Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB34. Sindrom pra-PMS.


__ADS_3

"Nona Erina sebaik Anda pergi dari sini, Tuan Bram sedang punya banyak masalah," 


Erina menatap tajam pada Felix. "Kau," Erina ingin menonjok Felix tetapi ia menarik kembali tanganya. Erina pun pergi dengan perasaan kesal.


.


.


Setelah kepergian Erina, Bram, Rania dan Felix makan bersama di ruang kerja Bram. Wajah Rania terlihat murung sejak tadi, bahkan seperti tidak berselera makan.


"Ada apa?" tanya Bram ketika melihat Rania hanya mengaduk-aduk nasih dalam piringnya.


Karena Rania hanya menggeleng seperti tidak ada apa-apa, Bram pun melanjutkan makannya.


Dasar pria nggak peka, masa gitu doang nanyanya. Rania mengomel dalam hati saat melihat Bram kembali menikmati makanya.


"Kenapa? Kamu nggak suka makanan nya? Biar Felix pesankan yang lain," Bram kembali bertanya karena Rania telah meletakkan sendoknya dan bersandar pada kursi dengan wajah cemberut.


"Nggak kenapa-napa, aku masih kenyang," sahut Rania ketus.


"Ya udah nanti kalo lapar bilang, biar aku pesankan lagi," ucap Bram sambil mengusap kepala Rania.


Hemmm, masih nggak peka juga ni orang. "Kalian lanjut makannya ya, aku mau kerja dulu," Rania bangkit berdiri lalu melangkah pergi.


"Honey, tunggu!" panggil Bram. Namun Rania terus berjalan.


Bram terlihat bingung melihat perubahan sikap Rania yang secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Lu ngelakuin kesalahan kali," ucap Felix.


"Aku buat kesalah?" Bram menunjuk diri sendiri sambil berpikir keras. Seingatnya mereka baik-baik saja, bahkan sebelum berangkat meeting tadi semua masih baik-baik saja.


"Perasaan kita baik-baik aja deh," timba Bram.


"Kalo nggak buat salah kenapa bini Lu bete gitu?" tanya Felix.


"iya juga sih," Bram membenarkan ucapan Felix.


Apa jangan-jangan dia lagi datang bulan ya? Bram terlihat frustasi, napsu makannya tiba-tiba saja menghilang.


"Kenapa? Lu juga ikut-ikutan ngambek?" tanya Felix lagi saat melihat Bram meletakkan sendok dan garpu di tangan.


"Gua udah kenyang, abisin aja semuanya," sahut Bram lalu kembali ke meja kerjanya.


.


.


Bram membuka internet lalu mulai mencari alasan mengapa seorang wanita tiba-tiba saja marah. Bram mengerutkan dahinya sambil membaca beberapa poin alasan wanita tiba-tiba saja marah.


*Kurang perhatian dari pasangan* Bram menggeleng karena merasa dirinya sudah sangat perhatian pada Rania.


*Merasa kurang dihargai* Bram memutar otak keras memikirkan apa ia kurang menghargai Rania?


*Curiga* Bukanya aku selalu bersama dia sepanjang hari? Kenapa dia masih curiga? Bram kembali menggeleng.

__ADS_1


*Merasa lelah* Apa pekerjaan yang aku berikan terlalu berat sampai-sampai dia merasa lelah?


Aaaaggghhhh, Bram semakin frustasi menebak-nebak apa yang terjadi pada Rania. Hingga sorot matanya tidak sengaja melihat poin terakhir.


*Terkena sindrom pra-menstruasi (PMS)* Aahh, kenapa aku tidak memikirkannya sejak tadi.


Bram kembali bersemangat seperti mendapat pencerahan hidup baru. Bram kembali mengetik mencari cara-cara menghadapi wanita yang sedang datang bulan. Bram tersenyum senang setelah meng capture beberapa cara menghadapi wanita yang sedang menstruasi.


Bram akan menerapkan semuanya saat pulang kerja nanti.


.


.


Sore harinya saat jam pulang kerja tiba. Sebelum keluar dari ruangan, Bram melonggarkan ikatan dasi, mengatur pernapasan lalu berjalan keluar ruangan. Saat membuka pintu, Bram melihat Rania sementara merapikan meja kerjanya, Bram mendekat lalu berdiri disamping meja kerja Rania.


Oke Bram, tetap berada didekat, tidak perlu banyak bicara, diam dan menuruti apa maunya. Bram kembali mengulang isi artikel yang ia baca siang tadi.


Bram memperhatikan gerak gerik Rania, saat Rania berjalan ia mengikuti dari belakang, saat Rania berhenti ia juga ikut berhenti.


"Kamu ngapain sih?" tanya Rania yang mulai kesal dengan tingkah Bram. Bram pun menggeleng tanpa mengeluarkan suara.


"Dasar aneh," umpat Rania lalu berjalan masuk lift.


"Honey tunggu," panggil Bram. Namun Rania telah menutup pintu lift dan turun kelantai bawah.


Bram yang ditinggal begitu saja kembali berpikir keras, apa ia salah membaca isi artikel, kenapa Rania mala semakin marah.

__ADS_1


__ADS_2