Gadis Kutukan

Gadis Kutukan
Bab 15: Kekacauan


__ADS_3

Mahkota bunga berwarna merah seketika berterbangan bagai cakram yang tak kembali ke pemiliknya. Bersama mahkota bunga putih, kedua makhluk yang menyiksa si gadis langsung mendapatkan balasan: rasa sakit singkat sebelum diserap ke dalam kekosongan transparan.


Sosok gadis yang terakhir kali terlihat mati dipenggal tiba-tiba muncul. Keadaannya terlihat biasa dan tak ada luka pada tubuh. Hanya tersisa bekas darahnya sendiri di pakaian hitam yang dikenakan, juga leher dan pipinya.


"๐˜๐˜ข๐˜ข โ€ฆ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ๐˜ฌ ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข." ๐˜”๐˜ฆ๐˜ด๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ด๐˜ช ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข๐˜ต๐˜ช๐˜ง๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ.


Netra pink gadis itu lekas melirik ke arah pintu kuil. Tanpa mempertanyakan sesuatu di balik benda itu, ia lekas menghampiri dan membukanya. Terbelalak, begitu juga dengan seorang lelaki yang baru saja selesai berdoa. Lelaki dengan netra hitam kemerahan itu tampak tertegun dan menelan ludah, sementara si gadis sedikit menunjukkan salah satu taringnya.


"๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜‹๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข?"


"He? Dโ€“dewa?"


Tangan kanan si gadis berambut merah muda langsung diarahkan ke kepala, bersamaan dengan kuku-kukunya yang memanjang seperti cakar. Kulit kepalanya perlahan sobek, begitu juga dengan daging yang menutupi tengkorak. Darah segar mengalir keluar, tetapi tubuh seketika pudar menjadi daun-daun hitam yang berterbangan.


"Aโ€“apa tadi? Dโ€“dia โ€ฆ monster?" Lelaki yang semakin tidak percaya dengan kenyataan itu berpikir sesaat. "Dโ€“dewa 'kan memang monster, haha. Ada-ada sajaโ€” apanya yang ada-ada!"


"Aโ€“aku harus kasih tau Viera!"


**


"Ilfra โ€ฆ."


"๐˜’๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต."


Lina terduduk di lantai kayu dengan pandangan yang terarah pada tas hitam milik Ilfra. Pikirannya yang kosong perlahan terisi dengan kata-kata negatif. Tanpa mencoba menghilangkannya, ia malah menggaruk-garuk lantai kayu dengan harapan mendapat luka fisik.


๐˜“๐˜ช๐˜ฉ๐˜ข๐˜ต๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช, ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข โ€ฆ. ๐˜–๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ต ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ. ๐˜‰๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ! ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ค๐˜ช, ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ช, ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! ๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ! ๐˜Œ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ โ€ฆ ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ โ€ฆ!


Kesedihan yang disertai penyesalan mengalir dari ujung matanya. Semua kalimat yang diciptakan sendiri, tetapi dianggapnya sebagai ucapan orang lain. Gadis yang kini menangis dengan suara lirih itu semakin tak terkendali pikirannya.

__ADS_1


๐˜’๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜“๐˜ช๐˜ฏ๐˜ข? ๐˜›๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ต๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ. ๐˜Œ๐˜จ๐˜ฐ๐˜ช๐˜ด ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ง๐˜ข๐˜ต ๐˜ข๐˜ด๐˜ญ๐˜ช ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ต๐˜ช ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฃ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ด๐˜ฐ๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ. ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ต๐˜ถ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช. ๐˜“๐˜ข๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ถ ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ต๐˜ช ๐˜ซ๐˜ถ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข โ€ฆ ๐˜ด๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฑ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ช๐˜ง.


"Ugh โ€ฆ." Lina mengepal dan memukul sekali lantai yang tak bersalah. Ia tak merasa bahwa sosok perempuan berpakaian kimono masih ada, menyaksikan sikap naif dalam tangisan diamnya.


๐˜”๐˜ข๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ด๐˜ช๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜จ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ช๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ, batin perempuan yang terlihat berusia 20-an itu setelah bosan melihat tindakan Lina.


Bunyi lonceng yang digoyangkan tiba-tiba terdengar, mengalihkan pandangan perempuan kimono ke arah pintu kuil. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ช๐˜ญ ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช.


Kain hitam bermotif batik putih seketika mengitari perempuan kimono dan juga Lina, membawa keduanya pergi dari kuil. Tepat setelahnya, pintu kuil dibuka dan menunjukkan seorang gadis remaja berambut putih panjang. Gadis itu sedikit memiringkan kepala sambil menetapkan ekspresi dinginnya.


"Padahal aku tidak berniat menyerang. Tak apalah, mungkin kita bisa bertemu di lain waktu," gumam gadis itu dengan netra merahnya yang menatap tajam patung serigala berekor tujuh.


**


"Hah? Bagaimana bisa kau baru mengatakannya setelah satu hari!"


