Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 4: Musim Dingin


__ADS_3

Lukisan bergerak yang tak diingat tiba-tiba muncul dalam pikiran. Tampak pria dan wanita tergeletak di atas darah masing-masing yang telah tercampur. Lalu, ada seorang anak kecil yang melihat dua orang tanpa nyawa tersebut. Dengan penglihatan bersinar dan berkaca, senyuman penutup ketakutan terukir di wajah anak itu.


"Ayah โ€ฆ ibu โ€ฆ." Air mata tercipta dari anak kecil tersebut sebelum ucapannya terdengar berubah. "๐˜š๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ค๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ข '๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ?"


Rasa terkejut akan ketidakpercayaan langsung menyelimuti jiwa rapuh Ilfra. Ingatan yang dilihat hampir membuatnya lupa akan sosok di belakang. Sosok berwarna hitam yang memiliki banyak mulut di seluruh tubuh, pencipta ketakutan dan kebencian dalam diri.


"๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฆ!"


Ilfra terbelalak, napasnya terputus-putus, dan detak jantungnya tak beraturan. Ia semakin tak percaya melihat suasana sekitar yang biasa sajaโ€”tidak ada monster penuh mata maupun mulut pada tubuh. Suasana pertigaan masih tetap sepi, begitu juga jalan aspal yang dingin sebab tak dilewati. Namun, belum sempat gadis bersuara gaung nan lembut itu menenangkan diri, butiran salju tiba-tiba lewat di depan mata.


๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ, ๐˜”๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ. Bisikan bak suara batin tersebut langsung membuatnya tertegun. Meskipun perasaannya yang berantakan perlahan damai karena suasana sunyi.


Ia segera memandang ke langit gelap dengan sedikit bintang. Netra dengan iris pink gadis berpakaian sweater itu perlahan kembali normalโ€”tak menampakkan cahaya berkilau.


๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ซ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ. ๐˜‰๐˜ช๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ-๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฑ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ๐˜ช. ๐˜๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ โ€ฆ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ซ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ต๐˜ข. Mulutnya yang terbuka sedikit perlahan menutup sempurna dan menciptakan senyuman.


Ilfra mengembuskan napas yang bercampur dengan udara dingin, menciptakan asap putih transparan di depan bibir. Raut senang terlihat di wajahnya yang bersih. ๐˜ ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ. ๐˜“๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ-๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต.


Kaki kembali melangkah dan memilih jalan ke arah kiri. Pandangannya lurus tanpa memedulikan sekitar, sembari menunjukkan senyum dan menerima butiran-butiran salju yang menyentuh tubuh. Bagai gerimis yang diperlambat waktu untuk menyentuh tanah, benda putih itu telah berhasil menghapus kenyataan anehnya.


๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ต๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


**


๐˜ˆ๐˜ฉ. ๐˜š๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข. Ilfra baru saja selesai membaca dan menulis catatan di buku. Namun, jarum jam telah menunjukkan waktu mentari terbit, membuat gadis yang masih mengenakan sweater dan celana jeans pendek itu beranjak bangun. Buku-buku pelajaranโ€”berupa buku tulis dan buku pendampingโ€”dimasukkan ke dalam tas berwarna pink. Lalu, buku yang tidak dijadwalkan untuk dibawa telah diletakkannya di atas meja panjang.


Mata pink gadis itu melihat ke arah ranjang yang menutup keberadaan meja panjang. Terlihat bibir tipisnya menghasilkan senyum sebelum pandangan beralih ke tirai jendela. Segera dibuka tirai tersebut sehingga sinar mentari menerangi sebagian ruang kamar. ๐˜‰๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช? ๐˜ˆ๐˜ต๐˜ข๐˜ถ โ€ฆ.


๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ. ๐˜“๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. ๐˜™๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. Ilfra segera meninggalkan kamar yang telah rapi dan bersih. Ia mulai masuk ke kamar mandi dengan handuk pada kedua pundak, bersiap merasakan dinginnya air.

__ADS_1


Selang beberapa waktu, ruang berkeramik putih yang selalu menghasilkan rasa dingin ditinggalkan. Lantai kayu telah menjadi tempat telapak kakinya berpijak. Baju berwarna putih dengan warna hitam di bagian kerah dikenakan, begitu juga rok hitam yang menutupi lutut. Rambut pink ia rapihkan dan diikat sebelah sehingga membuat poni pada bagian kanan. Namun, masih ada rambut yang menghalangi mata melihat kedua telinga.


๐˜ ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ.


Cermin ditinggal, sementara tas berwarna pink digendong sampai ruang makan yang sejajar dengan ruang tamu. Tangannya membuka kulkas, sementara mata melihat isi. ๐˜Œ๐˜ฉ? ๐˜‰๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต? ๐˜Œ๐˜ฎ๐˜ฎ, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฉ, ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜ด๐˜ธ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ.


