
Lukisan bergerak yang tak diingat tiba-tiba muncul dalam pikiran. Tampak pria dan wanita tergeletak di atas darah masing-masing yang telah tercampur. Lalu, ada seorang anak kecil yang melihat dua orang tanpa nyawa tersebut. Dengan penglihatan bersinar dan berkaca, senyuman penutup ketakutan terukir di wajah anak itu.
"Ayah โฆ ibu โฆ." Air mata tercipta dari anak kecil tersebut sebelum ucapannya terdengar berubah. "๐๐ฆ๐ฅ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ค๐ข๐ฏ๐ฅ๐ข '๐ฌ๐ข๐ฏ?"
Rasa terkejut akan ketidakpercayaan langsung menyelimuti jiwa rapuh Ilfra. Ingatan yang dilihat hampir membuatnya lupa akan sosok di belakang. Sosok berwarna hitam yang memiliki banyak mulut di seluruh tubuh, pencipta ketakutan dan kebencian dalam diri.
"๐๐ฉ๐ช๐ฏ๐ฆ!"
Ilfra terbelalak, napasnya terputus-putus, dan detak jantungnya tak beraturan. Ia semakin tak percaya melihat suasana sekitar yang biasa sajaโtidak ada monster penuh mata maupun mulut pada tubuh. Suasana pertigaan masih tetap sepi, begitu juga jalan aspal yang dingin sebab tak dilewati. Namun, belum sempat gadis bersuara gaung nan lembut itu menenangkan diri, butiran salju tiba-tiba lewat di depan mata.
๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ธ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ ๐ฏ๐ฐ๐ณ๐ฎ๐ข๐ญ, ๐๐ฐ๐ฏ๐ด๐ต๐ฆ๐ณ. Bisikan bak suara batin tersebut langsung membuatnya tertegun. Meskipun perasaannya yang berantakan perlahan damai karena suasana sunyi.
Ia segera memandang ke langit gelap dengan sedikit bintang. Netra dengan iris pink gadis berpakaian sweater itu perlahan kembali normalโtak menampakkan cahaya berkilau.
๐๐ข๐ญ๐ซ๐ถ โฆ ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ. ๐๐ช๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฑ-๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฑ ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ช๐ต๐ข๐ฎ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฉ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ต๐ถ๐ฑ๐ช. ๐๐ข๐ต๐ช๐ฌ๐ถ โฆ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฏ๐จ, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ต๐ข๐ถ ๐ช๐ฎ๐ข๐ซ๐ช๐ฏ๐ข๐ด๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ฏ๐บ๐ข๐ต๐ข. Mulutnya yang terbuka sedikit perlahan menutup sempurna dan menciptakan senyuman.
Ilfra mengembuskan napas yang bercampur dengan udara dingin, menciptakan asap putih transparan di depan bibir. Raut senang terlihat di wajahnya yang bersih. ๐ ๐ข๐ฉ, ๐ญ๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ซ๐ข๐ณ. ๐๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ-๐ฎ๐ข๐ฌ๐ฉ๐ญ๐ถ๐ฌ ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐จ๐ช๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต.
Kaki kembali melangkah dan memilih jalan ke arah kiri. Pandangannya lurus tanpa memedulikan sekitar, sembari menunjukkan senyum dan menerima butiran-butiran salju yang menyentuh tubuh. Bagai gerimis yang diperlambat waktu untuk menyentuh tanah, benda putih itu telah berhasil menghapus kenyataan anehnya.
๐๐ถ๐ด๐ช๐ฎ ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐จ๐ข ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ด๐ข๐ญ๐ซ๐ถ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ ๐ต๐ถ๐ณ๐ถ๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช.
**
๐๐ฉ. ๐๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข. Ilfra baru saja selesai membaca dan menulis catatan di buku. Namun, jarum jam telah menunjukkan waktu mentari terbit, membuat gadis yang masih mengenakan sweater dan celana jeans pendek itu beranjak bangun. Buku-buku pelajaranโberupa buku tulis dan buku pendampingโdimasukkan ke dalam tas berwarna pink. Lalu, buku yang tidak dijadwalkan untuk dibawa telah diletakkannya di atas meja panjang.
