
Bram dan Rania saling menatap seolah bertanya ada urusan apa wanita itu kesini. Hal demikain juga terjadi pada kedua orang tua Bram. Pras dan Anggita yang tahu betul siapa Erina dan bagaimana kisah cinta Bram dan Erina dulu merasa tidak percaya, ada hubungan apa antara Fatma dan Erina.
"Erina, kemarinlah," panggil Fatma. Dengan penuh hati-hati Erina mendekat dan berdiri di samping Fatma. "Angkat mukamu Erina, kau tidak perlu takut pada orang-orang yang tidak menghargaimu," timpa Farma sambil menatap sinis pada Bram dan Anggita bergantian.
.
.
.
"Pah, kenalkan ini Erina gadis yang aku ceritakan pagi tadi." ucap Fatmah.
"Hallo Kekek, aku Erina," Erina memberi salan sesopan mungkin.
__ADS_1
Kakek Gab memperhatikan Erina sebentar lalu menatap pada Bram seolah meminta penjelasan dari cucu tertuanya itu.
"Pah, tanyakan langsung saja pada Erina apa yang ingin Papah tanyakan. Jangan sampai ada yang berbohong lagi disini demi mendapat harta wanisan," sendiri Fatma sambil menatap sinis pada Anggita.
"Fatmah kau tahu aturan dalam keluarga ini bukan?" ucap Kakek mengingatkan anak tertuanya itu. Dalam keluarga Nugroho, dilarang keras membawa orang luar saat makan bersama apalagi akan ada pembahasan penting seperti sekarang.
"Aku tahu Pah, tapi semuanya ini harus diselesaika. Apa Papah tega kalo Fatma yang ada di posisi Erina saat ini? Di lamar dan di campakan begitu saja," Kata-kata Fatma membuat Rania dan kedua orang tuanya melongo tidak percaya.
pernyataan macam apa itu? Bukanya Erina yang meninggalkan Bram saat itu.
"Cukup Mbak Fatma, selama ini aku selalu diam saat Mbak merendahkan aku dan keluargaku, tapi tidak untuk hari ini," ucap Anggita tiba-tiba membuat semua orang merasa tidak percaya.
Selama ini Anggita tidak pernah membantah dan melawan kata-kata Fatma, bahkan saat Fatma mengatakan hal buruk terang-tenagan pun Anggita tidak pernah membalasnya.
__ADS_1
Mama Felix merasa puas melihat Anggita berani melawan Fatma. Selema ini Mama Felix selalu meminta Anggita untuk membalas perbuatan ipar tertua mereka itu tetapi Anggita selalu menolaknya. Karena Anggita menghargai apa Fatma.
Bangus Mbak Git emang Mbak Fatma itu sesekali harus di lawan. batin Mama Felix.
"Apa Mbak tau wanita yang Mbak bawa ke hadapan Papah ini seperti apa?" tanya Anggita. "Ya dia memang wanita yang sangat dicintai Bram waktu itu, bahkan Bram rela melakukan apa demi dia. Dan ya, Bram juga pernah melamar dia dan mengajaknya menikah, tapi kalian tahu apa yang dia lalukan setelah itu?" Anggita bertanya pada semua orang yang hadir disitu membuat wajah Erina langsung memucat.
Tadinya Erina pikir Bram tidak mungkin tega membuka masalah itu didepan umum sehingga ia memberanikan diri untuk hadir disana, tetapi tidak di sangkan Mama Anggita yang dulu sangat menyayangi dirinya justru yang membuka semuanya.
"Dia pergi menikah dengan pria lain hanya karena mengetahui anak saya punya kelainan," Sebenarnya Mama Anggita malu untuk mengatakan semua itu, tetapi ia tidak punya pilihan.
"Ta-Tante, kenapa Tante berkata seperti itu tetangku?" tanya Erina dengan mata berkaca-kaca.
"Sungguh keterlaluan kau Anggita, Bram memang anakmu tapi kau harus melihat kenyataan sebenarnya. Apa kau buta tidak melihat betapa hancurnya hati gadis ini," Fatma masih tetap membela Erina. Bahkan tangannya mengusap-usap pundak Erina yang telah menangis.
__ADS_1
"Kau yang buta Fatma, buka matamu lebar-lebar dan lihat kennytaa yang sebenarnya," Anggita tidak peduli lagi dengan siapa Fatma. parsetan dengan posisibya sebagai ipar, nama baik anaknta jauh lebih penting untuk saat ini.