"๐˜›๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข."


Netra Ilfra terbuka lebar mendengar suara berat yang menggaung dalam pikiran. Tangannya yang hampir menyentuh salah satu bahan makanan terhenti. Dengan menelan ludah dan menggeleng sekali, ia mulai berpikir positif.


๐˜‰๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข-๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข. ๐˜”๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด.


**


Mentari masih datang dari arah timur dan selalu melangit demi memancarkan cahaya. Namun, ia terlihat seperti siluet karena awan putih tipis yang menyebar. Butiran-butiran salju turun seperti rintik gerimis yang diperlambat, menambah tumpukan benda putih pada benda-benda di atas tanah. Jalan yang licin dan hawa dingin, semua tampak diabaikan oleh orang-orang.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜”๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜บ๐˜ฆ๐˜ข๐˜บ!


"Akh! Kenapa harus mogok sekarang sih!"


Keluh kesah orang yang tengah kesal melihat mobilnya rusak terdengar, membuat Ilfra terdiam dan segera mempercepat langkah. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ฎ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ถ๐˜ด. ๐˜ ๐˜ข, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ถ, ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ, ๐˜ฃ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ.


Ia berhenti sejenak, menunggu lampu merah bagi pejalan kaki berganti menjadi biru. Walau tak ada kendaraan yang melintas di jalanan, ia tetap menunggu seraya melihat ke samping.


๐˜š๐˜ข๐˜ญ๐˜ซ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ช๐˜ง๐˜ข๐˜ต ๐˜ญ๐˜ช๐˜ค๐˜ช๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ซ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ถ๐˜ต๐˜ถ๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ซ๐˜ถ.


๐˜ˆ๐˜ฉ, ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ? Lampu telah menyalakan warna biru. Kakinya pun melangkah menuju jalanan aspal yang diberi garis putih. Namun, sifat licin langsung membuat gadis yang tak mengucap sepatah kata terpeleset. Meski tampaknya, ia tidak ditakdirkan untuk jatuh menyentuh aspal yang dingin.


"Syukurlah kau tak jatuh."

__ADS_1


Ilfra segera menjauhi orang yang menolongnya dan membalikkan badan. Rasa hangat dari tangan orang itu masih terasa di pundak dan menciptakan ketidaknyamanan. Mata pinknya menatap tajam lelaki remaja berambut pirang pendek di hadapan, kemudian berubah menjadi pandangan terkejut.


"Hem?" Lelaki dengan iris kuning pucat itu keheranan melihat Ilfra yang mengambil buku dan pulpen, kemudian menulis sesuatu. ๐˜›๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ.


Terlihat raut terkejut beserta bingung di wajah sang lelaki, tetapi Ilfra tidak peduli dan lekas menutup buku. Setelah dimasukkan ke dalam tas, ia segera berjalan pergi bersama perasaan yang berantakan. Sambil mencoba melenyapkan huruf-huruf dalam hati untuk disuarakan, juga memikirkan tindakannya.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช-๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ!


"Hei, tunggu!" Suara kaki yang melangkah cepat di belakang langsung berhenti setelah matanya menatap ke sana, menunjukkan kilauan pink bagai berlian. Laki-laki dengan seragam sekolah yang berbeda dengannya terdiam di tempat. Tanpa menggunakan ucapan atau tulisan, ia memberikan isyarat dari tatapan mata. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ. ๐˜‘๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ!


"Ada apa denganmu?"


"Menyingkir dari jalanku, Bocah Kuning."


Ilfra terbelalak melihat gadis berambut putih panjang mendorong lelaki yang hampir mendekatinya. Tampak raut kesal di wajah lelaki berkulit cokelat terang itu, apalagi setelah menyadari siapa sang pelaku.


"Apa-apaan kau, Liyana. Main dorong seenaknya." Suara tegas dari laki-laki itu tak menggetarkan Liyanaโ€”gadis yang kini sudah berdiri di dekat Ilfra.


"Jangan maafkan kelakuan Rena, ya. Lelaki feminim itu memang suka menggoda perempuan muda."


Ilfra mulai kebingungan mendengar perkataan bersuara lembut dari Liyana. Namun, ekspresi Renaโ€”lelaki yang menolong Ilfraโ€”tak bisa menahan emosi marah, meski rambut yang menutup kedua telinga membuatnya seperti perempuan.


"Kauโ€”"


"Jangan melangkah, Bocah! Atau kau akan mati di sini."


Mata merah bagai darah milik Liyana menatap tajam ke arah Rena, membuat Ilfra ikut terdiam dengan perasaan gemetar. Ia melebarkan mata ketika angin dingin berembus membelai poni rambut Liyana, memperlihatkan mata sebelah kiri gadis berwajah dingin itu.


๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?

__ADS_1


__ADS_2