Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB13. Menjalankan Misi.


__ADS_3

"Kau!" 


Wajah Rania memucat melihat ekspresi yang tak biasa dari Bram.


.


.


"Jangan kira aku tidak pernah bersikap tegas padamu jadi kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu!" ucap Bram mengeraskan kedua rahangnya. Pria itu mencengkram kuat pergelangan Rania yang berusaha merampas kembali ponselnya.


"Hapus vidio ini sekarang, atau kupatahkan tanganmu yang lancang ini," Bram mengembalikan ponsel Rania.


"Iya aku hapus sekarang, maaf aku tidak punya maksud apa-apa," ucap Rania.


"Sudah kubilang jaga sikapmu, atau aku akan berbuat kasar padamu," ucap Bram setelah Rania menghapus vidio dari ponselnya. Bram mengibas tangan Rania yang dicengkram dengan kasar membuat gadis itu memasang wajah sedih..


Sepanjang perjalanan menuju kantor, tidak ada perdebatan lagi diantara mereka. Keduanya sama-sama melihat keluar jendela.


Bram semakin tidak nyaman dengan sikap lancang Rania yang diam-diam mengambil vidionya saat ia sedang dijewer oleh sang mama. Sementara, Rania merenungi kesalahannya. Tidak seharusnya ia mengambil vidio Bram seperti itu, apalagi sampai menertawakannya seperti tadi.


Felix yang yang sedang menyetir di depan merasa sedikit aneh dengan sikap Tuannya. Tidak biasanya Bram banyak bicara, apalagi ikut campur urusan seseorang sampai merebut ponsel seperti tadi.

__ADS_1


.


.


Jarum jam berputar begitu cepat, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore hari. Bram memperhatikan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu pria itu berdiri dan mengenakan jasnya.


"Felix! Antarkan wanita itu ke rumah kakek tepat jam 7 malam, tunggu aku di pintu gerbang baru kita masuk bersama," ucap Bram.


"Baik, Tuan,"  sahut Felix. Bram pun melangkah menuju pintu keluar.


"Tunggu, Tuan!" ucap Felix menghentikan langkah Bram. "Anda mau kemana?"


"Bram! Jangan aneh-aneh jangan sampai pengorbanan Om Pras selama ini sia-sia," ucap Felix lagi. Namun, Bram tidak mempedulikannya, pria itu langsung melangkah keluar.


Bram melirik tajam ke arah Rania yang baru saja berdiri dan menunduk memberinya hormat. Bram mengeraskan rahangnya lalu melanjutkan langkahnya.


Sesampainya di lantai bawah, Bram langsung masuk ke sebuah mobil berwarna hitam yang telah menunggunya di depan pintu masuk kantor. Setelah Bram duduk dengan baik, sopir pun langsung melajukan mobil ke tempat tujuan.


Entah sebelumnya sudah diberitahukan oleh Bram atau sang sopir memang sudah ditugas untuk tujuan tertentu oleh Tuannya, sopir itu langsung melajukan mobil tanpa bertanya kèmana tujuan perjalan mereka.


.

__ADS_1


.


Setelah kepergian Bram, Felix mengajak Rania pergi ke butik dan salon langganan Nyonya Anggita. Sebenarnya Nyonya Anggita meminta Bram yang mengantar Rania kesana, tetapi Bram melimpahkan semuanya pada Falix sang asisten.


Rania menurut dan menjalankan semuanya dengan baik karena ini adalah bagian dari misi yang harus ia jalankan. Bahkan inilah bagian penting dari drama yang sedang ia jalani. Bertemu keluar besar Nugroho dan menyakinkan mereka semua. Terutama Kakeknya Bram.


Selesai didandani dan mengenakan sebuah dres pink selutut, Felix langsung membawa Rania ke rumah utama keluar Nugroho.


"Kenapa kita berhenti disini Felix? Apa rumah kakek masih jauh?" tanya Rania karena Felix menghentikan mobilnya sudah lebih dari satu menit.


"Kita menunggu Tuan Bram, Nona. Dan rumah kakek ada di depan," Felix menunjuk ke atas depan.


"Cihhh, dasar manusia sombong. Udah tau kita kesini demi masa depannya, dia mala berbuat sesuka hatinya." omel Rania pelan namun masih bisa didengar oleh Felix membuat Felix langsung mengingatkannya untuk hati-hati dalam berbicara.


Hampir sepuluh menitan menunggu, Rania dikagetkan dengan suara ketukan kaca mobil dari luar.


"Astaga, nih orang senang bangat ya bikin kaget," ucap Rania sambil mengusap-usap dadanya.


"Geser," ucap Bram saat membuka pintu mobil. Rania pun mengalah dan bergeser dengan wajah kesal. 


 Udah telat datangnya, eh malah nyuruh seenak jidat.

__ADS_1


__ADS_2