
Mahkota bunga berwarna merah seketika berterbangan bagai cakram yang tak kembali ke pemiliknya. Bersama mahkota bunga putih, kedua makhluk yang menyiksa si gadis langsung mendapatkan balasan: rasa sakit singkat sebelum diserap ke dalam kekosongan transparan.
Sosok gadis yang terakhir kali terlihat mati dipenggal tiba-tiba muncul. Keadaannya terlihat biasa dan tak ada luka pada tubuh. Hanya tersisa bekas darahnya sendiri di pakaian hitam yang dikenakan, juga leher dan pipinya.
"๐๐ข๐ข โฆ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ถ๐ณ๐ถ๐ฌ ๐ซ๐ถ๐จ๐ข." ๐๐ฆ๐ด๐ฌ๐ช ๐ฆ๐ฎ๐ฐ๐ด๐ช ๐ฏ๐ฆ๐จ๐ข๐ต๐ช๐ง๐ฌ๐ถ ๐ด๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ช๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฌ๐ข๐ต ๐ด๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ.
Netra pink gadis itu lekas melirik ke arah pintu kuil. Tanpa mempertanyakan sesuatu di balik benda itu, ia lekas menghampiri dan membukanya. Terbelalak, begitu juga dengan seorang lelaki yang baru saja selesai berdoa. Lelaki dengan netra hitam kemerahan itu tampak tertegun dan menelan ludah, sementara si gadis sedikit menunjukkan salah satu taringnya.
"๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข?"
"He? Dโdewa?"
Tangan kanan si gadis berambut merah muda langsung diarahkan ke kepala, bersamaan dengan kuku-kukunya yang memanjang seperti cakar. Kulit kepalanya perlahan sobek, begitu juga dengan daging yang menutupi tengkorak. Darah segar mengalir keluar, tetapi tubuh seketika pudar menjadi daun-daun hitam yang berterbangan.
"Aโapa tadi? Dโdia โฆ monster?" Lelaki yang semakin tidak percaya dengan kenyataan itu berpikir sesaat. "Dโdewa 'kan memang monster, haha. Ada-ada sajaโ apanya yang ada-ada!"
"Aโaku harus kasih tau Viera!"
**
"Ilfra โฆ."
"๐๐ช๐ต๐ข ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ฎ๐ฃ๐ข๐ต."
Lina terduduk di lantai kayu dengan pandangan yang terarah pada tas hitam milik Ilfra. Pikirannya yang kosong perlahan terisi dengan kata-kata negatif. Tanpa mencoba menghilangkannya, ia malah menggaruk-garuk lantai kayu dengan harapan mendapat luka fisik.
๐๐ช๐ฉ๐ข๐ต๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฌ๐ฆ๐ข๐ฅ๐ข๐ข๐ฏ ๐ช๐ฏ๐ช, ๐๐ช๐ฏ๐ข โฆ. ๐๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฑ ๐ด๐ข๐ฉ๐ข๐ฃ๐ข๐ต ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ. ๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ! ๐๐ข๐ถ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ถ๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ถ๐ด๐ถ๐ฉ๐ช, ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช, ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข๐ถ๐ฉ๐ช, ๐ด๐ฆ๐ณ๐ต๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฑ๐ฏ๐บ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข. ๐๐ฆ๐ฌ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ด๐ช๐ฏ๐ช! ๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ! ๐๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ โฆ ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ โฆ!
Kesedihan yang disertai penyesalan mengalir dari ujung matanya. Semua kalimat yang diciptakan sendiri, tetapi dianggapnya sebagai ucapan orang lain. Gadis yang kini menangis dengan suara lirih itu semakin tak terkendali pikirannya.
__ADS_1
๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐จ๐ช๐ต๐ถ ๐ด๐ฆ๐ณ๐ข๐ฌ๐ข๐ฉ, ๐๐ช๐ฏ๐ข? ๐๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฎ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ฏ๐ต๐ข๐ด ๐ฅ๐ช๐ด๐ฆ๐ฃ๐ถ๐ต ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ. ๐๐จ๐ฐ๐ช๐ด ๐ข๐ต๐ข๐ถ ๐ข๐ฑ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ช๐ต๐ถ, ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฌ๐ช ๐ด๐ช๐ง๐ข๐ต ๐ข๐ด๐ญ๐ช ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ช๐ต๐ถ. ๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฑ๐ข๐ฏ ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ด๐ช๐ฃ ๐ด๐ข๐ฎ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ด๐ฐ๐ด๐ฐ๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ. ๐๐ข๐ถ ๐ฃ๐ข๐ฉ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ต๐ข๐ฌ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ช๐ฌ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ต๐ถ๐ข ๐ฌ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ถ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ต๐ช. ๐๐ข๐ญ๐ถ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ช๐ญ๐ช๐ฉ ๐ข๐จ๐ข๐ณ ๐ฅ๐ช๐ณ๐ช๐ฎ๐ถ ๐ช๐ฌ๐ถ๐ต ๐ฎ๐ข๐ต๐ช ๐ซ๐ถ๐จ๐ข, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข โฆ ๐ด๐ช๐ฌ๐ข๐ฑ ๐ฏ๐ข๐ช๐ง.
