐ซ๐ช๐ฌ๐ข ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฎ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐ค๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ!
Udara dingin dihirup dan dikeluarkan dengan nada yang cukup cepat, menciptakan secercah ketenangan bercampur hawa negatif. Sinar kehidupan di bola mata mulai dihilangkan dan diganti oleh kilauan merah muda. Mulut yang sudah mencoba untuk tertutup akhirnya terbuka dan mengungkap satu kata.
"๐๐ช๐ญ๐ฆ๐ฏ๐ต."
Aura menyengat pembawa senyap seketika melenyapkan pikiran bak serpihan kaca yang berserakan. Kedua tangan segera ia letakkan di atas paha, sedangkan pandangan difokuskan pada buku yang menuliskan kata 'Silent'.
๐๐ถ๐ต๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ช๐ต๐ถ๐ญ๐ข๐ฉ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ถ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ข๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ช ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ด๐ถ๐ข๐ณ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ. ๐๐ข๐ฎ๐ถ๐ฏ, ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฎ๐ถ๐ญ๐ข๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ฃ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ต๐ข ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต๐ช ๐ฉ๐ข๐ญ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ฆ๐ต๐ข๐ฉ๐ถ๐ช. ๐๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ฅ๐ช๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฎ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ต๐ถ๐ฑ ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฌ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ญ๐ข๐ถ๐ฑ๐ถ๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ช๐ณ๐ฏ๐บ๐ข, ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข.
"๐ ๐ข, ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช '๐ฌ๐ข๐ฏ?" lirih Ilfra meneteskan bulir berkilau di ujung penglihatan.
__ADS_1
**
Langit menunjukkan warna aslinya di waktu kegelapan bersinar. Titik-titik berkilau dari jutaaan tahun lalu masih tetap ada dan semakin menunjukkan cahaya. Sang luna juga tidak mau kalah meski ia adalah cermin pemantul sinar mentari.
Kota Shikuro, tempat yang tampak sunyi dan tenang di kala malam. Sangat jarang para penduduk keluar saat udara sedang dingin-dinginnya. Sehingga, kehidupan yang tak bisa dilihat seenaknya sering berkeliaran dan bertindak.
"Slash!" Kilauan vertikal bergerak horizontal ke arah sosok gelap di jalanan. Sosok itu seketika lenyap saat terkena serangan tersebut, menyebabkan senyuman senang di wajah sang penyerang.
"Akhirnya hilang juga makhluk menjengkelkan itu," ujar lelaki yang menyerang sosok gelap. Pedang yang ada di genggaman lekas diserapnya ke dalam tangan, bersamaan dengan kehadiran seorang perempuan di belakang.
"Ya, makhluk seperti itu akan tetap muncul selagi pengendalinya masih hidup."
๐๐ถ๐ฉ, ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ฌ๐ข๐ฏ. Lelaki itu pun memandang seksama wajah perempuan yang awalnya ia abaikan. "Kau menyerang penduduk atau makhluk menyerupai manusia?"
Perempuan berambut putih itu tak menunjukkan ekspresi selain raut dingin. Lidahnya keluar dari mulut dan mengelap sisa darah di pinggir bibir, kemudian menjawab pertanyaan si lelaki bermata kuning.
"Kalau penduduk, apa yang akanโ"
"Penduduk di sini lebih sedikit dibanding makhluk-makhluk seperti itu. Apa kau ingin membuat membuat kota ini menjadi mati?" Tatapan tajam ditunjukkan si lelaki bersama hawa penekanan.
Perempuan itu menghela napas dan berbalik, "walau aku tidak melakukannya, kota ini tetap akan terasa seperti mati. Ya, tetapi ini tidak buruk bagiku."
"Apa maksudmu?"
"Huh? Kau belum paham peringatan yang kuberikan saat bertemu siswi itu?"
Alam mengembuskan napas di kala mentari mulai menunjukkan sinar dari ufuk timur. Rambut pirang si lelaki tampak dibelai oleh napas sejuk itu, sama halnya dengan rambut sang perempuan. Dengan netra yang melebar, lelaki itu terdiam karena tatapan mata merah si perempuan. Ia mencoba memberanikan diri untuk mengucap pemahaman, tetapi dihentikan oleh perkataan lawan bicara.
"Tidak perlu kau ucapkan. Siswi SMP itu โฆ memanglah inti dari semua ini."
"Bโbagaimana bisa? Auranya terasa seperti manusia biasa, lho! Bahkan ketika aku tak sengaja menyentuhnya, tidak ada yang aneh!" Raut tak percaya ditunjukkan dengan jelas oleh lelaki itu. Namun, si perempuan tetap membalasnya dengan wajah dingin.
"Lalu kenapa kau mengejarnya? Apa karena raut takut yang ditunjukkan gadis monster itu, Rena El Arfenza?"
__ADS_1