Mata pink gadis itu melihat ke arah ranjang yang menutup keberadaan meja panjang. Terlihat bibir tipisnya menghasilkan senyum sebelum pandangan beralih ke tirai jendela. Segera dibuka tirai tersebut sehingga sinar mentari menerangi sebagian ruang kamar. ๐๐ข๐ช๐ฌ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ข๐จ๐ช? ๐๐ต๐ข๐ถ โฆ.
๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ด๐ข๐ซ๐ข. ๐๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. Ilfra segera meninggalkan kamar yang telah rapi dan bersih. Ia mulai masuk ke kamar mandi dengan handuk pada kedua pundak, bersiap merasakan dinginnya air.
__ADS_1
Selang beberapa waktu, ruang berkeramik putih yang selalu menghasilkan rasa dingin ditinggalkan. Lantai kayu telah menjadi tempat telapak kakinya berpijak. Baju berwarna putih dengan warna hitam di bagian kerah dikenakan, begitu juga rok hitam yang menutupi lutut. Rambut pink ia rapihkan dan diikat sebelah sehingga membuat poni pada bagian kanan. Namun, masih ada rambut yang menghalangi mata melihat kedua telinga.
๐ ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฏ๐ฆ๐ฉ, ๐ต๐ฆ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฌ๐ข. ๐๐ฆ๐ญ๐ช๐ฏ๐จ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ข๐ฏ.
Cermin ditinggal, sementara tas berwarna pink digendong sampai ruang makan yang sejajar dengan ruang tamu. Tangannya membuka kulkas, sementara mata melihat isi. ๐๐ฉ? ๐๐ข๐ฉ๐ข๐ฏ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ต๐ช๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต? ๐๐ฎ๐ฎ, ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ฃ๐ช๐ด๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฉ, ๐ฑ๐ถ๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ฎ๐ฑ๐ช๐ณ ๐ฌ๐ฆ ๐ด๐ธ๐ข๐ญ๐ข๐บ๐ข๐ฏ.
"๐๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข."
Netra Ilfra terbuka lebar mendengar suara berat yang menggaung dalam pikiran. Tangannya yang hampir menyentuh salah satu bahan makanan terhenti. Dengan menelan ludah dan menggeleng sekali, ia mulai berpikir positif.
๐๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข-๐ข๐ฑ๐ข. ๐๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฃ๐ช๐ด๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ข๐ธ๐ข ๐ด๐ข๐ณ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ถ๐ฏ๐ต๐ถ๐ฌ ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด.
**
Mentari masih datang dari arah timur dan selalu melangit demi memancarkan cahaya. Namun, ia terlihat seperti siluet karena awan putih tipis yang menyebar. Butiran-butiran salju turun seperti rintik gerimis yang diperlambat, menambah tumpukan benda putih pada benda-benda di atas tanah. Jalan yang licin dan hawa dingin, semua tampak diabaikan oleh orang-orang.
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฅ๐ถ๐จ๐ข๐ข๐ฏ๐ฌ๐ถ. ๐๐ถ๐ด๐ช๐ฎ ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ, ๐บ๐ฆ๐ข๐บ!
"Akh! Kenapa harus mogok sekarang sih!"
Keluh kesah orang yang tengah kesal melihat mobilnya rusak terdengar, membuat Ilfra terdiam dan segera mempercepat langkah. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฎ๐ถ๐ด๐ช๐ฎ ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ข๐จ๐ถ๐ด. ๐ ๐ข, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฅ๐ช๐ฌ๐ช๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ, ๐ด๐ช๐ฉ, ๐ฃ๐ข๐จ๐ช ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฐ๐ฃ๐ช๐ญ๐ฏ๐บ๐ข ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฌ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ณ๐ถ๐ด๐ข๐ฌ, ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ.
Ia berhenti sejenak, menunggu lampu merah bagi pejalan kaki berganti menjadi biru. Walau tak ada kendaraan yang melintas di jalanan, ia tetap menunggu seraya melihat ke samping.