"Ugh โฆ." Lina mengepal dan memukul sekali lantai yang tak bersalah. Ia tak merasa bahwa sosok perempuan berpakaian kimono masih ada, menyaksikan sikap naif dalam tangisan diamnya.
๐๐ข๐ฏ๐ถ๐ด๐ช๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐จ๐ช๐ญ๐ข ๐ฑ๐ช๐ฌ๐ช๐ณ๐ข๐ฏ, batin perempuan yang terlihat berusia 20-an itu setelah bosan melihat tindakan Lina.
Bunyi lonceng yang digoyangkan tiba-tiba terdengar, mengalihkan pandangan perempuan kimono ke arah pintu kuil. ๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฌ๐ถ๐ช๐ญ ๐ช๐ฏ๐ช.
Kain hitam bermotif batik putih seketika mengitari perempuan kimono dan juga Lina, membawa keduanya pergi dari kuil. Tepat setelahnya, pintu kuil dibuka dan menunjukkan seorang gadis remaja berambut putih panjang. Gadis itu sedikit memiringkan kepala sambil menetapkan ekspresi dinginnya.
"Padahal aku tidak berniat menyerang. Tak apalah, mungkin kita bisa bertemu di lain waktu," gumam gadis itu dengan netra merahnya yang menatap tajam patung serigala berekor tujuh.
**
"Hah? Bagaimana bisa kau baru mengatakannya setelah satu hari!"
Perempuan kimono tidak menanggapi teriakan Lina. Ia mengalihkan fokusnya pada pemandangan senja di jendela kamar yang terbuka, lalu memisahkan kedua bibirnya hingga satu kalimat terdengar di pikiran Lina.
"Pergilah! Biarkan aku sendiri!" Gadis bermata biru itu kembali berkata dengan nada tinggi nan keras, tetapi diiringi perasaan tak karuan yang ingin sekali diaturnya.
Sosok perempuan itu lekas menghilangkan diri menyerupai asap, lalu berakhir sebagai udara yang tak terlihat. Air mata pun dikeluarkan oleh Lina, meskipun tangannya menutupi seluruh wajah.
๐๐ข๐จ๐ช-๐ญ๐ข๐จ๐ช ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ฌ๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฉ๐ข๐ญ โฆ. ๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฉ๐ข๐ญ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ข๐ฑ๐ข ๐บ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ธ๐ข๐ฏ๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฌ๐ฐ๐ฏ๐ด๐ฆ๐ฑ ๐ต๐ข๐ฌ๐ฅ๐ช๐ณ. ๐๐ฑ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ด๐ข๐ญ๐ข๐ฉ ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ๐ฏ๐บ๐ข? ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ด๐ข๐ฅ๐ข๐ณ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฃ๐ถ๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฃ๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ๐ฌ๐ถ, ๐๐ถ๐ฉ๐ข๐ฏ? ๐๐ข๐ข๐ณ๐จ๐ฉ๐ฉ!
Kesedihan segera diusapnya sampai tak tersisa, meninggalkan ekspresi dingin bercampur kesal yang baru diciptakan. Seusai menutup jendela dan menyalakan lampu kamar, penglihatannya diarahkan pada handphone yang diambil dari tas pinggang Ilfra.
๐๐ถ๐ซ๐ถ๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ญ๐ข๐ด ๐ญ๐ช๐ฎ๐ข ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฎ, ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ฑ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข ๐ฎ๐ข๐ด๐ช๐ฉ ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ง๐ถ๐ฏ๐จ๐ด๐ช. Jari gadis itu bergerak cepat pada layar handphone, membuka satu persatu aplikasi dan mengeceknya. Aplikasi catatan menjadi yang terakhir dilihat secara lama.
