
Ilfra Alfyna Avylin, siswi kelas tiga SMP yang satu kelas denganku. Awalnya, aku tidak peduli dengannya. Siswi yang sama sekali tidak mau diajak bicara atau bahkan berkomunikasi. Hah, pandangan matanya saja melebihi tatapan dinginku. Benar-benar siswi yang aneh.
"Menurutmu bagaimana?"
"Wah bagus sekali."
"Pasti nilaiku sembilan dari sebelas!"
"Hei, hei, lampu mana lampu?"
"Hahaha."
Uhh, benar-benar ramai sekali kelas ini. Tak peduli laki-laki atau perempuan, hampir semuanya saling mengobrol. Wajar saja, sekarang tengah jam kosong. Bisa terlihat jelas hanya dua tiga murid yang diam dan memilih mengerjakan soal. Aku termasuk di antara tiga murid itu, tetapi aku tidak mengerjakan soal.
Headset bluetooth yang terpasang di kedua telinga, juga handphone di genggamanku. Alunan musik yang kubuat sendiri beserta riuhnya obrolan siswa siswi, semuanya telah mengalir ke gendang telingaku.
Mata kubiarkan memandang sekitar, melihat murid-murid dengan lingkaran pertemanannya masing-masing. Siapa bilang tidak ada lingkaran seperti itu di setiap kelas? Tentu saja ada. Benar-benar masa remaja, ya.
"Hei, Lina!"
Aku menambah raut datar dengan topping dingin dan membalas panggilan salah satu siswa menggunakan tatapan. Siswa itu tampak tertegun sejenak sebelum menggerakkan keempat jari sebagai isyarat: ayo ke sini, cepat!
Tak langsung kubalas perintah senyapnya itu hingga seorang siswi mendatangiku. Siswi itulah yang sebangku denganku, juga sosok pembawa rasa aneh. Ilfra Alfyna Avylin.
"Hem?" Aku membalas tatapan yang terlihat kosong dari siswi itu, sampai akhirnya rasa malas memasuki diri. Tanganku menutup mulut yang menyampaikan kantuk, lalu beranjak dari kursi.
Ilfra, siswi yang mungkin sama diamnya denganku, kini duduk di kursi sebelah jendelaโdi sebelahnya baru tempat dudukku. "Woy, Lina! Ke sini cepat!" panggil siswa yang sebelumnya aku abaikan. Hah, menjengkelkan.
"Psst, apa kau tidak mau pindah tempat duduk? Maksudku, kau lihatlah siswi itu. Benar-benar suram. Pandangannya seperti memusuhi semua orang." Begitulah yang siswa itu katakan, dilanjutkan anggukan siswa-siswa satu lingkar pertemanannya.
Ingin sekali aku luapkan rasa tersindir yang ada untuk siswa pengganggu ketenangan ini. Namun, tatapan tajamku sudah menyadarkannya, mungkin. Siswa itu tertawa bersama rasa sadar telah menyindirku, lalu mengalihkan pembicaraan.
"Omong-omong, kau bukan dari kota ini 'kan? Apa kau dariโ"
"Bye, obrolanmu tidak menarik." Kakiku segera melangkah kembali menuju tempat duduk, mengabaikan beberapa siswi yang membicarakan.
***
__ADS_1
'Bagaimana semester satunya, Lina?'
Aku masih bingung harus menjawab seperti apa dari pertanyaan yang dikirim ibu. Kalau aku abaikan, tidak mungkin. Bisakah kujawab biasa saja? Kenyataannya juga begitu.
Biasa saja. Akhirnya aku mengetik dan menjawab pesannya seperti itu setelah lima menit. Eh tidak, pesan dari ibu sudah dikirim kemarin-kemarin lalu dan aku baru membacanya hari ini. Yah, terserahlah.
Bunyi bel terdengar dan semua murid yang berada di luar kelas segera masuk. Tak butuh waktu lama untuk guru pengajar datang ke kelas. Setelah satu menit digunakan untuk salam dan doa, guru materi penjaskes itu mengucapkan kalimat andalannya.
"Baiklah, semuanya segera ke lapangan dan jangan lupa memakai baju olahraga. Pak guru akan menunggu di lapangan seperti biasa."
"Ya!" seru semua murid, kecuali siswi di sebelahku. Ya, Ilfra, mana mungkin siswi ini mau berkata satu huruf pun.
Guru itu pergi, sementara siswa-siswi mengambil pakaian olahraga dan bergegas menuju kamar ganti di ruang toilet. Haah, ingin sekali aku izin untuk tidak ikut pelajaran melelahkan ini.
Ketika aku hendak menuju toilet, ada Ilfra di sana. Siswi itu melewatiku tanpa melirik sedikit pun. Benar-benar tak peduli sekitarnya sama sekali. Pantas saja banyak yang tidak mau berteman denganmu, Siswi Aneh.