Perempuan kimono tidak menanggapi teriakan Lina. Ia mengalihkan fokusnya pada pemandangan senja di jendela kamar yang terbuka, lalu memisahkan kedua bibirnya hingga satu kalimat terdengar di pikiran Lina.


"Pergilah! Biarkan aku sendiri!" Gadis bermata biru itu kembali berkata dengan nada tinggi nan keras, tetapi diiringi perasaan tak karuan yang ingin sekali diaturnya.


Sosok perempuan itu lekas menghilangkan diri menyerupai asap, lalu berakhir sebagai udara yang tak terlihat. Air mata pun dikeluarkan oleh Lina, meskipun tangannya menutupi seluruh wajah.


๐˜“๐˜ข๐˜จ๐˜ช-๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ช๐˜ญ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ โ€ฆ. ๐˜—๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ข๐˜ธ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ณ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ด๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฉ๐˜ฌ๐˜ถ, ๐˜›๐˜ถ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ? ๐˜ˆ๐˜ข๐˜ข๐˜ณ๐˜จ๐˜ฉ๐˜ฉ!


Kesedihan segera diusapnya sampai tak tersisa, meninggalkan ekspresi dingin bercampur kesal yang baru diciptakan. Seusai menutup jendela dan menyalakan lampu kamar, penglihatannya diarahkan pada handphone yang diambil dari tas pinggang Ilfra.


๐˜›๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ด ๐˜ญ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฎ, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ด๐˜ช๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ง๐˜ถ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ด๐˜ช. Jari gadis itu bergerak cepat pada layar handphone, membuka satu persatu aplikasi dan mengeceknya. Aplikasi catatan menjadi yang terakhir dilihat secara lama.


๐˜๐˜ญ๐˜ง๐˜ณ๐˜ข ๐˜ต๐˜ช๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ช๐˜ด ๐˜ค๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ข๐˜ด๐˜ข? ๐˜‹๐˜ช๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ซ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ช ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข.

__ADS_1


Melodi bel rumah tiba-tiba memasuki lorong pendengaran, membuat fokus pikiran Lina berganti. ๐˜š๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข?


Gadis itu lekas meletakkan handphone di nakas dan melangkah menuju pintu rumah. Setelah membuka dan mendapati gadis SMA berambut putih, ia menyembunyikan keterkejutannya dengan memiringkan kepala.


"Maaf, kauโ€”"


"Ilfra Alfyna Avylin."


Lina akhirnya melebarkan matanya saat ucapannya dipotong gadis bermata merah itu. Angin bercampur butiran salju seketika berembus mengisi suasana, dilanjutkan perkataan gadis yang masih belum diketahui namanya oleh Lina.


"Bukankah kau temannya?"


**


Hawa dingin yang diakibatkan hujan salju ringan semakin pekat. Suasana malam yang telah tiba juga menambah perasaan di bawah nol derajat tersebut. Apalagi lingkungan sekitar yang berupa pepohonan tinggi nan tampak gelap, menciptakan perasaan tak nyaman untuk gadis berpakaian hitam.


๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ? ๐˜๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ด๐˜ต๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜’๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜š๐˜ฉ๐˜ช๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ฐ. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ช๐˜ฏ? ๐˜›๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ฐ๐˜ต๐˜ข ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข?


Tangan gadis itu membelai rambut pink yang menutup telinga kanan, membiarkan pendengarannya tersebut mengetahui suara-suara dalam hutan. Namun, ia tak mendapatkan bunyi selain dari hujan salju. ๐˜œ๐˜ฉ๐˜ฉ, ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ-๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ด๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ. ๐˜š๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ตโ€”


Belenggu gadis bermata merah muda itu tiba-tiba dipaksa berhenti sejenak. Perasaan negatif dalam dirinya langsung bergejolak mengacaukan pikiran. Meskipun ketika sosok transparan telah selesai menembus badannya, hawa hangat beserta rasa positif segera ia dapatkan.


"Wah, ternyata kau bukan manusia, ya?"


Ilfra Alfyna Avylin, dirinya kini terkejut melihat gadis berseragam sekolah berwarna hitam. Tubuh gadis itu terlihat transparan, apalagi kulit pucat dan mata hitamnya yang tak memperlihatkan kehidupan. Gadis yang baru saja menembus dirinya itu benar-benar terasa dingin dan mati.


"Ah, aku malah mendapat aura negatifmu. Sayang sekali," gumam gadis bak mayat hidup itu mengabaikan pandangan memeriksa Ilfra.


"๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ด๐˜ช๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข? ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ข ๐˜ฅ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช?" Ilfra memberanikan diri untuk bertanya selepas mengalahkan bingungnya pikiran.

__ADS_1


Gadis bermata hitam itu tak menjawab, apalagi memandang wajah Ilfra. Udara dingin kembali datang dan membelai rambut kedua gadis itu, diakhiri dengan tatapan kosong yang tiba-tiba diberikan si gadis hitam.


"Kau tersesat, ya, Monster dari Kota Shikuro?"


__ADS_2