
#Baca juga (Gairah sang Milyader) karya Slawi channel, jangan lupa follow dan kasih bintang lima. Terimakasih#.
Mentari pagi yang cerah mengiringi Dimas dan Fitri yang sedang mengendarai sepeda motornya menuju ke kampus, sesampainya di depan gerbang sudah berdiri kedua orangtuanya Yogi dan kepala sekaligus rektor kampus itu.
Dimas lalu menepikan motornya dan mendekati mereka semua, orang tuanya Yogi adalah donatur terbesar di kampus itu, Yogi menundukkan kepalanya ketika melihat Dimas dan Fitri mendekat.
"Hei kamu yang kemarin memukuli anakku kan?!, Sekarang ayo ikut kami ke kantor polisi?!" Ayahnya Yogi berkata sambil menunjuk ke arah Dimas dan melototkan matanya.
"Sabar dulu om, kita bicarakan ini baik-baik? Jangan libatkan polisi dalam masalah ini, karena nanti yang bakal malu itu om dan tante?." Balas Dimas dengan kepala dingin, karena masalah itu bisa diselesaikan dengan baik-baik tanpa melibatkan polisi.
"Gak bisa!, Kamu sudah bikin anakku babak belur, sekarang kamu harus bertanggung jawab di hadapan polisi?!" Celetuk Ibunya Yogi yang setengah marah kepada Dimas karena sudah bikin anaknya babak belur. "Ayo Pah kita bawa dia?".
"Sabar dulu Tante? Jangan pake emosi, kita rundingkan masalah ini baik-baik?" Dimas masih menggunakan cara yang halus untuk meredam emosi mereka.
__ADS_1
"Gak bisa! Cepat Pah bawa dia?!" Balas Ibunya Yogi dan menyuruh suaminya untuk segera membawa Dimas ke kantor polisi.
Mereka lalu menyeret Dimas dengan paksa untuk masuk ke dalam mobilnya mereka, Dimas pun tak berbuat banyak, hanya mengikuti kemauan dari orang tuanya Yogi itu. Setelah mereka pergi menuju ke kantor polisi, Fitri hanya bisa menangis dan duduk di pos satpam.
"Yang sabar yah Non, pasti mas Dimas bisa menyelesaikan masalah ini? Kita do'akan saja supaya semua berjalan dengan baik?" Ucap Pak Satpam kepada Fitri dan menyemangatinya supaya tidak bersedih.
"Iya Pak, hiks, hiks, hiks" balas Fitri sambil menangis.
"Jadi waktu itu saudara Dimas bersama Pak Satpam?" Tanya Polisi tersebut kepada Dimas.
"Ya Pak, betul waktu itu saya bersama Pak satpam yang mendobrak pintu gudang, dan kami melihat Yogi sedang berbuat tidak senonoh kepada saudari Fitri" jawab Dimas santai dan tegas.
"Baik, untuk kasus ini saudara Dimas dinyatakan tidak bersalah, dan saudara diperbolehkan untuk pulang" ucap Polisi tersebut kepada Dimas dan berjabat tangan.
__ADS_1
Dimas akhirnya diperbolehkan untuk pulang karena Dimas dinyatakan tidak bersalah dalam kasus tersebut. Orang tuanya Yogi masih belum menerima keputusan dari kepolisian.
"Kita harus cari cara lain Pah? Mamah tidak setuju dengan keputusan dari kepolisian itu?" Ucap Ibunya Yogi yang belum merasa puas, karena Dimas tidak di hukum.
"Iya mah, Papah juga tidak setuju? Anak kita sudah babak belur tapi pelakunya tidak di hukum?" Jawab Ayahnya Yogi yang sependapat dengan istrinya tersebut.
Mereka berdua tidak merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukan oleh anaknya sendiri, malah sebaliknya menyalahkan orang lain karena sudah melukai anaknya. Itulah sifat manusia yang tidak mau berkaca melihat kekurangannya sendiri, dan terus mencari kesalahan orang lain.
Fitri masih mengikuti pelajaran walaupun pikirannya menuju kepada Dimas, sampai jam kuliah selesai. Fitri berjalan keluar dari kelasnya hendak pulang ke rumah.
*Bersambung*
---------
__ADS_1