๐๐ญ๐ง๐ณ๐ข ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ข๐ฏ๐บ๐ข๐ฌ ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐ถ๐ญ๐ช๐ด ๐ค๐ข๐ต๐ข๐ต๐ข๐ฏ ๐ฅ๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ฑ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข. ๐๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ต๐ข๐ฌ ๐ฃ๐ช๐ข๐ด๐ข? ๐๐ช๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฏ๐จ ๐ซ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฎ๐ฆ๐ฎ๐ข๐ฌ๐ข๐ช ๐ฉ๐ข๐ฏ๐ฅ๐ฑ๐ฉ๐ฐ๐ฏ๐ฆ๐ฏ๐บ๐ข.
__ADS_1
Melodi bel rumah tiba-tiba memasuki lorong pendengaran, membuat fokus pikiran Lina berganti. ๐๐ช๐ข๐ฑ๐ข?
Gadis itu lekas meletakkan handphone di nakas dan melangkah menuju pintu rumah. Setelah membuka dan mendapati gadis SMA berambut putih, ia menyembunyikan keterkejutannya dengan memiringkan kepala.
"Maaf, kauโ"
"Ilfra Alfyna Avylin."
Lina akhirnya melebarkan matanya saat ucapannya dipotong gadis bermata merah itu. Angin bercampur butiran salju seketika berembus mengisi suasana, dilanjutkan perkataan gadis yang masih belum diketahui namanya oleh Lina.
"Bukankah kau temannya?"
**
Hawa dingin yang diakibatkan hujan salju ringan semakin pekat. Suasana malam yang telah tiba juga menambah perasaan di bawah nol derajat tersebut. Apalagi lingkungan sekitar yang berupa pepohonan tinggi nan tampak gelap, menciptakan perasaan tak nyaman untuk gadis berpakaian hitam.
๐๐ฆ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ? ๐๐ฏ๐ช ๐ด๐ถ๐ฅ๐ข๐ฉ ๐ฑ๐ข๐ด๐ต๐ช ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐๐ฐ๐ต๐ข ๐๐ฉ๐ช๐ฌ๐ถ๐ณ๐ฐ. ๐๐ฑ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช ๐ฅ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข ๐ญ๐ข๐ช๐ฏ? ๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฌ๐ฐ๐ต๐ข ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข?
Tangan gadis itu membelai rambut pink yang menutup telinga kanan, membiarkan pendengarannya tersebut mengetahui suara-suara dalam hutan. Namun, ia tak mendapatkan bunyi selain dari hujan salju. ๐๐ฉ๐ฉ, ๐ถ๐ฅ๐ข๐ณ๐ข๐ฏ๐บ๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ-๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ข๐ณ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ข๐ด๐ข ๐ฅ๐ช๐ฏ๐จ๐ช๐ฏ. ๐๐ฆ๐ฃ๐ข๐ช๐ฌ๐ฏ๐บ๐ข ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ค๐ข๐ณ๐ช ๐ต๐ฆ๐ฎ๐ฑ๐ข๐ตโ
Belenggu gadis bermata merah muda itu tiba-tiba dipaksa berhenti sejenak. Perasaan negatif dalam dirinya langsung bergejolak mengacaukan pikiran. Meskipun ketika sosok transparan telah selesai menembus badannya, hawa hangat beserta rasa positif segera ia dapatkan.
"Wah, ternyata kau bukan manusia, ya?"
Ilfra Alfyna Avylin, dirinya kini terkejut melihat gadis berseragam sekolah berwarna hitam. Tubuh gadis itu terlihat transparan, apalagi kulit pucat dan mata hitamnya yang tak memperlihatkan kehidupan. Gadis yang baru saja menembus dirinya itu benar-benar terasa dingin dan mati.
"Ah, aku malah mendapat aura negatifmu. Sayang sekali," gumam gadis bak mayat hidup itu mengabaikan pandangan memeriksa Ilfra.
"๐๐ข๐ถ ๐ด๐ช๐ข๐ฑ๐ข? ๐๐ฅ๐ข ๐ฅ๐ช ๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ช๐ฏ๐ช?" Ilfra memberanikan diri untuk bertanya selepas mengalahkan bingungnya pikiran.
__ADS_1
Gadis bermata hitam itu tak menjawab, apalagi memandang wajah Ilfra. Udara dingin kembali datang dan membelai rambut kedua gadis itu, diakhiri dengan tatapan kosong yang tiba-tiba diberikan si gadis hitam.
"Kau tersesat, ya, Monster dari Kota Shikuro?"