๐๐ข๐ญ๐ซ๐ถ ๐ฅ๐ช ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ด๐ช๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ช๐ต๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ช๐ง๐ข๐ต ๐ญ๐ช๐ค๐ช๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฆ๐ฌ๐ช๐ต๐ข๐ณ ๐ฑ๐ถ๐ฌ๐ถ๐ญ ๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ถ๐ฏ๐จ๐ฌ๐ช๐ฏ, ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ซ๐ข๐ญ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ต๐ถ๐ต๐ถ๐ฑ ๐ด๐ข๐ญ๐ซ๐ถ.
๐๐ฉ, ๐ฌ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ฏ๐ช, ๐ด๐ช๐ฉ? Lampu telah menyalakan warna biru. Kakinya pun melangkah menuju jalanan aspal yang diberi garis putih. Namun, sifat licin langsung membuat gadis yang tak mengucap sepatah kata terpeleset. Meski tampaknya, ia tidak ditakdirkan untuk jatuh menyentuh aspal yang dingin.
"Syukurlah kau tak jatuh."
__ADS_1
Ilfra segera menjauhi orang yang menolongnya dan membalikkan badan. Rasa hangat dari tangan orang itu masih terasa di pundak dan menciptakan ketidaknyamanan. Mata pinknya menatap tajam lelaki remaja berambut pirang pendek di hadapan, kemudian berubah menjadi pandangan terkejut.
"Hem?" Lelaki dengan iris kuning pucat itu keheranan melihat Ilfra yang mengambil buku dan pulpen, kemudian menulis sesuatu. ๐๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ต๐ฆ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ, ๐ต๐ข๐ฑ๐ช ๐ต๐ฐ๐ญ๐ฐ๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฑ๐ข๐ฅ๐ข๐ฌ๐ถ.
Terlihat raut terkejut beserta bingung di wajah sang lelaki, tetapi Ilfra tidak peduli dan lekas menutup buku. Setelah dimasukkan ke dalam tas, ia segera berjalan pergi bersama perasaan yang berantakan. Sambil mencoba melenyapkan huruf-huruf dalam hati untuk disuarakan, juga memikirkan tindakannya.
๐๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฉ๐ข๐ต๐ช-๐ฉ๐ข๐ต๐ช. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ข๐ญ๐ข๐ถ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ต๐ข๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ข๐ต๐ถ ๐ฌ๐ข๐ต๐ข? ๐๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ด๐ฆ๐ฉ๐ข๐ณ๐ถ๐ด๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ช๐ค๐ข๐ณ๐ข ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ!
"Hei, tunggu!" Suara kaki yang melangkah cepat di belakang langsung berhenti setelah matanya menatap ke sana, menunjukkan kilauan pink bagai berlian. Laki-laki dengan seragam sekolah yang berbeda dengannya terdiam di tempat. Tanpa menggunakan ucapan atau tulisan, ia memberikan isyarat dari tatapan mata. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ, ๐ฌ๐ถ๐ฎ๐ฐ๐ฉ๐ฐ๐ฏ, ๐ซ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ. ๐๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ!
"Ada apa denganmu?"
"Menyingkir dari jalanku, Bocah Kuning."
Ilfra terbelalak melihat gadis berambut putih panjang mendorong lelaki yang hampir mendekatinya. Tampak raut kesal di wajah lelaki berkulit cokelat terang itu, apalagi setelah menyadari siapa sang pelaku.
"Apa-apaan kau, Liyana. Main dorong seenaknya." Suara tegas dari laki-laki itu tak menggetarkan Liyanaโgadis yang kini sudah berdiri di dekat Ilfra.
"Jangan maafkan kelakuan Rena, ya. Lelaki feminim itu memang suka menggoda perempuan muda."
Ilfra mulai kebingungan mendengar perkataan bersuara lembut dari Liyana. Namun, ekspresi Renaโlelaki yang menolong Ilfraโtak bisa menahan emosi marah, meski rambut yang menutup kedua telinga membuatnya seperti perempuan.
"Kauโ"
"Jangan melangkah, Bocah! Atau kau akan mati di sini."
Mata merah bagai darah milik Liyana menatap tajam ke arah Rena, membuat Ilfra ikut terdiam dengan perasaan gemetar. Ia melebarkan mata ketika angin dingin berembus membelai poni rambut Liyana, memperlihatkan mata sebelah kiri gadis berwajah dingin itu.
๐๐ฑ๐ข โฆ ๐ช๐ฏ๐ช?
__ADS_1