"Huh?" Mata dan pikiranku seketika tertegun karena kaget. Tempat ini benar-benar sepi. Apa tidak ada murid lain selain siswi itu yang ke sini?
Aku menggeleng dan lekas berganti pakaian. Setelahnya, banyak siswi-siswi yang mengantri untuk masuk ke toilet demi berganti pakaian. Wah, wah, yang benar saja. Apa siswi itu sudah menjadi orang yang ditakuti? Huh, rasanya unik juga saat dipikirkan.
**
"Kita cukupkan saja pembelajaran hari ini. Silakan istirahat maupun lanjut permainannya."
"Baik, Pak!"
Para siswi pergi ke kantin, sedangkan siswa-siswa mengganti permainan menangkap bola menjadi sepak bola.
"Hei, Lina!" Aku menoleh dan mendapati seorang siswi yang tak memiliki lingkar pertemanan. Tidak, lebih tepatnya dijauhi karena kurang sesuai untuk bercanda.
"Yuk ke ruang kelas. Aku ingin ngobrol denganmu," ujar siswi yang merupakan ketua kelasku. Aku memandangi ketua kelas beberapa saat, lalu berbalik dan menjawab ajakannya.
"Aku mau ganti baju."
"Baiklah, aku ikut, ya!"
Aku melangkah menuju gedung sekolah, tepatnya ke toilet yang letaknya lebih dekat dengan kelas. Walau sebenarnya toilet itu lebih jauh karena ada di lantai dua. Haah, apa sepenting itu yang ingin ketua kelas obrolkan. Sampai ikut aku lagi. Huh, kenapa juga aku memikirkannya.
__ADS_1
"Omong-omong, bagaimana hubungan kalian? Teman dekat atau hanya teman sebangku? Atau mungkin sahabat?" Ketua kelas tampak memancing obrolan sambil berjalan di sampingku.
Aku memperlambat langkah kaki dan sengaja mengikuti rencana ketua kelasโmengobrol di perjalanan menuju toilet. "Apa ketua kelas menanyakan hubunganku dengan Ilfra?"
"Ya! Tentu saja! Bukannya dia yang duduk di sebelahmu?" Aku mengangguk dan mengambil beberapa detik untuk tak bicara. Kebetulan toiletnya sudah dekat.
"Hubunganku dengan Ilfra, ya? Kami hanyaโ"
"๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข!"
"๐๐ฆ๐ฏ๐ข๐ฑ๐ข ๐ฌ๐ข๐ถ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ถ๐ด ๐ด๐ข๐ซ๐ข ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐จ๐ข๐ฏ๐จ๐จ๐ถ๐ฌ๐ถ!"
Langkahku terhenti, begitu juga dengan ketua kelas yang tiba-tiba terjatuh ke lantai. Siswi yang berteriak kesal di toilet pun tersadar dan lekas menoleh ke arahku. Siswi itu โฆ Ilfra.
"๐๐ช๐ฅ๐ถ๐ณ๐ญ๐ข๐ฉ." Detak jantung tiba-tiba menggetarkan tubuh dan membuatku terjatuh. Sial, tiba-tiba โฆ aku mengantuk.
***
Dua hari berlalu semenjak kejadian itu dan hubunganku dengan siswi itu โฆ semakin terlihat kebenciannya. Aku kembali bersekolah setelah dua hari dihabiskan di rumah, merenung tentang apa yang terjadi di hari itu.
Aku terbangun di UKS sekolah dan dijenguk oleh Ilfra. Tak ada kata-kata yang bisa kuungkapkan sama sekali waktu itu. Bahkan tak teringat jelas apa saja yang terjadi selanjutnya. Hanya saja โฆ aku masih ingat satu hal: ketua kelas menghilang.
Bunyi bel istirahat terdengar dan semua murid segera keluar kelas. Hanya tersisa aku dan Ilfra sekarang.
"๐๐ช๐ฏ๐ข." Mataku melebar terkejut mendengar suara menggaung itu. Pandanganku segera menatap mata pink Ilfra, mendapati raut ragu dan takut.
Apa ini? Kenapa kau malah ketakutan setelah hampir membuatku mati hari itu?
Terlihat tangan Ilfra bergerak menulis satu kata di buku, lalu menunjukkannya padaku. ๐๐ข๐ข๐ง.
"Hah?" Aku langsung mengungkapkan rasa heran yang diikuti emosi kesal. "Maaf? Untuk kejadian yang tidak terduga itu?"
Aku mengambil waktu untuk diam. Rasa pusing yang tiba-tiba datang membuatku kesulitan merangkai kata-kata. Sialan, siswi ini โฆ.
"Tidak akan, Monster!" tegasku dengan suara yang sengaja dilirihkan, lalu pergi meninggalkan siswi itu sendirian di kelas.
Ya, benci, aku benar-benar merasakannya. Hingga karena suatu kejadian baru yang terjadi, di semester dua inilah aku menghilangkan sifat itu. Haah.
__ADS_1